Minggu, 31 Juli 2016

Pengaruh Kiai Jawa (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Radar Surabaya" edisi Minggu, 31 Juli 2016)

Di kawasan pedesaan Jawa, sebutan kiai biasanya melekat pada diri seseorang dengan “darah religius”. Tak heran jika anak atau cucu kiai, ketika sudah waktunya, juga menjadi seorang kiai. Identitas ini kerap diwariskan lantaran orang Jawa berpegang teguh pada peribahasa kacang ora ninggal lanjaran.
Kiai memiliki pengaruh yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Kekuasaan kiai berasal dari pribadinya (personal power). Dalam kehidupan desa, kekuasaan ini benar-benar diakui. Ketokohan kiai mendapat afirmasi dari masyarakat. Munculnya simpati terhadap kiai lebih karena apa yang ada dalam diri kiai. Dengan demikian, kehormatan, kemuliaan, dan kewibawaan kiai muncul dari dalam dirinya. Meskipun demikian, di beberapa tempat, besarnya pengaruh kiai tidak sama. Barang tentu, antara desa yang satu dengan desa lainnya, kekuasaan para kiai dalam kadar yang berbeda.
Dahulu kala, kiai memiliki banyak peran dan fungsi dalam kehidupan desa-desa Jawa. Kiai memosisikan diri dalam bidang agama, sosial, ekonomi, budaya, serta politik. Kiai dianggap berilmu luas sehingga mampu menyelesaikan segala problematika kehidupan. Pengetahuan dan kharisma yang dimiliki kiai menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadapnya. Tak heran, jika selain memberikan pedoman kepada masyarakat dalam pelaksanaan ibadah dan ritual keagamaan, kiai juga dipercaya sanggup membantu menyelesaikan persoalan sehari-hari.

Posisi Sentral
Beberapa studi sosial mengenai pemimpin-pemimpin Islam di Indonesia, seperti yang dilakukan Clifford Geertz, menyimpulkan bahwa kiai adalah tokoh dengan posisi strategis dan sentral dalam masyarakat. Sebab memegang kepemimpinan informal, kiai diyakini penduduk desa memiliki otoritas yang sangat besar sekaligus kharismatik. Mayoritas kiai di Jawa menganggap pesantren ibarat kerajaan kecil. Adapun kiai merupakan sumber kekuasaan dan kewenangan dalam lingkungan pesantren (Hamdi, 2014: 66).
Namun demikian, belakangan, fungsi kiai sering diambil alih oleh pakar sosial, politikus, dokter, budayawan, serta ahli ekonomi. Ini berarti, kepercayaan terhadap kiai sebagai pemimpin umat semakin menurun. Merosotnya simpati masyarakat terhadap kiai berlatar belakang bahwa orang desa kerap menghindarkan diri dari sikap “patuh membabibuta” kepada kiai. Mereka mulai mampu berpikir logis dan rasional.
Ini berarti, peran dan tugas kiai semakin ringan. Kedewasaan berpikir membuat penduduk desa dapat memutuskan urusan pribadi. Apa yang mampu mereka tangani tidak perlu ditanyakan kepada kiai. Mereka sudah bisa membedakan mana urusan yang harus diatasi sendiri dan mana yang layak dikonsultasikan dengan kiai. Kepercayaan mereka terhadap kiai kian memudar seiring tersebarnya informasi dan pengetahuan, baik dari buku, koran, majalah, televisi, radio, atau internet.
Sudah banyak penduduk desa-desa Jawa melek teknologi. Kemampuan ini mereka gunakan untuk berselancar di dunia maya. Pertanyaan-pertanyaan yang semula dilemparkan kepada kiai, kini beralih ke internet. Gelar sarjana yang diraih pemuda-pemuda desa juga membuat mereka enggan “berpangku tangan” kepada kiai. Kurikulum dari perguruan tinggi membentuk mereka lebih mandiri dalam menentukan sikap.

Lunturnya Sakralitas
Feodalisme kiai sedikit demi sedikit runtuh oleh sikap kritis orang desa. Sakralitas kiai luntur seiring dengan kedewasaan masyarakat Jawa. Ditambah lagi dengan fakta bahwa nama kiai tercoreng lantaran ulah beberapa oknum. Beberapa kiai di sejumlah desa Jawa memanfaatkan kehormatannya untuk berbuat asusila, menarik uang partai, atau berbohong demi kepentingan pribadi. Di antara mereka bahkan dijebloskan dalam jeruji besi, sebab terlibat persekongkolan atau tindakan lancung dan culas yang menodai perasaan umat. Melihat para kiai bertipe demikian, masyarakat memilih untuk “mencabut” kepercayaan yang terlanjur melekat pada diri kiai.
Sebagai akibatnya, muncul pembatasan terhadap tugas kiai selaku pengemban amanat agama. Para kiai merepresentasikan elit keagamaan yang berperan membentuk masyarakat yang religius (Moesa, 2007: 1). Kini, orang desa lebih selektif dalam menentukan siapa yang pantas disebut kiai. Di samping sepak terjang calon kiai, terutama dalam masalah agama, background diri dan pendidikannya juga turut mengukuhkan alasan mengapa masyarakat menyerahkan urusan agama kepadanya.
Di desa-desa Jawa, rata-rata kiai merupakan lulusan pondok pesantren tradisional atau modern. Sukar ditemukan kiai berijazah SMP, SMA, atau kampus umum, meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa mereka yang mengenyam bangku “sekolah umum” juga dapat menjadi kiai. Ketentuan di atas berimbas pada rendahnya pengaruh kiai, di mana kekuasaannya terutama diperoleh dari masyarakat.

Bojonegoro, 2016

Makam Fiktif dan Tradisi Nyekar (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Jawa Pos" edisi Minggu, 31 Juli 2016)

Urbanisasi tidak hanya berimbas pada kepadatan penduduk, namun juga pada tingginya kebutuhan makam. Sayang, minimnya lahan di Ibu Kota menyebabkan kasus jual beli makam kedaluwarsa kian marak. Di Blad 32, Blok AA1 TPU Karet Bivak, Tanah Abang, salah satu makam fiktif berhasil ditemukan oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman Jakarta Pusat.
Sebelum dibongkar, Sumarti adalah nama yang tercantum di batu nisan. Ternyata nama ini berbeda dengan nama jenazah yang terdaftar pada izin penggunaan tanah makam (IPTM), yakni Yusuf. Setelah ditelusuri, pemesanan makam fiktif dilakukan seseorang dengan maksud menyiapkan lahan makam jika suatu hari dirinya meninggal.
Penyediaan makam sebelum waktunya menandakan bahwa masyarakat Indonesia memerlukan “rumah abadi”. Rumah inilah yang kelak tetap menghubungkannya dengan kolega, kerabat, dan handai tolan. Dalam diri manusia terbentuk kesadaran bahwa interaksi dan intensitas komunikasi tidak boleh terputus meski oleh kematian. Tak heran jika nyekar merupakan tradisi turun-temurun yang hingga saat ini tetap dilestarikan.
Dalam masyarakat Jawa, kuatnya tradisi itu, antara lain, ditandai bahwa mereka yang sebentar lagi mempunyai gawe (hajatan) besar, terlebih dahulu dianjurkan mengunjungi makam orang tua yang telah tiada. Ngunduh mantu (pesta pernikahan) atau khitanan seolah melibatkan ruh. Restu para pendahulu turut menentukan sukses-tidaknya acara yang akan berlangsung. Dengan demikian, sebelum gawe digelar, shohibul hajat (orang yang mempunyai gawe) biasanya menyempatkan diri untuk nyekar. Tersebar keyakinan bahwa tanpa izin para leluhur, bahaya atau musibah bakal melanda diri dan keluarganya.
Ada sepenggal cerita unik mengenai hal di atas. Sebelum melangsungkan khitanan buah hati, seseorang disibukkan dengan persiapan dan berbagai hal yang berhubungan dengan acara. Ini membuatnya lupa nyekar ke makam ayah dan ibu. Ketika gawe diselenggarakan, muncul peristiwa aneh di dapur, tempat menyiapkan hidangan para tamu. Selama berjam-jam, beras yang dinanak belum matang. Padahal, normalnya, waktu memasak tidak terlalu panjang. Bingung dan cemas, para koki akhirnya memberanikan diri untuk memberitahukan kejadian non-logis tersebut kepada shohibul hajat.
Tuan rumah lantas berpikir mengenai persyaratan yang harus dipenuhi sebelum seseorang menggelar khitanan. Ia menyimpulkan, kejadian aneh di rumahnya lantaran ia belum nyekar di makam orang tua. Tanpa pikir panjang, ia pergi ke kuburan dan meminta restu keduanya. Tak berselang lama, sesampai di rumah, para koki mengaku bahwa beras di atas tungku matang dengan sendirinya.

Harmonisme Transendental
Masyarakat Indonesia senantiasa menghormati para leluhur dengan berkunjung ke makam. Usai memanjatkan doa, mereka biasanya menaburkan kembang di atas pusara. Kembang tersebut dipercaya menyumbang kedamaian bagi ruh. Implementasi dari sikap menghormati juga mereka tunjukkan dengan senantiasa merawat makam dan membersihkannya.
Kemuliaan makam menuntut para peziarah memahami tata krama nyekar. Mereka dilarang melangkahi kuburan, berbicara kotor, dan berlaku sembrono. Kepada para pendahulu, sopan santun harus senantiasa dipelihara. Itulah mengapa, sebelum masuk kuburan, setiap peziarah Muslim disunnahkan mengucap salam.
Makam menjadi sarana “menghidupkan kembali” nenek moyang. Betapa pohon kebaikan yang mereka tanam menjanjikan buah yang senantiasa dinikmati semua orang. Itulah mengapa, meski telah berpindah alam, mereka seolah masih hidup dan berumur panjang. Luthfy (2016) menilai bahwa itulah yang menjadi dasar masyarakat Tionghoa menggelar ritual Ceng Beng (baca: Qing Ming = cerah dan cemerlang) dengan berkunjung, membersihkan, serta menghiasi makam leluhur.
Ceng Beng bermakna waktu pencerahan memori terhadap anggota keluarga yang telah tiada. Saat perayaan Ceng Beng, momentum ini diperingati dengan merenung di makam dengan mengingat kembali kebaikan orang-orang yang telah meninggal. Bagaimanapun juga, mengenang hal serba baik bisa mengundang energi positif yang menuntun setiap manusia menggapai chai shen (pelita dewa rezeki) dan menjauhkan jiong (musuh nasib).
Penghormatan di atas menggambarkan harmonisme antara yang hidup dan yang mati. Sebagaimana orang hidup, orang-orang yang tinggal di dalam kuburan juga diperlakukan secara manusiawi. Celakanya, hal ini dinodai dengan munculnya kasus makam fiktif oleh orang-orang yang terbius rasionalisme sekularistis.

Harga Diri
Pada umumnya, kuburan ditandai dengan ukiran nama, tanggal lahir, serta mangsa wafat siapa yang berada di dalamnya. Hal ini dilengkapi dengan gundukan tanah yang menjulang agak tinggi. Lebih dari itu, orang-orang desa menata batu bata di selingkar kuburan. Di samping memudahkan mereka saat nyekar, langkah ini sebagai usaha membentengi kuburan dari segala macam ancaman.
Dalam hal memberi tanda bagi orang yang sudah meninggal, masyarakat urban melakukannya secara berlebihan. Mereka membelikan batu nisan berbahan keramik,  marmer, bahkan kristal. Dalam taraf tertentu, fenomena ini adalah representasi persaingan martabat, identitas, dan harga diri. Demi menunjukkan kewibawaan masing-masing keluarga atau ahli waris menyediakan batu nisan besar, mahal, dengan tampilan eksotis. Pada waktu nyekar, sambil berdoa mereka tentu bisa “membusungkan dada”.
Makam memuat martabat, gengsi, dan prestis. Status sosial bisa dilihat dari tempat manusia dikebumikan. Dahulu kala, Taman Pemakaman Umum (TPU) Petamburan, Jakarta Pusat, merupakan makam favorit sebagian orang sebab bergaya arsitektur modern jengki. Kejayaan salah satu makam tertua, terunik, dan bersejarah ini dapat dilihat dari bentuk nisan yang artistik: berukirkan dua naga terbang disertai patung-patung singa. Sejumlah makam berbahan teraso atau batu granit dengan atap beton.
Kemegahan dan kemewahan TPU Petamburan terwakili mausoleum keluarga tuan tanah Bogor, OG Khouw, yang terletak di tengah makam. Selain berukuran besar, kubahnya terbuat dari bongkahan marmer hijau dari Australia (Joga dan Antar, 2009: 30).
Pada masa sekarang, boleh jadi persaingan harga diri manusia ditunjukkan dengan maraknya kasus makam fiktif. Dengan corak pandang konsumerisme materialistis, seseorang leluasa memesan makam dengan letak strategis. Bahkan, agar dikenang sebagai nasionalis, ia bisa “mengapling” tanah di samping makam pahlawan. Alamak……

Bojonegoro, 2016

Jumat, 15 Juli 2016

Hikayat Sang Teroris (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Koran Merapi" edisi Jumat, 15 Juli 2016)

Senja hampir turun. Wajah cakrawala di barat kampung Sidodadi bersiap-siap bersalin. Kuning keemasan yang tadinya terlihat cerah akan segera didominasi warna merah. Namun, beratus santriputra dan putrimasih tampak asyik mencerap kalam dan wejangan sang kiai.
Kala itu, Kiai Mutohar tengah membacakan al-Hikam; sebiji kitab yang menjadi referensi utama dan bacaan wajib mayoritas pesantren di provinsi Kawukay. Lelaki berjanggut tebal dengan sejumlah kerut di wajah itu amat betah menularkan ilmu kepada para santri. Begitulah. Dalam sekali duduk, ia sanggup menghibahkan petuah-petuah agama hingga lima jam.
Sederhana. Berwibawa. Bijak. Lembut. Itulah di antara beberapa potong sifat Kiai Mutohar yang dihafal santri-santrinya. Dalam membagikan keterangan, kiai yang satu ini dikenal luwes dan tidak muluk-muluk, sehingga enteng dicerna. Terlebih, ia juga doyan membubuhkan contoh. Baginya, penjelasan tanpa dilampiri contoh, bak sayuran tanpa garam. Dan menyinggung tentang contoh, Kiai Mutohar tak akan lalai mengeja nama Sahri. Ya, putra semata wayang yang benar-benar disayanginya. Demikian juga pada malam Senin ketika mendaras kitab Riyadlu as-Shalihin di aula, saat beradu kening dengan sekitar seribu orang yang berasal dari enam kampung.
Pantas, kalau kiai dengan tahi lalat yang menumpang di hidung itu, selalu meruah namanya. Memang Sahri termuat mahasiswa berprestasi. Ia juga kenyang mengantongi nilai cantik dan beraneka kejuaraan sejak melungguh di bangku sekolah. Kecerdasannya terbilang di atas rata-rata teman-temannya. Tak heran jika ia berpuluh kali menjadi delegasi dalam olimpiade tingkat nasional. Yang terakhir di Barsupu, ia menggondol juara pertama dalam bidang matematika.
***
Bosan meneguk liburan panjang, suatu pagi, Sahri menggelesot di depan kamar sang ayah, yang tengah merapal ratib al-haddad di hamparan sajadah. Ia hendak berpamitan, karena esoknya kupingnya kembali dijejali ceramah dosen.
Selepas wirid, Kiai Mutohar menemui Sahri. Bibirnya menyungging. Memirsa putranya, kebanggaan dan kebahagiaan merembes di dada. Sang kiai memasang rencana; kelak, bila masa studi rampung, putranya itu yang bakal mengambil alih posisinya.
Dan seperti biasa, sebelum Sahri beranjak, terlebih dulu Kiai Mutohar tengadahkan kedua tangan untuk mendoakan darah dagingnya. Lantas diiringi lambaian tangan Bu Nyai, Sahri bertolak bersama Azali, santri ndalem, yang kebetulan hendak kulakan kitab kuning di Mangal, sekeping kota yang berdempetan dengan Rusabaha.  
Jarak dua bulan dari keberangkatan, beberapa gelintir orang—saat membuka-buka koran di warung Mbok Jah—memetik kabar mengejutkan; Sahri digelandang polisi saat bertransaksi sabu-sabu di sebuah hotel. Mereka tidak lantas percaya; Sahri adalah bibit kiai yang amat dita’zimkan semua orang. Apalagi ia juga dikenang pendiam dan tak jamak tingkah. Karena kurang yakin dengan kabar miring tersebut, Bu Kusmiah langsung bersoal kepada Bu Nyai.
“Ah, mungkin Sahri yang lain, Bu. Nama Sahri kan banyak”
Bu Nyai mencoba melempar penjelasan. Bukannya berkilah, namun berita terciduknya Sahri memang belum berlabuh di liang telinganya.
Dan, alangkah terperanjatnya Bu Nyai, tatkala Kiai Mutohar muncul dari balik selambu dengan menenteng koran yang mengandung kabar memalukan tersebut. Sesaat usai membacanya, leher Bu Nyai kaku, lisannya kelu, pandangannya menerawang. Dalam batinnya, teronggok tanda tanya besar; bagaimana masa depan putranya kelak. Selain ditundung dari kampus, pasti masyarakat juga enggan menadah kehadirannya.
***
Bagai menudungi bangkai busuk, Kiai Mutohar dan Bu Nyai merahasiakan kabar tertangkapnya Sahri. Sampai-sampai, saat Sahri mendengkur di hotel prodeo, Kiai Mutohar sama sekali tak menyambangi. Selain khawatir terpergok orang, ia sangat wirang dengan apa yang telah diperbuat putranya. Nama agungnya tercoreng. Kewibawaannya merosot drastis. Predikat munafik juga sedang gencar-gencarnya menguber. Sebab, dalam pengajian, tak henti-hentinya ia menantang para jamaah agar merenggangkan diri dan keluarga dari perbuatan yang dilarang Tuhan.
Sedang Bu Nyai, ia lebih leluasa menengok Sahri. Ini mengingat bahwa warga dan orang luar lebih mengenal Kiai Mutohar dari pada istrinya. Meski demikian, naluri kemanusiaan dan keayahan masih mengendap di otak Kiai Mutohar. Sesekali ia titipkan uang sekadar bila Bu Nyai hendak berkunjung.
Sebenarnya antara tega dan tidak, Kiai Mutohar memperlakukan putranya seperti itu. Sebagai orang tua, hatinya selalu galau dan ingin bertatap muka dengan bujangnya. Apalagi Sahri terlahir selagi usia Bu Nyai sudah berkepala empat dan sulit menitiskan keturunan. Akan tetapi, lagi-lagi, rasa malunya sebagai kiai kampung dan pengasuh pesantren lebih besar.  
Dan ternyata, di luar dugaan, rasa sayang sebagai ayah ditunjukkan dengan cara lain. Rasa sayang, yang bagi tokoh sepertinya, lebih baik dikorbankan. Ya, dikorbankan. Setelah berembuk dengan kepala LP Gumahuk, keduanya mufakat, bahwa Sahri akan lolos jika dicawiskan sogokan uang. Tentu dengan nominal yang lumayan tinggi.
Kiai Mutohar kelimpungan. Stres. Batang-batang rokok makin deras menggantung di bibir tebalnya. Sungguh, sebelumnya ia tak berpikir masalahnya akan sepelik itu. Dalam benaknya, polisi yang berpunca dari kampung Sukorejo dan pernah aktif menimbrung di pengajiannya itu bakal membebaskan Sahri tanpa syarat.
Ke manakah ia akan mendapat uang? Padahal, sarwa simpanan di bank terlanjur dicemplungkan buat biaya perluasan aula dan toilet pesantren. Apalagi dalam kamusnya, ia urung mengutang. Karena utang hanya akan menambah bobot pikiran.
Dan, alhasil, dalam hitungan hari, Kiai Mutohar dengan mudah menjumpai tumpukan uang di sebuah loka. Tak jauh-jauh. Bahkan, sangat dekat sekali. Hanya dengan mengayunkan kaki sepuluh meter dari pelataran rumah. Ya, benar. Tempat yang dimaksud yaitu kantor Panitia Renovasi Pesantren (PRP). Di sanalah ia bisa menemukan uang sejumlah empat puluh juta rupiah. Akhirnya, arta sumbangan wali santri untuk membangun gedung baru itu digasak, tanpa seizin dan sepengetahuan panita.
“Mudah-mudahan ini termasuk dalam kaidah: ad-dlaruuratu tubiihu al-mahdzuuraat
Katup rahang sang kiai mendesis pelan, kala mewadahi segebok uang ke dalam karung bekas.
***
Warta tercekalnya Sahri cukup gesit meruap ke hidung warga. Akan tetapi, Kiai Mutohar dan Bu Nyai cuci tangan, seolah tidak terjadi apa-apa.
Apa yang dilakukan oleh santri dan jamaah Kiai Mutohar? Mengendus urita kurang sedap, sekitar dua puluh santri hengkang dari pesantren. Bukan lantaran tak percaya lagi kepada sang kiai. Namun lebih karena dorongan orang tua yang jengah menitipkan anak kepada kiai dengan putra bermasalah.
Pengajian yang lazimnya dihadiri seribu orang itu juga terhantam imbas. Dua minggu pasca kabar itu berhembus, majelis yang biasanya mengupas hadits-hadits Nabi tersebut hanya diikuti lima ratus orang. Adapun separuh yang lain memilih absen dengan berbagai bentuk alasan. Yang sakitlah. Yang sibuklah. Yang keluar kotalah. Yang sebentar lagi matilah.  
Umumnya, santri dan jamaah yang bertahan, menganggap hal itu sebagai cobaan yang harus dihadapi manusia sekaliber Kiai Mutohar. Semakin tinggi pohon, semakin besar pula angin yang menerjang. Mereka juga maklum. Sebagai makhluk biasa, pastilah Sahri menyandang kekurangan.
***
Kembali mereguk udara bebas, bukannya meredakan ulah. Tiga bulan kemudian, Sahri terlibat lagi dalam penjualan narkoba. Malah, ia selaku pemasok utama bagi pelanggan kafe-kafe mewah di Rusabaha. Keberuntungan ringan dijinakkan. Jadi, beberapa bulan ia selamat. Ulahnya belum terendus aparat.
Dalam tempo itu pula, Sahri menyempatkan pulang. Malam menjadi satu-satunya pilihan. Hal ini dikarenakan, bila ia pulang pada siang hari, pasti warga bakal mengusirnya dari kampung. Dan saat fajar belum genap luntur, ia segera balik ke Rusabaha. Begitulah cara paling aman buat sekadar bertembung dengan ayah dan ibunya.
Semasih mencongkong di rumah, di satu sisi, lidahnya bisa tersenyum tipis tatkala menikmati terong bakar dan urap-urap bayam buatan sang bunda. Walakin, di sisi lain, dua kupingnya harus tebal, ketika Kiai Mutohar bertukas-tukas membuang ancaman:
“Jika menyentuh narkoba lagi, maka aku tak sudi mengakuimu sebagai anak.”
Sebetulnya, Kiai Mutohar dikenal dengan sosok yang sabar dan santun. Namun, selagi menghadapi Sahri, ia sulit mengendalikan diri. Emosinya meletup-letup. Sehingga tak jarang, kemarahan yang dilampiaskan kepada Sahri, terdengar juga oleh santri-santrinya.
***
Seperti keledai yang terjebak di lubang yang sama; untuk kedua kalinya, Sahri tertangkap basah, saat bertransaksi narkoba di kafe Mutiara. Ia sial. Apes. Rengsa. Ternyata mangsanya adalah polisi yang berperan menjadi konsumen. Ini kali kasusnya lebih besar, sebab ia memapah 2 kilo gram sabu-sabu.
Selincah kilat, berita tersebut terbang. Terbang ke berbagai sudut dan ruang yang terbentang di kampung Sidodadi. Terbang dengan sayap media elektronik maupun koran. Dan setangkas kilat pula, kepercayaan para warga kepada sang kiai luntur. Hilang. Hangus. Sehingga menyebabkan seluruh santri berbondong-bondong minggat dari pesantren. Sedang pengajian mingguan di aula bubar. Para jamaah kabur tunggang-langgang. Hal ini diperparah dengan ucapan Muhsin, ketua Panitia Rehabilitasi Pesantren (PRP), yang mencetuskan bahwa arta sumbangan raib diganyang kiai. Dan semua sepakat, karena Kiai Mutoharlah satu-satunya pembawa kunci lemari yang digunakan menampung dana pembangunan.   
Semalam, sekitar jam sembilan, rumah dan pesantrennya dibakar pemuda-pemuda kampung. Jasad Kiai Mutohar beserta istrinya ikut terlalap. Sekarang keduanya tergolek di Unit Gawat Darurat rumah sakit Bemesda. Rasanya, keduanya musykil bertahan lama. Serata tubuh tergigit api raksasa yang meluap-luap.
Di mana Sahri? Ia tengah duduk di kursi pesakitan, di depan hakim yang bersiap memutuskan berapa tahun ia bakal mendekam di penjara. Atau bahkan, boleh jadi hukuman mati sedang menanti. Selain pengedar dan penjual narkoba, ia juga terbukti menjadi pendana bagi beberapa aksi pengeboman di dalam maupun luar negeri.

Yogyakarta, 2011

Catatan:
·         Ratib al-haddad = Dzikir-dzikir nabawiyyah yang disusun oleh Habib Abdullah al-Haddad.
·         Santri ndalem = Santri yang mengabdikan diri pada kiainya.
·    Ad-dlaruuratu tubiihu al-mahdzuuraat = Kaidah fiqih yang berarti, hal darurat bisa memperbolehkan sesuatu yang terlarang (dalam agama).  

Senin, 11 Juli 2016

Puisi_Riza Multazam Luthfy (Terbit di harian “Solo Pos” edisi Minggu, 10 Juli 2016)


Makamat Fana

mengenangmu
berarti menyimpan sunyi
pada kering bebatuan

menyebutmu
sama saja membuang
batang mimpi
di jurang kesahajaan

tangga itu
tak ubahnya dirimu
yang selalu jadi obyek peraduan

semakin tinggi pendakian
semain tunjukkan
perkasa, wibawa

badanku yang tulang ini
lebih memilih rendah
dan jadi cerca
daripada raih kekar
tapi penuh tinja

kesempurnaan
bukan segala
tapi satu capaian
yang akan hilang
dengan sendirinya

Malang, 2009


Candu Tabana

biarkan pena ini
memeras peluh dan darahnya
karena badanku
tak sanggup lagi mencium
aroma wangi tubuhmu

tinta mutiara menggeliat
ingin sekali ia hunuskan pedang,
memecah sejarah,
mengelabui mimpi,
mencuri resah

setahun lalu
kaubujuk dia
menulis surat untuk matahari
surat yang berkabar ombak laut
memakan 7 anak kecil,
berita perut yang
berlauk lapuk rindu,
asap kota yang
menganga, mengotori
dada kiri para petani desa

di harimu yang senja
aku ingin ia kembali padamu
kubungkus pena itu
dengan kertas kristal dan pita merah

aku sudah tak tahan
melihat malamnya selalu sembab

pun di subuhnya yang batu
ia kerap berbisik renyah:

               "setahun ini,
               badanku patah semua
               aku ingin kembali
               kerja pada majikanku dulu
               yang tak punya lelah
               dan rambut putih"

Malang, 2009


Kopyah Itu

dari dulu
ia tak pernah belajar
                        dariku
dari dulu
ia tak mau berbagi
                        denganku

apa hanya karena itu
kopyah itu kau berikan
pada bajingan tengik sepertinya?

mumpung, aku masih baik hati
mumpung, aku tak lupa diri

tolong
kembalikan saja kopyah itu
pada si malu
yang selalu ingat pada surau
dan ringkik kalbu

Malang, 2009


Mantan Pejuang

sebagai pejuang,
tak semestinya kau hidup
dalam bayang-bayang

sebagai pejuang,
tak seharusnya kau bunuh
kebersahajaan

sebagai pejuang,
mungkin hanya
impian yang kau titipkan

sebagai pejuang,
kau harus tentukan:

jadi kenangan
atau
tinggal nama
yang menggantung di kuburan


Malang, 2009

Sabtu, 09 Juli 2016

Bunga Terakhir Eropa (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di "Taman Fiksi" edisi Juli 2016)

Sesekali jam dinding yang tergantung di atas pintu dilirik dengan beberapa kedip. Genap dua jam ia hanya mematung, memandangi kain putih tulang yang terbentang empat puluh senti meter di depan hidungnya. Diteguknya lagi kopi hitam-pekat-kental yang dari tadi belum tandas. Adapun halilintar, tanpa ditemani hujan, menghunjamkan tombak lancipnya ke pepohonan, seakan menertawakan dirinya yang tengah dirundung gamang.
Dengan kuas mungil yang dipegangnya, ia mencoba menorehkan cat biru muda ke atas lahan kosong. Nafasnya kembang kempis. Dari sudut pelipisnya merembes keringat sebiji jagung. Ini kali ia tidak boleh keliru menempatkan warna. Lukisan wanita asal Eropa yang akan dikerjakan adalah pesanan sahabatnya, Kasim Mudrik. Jadi, sebisanya hasil goresan tangannya mendekati sempurna.  
Ia, pelukis berjari tangan sembilan itu, merasa ada yang lain ketika bermaksud untuk segera merampungkan lukisan. Jemarinya gemetaran, dadanya berdegup kencang, fokus perhatiannya tiba-tiba buyar ditelan keraguan. Padahal, agar konsentrasinya tidak terpecah, dua pesanan dari Jepara sengaja ia tolak mentah-mentah, meskipun si pemesan berani menebus keahliannya dengan ongkos di atas rata-rata: tiga kali lipat dari harga biasa.
Memperhatikan foto di telapak kirinya, lelaki bernama Kamaruddin Thabrani itu memainkan ludah sambil menelengkan kepala. Wow, sungguh wanita yang cantik lagi memesona!
Sepemakan sirih kemudian, kedua matanya memindai pot bunga di sudut kamar. Hal itulah yang rutin dilakukan guna meningkatkan daya konsentrasi. Namun, nampaknya ia gagal. Bukannya bentuk dan gambar burung merpati di pot yang ia dapatkan, malah bayangan Kasim Mudrik yang datang.
Mengaitkan geraham, ia tendang botol-botol cat di kolong meja seraya mengumpat sekenanya. Sungguh, ia tidak mungkin berjanji bahwa dua bulan lagi, ia akan menyerahkan sebuah lukisan kepada pemuda yang paling dekat dengannya. Pemuda yang menyelamatkannya dari amukan warga, juga mereka yang mengaku penjunjung tinggi ‘nasionalisme buta’.
***
Untuk makan saja, mati-matian Kamaruddin Thabrani mencari uang. Ia hijrah ke negara yang selama ini cuma mampir di telinga, demi memaksa lambungnya bertahan. Syukurlah, di rumah kontrakan baru, ia sanggup melanjutkan hidup. Kurang lebih tiga bulan lalu, Kasim Mudrik membawanya ke rumah kusam dengan dua kamar yang kecil. Di rumah itulah ia ingin melepaskan diri dari bantuan Kasim Mudrik. Terus terang, ia menanggung malu karena telah lama menumpang. Dan, di rumah itu pula ia akan meneruskan mata pencahariannya sebagai pelukis.
Tak habis pikir ia, mengapa alur kehidupannya dilalui dengan sulit. Melalui lukisannya, ia dianggap telah menghina tokoh ternama di Rusia, sehingga memaksanya kabur dari Malaysia. Adapun ia sendiri tidak mengenal profil yang ia abadikan di atas kanvas. Mengingat, ia cenderung lebih suka mengakrabi kuas dan botol cat ketimbang acara atau berita televisi yang baginya kurang bermanfaat.
Sebenarnya, ia hanyalah korban. Seorang wanita asing pernah memesan lukisan berukuran 1,5 x 2 meter bergambar lelaki berseragam militer, berkumis rancung, memakai baret merah yang ditembus sepasang tanduk. Dari giginya yang runcing menempel sekerat daging manusia dengan darah kental menetes deras. Jadi, sesiapa memandangnya, pastilah melanting kesimpulan bahwa itu adalah gambar tentara iblis sedang menikmati tumbal.  
Dipilihnya Indonesia sebagai loka pelarian. Keadaan yang kian menjepit, lantaran sejumlah interpol mengejarnya, membuat otaknya enggan menakar banyak pertimbangan. Meskipun demikian, dalam hati kecilnya, ia menabung keraguan. Teman sesama pelukis dulu bilang bahwa Soekarno, presiden Indonesia pertama yang sangat disegani di seluruh dunia, pernah memekik lantang: “ganyang Malaysia!”.
Tanpa perbekalan memadai, ia menunggangi pesawat bertarif murah, lalu mendarat di Jakarta. Kakaknya yang penyair memberi alamat seorang kenalan asal Indonesia.
Kasim Mudrik menampung pelukis malang itu di rumahnya. Awalnya, selama berbulan-bulan, tiada gangguan atau ancaman berarti. Bahkan, Kamaruddin Thabrani merasa cukup nyaman, sebab lelaki pekerja kebudayaan yang kerap terbang ke berbagai negara itu amat ramah. Ia dianggap seperti saudara kandung sendiri, sampai-sampai segala kebutuhannya tercukupi tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.
Melalui jasa Kasim Mudrik, ia kembali menekuni pekerjaan yang genap mengantarnya menjadi buronan. Sesungguhnya, agak jera ia memulai lagi kegemarannya dulu menjelang senja: menuang dengan lembut berwarna-warni cat di wadah oval guna ditumpahkan ke kanvas. Akan tetapi, karena dorongan dan bujukan Kasim Mudrik, kepercayaan dirinya memulih. Apalagi, dengan bakat melukis, ia berniat memungut rupiah. Tujuannya, agar lambat laun, ia sanggup mandiri dan meringankan beban Kasim Mudrik. Syukur-syukur, bisa membalas segenap jasanya.
Berkat lelaki berumur tiga puluhan tahun berwajah tirus itu, ia memperoleh pesanan lukisan dari sejumlah pejabat dan pengusaha. Semangatnya bermekaran bak bunga melati di kebun Bu Johar (tetangga Kasim Mudrik yang memiliki hobi memelihara bunga). Untuk sementara, ia boleh melupakan bahwa dirinya seorang penjahat, yang sedang diburu di tanah kelahirannya. Hingga suatu hari, ketika kata ‘aman’ masih tersimpan rapi dalam brangkas kepalanya, sekonyong-konyong ia dikeroyok oleh orang-orang tak dikenal sehabis membeli peralatan lukis di pasar. Ia tidak tahu persis alasan kenapa jadi bulan-bulanan. Yang pasti, malam hari sebelum kejadian adalah malam di mana Indonesia ditekuk 3-0 oleh Malaysia dalam pertandingan sepakbola. Wajahnya pasti bonyok, tulang-belulangnya remuk, darahnya muncrat di sana-sini, jikalau tak berhasil meloloskan diri. Untungnya, ketika ada celah sedikit, ia menggunakannya dengan baik. Karena bertubuh kerempeng, ia berlari gesit, lalu sampai di rumah Kasim Mudrik dengan selamat. Meskipun demikian, jari kelingking kirinya harus diamputasi, setelah menerima gencetan keras dari lelaki berkaos klub sepakbola asal Jakarta—yang ikut mengeroyoknya secara membabibuta.  
Kamaruddin Thabrani menceritakan pengalaman pahitnya dengan mata berkaca-kaca. Lututnya menggigil, ketika mengatakan bahwa jarak antara kematian dengan dirinya begitu dekat. Bermacam-macam benda—apa saja—mudah dimanfaatkan guna mencungkil nyawanya; tongkat, batu, palu, pecahan kaca, tabung elpiji, atau kunci inggris sekalipun. Andaisaja ia memilih diam waktu dihakimi oleh kira-kira lima belas orang, barang tentu ia sudah berbaring di kuburan.
Jangkap menyimak kisahnya, Kasim Mudrik mengambil keputusan: mencarikan tempat baru yang dapat menjauhkan aroma tubuh Kamaruddin Thabrani dari penciuman para pemangsa.
***
Senyumnya mengembang, saat memindai lukisan. Berkali-kali menyentuh kulit kanvas yang telah dipadukan dengan berbagai warna itu, membuatnya terkagum-kagum; bercecap-cecap lidah sambil mengulum ujung jakun. Di antara ratusan karya yang dilahirkan, baru lukisan inilah yang benar-benar membuatnya puas. Ia banyak berterima kasih kepada Tuhan, sebab doa yang menyembul dari katup mulutnya selepas sembahyang lima waktu dikabulkan: mampu merampungkan pesanan dalam tenggat dua bulan. Sungguh, ia tidak mau, hanya gara-gara gagal menyelesaikan, atau mengalami sedikit keterlambatan, hubungan antara dirinya dengan Kasim Mudrik merenggang.  
Lukisan wanita cantik berambut pirang sebahu bernama Martina Stella itu dipajang dengan gagah. Kamaruddin Thabrani bermaksud meletakkan kedudukannya sedikit lebih tinggi di atas karya-karya lainnya. Tiap kali menatap tajam lukisan itu, otaknya langsung memutar kata-kata Kasim Mudrik di suatu sore yang mendung, “Kau tahu, sahabatku? Ialah satu-satunya wanita yang memaksa dinding jantungku bergetar, ketika pertama kali menemukan wajahnya. Ialah wanita yang mampu membelai perasaanku, waktu bercakap-cakap dengannya. Ialah wanita yang kukenal di Amerika, ketika kami sama-sama menghadiri undangan perhelatan budaya seluruh dunia. Ialah wanita yang setengah mati kucintai, tapi tidak bisa kumiliki.”
Ketika itu pula, dua pipi Kamaruddin Thabrani dibanjiri air mata. Betapa antara keduanya, ia dan Kasim Mudrik, terbentang kenangan yang saling bertautan. Kenangan yang terlalu pahit dan getir untuk disimpan di ceruk hati terdalam. Kenangan tentang bagaimana lelaki harus memendam perasaan sebab terpenggal janji untuk menikah dengan wanita pribumi, juga kenangan bagaimana lelaki harus mengubur dendam dalam-dalam karena terasing di negeri orang.
***
Pagi bertudung embun, Kasim Mudrik menerima lukisan terbungkus kain beludru hijau menyala yang diantar oleh seorang kurir. Hati-hati sekali rupanya ia ketika membuka lukisan yang hendak dipampang di ruang tamunya itu.
Sedikit demi sedikit, ia menyibak lukisan persembahan karibnya. Kau bakal menjadi kenangan terakhir sebelum aku melangsungkan pernikahan dengan anak wali kota. Begitulah batinnya berdesis. Lantas melihat di bagian bawahnya tertulis “Bunga Terakhir Eropa”, bibirnya menyungging. O, alangkah tepatnya sang pelukis menancapkan judul pada karyanya!
Raut muka yang mulanya cerah, tiba-tiba berganti muram. Hamparan keningnya dipadati gumpalan awan hitam, saat menelanjangi lukisan berbingkai kayu jati bersepuh warna emas itu. Di depannya berdiri sosok wanita Eropa cantik dengan pistol berasap di genggaman tangan kanan. Seolah puas menembak orang yang paling dibenci, wanita dalam lukisan tersebut terlihat jauh dari kata ‘anggun’. Bahkan, terkesan garang. Pun lebih pantas dipanggil si jalang, daripada disebut wanita pemegang teguh nilai-nilai moral dan kesopanan.
Kini, Kasim Mudrik barulah mengerti bahwa wanita asing yang menyebabkan karibnya mengunyah penderitaan luar biasa dan hidup terlunta-lunta adalah Martina Stella, yang selesai dilukis begitu sempurna.


Yogyakarta, 2012

Minggu, 03 Juli 2016

Idiot (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian “Lampung Post” edisi Minggu, 3 Juli 2016)

Aku merawatnya sepenuh hati. Meskipun jauh dari sempurna, ia tetaplah darah dagingku. Ia, dengan segala kekurangannya, adalah anugerah terindah yang dititipkan Sang Pencipta untuk senantiasa kupelihara. Maka, luapan kasih sayang adalah nutrisi terpenting agar ia bisa terhindar dari segala bahaya.
Tapi, tidak dengan Mas Anton. Sejak kelahiran anak kami yang pertama (dan mungkin satu-satunya), Mas Anton merasa begitu terpukul dan kecewa. Tujuh tahun penantian disertai kesabaran ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan. Tidak habis pikir ia, mengapa keluarga kami yang harus menanggung cobaan yang begitu berat ini. Maka, guna menumpahkan kekesalan, bukan Dira saja yang terkena imbas, akupun tertimpa getahnya.
Hari-hariku yang mulanya ungu berubah kelabu. Tiada lagi kecupan hangat mendarat di kening dan pipi. Tiada lagi belaian lembut bagi rambutku yang mulai kusut. Tiada lagi pelukan mesra sepulang ia bekerja. Tiada lagi ucapan selamat malam sebelum kami sama-sama memejamkan mata.
“Bukan. Ia bukan anakku!” Suatu kali, ketika melihat Dira bermain ayunan, Mas Anton berujar demikian.
“Ya Allah. Istighfar, Mas!”
Aku selalu mengingatkan Mas Anton agar ia menyesali kata-kata yang menyembul dari lidahnya. Bukannya diam atau menunjukkan penyesalan, ia justru menghujaniku dengan tamparan dan pukulan. Aku pun terhuyung dengan mata berat, membendung genangan air yang ingin tumpah.
Kali lain, saat pekerjaannya menumpuk hingga membuatnya jarang tidur, sekali lagi ia melantur, meratapi kehadiran sang buah hati.
“Dira berbeda jauh denganku. Apa kau……?”
“Jangan berkata yang bukan-bukan, Mas. Dari dulu aku selalu setia padamu.”
Hatiku seperti tersayat. Mas Anton tidak hanya enggan mengakui Dira sebagai anaknya, melainkan juga menuduhku telah melanggar ikrar seiya-sekata dalam mendayung bahtera rumah tangga.
“Tapi, nyatanya. Lihatlah! Muka, kulit, rambut, hingga perangainya pun sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia adalah pewaris darahku.”
Membisu. Jawaban hanya akan menerbitkan kemarahan. Lantas kuperhatikan wajah Mas Anton yang kian lama kian menawarkan arti kebencian.
***
Lelah. Sangat lelah. Setiap hari, usai menyiapkan sarapan Mas Anton, aku harus meluangkan waktu untuk mengantar Dira ke SLB (Sekolah Luar Biasa). Bagaimana tidak? Saban kali kumohon kepadanya untuk membawa serta Dira bersamaan dengan keberangkatannya, ia selalu menggeleng. Padahal, jalan menuju kantornya dan sekolah Dira searah. Barangkali ia merasa malu jika memiliki anak dengan keterbelakangan mental yang tentu sangat berbeda dengan anak-anak lain seusia Dira. Bahkan, pernah sewaktu salah seorang koleganya berkunjung ke rumah kami, Mas Anton mengaku belum dianugerahi anak dan menganggap Dira sebagai anak asuh. Mungkin Tuhan belum menghendaki. Begitulah celetuknya. Mendengar ucapan Mas Anton, aku langsung berlari ke ruang belakang sambil sesenggukan. Aku hanya mampu memprotes dalam hati, jika tidak ingin tindak kekerasan dan kebrutalan menghantam tubuhku bertubi-tubi.
Rasa benci Mas Anton pada istri juga anaknya menyebabkannya jarang sekali memberi uang, sehingga aku harus menguras otak demi membiayai pendidikan Dira. Dan, ketika membaca iklan pada sebuah media, muncullah ide menjadikan sekolah selain loka mengejar cita-cita Dira juga sebagai ladang berburu rupiah. Bermodal uang sisa pemberian Mas Anton, aku memutuskan untuk berjualan asesoris wanita di hadapan ibu-ibu yang mendampingi anak mereka.   
Barangkali sebab menaruh kasihan, mereka satu persatu bersedia membeli. Yang berlangganan rata-rata adalah istri pejabat dan pengusaha sukses. Hal inilah yang membuatku senang, karena selain barang-barangku dibayar kontan, tak jarang aku juga menerima pesanan. Sedikit demi sedikit aku mampu mengais rizki serta menyimpannya. Namun demikian, tak jarang aku pun menerima cercaan. Secara terang-terangan, mereka menganggap bahwa aku adalah perempuan yang tak bisa menjaga kehormatan keluarga. Berkesimpulan demikian, sebab salah seorang dari mereka mengerti bahwa aku memiliki suami yang bekerja di perusahaan ternama. Jadi, mustahil jika untuk menyekolahkan anak saja, aku harus ikut serta membanting tulang.
Aku selalu berusaha bertahan. Jangan sampai hanya karena gunjingan dari sejumlah orang, semangatku berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Untunglah, motivasiku bertambah ketika Dira berprestasi dengan menempati urutan delapan besar di kelas. Hal ini lekas kubocorkan pada Mas Anton yang justru ditanggapi sekenanya.
“Begitu dibanggakan. Saingannya saja anak-anak dungu. Dengar! Kalau ia bisa waras dalam waktu singkat, aku baru bangga.”
Astaghfirullahal’adzim….. Dira anak kita, Mas!”
Plak! Kulit bertemu kulit.
Ia pun segera berlalu tanpa bertanya mengapa butir-butir kegembiraan mulai lenyap dari wajahku.
***
Satu hal yang kubingungkan dari sikap Mas Anton adalah meskipun jamak kali menyakitiku, namun tak sekali pun ia pernah menyentuh Dira. Entahlah. Boleh jadi saking jijiknya, atau karena memang ia masih memiliki rasa empati. Oleh dasar itulah, tak henti-hentinya aku bersyukur dengan mengucap alhamdulillahirabbil’alamin sebanyak-banyaknya. Siang malam kusanjung-sanjung nama-Nya. Di setiap waktu kuresapi tanda-tanda kebesaran-Nya. Hingga suatu sore aku terkesiap saat mendapati kamar Dira kosong. Padahal, biasanya, menjelang senja, Dira sudah berpakaian rapi, berkopiah, bersiap-siap menuju mushalla.
Cepat-cepat kuayunkan kaki ke kamar sebelah. Di sana, di kamar Mas Anton, kutemukan celana Dira bergelantungan di sofa. Celana yang di beberapa bagiannya terdapat bercak merah. “Tapi, anakku kemana?” Batinku memekik.
Sepemakan sirih kemudian, Mas Anton muncul dengan sumringah. Sinar yang terpancar di wajahnya seakan mengembalikan kebahagiaan sewaktu ia mengecup keningku kali pertama. Rasanya, baru itu kali aku menemukan kembali kebahagiaan yang sudah lama terkubur dalam dirinya.
“Kau pasti mencari anakmu.”
Mengangguk. Seperti anak kecil yang belum bisa berbicara, aku pun diam seribu bahasa.
“Asal kau tahu….”
Tiba-tiba suaranya meninggi seiring dengan angin yang menerobos masuk melalui lubang jendela.
“Ia baru saja merusak dokumen-dokumen perusahaan. Dikiranya mainan. Dasar goblok! Padahal, sebentar lagi aku naik jabatan. Kalau seperti ini, pasti gagal. Semua gara-gara anak terkutuk itu!”  
“Apa yang kau lakukan pada Dira, Mas?”
“Tenanglah! Kini, ia sedang bertamasya bersama bidadari di surga.”
Mendengar jawaban Mas Anton, aku menjerit histeris sambil menutup muka dan tak sanggup lagi membukanya.

Yogyakarta, 2013