Minggu, 30 Juli 2017

Realisasi Program Listrik Masuk Desa (Opini_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Kontan" edisi Jumat, 28 Juli 2017)


Ingar-bingar modernisasi belum sepenuhnya dirasakan rakyat kecil. Sampai detik ini, kegelapan masih menyelimuti  sejumlah  desa di Indonesia. Pasokan listrik ke beberapa daerah pun belum merata. Sehingga, banyak daerah disibukkan soal penerangan.
Catatan pemerintah, terdapat 2.500 desa belum ada listrik. Ironisnya, listrik belum berhasil menjangkau Kalimantan yang dikenal sebagai lumbung energi. Orang desa di sekitar perbatasan dan pedalaman kerap membayangkan ada listrik yang membuat hidup lebih mudah dan praktis.
Guna mengatasi persoalan itu, pemerintah berupaya mengalirkan listrik ke sejumlah desa. Namun akses yang sulit menuju lokasi serta kurangnya pembangkit listrik menjadi kendala tersendiri.
Persoalan lain, modernisasi tidak selalu diterima  semua lapisan masyarakat. Apalagi jika prosesnya berlangsung cepat. Sebab program listrik masuk desa bisa mendorong transformasi nilai kehidupan melalui alat komunikasi modern, semisal televisi, sebagai sarananya.
Rianto Adi (2012: 62) mensinyalir, transformasi ini memunculkan beragam ekses dan dilema. Di satu sisi, masyarakat bersedia menerima nilai yang ditawarkan televisi. Ini juga membuat masyarakat mulai meninggalkan nilai tradisi yang sejak dulu dianut. Sisi lain, masyarakat berani menolak nilai baru karena bisa merusak sekaligus mendegradasi nilai-nilai lama.
Para pakar dan peneliti mengakui, merebaknya teknologi komunikasi turut menularkan gaya berbicara, gaya berpakaian, serta gaya hidup Jakarta ke wilayah pedalaman. Betapa identitas lokal telah diberangus sedemikian rupa oleh bermacam tontonan yang mengusung Jakarta sebagai ikon kemajuan. Diluncurkannya program listrik masuk desa oleh pemerintah dan semakin terjangkaunya antena parabola bisa memunculkan Jakartaisme lebih dahsyat.
Meskipun demikian, teknologi komunikasi yang menjadikan listrik selaku penyangga utama menyebabkan orang desa semakin kritis. Rasionalitas membimbing mereka dalam menyikapi berbagai peristiwa yang terjadi.

Listrik bisa membuka mata
Inilah salah satu manfaat adanya pasokan listrik ke desa. Rakyat kecil mampu membedakan fakta, dagelan politik, dan upaya pencitraan kaum elite. Mereka juga sanggup memilah antara hak dan kewajiban selaku warga negara. Dengan demikian, munculnya tuntutan demokratisasi akhir-akhir ini antara lain disebabkan semakin kritisnya daya berpikir orang desa.
Tersedianya pasokan listrik juga berpengaruh terhadap berkembangnya lokasi wisata dan meningkatnya perekonomian lokal. Jika ditelisik secara mendalam, sebenarnya pariwisata mulai berkembang di Ubud pada tahun 1976, sewaktu listrik dipasang di desa.
Pada permulaan tahun 1980-an, perkembangan pesat terjadi saat bank, restoran, penginapan, galeri, butik, dan biro perjalanan bermunculan di sepanjang jalan desa, serentak dengan program pengaspalan jalan. Sejak itulah, bungalo, cottage, homestay, serta losmen menyebar ke sekeliling Ubud (Michel Picard, 2006: 124).
Terlepas dari sisi positif dan negatif, bagaimanapun listrik merupakan kebutuhan vital bagi warga negara. Potensi yang tersimpan di setiap daerah akan lebih tergali jika listrik tersebar ke berbagai penjuru Indonesia. Supaya program listrik masuk desa bisa berjalan lancar, dua langkah berikut perlu segera ditempuh.
Pertama, pemerintah daerah (pemda) semestinya mempermudah terbitnya izin pelaksanaan kebijakan energi nasional. Hal ini dilakukan dalam rangka mendorong perbaikan tata kelola pemerintahan untuk mempererat hubungan dan jalinan komunikasi antara pusat dengan daerah.
Berdasarkan pengakuan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Arcandra Tahar, pembangunan pembangkit listrik antara lain terkendala oleh peraturan daerah (perda) yang mempersulit proses investasi. Banyak Perda yang tidak mendukung, tetapi justru menghambat program listrik masuk desa.
Kedua, komitmen Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk mempercepat pembangunan listrik desa, terutama yang terpencil dan jauh dari jangkauan transportasi, harus tetap dipegang teguh. Komitmen tersebut antara lain  mengaliri listrik ke 484 desa di wilayah Indonesia Timur pada 2017. Disertai dengan usaha serius, target ini pasti dapat tercapai. Mengingat, pada tahun 2016, PLN sanggup mengalirkan listrik ke 96 desa di wilayah Papua dan Papua Barat.

Yogyakarta, 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar