Minggu, 22 Februari 2015

Kepergian Briton Menuju Istana Kegelapan (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Padang Ekspres" edisi Minggu, 1 Februari 2015)

Di sebongkah pagi yang bertudung embun, aku bersama teman-teman—Toni, Sukma, Heru, dan Joko—melendeh santai di teras rumah Pak Raden. Hari Minggu adalah waktu di mana kami rehat dari pelajaran sekolah. Kami biasa mengisinya dengan beraneka kegiatan yang mengantar hati mengayuh gembira. Mendengar cerita Pak Raden merupakan salah satu di antaranya.
Sesuai janji, Pak Raden hendak mewartakan sebiji kisah yang belum pernah diriwayatkan kepada siapa pun. Termasuk cucunya sendiri, Bomi. Sungguh, kami mengantongi perlakuan istimewa. Alangkah serunya! Menyimak kisah yang tergolong langka itu.
Ditemani secangkir kopi dan lintingan tembakau, Pak Raden memulai alkisah dengan suara yang serak-basah; dengan nada melengking tinggi, kadang mendatar-merendah.
***
Istana Hungi adalah tempat yang sangat gelap. Istana megah itu urung tersentuh cahaya. Segala sesuatu di dalamnya tampak suram sekaligus menakutkan. Di sana selalu malam. Ya, malam dengan angin berdesir-desir dan lolongan satwa buas berkejaran. Pagi, siang, sore, dan senja memilih menjauh. Tapi tidak bagi manusia. Mereka berpenat-penat seraya mendekat. Sayang, belum terbit satu pun dari makhluk dengan seribu perasaan itu yang dapat menjangkau jalan menuju istana.
Namun demikian, suatu hari, pemuda yang dilahirkan ibu manusia, bertekad berkunjung ke sana. Berbekal lentera kecil, ia telusuri jalan tikus yang menghubungkan Krobbo, kampungnya, dengan hutan Jamul—loka mengerikan berjarak 5 kilo meter dari istana Hungi.
Tentu bukan manusia sembarangan yang bisa menembus hutan rimbun itu. Namun Briton berhasrat membuktikan bahwa dirinya adalah manusia pilihan. Benar. Manusia pilihan yang sanggup melumpuhkan Horsi—ular raksasa yang ratusan tahun tinggal di dalamnya. Binatang dengan sisik ulat, ekor bercabang lima, serta taring-taring tajam yang menempel di serata tubuhnya. Binatang berbisa yang melumat ribuan tulang para pemburu kemuliaan. Tak terkecuali, Monsi, kakek Briton, yang tamak mengejar jabatan tetua suku.
Tujuan sama dengan niat berbeda. Itulah kesan yang terendus dari pribadi Briton. Lelaki dengan jambang mengembang dan kumis lancip itu mafhum, bahwa manusia ingin pergi ke istana Hungi demi menggapai mimpi. Akan tetapi, Briton adalah Briton. Menurutnya, menggayuk mimpi dengan syarat menumbalkan nyawa tiadalah hal yang berguna. Ia enggan tewas konyol. Tewas mengenaskan semisal kakek Monsi usai semburan beracun melemaskan sekujur badan. Sekalian iganya yang bersemburat dan luluh lantak karena remasan Horsi. Briton membagul satu tujuan yang tak sempat terbersit oleh para pendahulunya.
***
Moher terguncang. Gerangan apakah yang membuat istananya mendadak gemetar. Oleng. Dan meraung-raung. Hampir satu abad, ia beserta para begundalnya dikelilingi kedamaian. Kedamaian yang terbungkus kegelapan. Bagi mereka, kegelapan merupakan hal terindah dan begitu diagungkan. Kegelapan—layaknya cahaya—berperan menyuluh kehidupan.
Kini bukan saatnya lagi mengunyah waktu bersama para selir; menikmati teh mura atau mengulun buah buja dengan pijitan halus jemari lentik betina-betina cantik di pundaknya. Ia harus lekas mengawasi keadaan. Terdesak, ia turun tangan tanpa menitahkan ajudan dengan suara paraunya.
Sampai di beranda istana, ia terlonjak. Tercengang. Lalu terdiam. Alisnya menyatu dan bibirnya menggigil. Bola matanya memergoki sepercik api dengan kepulan asap yang meliuk-liuk. Meski tak terlalu besar, ia sungguh berang. Kata Vorgi, paman Briton, Moher beserta pengikutnya sangat benci dengan segala hal yang menghembuskan cahaya. Itulah mengapa beberapa benda seperti obor, lentera, serta tungku milik penduduk Krobbo kerap rusak. Ah, tepatnya dirusak oleh Bunggula, sebutan bagi burung-burung berparuh besi utusan Moher.
Langkah masih tergagap. Ludah mengental di ujung jakun. Moher menduga bahwa sebiji peristiwa buruk mengancam istana. Ia dituntut mengambil tindakan segesit kilat. Atau penyesalan bakal terlebih dahulu menyapa.
***
“Wahai raja berburuk rupa, aku ke sini hanya demi melempar satu pertanyaan.”
Telinga Moher mendidih. Gerahamnya mengencang. Dua tangannya mengepal. Seumur-umur, belum pernah muncul makhluk yang berani berkata-kata memekakkan suasana seperti itu. Tanpa bermaksud merendahkan nyali, pangkal lidahnya bergeser sedikit dan meluncurkan sepotong kalam: “Tenang. Tenang. Perkenalkan dulu siapa dirimu.”
Briton menampik mentah-mentah ocehan Moher. Lalu tanpa basa-basi, ia menyahutnya enteng.
“Apakah kau ayahku?”
Moher tercekat. Ada yang mengunci katup mulutnya. Makhluk berambut cacing dan berbulu serigala itu memandang lurus ke depan. Pandangan yang seolah tertuju pada Briton, namun sebenarnya ia sedang merajut benang-benang masa lalunya. Bayangannya tumpah. Keping-keping ingatan yang dikubur dalam-dalam sekonyong-konyong menyerbu kepala. Bukan maksud menguras sesuatu yang sudah lama disingkirkan. Akan tetapi, sebab ulah Briton, kenangan-kenangan itu diletakkan kembali di punggungnya.
Dengan segenap kelancangan, Briton menebar ancaman.
“Jika tetap bungkam, kebohonganmu akan kubongkar. Dengan begitu, penduduk  Krobbo paham bahwa kau bukanlah raja kegelapan yang mampu mengabulkan segala permintaan. Bukankah selama ini kau merahasiakan hal ini? Termasuk kepada abdimu sendiri? Inikah satu-satunya usaha supaya kewibawaanmu tetap terjaga?.”
Bagai gelombang yang menyapu buih di laut Syme, buah tutur Briton memporakporandakan bangunan siasat Moher. Bingung memburu jawaban yang tepat, ia cuma berkelit: “apa yang kau maksud, anak muda?”
“Baik. Jika itu maumu, aku akan pulang. Ternyata kau lebih menyukai kehancuran daripada kejayaan.”
Belum genap kaki Briton menginjak gerbang istana, Moher menyusul sambil mendengking.
“Tunggu! Jika memiliki tujuh tahi lalat di paha kiri, kau adalah anakku.”
***
Diam-diam para menteri menggelar rapat besar. Genting. Darurat. Mereka merembukkan percakapan antara dua makhluk berlainan wujud itu, Briton dan Moher.
“Kalau memang anak ingusan itu benar, kita mesti mengumpulkan pasukan guna melengserkan raja. Ia layak dibumihanguskan. Sesungguhnya, kegelisahan ini lama kupendam tapi urung kusibak pada kalian.” Celetuk Bopeng.
“Setuju. Dulu kita diperingatkan berulang kali oleh Eyang Homan. Ia sama sekali tak percaya dengan sikap Moher. Siluman laknat itu hampir mengutil Gada Kura, senjata pamungkas Pangemanus—saat mendengkur lelap.” Sahut Gembyor.
Sorrah tergoda dan berkecek: “Tapi, perjanjian itu terlanjur dibuat. Kekuatan kita saat itu kalah telak dibanding jumlah kawulanya. Apa boleh buat; raja kita, Sumare, memutuskan untuk menyerah.”
Siluman berlengan sembilan itu melanjutkan lenguhnya: “Dan hingga sekarang, kita dijadikan jongosnya. Diperintah-perintah seenak udelnya.”
“Harus ada mata-mata.” Sambil menatap muka para siluman yang hadir, moncong Dalbo menguap. Dan tanpa aba-aba, mereka mengangguk serentak.
***
Kutukan itu tengah menerjang. Kutukan yang tak lain berpunca dari istrinya sendiri. Dalam benaknya, ia berdesis: “apakah ini kutukan yang dimaksud Sebru?”
Inilah masa di mana pengkhianatannya berbuah. Moher sadar, bahwa Sebru bukanlah perempuan biasa. Ia keturunan ketiga dari Hubras, penyihir paling masyhur di jagat raya. Namun semua sudah terlanjur. Penyamarannya sebagai jejaka tampan bernama Kamru, patut disesalkan. Moher ingat betul bagaimana dengan tipu muslihatnya, ia memperkenalkan diri selaku putra bungsu Asokin—tokoh tersohor dari Gurta—, sehingga Sebru jatuh ke pelukannya. Lalu bergulirlah lakon terlarang. Riwayat cinta antara manusia dengan siluman. Jalinan asmara yang sama sekali tak direstui oleh Kumila, ibu Sebru.
Berhasil mengetam keperawanan Sebru, Moher barulah mengaku bahwa dirinya bukanlah manusia. Tangis Sebru pecah; airmatanya hancur berderai-derai selama tiga bulan. Lantaran rengekan Sebru itulah, sungai Hibin memerah. Tetesan darah dari lubang netra perempuan berwajah purnama itu menggenangi permukaannya. Dan sesaat sebelum Moher menghilang, Sebru memasang kutukan.
“Ingat. Janin yang menyembul dari perutku ini bakal membinasakanmu. Celakanya, ia mustahil kau bunuh. Karena jika kau membunuhnya, itu sama saja melenyapkan dirimu sendiri.”
***
“Terlambat, Siluman.”
Briton menarik jubah hitam dari karung yang digantung di pinggangnya. Moher sangat kenal dengan kain lusuh itu.
“Itu kan jubah yang kupakai sebelum pergi meninggalkan Sebru.” Gumamnya lirih.
“Kenapa? Kau kaget, Ayah?.”
Sepemakan sirih kemudian, Briton mengenakannya dan api menyala seketika.
“Dengan cara inilah aku merampas nafasmu pelan-pelan. Jubah ini adalah saksi atas pengkhianatanmu pada ibu. Usai kau campakkan, ibu mengutuknya habis-habisan. Siapa saja yang memakainya, pasti ia terbakar. Tak terkecuali denganku, titisannya. Asal kau mengerti; tiadalah kehidupanku berarti jika ibu masih meratap. Kau pasti tahu, jika aku mati kau pun mati. Maka, membakar diri adalah jalan merenggut kebahagiaan. Kebahagiaan kala memandangimu meregang nyawa di hadapanku. Mampus dengan daging gosong dan tulang berantakan. Ya, mampus oleh sebab hal paling kau benci selama hidupmu. Aku telah menanti kesempatan berharga ini semenjak delapan tahun silam. Dan sekarang aku mendapatkannya. Hahaha…..”
Mata Moher membelalak sempurna. Jantungnya hampir lepas. Lantas………
***
Akhhh….. Maaf ya, ceritanya sampai sini dulu. Lain kali kita sambung, deh. Pak Raden mau mengantar Bu Inah ke pasar Sengkong. Tuh, orangnya sudah menunggu di depan.”
Tepat pukul setengah sepuluh, kami pulang dengan segebok pertanyaan menumpuk di kepala.

Yogyakarta, 2011