Kamis, 13 Juli 2017

Gasing vs Gadget (Edukasi_Riza Multazam Luthfy, terbit di laman "Ruang Gramedia" edisi Rabu, 12 Juli 2017)


Bentara Budaya Jakarta pernah menyelenggarakan pameran bertajuk “Menyelami Kegairahan Masa Kecil”. Salah satu misi dalam acara tersebut yaitu merevitalisasi permainan tradisional. Tema pameran ini tampaknya sengaja dipilih lantaran saat ini anak-anak lebih gandrung dengan game-game modern yang ditawarkan perangkat virtual. Padahal, jauh sebelum teknologi berkembang dan munculnya beragam perangkat gadget, anak-anak kerap bermain permainan tradisional berbahan sederhana dan ramah lingkungan.
Endi Aras, penggagas pameran ini menyebut, di Lombok, Nusa Tenggara Barat, terdapat bukit gasing. Menurut pendiri komunitas Gudang Dolanan tersebut, di tempat itu sebulan sekali warga setempat memainkan gasing bersama-sama. Uniknya, adu gasing dimainkan secara berkelompok beranggotakan 10 orang dan diselenggarakan di lapangan berukuran 10x8 meter. Pertandingan yang berlangsung selama dua kali 45 menit ini cukup semarak, lantaran diramaikan hingga 80 kelompok.

Harmonisasi
Meski terdapat persamaan dalam pola, cara, dan alat bermain gasing di seluruh Indonesia, namun masing-masing daerah menyimpan nilai dan filosofi berbeda. Di Lombok, misalnya, adu gasing memerankan fungsi ganda. Di samping merambah semua usia –mulai dari anak-anak sampai orang dewasa—permainan berhadiah kambing atau tape compo tersebut juga merupakan sarana silaturahim. Dalam konteks inilah, efektivitas permainan tradisional dapat membentuk sistem sosial yang menjamin keseimbangan antara kebebasan individu dengan kestabilan masyarakat. Betapa permainan tradisional berperan besar dalam mengokohkan fondasi masyarakat madani (civil society).
Adu gasing di Lombok mengutamakan kerukunan, keakraban, serta kebersamaan. Dari sini kita bisa melihat, aktivitas bermain bersama terbukti mampu menekan bahkan mengatasi gejala-gejala perpecahan dan konflik sosial. Dengan digelarnya ajang rutin tersebut membuat tidak ada perbedaan strata. Pelestarian permainan tradisional menjadikan harmonisasi terjalin antara warga desa,. Dengan begitu, interaksi sosial senantiasa dapat terpelihara. Semua lapisan masyarakat juga dapat meraih kesenangan. Di sinilah muncul kegembiraan komunal yang dapat mengkonter pesatnya kegembiraan individual yang ditularkan kaum urban.
Tentu dengan ajang tersebut, pemerintah desa cukup terbantu dalam merealisasikan kebijakannya. Bagaimanapun, keharmonisan membuat prinsip-prinsip good governance di tingkat lokal lebih mudah diimplementasikan. Kuatnya jalinan persaudaraan dan kekerabatan di Lombok meringankan tugas perangkat desa dalam menjalankan birokratisasi di level grass root (akar rumput), memberdayakan potensi lokal, melancarkan misi pembangunan pemerintah pusat, memberikan pelayanan administratif, serta melakukan dinamisasi masyarakat. Terlaksananya program pemerintahan desa antara lain ditopang oleh intimitas serta intensitas komunikasi para warganya. Lebih jauh, kepatuhan warga terhadap apa yang digariskan oleh pemerintah desa menabalkan ciri komunal serta mengukuhkan ikatan emosional.

Etos Modernitas
Meskipun demikian, menjamurnya game online, media sosial, dan media virtual akhir-akhir ini secara perlahan menelan tradisi permainan tradisional. Fenomena ini menunjukkan bahwa perbudakan, penindasan, bahkan penjajahan telah berubah bentuk. Padahal, demokrasi modern bertumpu pada upaya membebaskan manusia dari hegemoni dan dominasi pihak lain. Pilar kesetaraan yang mendasari mekanisme demokrasi sebagai warisan alam (natural endowment) mestinya perlu diutamakan.
Lahir di era modern, barang tentu anak-anak di desa sukar mengelak dari nilai, prinsip, dan etos modernitas. Dalam situasi demikian, mereka tergiur untuk memanfaatkan perangkat modern sebagai pemuas imajinasi. Sayangnya, ketika menggunakan gadget, anak-anak kerap terjebak pada permainan yang kurang mendidik. Bila diperhatikan, banyak game menghadirkan berbagai kekerasan dan pornografi yang rentan merusak mental dan kejiwaan mereka. Padahal, selain menjadi sarana belajar dan pendongkrak prestasi, permainan seharusnya juga mampu merekatkan ikatan emosional dengan menjunjung tinggi pluralitas masyarakat dalam bingkai keindonesiaan.
Dalam konteks inilah, perlu dilestarikannya kembali permainan tradisional yang dapat memupuk daya kreatifitas, mengembangkan emosi antar personal, melejitkan kemampuan bersosialisasi, melatih sportivitas, serta membentuk bermacam kecerdasan (intelektual, logika, spasial, kinestetik, dan natural) sebagai respons atas gencarnya gejala-gejala kapitalisme.
Mayke (1995) mengatakan bahwa belajar dengan bermain memberi peluang kepada anak-anak untuk memanipulasi, mengulang, menghasilkan penemuan, bereksplorasi, melakukan praktik, dan memperoleh bermacam konsep serta pengertian yang melimpah. Di sinilah pembelajaran berlangsung. Mereka mengambil keputusan, menentukan, mencipta, memilih, memasang, membongkar, mengembalikan, mencoba, mencetuskan gagasan, memecahkan problem, melakukan pekerjaan secara tuntas, bekerja sama, serta mengalami beragam perasaan (Anggani Sudono, 2000: 3).

Peran Keluarga
Selayaknya berbagai efek modernitas yang timbul dewasa ini tidak lantas memaksa anak-anak meninggalkan kultur nenek moyang. Mereka tidak boleh dimanipulasi oleh segala kemudahan, kenyamanan, serta kemewahan yang dijanjikan modernisme. Sebaliknya, anak-anak yang tumbuh di wilayah perdesaan senantiasa memungut kearifan-kearifan lokal yang diwariskan para pendahulu. Di sinilah kontribusi keluarga sangat diharapkan dalam menanamkan kecintaan terhadap permainan tradisional.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua dituntut mampu membentuk sebuah kultur yang meyakinkan anak-anak dalam memaknai diri. Lazimnya, mereka lebih suka membenamkan diri dengan kultur yang ada. Daripada mencoba hal baru, mereka merasa nyaman berada di bawah dominasi kultur tersebut. Mengubah mindset anak-anak yang terlanjur akrab dengan dunia maya membutuhkan waktu dan proses adaptasi. Lingkungan sosial diciptakan dalam rangka mendukung optimalisasi permainan tradisional, sehingga nalar, karakter, serta pola hidup anak-anak bisa dibangun sejak dini.
Selain itu, upaya pemahaman harus digalakkan. Orang tua senantiasa memberikan pengertian bahwa di balik nikmatnya berselancar di jagat virtual, terkandung bahaya dan ekses yang mengancam. Mereka dibekali informasi bahwa produk-produk modernitas, terutama internet dan game online, tidak sepenuhnya bermanfaat. Bahkan, jika digunakan secara serampangan dan berlebihan, risiko dan kerugian mustahil bisa dihindarkan.

Yogyakarta, 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar