Minggu, 30 Juli 2017

Figur Sentral di Ranah Lokal (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di laman "Ruang Gramedia" edisi Sabtu, 29 Juli 2017)


Setiap daerah, pasti memiliki seorang tokoh sentral nan bijak, yang banyak jasa terhadap keteraturan daerah tersebut. Jejak mereka dikisahkan dari mulut ke mulut, sebagai bagian dari kebudayaan folklor.
Figur-figur sentral ini, lambat laun menjadi ikon lokalitas. Dalam beberapa situasi, folklor yang menampilkan para pembesar taraf lokal dimunculkan oleh desa perdikan.
Jajat Burhanudin dalam bukunya Ulama dan Kekuasaan; Pergumulan Elite Politik Muslim dalam Sejarah Indonesia, menyebut bahwa sistem dan budaya politik Jawa di desa perdikan menjadi sarana menciptakan dan mengawal tata negara (njaga tata-tentreming pradja).
Memandang agama ikut andil penting dalam pemerintahan, para raja Mataram mengangkat sejumlah ulama untuk ditempatkan di desa-desa tertentu. Mereka diberi tugas untuk memelihara makam elite kerajaan dan kaum bangsawan, mengorganisasi bermacam kegiatan keagamaan di tempat ibadah, dan menyebarluaskan syiar Islam.
Di desa-desa tadi, ulama memiliki wewenang untuk mengatur hampir semua persoalan. Menariknya, folklor juga memantapkan posisi figur sentral di puncak hierarki kewibawaan di ranah lokal.
Mereka sangat dihormati, baik sebelum ataupun setelah kematiannya. Saat masih hidup, mereka dipilih sebagai pemimpin lokal atau lurah. Keturunannya berhak menjadi aparatur desa.
Di dalam buku Prospek Pedesaan 1987 disebutkan bahwa dalam masyarakat tradisional, pamong desa tumbuh dari “dalam”. Sedangkan kepala desa adalah primus interpares—yang pertama di antara sesama.
Melalui mereka, pelaksanaan proyek diturunkan dari atas, dan dengan sendirinya lembaga desa menjadi bagian terbawah dari hierarki birokasi.

Figur Pemersatu
Di Bojonegoro, Jawa Timur, ada sebuah folklor tentang tokoh yang berwibawa. Ia dipercaya sebagai pembangun lima desa, yakni Slandeng, Tanggungan, Mruwut, Mbak Atu, dan Ndukoh, menjadi satu desa besar bernama Semambung.
Dahulu, saat Belanda masih berkuasa, kelima daerah tersebut saling selisih paham. Tingkat kepercayaan dan kerukunan rendah. Ditambah lagi, sebagian penduduknya memiliki kekuatan fisik dan kesaktian. Tak jarang, mereka saling baku hantam, adu kesaktian.
Perkelahian semacam itu menjadi alternatif utama untuk memecahkan masalah. Di dalam diri mereka, ada kepercayaan bahwa kewibawaan dihadirkan dari seberapa kuat tubuh mengangkangi musuh. Syak wasangka mendorong mereka, secara tak sadar, melestarikan tradisi barbar.
Hadirnya Ki Ageng Mruwut membawa angin segar bagi perubahan desa-desa itu. Perilaku orang desa, perlahan mulai berubah. Pandangan terhadap realitas pun bergeser.
Sikap terbuka diperlihatkan dengan menerima masukan dari luar. Mereka tak lagi kaku dalam memaknai prinsip kehidupan leluhur. Pendekatan yang ditempuh Ki Ageng Mruwut ternyata sanggup meluluhkan hati mereka. Kekolotan warga desa dihadapi dengan luwes dan bijak. Kiprahnya menyebabkan daerah-daerah yang bermusuhan dapat bersatu.
Ki Ageng Mruwut, yang memiliki hubungan darah dengan Sunan Mahmudin Ashari (Sunan Bejagung), datang dari Tuban. Setelah melewati hutan belantara dan melintasi sungai Bengawan Solo, ia berhasil ke wilayah itu.
Saat itu, air sungai mengalir dari barat Desa Ngrengel hingga kaki gunung Ngrengel. Lalu, peralihan zaman menjadikan alirannya mulai surut, bahkan berhenti.
Ciri-ciri Bengawan akhirnya benar-benar raib. Tak heran kalau sejumlah orang menyebutnya “Bengawan mati”. Kemudian, aliran air pindah jalur, dan mengelilingi wilayah yang nantinya bernama Semambung.
Kembali ke Ki Ageng Mruwut. Selain dikenal sebagai pemersatu daerah-daerah yang bergejolak, ia juga dinilai berjasa menyebar Islam. Bahkan, opini publik menganggapnya sebagai tokoh perdana yang membawa Islam ke Desa Semambung.

Danyang
Nama Ki Ageng Mruwut diabadikan sebagai sosok yang selama ini dipercaya mengenalkan Islam, bersama dengan Kyai Cele, Kyai Tegal Agung, Kyai Thol Joyo Negoro, Kyai Joyo Negoro, Kyai Masnegoro, Kyai Yahya, Kyai Sarafuddin, Kyai Panembusan, Kyai Pademangan, dan Nyai Kademangan.
Kedudukan Ki Ageng Mruwut diyakini cukup tinggi, baik di hadapan manusia maupun Sang Khalik. Umat Islam di desa ini senantiasa menaruh hormat, sebab merasa berutang budi kepada Ki Ageng Mruwut. Ialah “orang suci” yang genap menghibahkan pengetahuan tentang halal dan haram.
Karena perannya inilah, ia mengantongi kewibawaan yang cukup besar. Tak heran makamnya dikeramatkan.
Agenda tahunan yang diselenggarakan masyarakat dengan maksud memperingati kematian Ki Ageng Mruwut mengindikasikan bahwa kewibawaannya tetap diakui sepanjang masa. Hal ini juga menunjukkan, tercabutnya ruh dari raga tidak lantas meruntuhkan martabatnya. Kewibawaan tetap dibawa ketika ia berhijrah ke alam nir kasat mata.
Desa-desa lainnya juga memiliki figur serupa Ki Ageng Mruwut. Biasanya, setelah meninggal dunia, sebagian tokoh sentral dinobatkan sebagai danyang—roh pelindung desa.
Figur berwibawa yang meninggal dunia dilegitimasi menjadi sosok yang dianggap mampu menyelamatkan desa dari segala bentuk musibah dan malapetaka. Kewibawaan mengantarkan seseorang menjadi makhluk astral yang dalam waktu-waktu tertentu memperoleh persembahan dan sesaji.
Di dalam kebudayaan Jawa, setiap desa memiliki ruh pelindung yang bersemayam dalam pohon rindang. Menurut Zaini Muchtarom dalam Santri dan Abangan di Jawa, warga desa kerap membayangkan roh-roh itu tinggal di dalamnya, sebelum tanah dibersihkan untuk pembangunan desa.
Lantaran dianggap angker, sejumlah titik yang dikuasai danyang dilarang berpenghuni manusia.

Bojonegoro, 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar