Minggu, 24 Januari 2016

Gembok (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Republika" edisi Minggu, 24 Januari 2016)

Di Jalan Veteran, Malang, terpasang bingkai gembok cinta ala Paris. Para pengunjung berdecak kagum saat menyaksikan keindahan gembok bernuansa pink tersebut. Namun demikian, keberadaannya menuai protes dari sejumlah pihak, sebab memberangus citra Malang sebagai kota pendidikan dan mengakrabkan kaum muda dengan budaya Barat. Protes ini ditanggapi oleh Dinas Pertamanan (DKP) Kota Malang dengan mengalihfungsikan frame Ngalam, I'm in Love tersebut sebagai taman vertikal.
Dalam catatan sejarah, gembok tidak sekadar menjadi medium pengaman dan simbol kesetiaan sepasang kekasih. Ia juga merefleksikan pergulatan manusia menghadapi realitas. Ritus kehidupan kalangan Sunni dan Syiah di Irak tidak terlepas dari gembok. Sambil memasang gembok (qift) pada pagar makam wali, mereka menggantungkan harapan. Tradisi ini menyimpan maksud memperkuat nazar dan mempererat hubungan dengan “orang suci”. Para penjaga merasa kesulitan mencegah ulah mereka, sehingga gunting besi kerap digunakan untuk membersihkan area pemakaman dari gembok. Akan tetapi, tampaknya para peziarah lebih kreatif. Tebalnya terali pagar berhasil disiasati dengan memasang gembok berukuran kecil pada gembok yang lebih besar.
Gembok juga mengandung ikhtiar manusia menjalani hidup dengan kepala dingin. Bagi Abu Nawas, gembok merupakan sarana menertawakan hidup. Kepada keluarganya, ia berpesan agar kelak gerbang makamnya menampilkan gembok sebesar ember. Tak ayal hingga saat ini, tempat peristirahatan terakhirnya mengundang tawa para peziarah.
Dari kejauhan, mereka mengira bahwa makam tokoh humor legendaris berdarah Arab dan Persia tersebut sulit dimasuki. Nyatanya, di sebelah kiri dan kanannya berdiri sebuah pagar dinding yang sangat mudah dilewati. Berbekal gembok, Abu Nawas seolah ingin berkoar bahwa hasratnya dalam berkelakar tidak mampu dibendung oleh kematian.

Tafsir Mimpi
Oneirologi, cabang ilmu pengetahuan yang meneliti tentang mimpi, memuat pemaknaan atas gembok. Seseorang yang membuka gembok dalam tidurnya, jika belum mempunyai pasangan hidup, ia dipastikan akan menikah dalam waktu dekat. Jika berada dalam penjara, maka ia akan segera keluar.
Jika tengah didera kemiskinan, maka pintu rezeki akan terbuka baginya. Jika ia seorang hakim yang sukar memutus perkara, maka jawaban akan muncul dengan mudah (Ibnu Sirin, 2004: 353). Dengan demikian, membuka gembok mengandung hikmah, kebebasan, kekayaan, dan kebaikan.
Imajinasi gembok tersaji apik dalam cerpen “Kado yang Terlambat Tiba” (dalam Kumcer Samsara, GPU, 2005). Penulisnya, Putu Fajar Arcana, mengurai kegelisahan seorang wanita pasca tragedi pembunuhan massal di Indonesia tahun 1965. Meski dilarang keluarga, ia nekat hijrah ke Jakarta. Pilihan ini diambil guna menyambung hidup, setelah suaminya dikabarkan tewas akibat tuduhan komunis.
Sebagai warga keturunan Tionghoa yang kerap mengalami diskriminasi, iklim politik jelas kurang mendukung. Suasana kota begitu mencekam, ditandai dengan letusan senapan di berbagai tempat. Kasus pembunuhan bukan lagi keanehan atau keganjilan. Guna meredam ketakutan anaknya, wanita itu selalu mengunci pintu dengan dua gembok besar. Gembok menjadi pertahanan terakhir dari segala ancaman dan situasi menegangkan. Namun demikian, rumahnya tetap saja dapat ditembus oleh kabar yang setiap hari berseliweran. Salah satunya, banyak orang ditangkap dan dikumpulkan untuk kemudian dibantai bersama-sama di lantai dasar sebuah toko.
Barangkali terinspirasi dari gembok, Dedet Setiadi memberi judul kumpulan puisinya Gembok Sang Kala (Forum Sastra Surakarta, 2012). Dalam puisinya bertajuk Gembok, ia menulis: Gerbang langit terkunci/ tak bisa dibaca/ sebelum gembok berhasil dibuka/ mengetuk-ngetuk tabir bahasa/ sajak hilang rasa!/ Di ujung pintu/ aku dengar langkahmu cethat-cethit/ mengayunkan jarum arloji/ ke arah langit yang masih terkunci//.

Bojonegoro, 2016

Jumat, 22 Januari 2016

Sepasang Gila (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian “Fajar Sumatera” edisi Jumat, 22 Januari 2016)

Perempuan itu meraung. Keningnya melelehkan darah. Ia, yang sudah beberapa lama menanti kehadiran seorang lelaki, akhirnya harus mengalah. Entah kepada diri sendiri, atau kepada mereka yang menyebutnya gila. Ha? Gila? Kata yang disematkan pada tubuhnya enam bulan terakhir.
Orang-orang di sekeliling memandanginya, berdesis. Tanpa ragu, ia menyaring suara-suara yang menyembul dari katup mulut mereka, satu persatu. Namun, menggeleng. Pertanda bahwa desisan tersebut kurang jelas. Atau bisa jadi memang terlalu sukar dialihbahasakan dua telinganya.
Heran. Itulah kesan pada dirinya sendiri, yang genap menjadi magnet bagi sesiapa yang melihatnya. Di jalan, jembatan, trotoar, atau bahkan alun-alun kota. Wajahnya yang kotor-kusam namun masih ditempeli bulir-bulir kecantikan, rupanya menjadi daya pukau tersendiri bagi kaum lelaki. Tak ayal, berkali-kali ia nampak mengutuki diri sendiri. Bukan tuduhan gila yang digencarkan kepadanya, namun lebih karena elok rupa yang terlanjur ia tampung, sejak kali pertama menghirup udara untuk diputar di hidung.
Kini, di telapak tangan kanannya melekat cairan kental merah tua. Ia mengusap sembari memijat. Memastikan bahwa di keningnya tidak menganga lubang besar sebagaimana di jalan raya di negara asalnya yang tak bosan-bosannya melahirkan kecelakaan beruntun. Juga merekam wajah lelaki yang begitu tega melempar batu ke arahnya. Padahal, selama ini, lelaki-lelaki yang menjumpai dan dijumpainya selalu bertabiat serupa: mengulum ujung jakun, sambil menatap lekat-lekat buah dadanya yang dibiarkan menggantung, terbuka.
Sepertinya, ah, lelaki itu, lelaki dengan tindik di bawah bibirnya itu, pernah menjadi bagian dari kehidupannya.  
***
Mematung. Memperhatikan lalu-lalang mereka yang berseliweran di depannya. Jangkap berminggu-minggu ia tinggal di sudut stasiun itu. Sendirian. Menanti kedatangan seorang perempuan. Hingga bosan. Tapi, tidak. Ia tetap menunjukkan sikap seorang kekasih setia, yang mengawat erat setiap janjinya.
Beberapa orang sering mempermainkan dirinya. Ada yang memiring-miringkan telunjuknya, ada yang pura-pura mengajaknya tertawa, juga ada yang bahkan sengaja mencelakainya. Ya, tak jarang mereka melemparkan kotoran ke kepalanya atau mengencinginya ketika tidur.
Tak habis pikir, mengapa ia diperlakukan sedemikian rupa. Seperti mainan. Bukan, bukan. Seperti sampah, barangkali. Ia, kalau suatu saat mereka menginginkan, bisa saja dibakar ramai-ramai, guna sekadar mencari hiburan atau mengusir dinginnya malam. Sebagaimana yang terjadi tadi malam, di mana seorang perempuan yang membawa korek api, hendak menjadikannya api unggun, ketika daun-daun sudah dirayapi jari embun. Tapi, bukannya bersama komplotan, perempuan itu melakukannya tanpa teman.
Untunglah, ia selamat. Berkat kesigapannya untuk segera kabur dalam kondisi basah kuyup, bermandikan bensin, yang telah diguyurkan ke serata tubuhnya. Lagi-lagi ia tak habis pikir, nekat benar perempuan itu. Hingga tanpa merasa berdosa sedikitpun, bermaksud mengirimnya ke neraka.
Sesampai di tempat yang agak jauh, nafasnya kembang kempis. Ia, yang sibuk memeras peluh di pelipis, mencoba merangkai ingatan tentang perempuan yang berniat menghabisi, namun seolah pernah menanamkan benih-benih cinta dalam hati.  
***
“Siapa kau?” Lelaki dan perempuan itu melanting pertanyaan, bersamaan.
“Kau siapa?” Kurang puas, sekali lagi, keduanya bersoal antara satu dengan yang lain.
Hening.
“Kenapa keningmu berdarah?”
“Kenapa tubuhmu berbau bahan bakar?”
“Orang gila menghadiahkan batu kepadaku.”
“Orang gila memberi kejutan untukku.”
“Orang gila? Hmmm…” Untuk kesekian kalinya mereka mengucap hal yang sama, berbarengan pula.
“Lelaki itu sangat kesepian. Menghujaniku dengan batu, berharap aku mengejarnya. Ia ingin ulang permainan yang mungkin biasa diikuti semasa kecil. Tapi, aku bukanlah perempuan bodoh!”
“Perempuan itu begitu akrab dengan kesunyian. Dari raut mukanya, aku bisa mengetahui isyarat itu dengan jelas. Barangkali dengan membakar tubuhku, ingin ia dapatkan kehangatan, yang selalu ditawarkan kekasih.”
“Kekasih?”
“Ya, kekasih. Kau punya?”
Ia mengangguk.
Kemudian menggeleng.
“Oh, sayang. Kau termasuk orang merugi.”
“Aku bukan mengatakan tidak punya.”
“Lantas?”
“Lupa, apa aku pernah punya kekasih atau tidak. Bagaimana denganmu?”
“Ini pertanyaan paling sulit kujawab.”
“Maaf.”
“Kalau boleh tahu, sedang apa kau di sini?”
“Kalau tidak salah, dulu seorang lelaki berjanji menungguku. Di stasiun ini.”
“Kekasihmu?”
“Sudah kubilang, aku benar-benar lupa. Tapi, mungkin saja ia memang lelaki istimewa.”
“Beruntunglah lelaki itu.”
“Beruntung?”
“Kekasihnya begitu setia.”
“Salah. Asal kau tahu, ikrar kesetiaan yang paling rentan dilanggar adalah melupakan ikatan antara sepasang kekasih.”
“Ikatan?”
“Benar. Tentu kau pernah membuat ikatan bersama seorang perempuan?”
Lelaki itu tidak mengangguk. Tidak pula menggeleng. Sepenghisap pipa kemudian, ia bermaksud menerbangkan pikirannya ke masa-masa yang telah ia lewati, namun gagal.
***
Jessica Subono dan Yoga Bradley berjanji bertemu di stasiun Woking. Sesuai kesepakatan kemarin, mereka berdua hendak membelanjakan liburan di Guildford, empat puluh tiga kilometer barat daya London. Dua mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di ibu kota Inggris tersebut berangkat dari apartemen masing-masing.
Di tengah perjalanan menuju stasiun, keduanya membayangkan alangkah indahnya kencan pertama yang akan dilalui. Kenangan-kenangan manis akan tercipta dalam suasana sejuk-tenang, di kota Guildford. Selain mengunjungi katedral, galeri seni, museum, menikmati bioskop dan teater (Yvonne Arnaud), sepasang kekasih tersebut juga dapat mengenang pemboman oleh gerilyawan Irlandia Utara pada dua pub lokal. Betapa Jessica Subono dan Yoga Bradley ingin memetik pengalaman berbeda dalam kencannya, dibanding mahasiswa-mahasiswa asal Indonesia yang lain. Namun, sekali pun mereka tidak pernah membayangkan, di sana, di dekat stasiun Woking sana, berlangsung demonstrasi ribuan mahasiswa dari berbagai kampus,  menentang rencana pemerintah dalam mengurangi anggaran negara. Pun, dua mahasiswa yang baru seminggu menjalin asmara tersebut, tidak pernah berpikir, bahwa demonstrasi berdarah itulah yang ternyata bakal menyebabkan keduanya menjadi gila. Selamanya.

Yogyakarta, 2013

Rabu, 20 Januari 2016

Desa dan Perempuan (Opini_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Fajar Sumatera" edisi Rabu, 20 Januari 2016)

Perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan desa. Sayangnya, selama ini, eksistensi mereka kurang mendapat perhatian. Potensi perempuan kurang diberdayakan, sehingga kreatifitas dan kelebihan yang mereka miliki selama ini hanya dicurahkan untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga.
Di samping menangani urusan domestik, seperti merawat anak, menyiapkan hidangan di meja makan, dan mencuci pakaian, perempuan juga kerap membantu perekonomian keluarga. Kesejahteraan keluarga menjadi prioritas utama perempuan saat berburu rizki. Dengan demikian, para suami sering mendapat bantuan, baik moril maupun materiil, dari istri. Para suami berbagi peran dengan mereka dalam bekerja. Di sela-sela kesibukan mengurus keperluan rumah tangga, perempuan menyempatkan waktu untuk menambah penghasilan.
Sayangnya, kultur patriarki telah merenggut hak perempuan untuk berpendapat, terutama dalam urusan publik. Kebudayaan yang “pro-lelaki” rentan mengesampingkan suara mereka. Jika pun ada usaha menampung gagasan perempuan, biasanya bersifat seremonial dan formalitas belaka. Apa yang mereka sampaikan dalam sejumlah forum bersama, seperti rembug desa, menguap seiring dengan semakin banyaknya kepentingan yang lebih berpihak pada lelaki.
Padahal di forum tersebut, perempuan dapat terlibat aktif dalam pembahasan dan penyusunan rencana pembangunan jangka menengah desa (RPJMDes), rencana kerja pemerintah desa (RKPDes), anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes), peraturan desa (perdes), serta masuknya investor ke desa. Hal-hal strategis ini berada dalam jangkauan perempuan sebagai warga desa, tidak hanya pemerintah desa dan BPD. Pengesampingan terhadap keberadaan mereka mengindikasikan adanya gejala-gejala diskriminasi.
Meskipun peraturan perundang-undangan telah memfasilitasi mereka untuk menjadi aktor pembangunan di tingkat pedesaan, nyatanya kuota mereka kerap dipangkas. Struktur pemerintahan desa mayoritas diisi oleh kaum lelaki yang dianggap lebih cerdas, maju, dan berpikiran progresif. Selama ini, mitos keterbelakangan perempuan seolah dilanggengkan oleh para elite desa. Mereka enggan berbagi kekuasaan dengan perempuan yang identik dengan “urusan 3 M” (mencuci, memasak, dan merawat anak).
Ini berarti terdapat ketidakberimbangan masyarakat dalam menyikapi peran perempuan. Di satu sisi, tenaga perempuan dihisap untuk menopang fondasi rumah tangga. Kondisi perekonomian keluarga yang memprihatinkan memaksa mereka untuk ikut ambil bagian dalam mencari uang. Namun, di sisi lain, gagasan mereka jarang ditampung dalam ikhtiar menyelenggarakan pemerintahan desa. Suara mereka dianggap angin lalu, sekadar untuk menyemarakkan gaung demokrasi prosedural. Ide demokratisasi hanya tercatat dalam teori dan ruang-ruang ilmiah, namun dalam aplikasinya kerap dinihilkan oleh kaum pendukung status quo.

Partisipasi Perempuan
Terbitnya UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa telah membawa angin segar bagi pembangunan desa yang lebih partisipatif. UU ini membuka ruang yang seluas-luasnya bagi warga, termasuk perempuan, untuk turut serta dalam membangun desa. Mereka dapat menunjukkan potensi dalam rangka membawa desa lebih maju dan bermartabat. Mereka berhak turut serta dalam menyukseskan misi pemerintah: membangun Indonesia dari pinggiran.
Sayangnya, kapasitas aparat desa yang kurang memahami tata kelola desa enggan memberikan kesempatan bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam politik lokal. Terkait itulah, Puskapol UI menilai penting upaya mendorong kepemimpinan perempuan dalam partisipasi politik warga desa. (Republika, 05/01)
Pertama, karakter khas desa. Desa merupakan unit pemerintahan terkecil yang memuat proses politik, baik formal maupun personal. Sehingga, setiap warga berhak mengawasi berjalannya dinamika politik desa. Dalam konteks inilah, perempuan tak selayaknya hanya ditonjolkan sebagai sandaran potensi reproduksi biologis, namun juga potensi reproduksi sosiologis dan politis. Semestinya mereka diberikan akses terhadap peran dan fungsi kepemimpinan di tingkat lokal.
Kedua, kendala struktural yang mengekang partisipasi politik perempuan. Minimnya partisipasi politik perempuan dilatarbelakangi oleh beberapa kendala, di antaranya regulasi, geografi, serta kendala kultur. Kendala-kendala ini mempersulit perempuan untuk berkiprah di luar rumah tanpa seizin keluarga.
Ketiga, kesejahteraan desa bertumpu pada kesejahteraan perempuan dan anak. Ukuran tingkat kesejahteraan desa yang lebih mendasar meliputi kesehatan dan pendidikan di mana indikator-indikatornya sesungguhnya lebih dekat dengan perempuan daripada lelaki. Kepemimpinan perempuan dalam tata kelola desa mengandung upaya meningkatkan kesejahteraan kehidupan warga desa.

Urgensi Dana Desa
Bagi masyarakat perdesaan, digelontorkannya Dana Desa merupakan kabar gembira. Kebangkitan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat perdesaan ditopang oleh dana desa. Apalagi, dibandingkan tahun 2015 sebesar 20,7 triliun rupiah, anggaran desa pada 2016 direncanakan meningkat dua kali lipat menjadi 46 triliun rupiah.
Penyaluran Dana Desa sejalan dengan target pemerintah mempercepat pembangunan desa dalam upaya meningkatkan laju perkembangan ekonomi nasional. Dana Desa bisa difungsikan sebagai penguat sektor badan usaha milik desa (BUMDes) yang merupakan salah satu opsi sektoral dalam tubuh kelembagaan desa. Selain menjadi katalisator pertumbuhan produktivitas kolektif masyarakat desa, BUMDes juga dapat menggerakkan perekonomian masyarakat desa. Lahirnya UU No 6/2014 tentang Desa yang ditunjang dengan PP No 43/2014 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No 6/2014 mengandung harapan agar kontribusi BUMDes bagi perekonomian lokal lebih optimal. (Chusainuddin, 2015)
Di sinilah, potensi perempuan dapat didayagunakan. Pemerintah desa bisa memercayakan BUMDes di tangan perempuan. Keuletan dan ketelatenan mereka diyakini mampu memajukan desa melalui BUMDes. Para aparatur desa dituntut memiliki pandangan bahwa perempuan merupakan aktor lokal yang berpartisipasi dalam politik lokal dan berkontribusi dalam memajukan kehidupan desa. Dengan demikian, kendala struktural yang mengekang peran perempuan diminimalisir. Adapun kesejahteraan desa, yang bertumpu pada kesejahteraan perempuan, bisa diwujudkan.

Bojonegoro, 2016

Minggu, 17 Januari 2016

Kegelisahan Santri dalam Masa Transisi (Resensi_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Radar Surabaya" edisi Minggu, 17 Januari 2016)

Judul: Sembarang di Persimpangan
Penulis: Mutimmatun Nadhifah
Terbit: September 2015
Penerbit: Bilik Literasi Solo
Tebal: 64 halaman

Boleh jadi, bakat literasi penulis buku ini, Mutimmatun Nadhifah, mulai terasah saat bermukim di pesantren. Sebagaimana diketahui, kurikulum pesantren mengajarkan sejumlah literatur tauhid, tafsir, fikih, sejarah, tasawuf, dan bidang studi Islam lainnya. Ditambah lagi referensi-referensi sastra, semisal Jurumiyah, Alfiyah Ibn Malik, Jawahir al-Balaghah, dan kitab-kitab lain yang materinya dihidangkan dalam syair Arab.
Background pendidikan Mutimmatun turut memberi warna terhadap tulisan-tulisannya. Dibesarkan dalam lingkungan pesantren, bangunan esainya tidak terlepas dari subjektivitas individu, keyakinan, serta pandangan hidup yang cenderung agamis. Tersebarnya term-term agama dalam esai Mutimmatun segaris lurus dengan kuatnya lingkungan religi dalam kehidupannya.
Tampaknya, keadaan psikologis Mutimmatun berpengaruh besar terhadap pemilihan tema, bahasa dan nilai-nilai yang disisipkan dalam buku Sembarang di Persimpangan. Tema-tema keislaman dapat digarap dengan mudah, sebab ia genap mengetahui serta mengalami kehidupan sosial di pesantren. Apalagi, sejumlah pesantren tersebar di seluruh Madura. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa mayoritas masyarakat pulau garam tersebut menganut Islam, bahkan merupakan “santri tulen”.
Begitu dominannya corak pandang keagamaan dalam diri Mutimmatun, tak heran jika buah pemikirannya kerap dihubungkan dengan Islam dan tradisi pesantren. Kecenderungan ini terlacak dari jejak sejumlah esainya yang menghubungkan antara budaya pop dengan sajadah (“Budaya Pop Sajadah”), politik dengan cium tangan (“Cium Tangan”), etos literasi dengan santri (“Menyemai Etos Santri Menulis”), stigma dengan Muhammad (“Muhammad: Nama dan Stigma”), serta penerbit dengan penulis Muslim (“Penerbit Menggerakkan Islam”). Apa yang dilakukan Mutimmatun telah merangsang diskursus keislaman yang hangat dalam komunitas Muslim. Tulisan-tulisannya berusaha mengilustrasikan keterbukaan yang terus-menerus di kalangan umat Islam, terutama santri.
Sejumlah esainya menampilkan sesuatu yang paradoks. Di satu sisi, ia menyoroti tentang kapasitas dan kedudukan perempuan yang kerap diabaikan. Dalam esainya terkandung kegalauan atas dikebirinya peran perempuan dalam pembentukan karakter seseorang. Padahal, tugas mereka dalam keluarga begitu mulia. Ibu selaku pendidik pertama bagi anak (halaman 31) dan nenek sebagai pemberi keteduhan dan kehangatan (halaman 50). Namun di sisi lain, ia mencermati minimnya peran perempuan dalam ranah publik, terutama dalam kancah literasi.

Bojonegoro, 2015

Sabtu, 16 Januari 2016

Esai dengan Titik Besar (Opini_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Lampung Post" edisi Sabtu, 16 Januari 2016)


Penerbit Bilik Literasi berpegang teguh pada pemahaman bahwa penghakiman dan penentuan kualitas karya tidak berangkat dari endorsement pakar dan “omong kosong” public figure, melainkan penilaian pembaca. Di sini, para pembaca ditempatkan sebagai pribadi otonom dengan otoritas penuh. Mereka diberi hak untuk sekadar mengamini apa yang disuguhkan dalam buku atau bahkan menolaknya. Penerbit ini seolah menyebarkan pemeo, “Buku yang baik hanya bisa diraba oleh pembaca yang baik.” Pemahaman inilah yang mengiringi terbitnya buku Bandung Mawardi bertajuk Cuilan (Bilik Literasi, 2015).
Bagi mereka yang gemar berkutat pada satu tema, Bandung tentu merupakan “penulis buruk”. Bagaimana tidak, ia sanggup menulis dalam terminologi sejumlah bidang ilmu pengetahuan. Uniknya, ia bisa mengangkat hal-hal tabu dengan kesan wagu dan lugu.
Dalam esai “Nisan”, Bandung berpendapat, adanya nisan para penggerak politik kebangsaan mengandung seruan merenungi ide dan imajinasi Indonesia. Di kuburan massal korban G30S/PKI, rakyat diajak untuk bersama-sama membuka tabir misteri. Pemasangan nisan merupakan ikhtiar penghormatan jenazah. Mengunjungi kuburan berarti ziarah bersejarah, di mana nisan berfungsi sebagai tanda dan tata ingatan. (halaman 9-10).
Dalam esai-esai Bandung, bertebaran sejumlah kata: sebaran (gelimang), capaian, moncer, ejawantah, imajinasi, narasi (kisah, cerita), lakon, episode, gamblang, ingatan (kenangan, memori), ikhtiar, ekspresi, selebrasi, ada, tema, makna, ide (gagasan), nasib, puja, sihir, siasat, ambisi (hasrat), misi, dan agenda. Di satu sisi, kata-kata ini telah memberi corak tersendiri dalam tulisannya. Tapi di sisi lain, begitu dominannya kata-kata tertentu dalam satu esai rentan memunculkan rasa bosan bagi pembaca. Bagaimana tidak, Bandung bahkan pernah menggunakan 3-8 kata yang sama (misalnya imajinasi) secara berulang-ulang. Bagaimana pun, repetisi dalam tulisan merupakan cacat.
Saya menduga, kata-kata di atas merupakan “hasil kulakan” Bandung terhadap apa yang dibaca selama ini. Imajinasi, narasi (kisah, cerita), lakon, dan episode diperoleh dari literatur-literatur sastra. Ingatan (kenangan, memori) diunduh dari referensi-referensi sejarah. Adapun siasat, ambisi (hasrat), misi, serta agenda banyak ditemukan dalam arsip-arsip politik dan hukum. Jadi, proses kreatif Bandung tidak terlepas dari arsip-arsip sastra, sejarah, politik, dan hukum.
Begitu sebagai penutup esai seolah menunjukkan seseorang yang habis bertutur “ngalor-ngidul”. Ini berfungsi sebagai titik besar bagi celoteh dan racauan yang enggan diam. Begitu menjadi “titik dari segala titik” dalam tulisan Bandung, seakan tanda baca titik (.) tidak mampu memungkasi paragraf terakhirnya. 
Dalam taraf tertentu, Bandung berhasil melakukan eksperimentasi terhadap struktur bahasa. Sebagai contoh, untuk menyebut menaruh curiga, ia memakai frasa memaklumi curiga. Bagi saya, ini merupakan ikhtiar seorang penulis dalam menjinakkan kata. Tampaknya, Bandung begitu antusias bermain-main dengan diksi. Tak ayal, dalam buah pena Bandung, terkandung ‘trial and error’. Langkah yang penuh risiko ini, jika tidak dilakukan dengan hati-hati, niscaya membuat karya yang bernas justru “dibuang ke keranjang sampah”.    
Dalam esai “Tanda Tangan”, menanggung kesialan diganti dengan menanggung nasib apes. Ini adalah cara Bandung menyiasati kejenuhan pembaca saat menghadapi frasa atau idiom yang telanjur menyebar, baik dalam bahasa tutur maupun karya cetak. Dalam melahirkan idiom baru, penguasaan sekaligus penyisipan sinonim merupakan kunci Bandung. Namun demikian, hal tersebut selayaknya tidak dilakukan secara berlebihan, sebab dapat mengubah konteks, membingungkan pembaca, serta merusak bahasa.
Bandung sungguh telaten memungut sejumlah arsip “tempo doeloe”. Di antaranya Pemberita Betawi edisi 16 Januari 1888, Medan Prijaji edisi 5 Februari 1910, Kadjawen No. 29-30 edisi 15 April 1941, dan Pandji Poestaka (1940).
Dalam esai “Kantor”, nuansa masa silam tetap dipertahankan, “Sjahdan sepandjang boenjinja fatsal I a dari residentiekeur No. 129, tahoen 1899, adalah disebut bahwa jang haroes dianggap candiedaat prijaji ituoe ijalah: pertama pada siapa jang telah tamat peladjarannja dari sekolah menak (opleidingschool), kadoea jang telah tamat peladjarannja pada sekolah rendah kandjeng Gouvernement (sekolah anak negeri), serta telah bermagang sekoerang-koerangnja 2 tahoen di kantoor-kantoor Gouvernement seperti pada kantoor bupati, patih afdeeling, controleur, onder collecteur, hulp onder collecteur, wedana, assistant wedana, dan djaksa.” (halaman 18-19).
Oleh Bandung, kalimat-kalimat dalam ejaan lama sengaja “diselamatkan” dari pembakuan. Selain memperkuat data, hal ini juga dilakukan demi menjaga orisinalitas arsip-arsip lama. Dalam esai “Lampu”, ia mengutip, “Surabaja di waktu itu sudah menikmati kemegahan lampu listrik. Setiap kamar mempunjai fitting dan setiap pembajar-makan membajar ekstra untuk lampu. Hanja kamarku jang tidak punja. Aku tidak punja uang untuk membeli bolamnja. Aku beladjar sampai djauh malam dengan memakai pelita.” (halaman 55). Dalam kutipan ini, Bandung merekam ingatan Soekarno ketika mondok di rumah H.O.S. Tjokroaminoto, pendiri organisasi Sarekat Islam (SI).
Kekuatan individu, baik kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual berandil besar membentuk bangunan tulisannya. Kapasitas Bandung dalam berkarya terutama didukung kekhasan esainya. Kuatnya karakter buah pena Bandung barangkali diperoleh dari gabungan teknik penulisan dan apa yang ada dalam dirinya.
Sepertinya, kekuatan individu Bandung tidak digapai melalui pendidikan formal, melainkan dari kekayaan pengalaman hidup, bacaan yang luas, dan lingkungan pergaulan yang beragam. Kualitas Bandung juga bisa dilihat bahwa dari sejumlah tulisannya, betapa ia mampu memanfaatkan esai sebagai media refleksi dan kontemplasi.
Batasan esai yang baik yaitu ketika nama esais dihilangkan, pembaca tetap mampu mengenali siapa penulisnya. Karya Bandung, dengan segala karakter dan ciri khasnya, sudah mencapai taraf tersebut.


Bojonegoro, 2015

Rabu, 13 Januari 2016

Janji Sebelum Bertempur (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Suara NTB" edisi Sabtu, 9 Januari 2016)

“Kau harus percaya, Arycine. Kau harus percaya bahwa aku akan kembali dan meminangmu.”
Itulah markah perpisahan antara Sadalus dan Arycine. Dua anak Adam yang sedang dimabuk kasmaran. Sadalus sadar, bahwa menundukkan pasukan Gomu bukanlah perkara mudah. Namun, bagaimanapun, ia tetap berupaya mengulurkan keyakinan pada tambatan hatinya.
Arycine memeluk erat-erat tubuh Sadalus. Jemarinya seakan enggan lepas. Dagunya yang runcing menempel di pundak Sadalus. Betapa getirnya ia. Hamparan pipinya becek digenangi air tumpahan dari dua netranya.
“Arycine sayang. Sanggupkah kau menungguku?”
Puan berambut gelombang itu mengangguk. Mengangguk? Ya, miskin kuasa lidahnya mengalirkan sebiji kata. Sebulir isyarat terkadang lebih dahsyat dari sekadar buah cakap.
“Tersenyumlah.. Tersenyumlah, Arycine. Karena hanya dengan melihatmu tersenyum, aku bisa berangkat ke medan perang dengan tenang.”
Gigi Arycine tak sanggup berpura-pura. Sekeras apa pun usaha menghapus gundah, nyatanya masih nihil. Malah, tangisnya kian membuncah dan merenyuhkan suasana. Pertembungan dua insan itu lebih banyak diwarnai air mata.
Udara membeku. Cahaya bulan meredup. Rerumputan bungkam. Dan, hening. Mereka turut mengulum kesedihan yang memantul dari hati sepasang kekasih.
***
“Hari ini kita semua layak waspada. Ini merupakan perang terbesar yang bakal kita hadapi. Kalian tahu? Pasukan Gomu berkisar 120 ribu. Sedang jumlah pasukan kita hanya 40 ribu. Itu pun termasuk mereka yang sakit dan terluka. Bisa jadi, sekitar 650 orang tak ikut berperang.” Suara Sadalus menggema. Di tengah padang Fozcha, ia memberi pengarahan pada anak buahnya.
“Perhatikan! Pasukan kita bagi tiga: pasukan pemanah, pasukan pembawa tombak, serta pasukan pembawa pedang. Masing-masing pasukan wajib berpencar.”
“Kenapa kita tak beradu kekuatan saja bersamaan, layaknya pertempuran-pertempuran sebelumnya?” Verhin, si juling, menyela.
Dengan tangkas, Sadalus melempar jawaban. “Ini lain. Kali ini berbeda dengan pertempuran-pertempuran kemarin. Jumlah musuh kita tiga kali lebih besar. Betul-betul tak sebanding. Harus ada siasat tepat guna menaklukkan lawan.”
Sejenak, Sadalus bernapas panjang. Sesetel alisnya mengait. Gerahamnya merapat. Genggaman tangan kanannya kian mengencang. Itu kali, amarahnya sukar diredam.
“Diamlah dulu! Atau kau kuperintahkan menjelaskan strategi ini.”
“Baik, ksatria.”
“Dengarkan! Pertama, pasukan pemanah. Mereka adalah orang-orang yang punya kelebihan dalam memanah. Siapa saja yang belum lihai benar, maka jangan sekali-kali ikut bergabung di dalamnya. Saya ulangi, siapa pun yang belum benar-benar lihai, ia tidak boleh bergabung. Pasukan pemanah menempati hutan Jymer. Tugasnya yaitu menahan pasukan Gomu agar tidak masuk ke lembah Pohan. Ingat! Orang-orang yang tergabung dalam pasukan pemanah tidak boleh lengah. Harus selalu berada di posisi. Bagaimana pun keadaannya.”
“Borras.” Sadalus memanggil si jangkung bercambang tebal. “Kaulah pemimpin pasukan pemanah. Arahkan mereka sesuai kemampuanmu.”
“Kedua, pasukan pembawa tombak. Semisal pasukan pertama, pasukan ini terdiri dari mereka yang ahli dalam bidangnya. Ya. Cuma si lihai dalam membidikkan tombak. Jangan sampai ada sebagian di antara kalian berpura-pura cekatan menggunakan tombak. Ini bukanlah permainan. Ini perang agung yang patut dilayani dengan perjuangan. Apa tugas pasukan pembawa tombak? Menyerang orang-orang Gomu jika berhasil memasuki lembah Pohan. Pasukan pembawa tombak bertempat di pinggiran lembah Pohan. Cermat-cermat ucapanku! Pasukan ini harus tetap berada dalam barisan. Jangan ada yang terburu-buru membantu pasukan pemanah. Sesulit apapun situasi. Sebelum orang-orang Gomu kelihatan, tak ada yang berpindah ke tengah lembah. Kalian boleh bergerak, apabila sudah menerima intruksi. Pasukan ini kupercayakan pada Reyyco. Semua yang terhimpun dalam pasukan pembawa tombak, haruslah mematuhinya.”
Sambil membasuh keringat, dengan berapi-api, Sadalus melanjutkan penjelasan. “Ketiga, pasukan pembawa pedang. Pasukan ini menampung semua prajurit yang belum terhimpun dalam pasukan pemanah maupun pasukan pembawa tombak. Aku paham, bahwa sejak kecil kalian sudah dilatih bagaimana cara menggunakan pedang. Dan saat inilah.. Saat inilah, aku ingin mengetahui, adakah ayah kalian berhasil mendidik anaknya dengan baik. Ketahuilah! Dari dulu, pasukan kita terkenal unggul dalam melesatkan pedang. Jangan buat leluhur kita malu atau kecewa. Tunjukkan, bahwa kalian memang prajurit pedang terhebat. Untuk pasukan ini, aku sendiri yang bertindak selaku pemimpin.”
***
Di malam menggigil itu, 330 bujang sibuk mengasah senjata. Sesuatu yang didaulat sebagai modal utama di medan laga. Tentunya, selain keberanian, mental teguh, serta strategi ampuh. Bila senjata—isi panah, tombak dan pedang—tersebut genap tajam, lekas mereka menaruhnya di tempat yang disediakan. Kermuel tampak mengacung-acungkan telunjuk, mengarahkan orang-orang bekerja. Wajar jikalau ia membanting tulang, memeras pikiran. Sebab, tanggung jawab persiapan prajurit Vebr teronggok di pundaknya.
Sementara itu, di waktu yang sama, beberapa prajurit Vebr mengerjakan hal lain. Ratusan kantong berisi arang mereka panggul ke depan tenda Loppiye. Setelah semua terkumpul, 215 orang ditugaskan membagi-bagikan ke tenda. Ya, benda yang seakan miskin guna itu terpaksa dimanfaatkan oleh pasukan Vebr untuk berperang. Esok pagi, sebelum fajar belum jangkap mendarat, mereka mengoleskannya pada rambut, kumis, cambang, juga jenggot; sampai tiada lagi warna putih atau kelabu dijumpai. Ini merupakan salah satu muslihat supaya pasukan Gomu gentar. Orang-orang bertangan besi itu akan menaruh syak-wasangka, bahwa pasukan Vebr masih berusia belia, selingkar 18 hingga 27 tahun. Atau 30 tahun maksimal.
Saking repotnya, pasukan Vebr lupa mengirim surat kepada keluarga yang ditinggalkan. Menjadi budaya turun-temurun dari nenek moyang, bahwa sehari sebelum mendarat di mandala yuda, biasanya para prajurit menitahkan 10 atau 11 budak untuk menyampaikan wasiat yang digores di atas daun laune. Apa untungnya? Dalam surat itulah tertera harapan-harapan prajurit—tentang kehidupan anak-istri, tentang nasib hewan piaraan, tentang siapa penggarap ladang selanjutnya, atau bisa juga tentang utang yang belum lunas—, jika ternyata ajal bertandang.
***
Kegembiraan hinggap di setiap wajah pasukan pemanah. Antara percaya dan tidak, nyatanya mereka tunai memukul mundur pasukan Gomu. Mengikuti isyarat Borras, ribuan biji panah berhasil mereka lejitkan ke dada dan kepala orang-orang perkasa itu. 
Celakanya, mereka lalai diri. Begitulah, tatkala gembira menyapa, siaga gemar meluap seketika. Usai menanti beberapa saat, mereka mengira kalau segenap pasukan Gomu berkalang tanah. Padahal, sebenarnya masih tersisa puluhan ribu lainnya di belakang barisan pertama—yang makbul diluluhlantakkan.
Mayoritas pasukan pemanah bubar dan menuju lembah Pohan. Borras berdengking, memperingatkan agar mereka segera kembali ke tempat semula. Sebiji pekerjaan yang sia-sia. Ya, sia-sia. Tiada mereka sama sekali menghiraukan. Borras mematung, memperhatikan kepala mereka yang di dalamnya tergeletak kegembiraan bercampur kelengahan. “Kalian semua bakal menyesal.” Desis Borras geram.
Memirsa pasukan pemanah bersenang-senang, pasukan pembawa tombak ikut girang. Mereka terpancing meninggalkan tempatnya lalu bergerumbul di tengah lembah Pohan. Terbius keadaan, Reyyco pun larut dalam kegirangan. Ia biarkan para pembagul tombak itu teledor.
Dalam kelengahan itulah, sekonyong-konyong menyembul pasukan besar dari arah utara. Pasukan Vebr tercekat sekaligus gelagapan. Apa yang berulang kali dikhawatirkan Sadalus akhirnya terbukti. Sebagus apa pun strategi, tanpa dibarengi komitmen tinggi, adalah omong kosong belaka.
Alangkah beringas dan bengisnya pasukan Gomu menghabisi seteru. Sepertinya, darah telah dijadikan minuman. Minuman? Benar. Usai mengkhatami nyawa orang-orang Vebr, pasukan Gomu menyeruput darah yang muncrat dari urat leher si korban. Dalam sejurus saja, mereka kocar-kacir bagai rayap dicecar minyak tanah. Sebuah kondisi yang terlampau di luar dugaan.
Sececah kemudian, atas komando Sadalus, pasukan pembawa pedang datang menolong kawan-kawan mereka. Akan tetapi, dengan mudahnya pasukan Gomu—yang sedang haus darah—membabat tubuh mereka satu persatu. Kala itu, lembah Pohan menjadi saksi atas kekalahan telak pasukan yang dikenal piawai dalam berperang dan selalu mengantongi kemenangan. 
Di mana Sadalus? Ia tengah beradu kening dengan 15 orang sekaligus. Usai bertarung mati-matian, takah-takahnya ia layak mengunyah kepahitan yang dijejalkan oleh para seterunya. Dengan membabi buta, Sadalus diperlakukan tak ubahnya pencuri yang tertangkap tangan ketika melancarkan aksi. Orang-orang fakir perasaan itu menghujaninya dengan pukulan dan tendangan di serata badannya. Lantas, dengan tubuh begitu lemah dan berpeluh darah, ia diserahkan pada pemimpin pasukan Gomu guna menadah siksaan selanjutnya.
Biadab. Itulah ucapan yang pantas disematkan pada Cronn. Betapa tidak. Dengan kuasa yang ada di genggaman, sesungguhnya ia mampu menyita nyawa Sadalus dengan sekali tebas. Anehnya, ia urung melakukan. Ksatria macam apa ia; lebih suka memergoki sang rival memelihara penderitaan daripada menemui keabadian.
Dengan berdekah-dekah, bibirnya yang hitam menghembuskan kata-kata memekakkan telinga. “Berbahagialah, ksatria! Berbahagialah! Karena aku akan membiarkanmu menghirup udara lebih lama. Pedangku kurang tega memandangimu mampus begitu saja.”
Krsssshhh.. Darah segar berhamburan.
***
Mata Arycine membelalak sempurna. Di hadapannya, di bawah rindang pohon Gyun, tengah menggelesot sosok tanpa lengan dan kaki. Meski dibalut kain lusuh, compang-camping, dan digenapi dengan muka kusut, Arycine mafhum siapa lelaki itu sebenarnya. Sungguh, kini, usai pencarian begitu panjang dan melelahkan, Arycine disergap gamang. Terdesak antara dua pilihan: menuruti bisikan hati atau mengingkari janji yang terlanjur ia gulirkan.

Yogyakarta, 2011

Disparitas Kehidupan Desa (Opini_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Sinar Harapan" edisi Selasa, 29 Desember 2015)

Bila dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia Timur lainnya, laju disparitas atau ketimpangan masyarakat Indonesia dinilai paling cepat. Sebagaimana di kota-kota besar, disparitas juga mudah kita temukan di perdesaan. Suasana desa yang digambarkan damai, tenang, rukun, guyub, dan penuh keharmonisan dalam buku usang dan naskah fiksi mulai sukar ditemukan dalam realitas. Kini, terjadi perebutan akses, sarana, sumber ekonomi, dan klaim politis antar individu dan berbagai komunitas di banyak desa. Pergolakan dan segregasi sosial antara golongan atas dengan golongan bawah sukar dihindarkan.
Desa menjadi ajang pertarungan antara mereka yang kuat dan lemah. Hukum rimba yang menetapkan bahwa the have (pemilik uang) sebagai pemenang menjadi pegangan dan tolok ukur segala bentuk persaingan. Apa yang digaungkan filusuf Inggris Thomas Hobbes dalam karyanya De Cive (1651) “homo homini lupus” (manusia adalah serigala bagi sesamanya) tak dapat disangkal. Ketentuan di atas menyebabkan tergerusnya prinsip dan nilai kehidupan komunal yang mengutamakan gotong-royong dan musyawarah. Hal ini terutama akibat menguatnya gejala urbanisme dan elitisme lokal dalam beberapa dasawarsa terakhir.
Gaya hidup kaum urban yang merangsek pada pola hidup orang desa menjadikan kolektivisme tergantikan oleh individualisme. Identitas orang desa sebagai penjunjung tinggi kebersamaan, keharmonisan, dan keselarasan hidup ditanggalkan demi menyesuaikan diri dengan lingkungan egoistis berbasis kepentingan. Egosentrisme merupakan landasan manusia dalam berpikir dan berperilaku. Imbasnya, hubungan manusia terbangun serba banal dan dangkal makna.
Televisi, internet, dan media lainnya memiliki pengaruh signifikan dalam mencekoki generasi muda dengan tindak-tanduk kaum modern yang serba hedonis dan materialistis. Tercerabutnya kultur desa disebabkan menjamurnya tayangan sampah, infotainment, dan berita kurang mendidik. Kultur urban yang begitu dominan mengakibatkan lingkungan perdesaan tidak jauh berbeda dengan lingkungan perkotaan. Realitas ini mengamini tesis Koentjaraningrat puluhan tahun silam, bahwa batas, ciri, serta karakter perkotaan dan perdesaan semakin kabur.
Gairah dan hasrat anak muda menjadikan diri sebagai bagian dari kehidupan perkotaan kian menguat. Mereka turut mengukuhkan dominasi kelas tertentu dalam sikap dan aktifitas sehari-hari. Kesenjangan hidup tidak mereka rasakan, meski merupakan problem serius yang butuh solusi. Kawula muda lebih bangga jika identitas urban melekat pada diri mereka. Kini, tiada lagi yang membanggakan diri sebagai wong ndeso (orang desa). Jika pun ada, itu hanya dilakukan oleh mereka yang lama menetap di kota sebagai wujud nostalgia dan rasa kangen terhadap kehidupan desa.
Penduduk desa masa kini tengah mengantongi julukan kaum semi-urban: bermukim di desa dengan pemikiran serba urban. Mereka bergaya, berperilaku, dan bercorak pikir layaknya orang kota. Berpenampilan modis dan trendy, digenapi dengan gadget canggih, mereka menampakkan diri sebagai orang kota. Sayangnya, tampilan fisik yang menggelorakan urbanisme kurang diimbangi dengan matangnya pola berpikir.
Celakanya, dunia pendidikan turut mengukuhkan urbanisme di lingkungan perdesaan. Sejak kecil, anak-anak desa melahap buku pelajaran dengan habitus kelas tertentu. Mereka kerap dicekoki dunia yang bukan keseharian mereka. Materi yang diajarkan kepada siswa memperlihatkan potret kehidupan orang kota lebih dominan dibanding habitus desa. Dari ketidakberimbangan ilustrasi materi tersebut, disparitas kelas atas (orang kaya) dan kelas bawah (orang miskin) muncul. Mereka telah mengalami apa yang disebut Pierre Bourdieu sebagai “kekerasan simbolik”.

Elitisme Lokal
Masyarakat lapisan bawah yang hidup di perdesaan kerap memperoleh perlakuan diskriminatif. Seringkali orang kaya mendapat tempat dalam kebijakan desa. Kepala desa seolah berpandangan bahwa orang kaya harus diprioritaskan.
Peraturan desa (Perdes) berangkat dari aspirasi orang-orang dengan status ekonomi dan sosial yang tinggi. Aspirasi orang-orang kecil diabaikan oleh aktor-aktor lokal yang memegang kekuasaan desa. Akibatnya, di samping timbulnya kedengkian orang-orang kecil terhadap orang kaya, kecurigaan mereka terhadap para elit juga semakin meruncing.
Bagaimana pun, elitisme lokal telah mengabaikan hak-hak sebagian orang desa dan membiarkan mereka hidup dalam keadaan timpang. Kultur tradisional dan feodal menyebabkan beberapa orang gila materi dan kehormatan. Mereka rela melakukan apa saja, asalkan “muka” dapat diselamatkan.
Hal ini mengingatkan kita pada novel karangan Multatuli, Max Havelaar, yang menggambarkan betapa kaum kolonial berhasil memanfaatkan kultur tradisional dan feodal. Para Kepala Desa mengantongi tugas menarik pajak, panen, dan hasil ladang penduduk desa. Mereka membuktikan kepatuhan membabibuta demi merawat kesejahteraan dan kewibawaan, meski darah dan keringat pribumi menjadi tumbal pundi-pundi keuangan pejabat kolonial.
Berbagai kebijakan pemerintah desa kerap menutup ruang ekonomi, merampas modal sosial, menyulut disintegrasi, mendukung konflik sosial, serta menghancurkan sendi-sendi demokrasi lokal. Kongkalikong antara Kepala Desa dan aparaturnya dengan orang-orang kaya membuat sebagian penduduk desa kehilangan akses, fasilitas, dan layanan publik. Dengan demikian, kesejahteraan hanya berhasil dicapai oleh para pemodal, pebisnis dan kapitalis. Adapun rakyat jelata senantiasa menikmati penderitaannya.

Bojonegoro, 2015