Minggu, 29 Desember 2013

Perginya Pendengar yang Setia (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Banjarmasin Post" edisi Minggu, 29 Desember 2013)

Tidak seperti biasanya, subuh itu, di meja makan genap tercawis sarapan. Secangkir kopi siap diseruput. Sepasang sepatu fantovel usang mengkilap, tanda seseorang sudah menyemirnya. Norman berdecak heran. Ia tahu bahwa yang melakukan itu semua adalah Marni. Akan tetapi, bukankah sejak perkawinan, segala pekerjaan rumah tangga dilahap sendiri oleh Norman, sebab Marni—yang dikenal selama ini—termasuk istri durhaka? Apalagi, ya apalagi, gajinya tak sanggup menyewa tenaga pembantu paling murah sekalipun.
Norman mencium bau wangi di seluruh ruangan. Lantai dan kaca-kaca jendela kinclong. Bunga-bunga di halaman basah kuyup oleh siraman tangan lembut. Jikalau memang benar Marni yang melakukan, pastilah perempuan yang pernah keguguran itu menunaikannya sebelum fajar bertandang. Atau bahkan, tengah malam. Tengah malam? Benar. Mustahil, jika pekerjaan seabrek itu rampung dalam satu dua jam.
Antara terkagum-kagum bercampur bingung, Norman mondar-mandir di ruang tengah, sambil berjamak kali meruah nama istrinya. Akan tetapi, tak sekeping jawaban pun menghiraukannya. Ia memanggil lagi. Memanggil, dan memanggil. Dan, nihil.
Sungguh, Norman tak menyangka bila sang istri akan meninggalkannya begitu saja. Meninggalkan tanpa terlebih dulu menghibahkan firasat apa-apa. Meninggalkan dengan melahirkan beribu pertanyaan di kepala. Padahal, Norman mengaku berbahagia. Meskipun menurut tetangga, Marni adalah sosok istri yang tak tahu diri, akan tetapi bagi Norman, perempuan yang dinikahi baru setahun itu pendengar yang setia. Dan tentu saja mencari pengganti sepertinya sangatlah sulit. Atau bisa jadi mustahil. Bukankah di dunia ini jarang sekali perempuan yang dengan tekun menyimak kata-kata lelaki jika sedang berbicara?
Norman lebih senang bila Marni mau mendengar celotehnya saja daripada jika istrinya itu mengunyah segala jenis pekerjaan rumah tangga, namun tiada waktu untuk sekadar diam, pura-pura menghiraukan buah cakapnya. Selaku karyawan toko buku kecil, kerap ia mendengus kesal sebab perlakuan kasar dari sang senior atau pembeli yang tingkah lakunya kelewatan. Apabila mendapati hal demikian, ia akan mengungkapkannya kepada Marni, sesampai di rumah. Dan, dua lembar telinga Marni bersigap menadahnya, disertai anggukan kecil atau tampang muram. Serampung melempar unek-uneknya, Norman bisa tersenyum puas. Dengan menularkan kedongkolannya itu, Norman merasa beban yang berbaring di dadanya musnah. Buat Norman, yang mampu menjadi pendengar yang baik hanyalah Marni seorang. Ya, hanya Marni!
***
“Barangkali Mas Norman akan terkejut setelah mengetahui bahwa selama ini Marni memperalat Mas Norman. Marni cuma menumpang hidup dan makan dari keringat Mas Norman. Walaupun demikian, Marni heran dengan sikap Mas Norman yang begitu perhatian dan selalu memberikan segenap kasih sayang. Padahal Marni tidak pernah menunaikan tugas sebagai istri, kecuali saat nafsu Marni memuncak.
Sebenarnya, dalam diri Marni tiada perasaan cinta sedikitpun kepada Mas Norman. Marni cuma menuruti kata-kata ibu. Ibu bilang kalau sebelum meninggal, ayah berwasiat agar Marni dijodohkan sama Mas Norman. Jika tidak, maka anak-cucunya akan penyakitan tujuh turunan. Marni kurang percaya dengan takhayul itu, Mas. Tapi mau bagaimana lagi. Bila enggan mematuhi wasiat tersebut, Marni takut penyakit asma ibu bakal kambuh.
Pernikahan ini amat berat, Mas. Setiap hari Marni berusaha sekuat tenaga untuk pelan-pelan mencintai Mas Norman, tapi ternyata tetap tidak bisa. Masih ada bayangan seorang lelaki yang sampai sekarang Marni simpan dalam hati. Dan untuk melupakannya, rasanya tidak mungkin.
Kini, setelah ibu meninggal, tiada lagi yang Marni khawatirkan. Terus terang, Marni bertahan karena tidak ingin melihat ibu susah. Sudah banyak kesedihan yang telah dialaminya. Dan Marni berusaha supaya kesedihan itu tidak bertambah karena ulah anak satu-satunya ini.
Terserah Mas Norman mau bilang apa. Memang Marni kurang layak jadi istri lelaki yang baiknya setengah mati kayak Mas Norman. Kalau terlalu sulit memaafkan dosa Marni yang terlanjur segunung, Marni cuma mohon agar Mas Norman merelakan kepergian Marni. Itu saja. Marni akan menyusul seseorang yang Marni cintai. Di sebuah tempat. Tempat yang jauh di sana.”
Nafas Norman kembang kempis. Bola netranya berkaca-kaca. Jemarinya gemetaran. Jantungnya bergetar hebat, seakan mau meledak. Kata-kata dalam surat lusuh yang ia temukan di meja kamarnya menghunjamkan tombak-tombak lancip ke relung dada.
Tunai mengeremus bebulir abjad dari istrinya, Norman menelepon salah seorang atasannya. Memberitahukan bahwa saudaranya tertimpa kecelakaan dan sedang kritis, sehingga ia terpaksa absen kerja. Untuk ini kali, ia berbohong. Maklumlah. Kalau bukan sebab alasan darurat, loka yang menyediakan buku-buku sekolah itu urung mendermakan dispensasi kepada para karyawan untuk meliburkan diri.
***
“Norman, apa kau bercerai dengan istrimu?”
Sanusi, lelaki setengah baya, buruh bangunan di Sumatra itu sekonyong-konyong bersoal kepada Norman.
Norman bungkam. Atau lebih tepatnya sekadar menggeleng.
Sanusi malas menyerah. Entah apa untungnya ia mendedah hal yang bukan urusannya itu, hingga nekat bertanya lebih jauh. “Terus, apa yang terjadi dengan rumah tanggamu?”
Sekali lagi, Norman mematung. Bibirnya kian mengatup. Andai pun ia bocorkan kabar hubungannya dengan Marni, lelaki di depannya itu dikira tidak akan sanggup membantu.
“Dua minggu yang lalu aku lihat Marni.”
“Apa?”
Norman terpancing. Pundaknya terangkat. Keningnya bergelombang. Dengan lihainya, Sanusi berhasil menerap lawan bicaranya bertekuk lutut.
“Aku lihat istrimu bersama lelaki jangkung.”
“Di mana kau melihatnya?”
“Di dalam bus, saat mau mudik. Istrimu tak sadar kalau kuawasi dari belakang.”
Sanusi berhenti berkotek. Menyedot kreteknya dalam-dalam. Lantas ia lanjutkan, “emm.. Aku sengaja tak menegurnya.”
“Sebutkan ciri-ciri lelaki yang bersamanya!”
“Berambut cepak, berkumis runcing, tubuhnya ceking. Ada tato kepiting di lengan kanannya.”
“Eko!”
Semula, Norman berjanji untuk mengikhlaskan keputusan Marni memungut kembali cinta lamanya. Namun, ternyata ia kurang terima jika lelaki itu, lelaki yang dipuja-puja istrinya itu adalah seseorang yang dari dulu menjadi bebuyutannya. Saat melungguh di bangku SMA, Ekolah yang merusak jalinan asmaranya dengan Dewi, gadis primadona anak Pak Lurah. Ketika kuliah di sebuah kampus swasta, Eko juga tega memperdaya Lidya, dengan menyelipkan berita bahwa Norman adalah cowok play boy yang murah cinta dan gemar menebar janji kepada kaum Hawa. Dan, tatkala Norman hendak merajut sebetul-betul kebahagiaan, Eko datang lagi untuk menghancurkan.
***
Sehari dua malam Norman mengupas waktu di perjalanan. Kini, ia berada di ujung Sumatra, tempat di mana Sanusi memergoki Marni. Atas petunjuk dari beberapa teman istrinya, Norman menuju sebuah rumah berdinding batu bata yang belum dijangkapi cat. Kacanya kusam, seolah membocorkan kalau si empu rumah jarang mengelapnya.  
Sore yang agak mendung itu paling cocok buat bercengkerama. Tentu sayang kalau dilewatkan. Itulah mengapa, Marni dan Eko bertukar canda di beranda, ditemani biskuit cokelat dan teh hangat. Layaknya suami-istri, mereka berdua terlihat mesra.
Marni tampak bersemangat memunguti kata-kata yang Eko suguhkan. Sambil bertutur, sesekali Eko mencubit dan membelai pipi Marni. Demikian pula Marni, yang memukul manja pundak Arjunanya itu. Alangkah bahagianya! Bak burung kepodang yang baru saja menemukan sirsirannya.  
Tanpa permisi dan salam, Norman masuk ke dalam. Kebetulan pagar tidak terkunci. Sesetel kaki Norman bergontai ke arah kedua manusia yang dirundung renjana. Setiba di hadapan Marni, ia berujar lirih, “kau memang pendengar yang setia.”


Yogyakarta, 2012

Rabu, 18 Desember 2013

Tongkat Si Buta (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Inilah Koran" edisi Minggu, 15 Desember 2013)

Mata Sugino merayapi gerak-gerik lelaki berumur tiga puluhan tahun di depannya. Maklum. Baru itu kali ada orang buta makan di warung Mbok Kinah. Kopi yang ia pesan dibiarkannya terbuka, dikerubungi lalat, demi memuaskan hasratnya memerhatikan obyek gratis di tempat ia membanting bosan. Hiburan menarik, yang minimal dapat mengurangi beban pikiran. Pagi-pagi benar ia sudah mengunyah mentah-mentah gunjingan dari istrinya yang menuntut uang belanja. Padahal, di sakunya tergolek tiga ribu rupiah. Uang yang hanya cukup untuk membeli secangkir kopi. Ditambah sebatang kretek paling murah.
Dengan menu kare ayam dijangkapi tiga biji kerupuk, rupanya membuat orang buta tadi makan begitu lahap. Sugino mengulum ujung jakun. Liurnya pasti menetes, jika saja tak segera disusuli dengan menyeruput kopi. Bagi Sugino, lauk ayam adalah lauk paling istimewa di dunia. Mengingat ia dan istrinya selalu berlauk tempe atau tahu. Kalau ingin ganti menu, maka pilihan jatuh pada ikan asin. Menurut catatan otaknya, istrinya menghidangkan opor ayam sudah tiga bulan lalu. Itupun cipratan syukuran dari Mbak Atin, tetangganya yang melahirkan. 
Cara memungut nasi dengan sendok, melumat lauk, dan mengeremus kerupuk si buta sama sekali tak luput dari indra penglihatan Sugino. Ketika tinggal tersisa segenggam nasi di piring si buta, sekonyong-konyong pikirannya bersoal: dari mana si buta memperoleh uang? Pekerjaan apa yang menyebabkannya mengantongi uang dan leluasa memilih menu ternikmat di warung Mbok Kinah? Kelebihan apa yang dipunyai orang yang satu matanya tertutup sedang lainnya terbuka dengan warna putih semua itu? Ah, pertanyaan-pertanyaan yang ringan menyebabkan Sugino menaruh iri dan kian penasaran.
Didorong pertanyaan-pertanyaan tersebut, terbesit keinginan Sugino untuk membuntuti si buta. Oleh dasar itulah, ia menanti si buta rampung dari makan siangnya.
Sugino begitu bungah, mengetahui bahwa seusai minum segelas teh hangat, si buta langsung menanyakan kepada Mbok Kinah berapa jumlah yang harus dibayar. Berarti muncul tanda kalau sebentar lagi si buta keluar. Tak seperti dirinya yang suka duduk berjam-jam, ngomong ngalor-ngidul, sering juga ketiduran, meski hanya membeli secangkir kopi. Itu pun Mbok Kinah masih beruntung apabila Sugino mau melunasi seketika. Terkadang, kalau lagi kering, lelaki berambut keribo itu memperpanjang kontrak utangnya.
***
Tongkat itu berjamak kali dipandangi Sugino. Meski tunai mengutilnya, ia belum tahu betul apa yang hendak dilakukan dengan benda berbahan alumunium tersebut. Sesungguhnya ia kurang tega ketika mengambilnya diam-diam, waktu si buta beristirahat di bawah pohon nangka dekat rumah Pak Lurah. Barang tentu, tanpa memegang tongkat, si buta bakal kelabakan. Untuk sekadar berjalan, atau membedakan apakah di selingkarnya terdapat batu, pecahan kaca, kaleng, ataupun benda lain. Tapi, bagaimanapun juga Sugino terdesak melakukannya. Dalam otak kecilnya, ia percaya bahwa karena tongkat itulah ia akan dengan mudah meringkus rejeki, layaknya si buta. Meski berbeda jauh dengan wujud tongkat Mbah Wondo, yang dimandikan setiap bulan Syuro, Sugino menabung keyakinan, tongkat si buta mengandung tuah.
Malamnya, Sugino tak bisa tidur. Ah, tepatnya tak ingin tidur. Menemukan apa yang akan diperbuat dengan tongkat curiannya lebih penting daripada merebahkan badan guna melepas letih. Ia berpikir, berpikir, berpikir. Dan, berhasil.
Genap menimbang pikiran semalam suntuk, paginya, Sugino berkata pada istrinya:
“Marni, hari ini aku mau ke Surabaya.” Walaupun agak ragu, nyatanya Sugino membocorkan ludahnya.
“Apa?” Istrinya pura-pura tidak mendengar dan terus memukul-mukul kasur yang dijemur di samping rumah.
“Aku mau ke Surabaya. Aku ingin mengadu nasib di sana.”
“Sama siapa ke sana? Apa Mas Gino sudah punya tujuan?” kali ini istrinya agak serius menanggapi.
“Sendirian. Kemarin aku diberi tahu Nardi kalau tempat percetakan Pak Ali sedang butuh karyawan. Katanya, ada salah satu karyawan yang pulang dan tak kembali.”
Istrinya menatap wajah Sugino tajam. Mencoba meyakinkan dirinya bahwa apa yang terlontar dari mulut suaminya itu bukanlah bualan belaka. Ia melihat wajah Sugino merengut, ditambah dengan netra yang berkaca-kaca.
***
Plastik hitam yang berada di tangan itu terayun-ayun mengiringi langkah Sugino yang kian lemah. Ia masih menyisir daerah mana yang pas untuk memulai aksinya. Jika kurang cermat menentukan tempat, bisa-bisa apa yang akan ditunaikan merengkuh kegagalan. Padahal, uang yang ia pinjam dari Beno sudah ludes buat ongkos kendaraan dan meneguk es blewah di dekat terminal.
Menggelundung belasan kilo meter, akhirnya ia menemukan surau tua. Bergenteng bocor dengan dinding yang catnya mengelupas. Ia clingak-clinguk ke sekeliling, memastikan bahwa sekitarnya sepi orang. Lekas ia masuk ke dalam, mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana bolong-bolong disertai tambalan di sana-sini. Kaos partai bergambar beringin dan celana komprang yang bosan dipakai keluyuran itu disulap menjadi busana gembel. Dua hari Sugino mengerjakannya, tanpa sepengetahuan istrinya.
Sugino tidak pernah latihan drama atau ikut pementasan teater. Apalagi syuting sinetron di TV lokal. Akan tetapi, dalam dirinya terpendam bakat untuk berperan sebagai aktor. Buktinya, kepura-puraan yang ia simpan baik-baik pada raut wajahnya enggan diendus sang istri. Benar. Berangkat ke Surabaya untuk bekerja di percetakan Pak Ali merupakan siasatnya. Sebetulnya, ia pergi ke sana guna melancarkan niat yang ia tanam semalam.
Kini, Sugino berubah menjadi tokoh idola yang ia bayangkan. Mengambil tongkat dari plastik yang dari tadi ditenteng, ia siap memerankan aksi orang buta yang beberapa hari lalu ditemui di warung Mbok Kinah: bermuka melas dengan keringat berhamburan, berjalan gemetaran dengan kaki kanan diseret. Nyaris sempurna. Sayang, Sugino hanya berpura-pura memejamkan mata, karena mustahil sanggup menyamakan dirinya dengan orang buta yang satu matanya tertutup sedang lainnya terbuka dengan warna putih semua. Kecuali, ya kecuali ia nekat menyiramkan cairan aki ke mata kirinya, agar warna hitam di tengahnya lenyap.
Tertatih-tatih, dengan bimbingan tongkat, Sugino mendekati kerumunan orang di pasar. Ia mengincar perempuan berbedak dan berlipstik tebal di sebelah pos ojek. Rasanya, target seperti itu urung membuatnya kecewa.
Sesampai di hadapan perempuan pesolek tersebut—dengan tetap menjaga penampilan yang memprihatinkan—ia menjulurkan kedua tangannya, mirip si buta saat meronta-ronta memohon sumbangan. Pastilah pengemis buta yang digenapi kondisi mengenaskan lebih memancing belas kasihan ketimbang mereka yang meminta-minta dengan tubuh segar-bugar. Batinnya mendesis.
Dan, benar. Dari usahanya pertama kali itu, Sugino diganjar lima ribu rupiah. Jumlah yang lebih dari lumayan bagi manusia yang baru terjun dalam dunia pengemis. Bersuara serak-lirih layaknya orang kehausan, sambil membungkuk-bungkuk, ia berulang-ulang menyampaikan terima kasih.
Merasa semangatnya berlipat-lipat, ia mengemis lagi. Ia malas mengiba-iba pada sembarang orang. Entah mengapa yang selalu menjadi korbannya adalah perempuan. Barangkali, meski terkesan pelit, makhluk Hawa dianggap memiliki perasaan lebih peka dan kurang tega mengetahui orang lain susah dibanding kaum Adam.
***
Sore bertudung mendung itu, ia menghitung uang hasil jerih payahnya. Seratus ribu! Seratus ribu cuma dalam waktu tiga jam! Lebih dari cukup untuk sekadar memborong semua persediaan kare ayam Mbok Kinah.
Sungguh, ia begitu mujur diperjumpakan Tuhan dengan si buta, sehingga menemukan profesi barunya. Profesi yang kerap dicerca banyak orang, namun justru mendatangkan rimbun uang. Ia tak perlu lagi menjadi tukang pijit atau tukang gali sumur yang pernah dilakoninya selama empat tahun dan hanya dapat uang jika ada panggilan. Atau tukang parkir, yang baru lima hari bekerja, ia sudah babak belur sebab tepergok mencuri helm teropong yang terapit di motor Kawasaki Ninja milik Pak Bupati.
Selepas membersihkan badan, ia masuk ke masjid alun-alun guna melaksanakan shalat Ashar berjamaah. Tentu tanpa berwudlu, sebab sejak kecil ia tak tahu cara berwudlu yang benar. Sengaja Sugino meluangkan waktu untuk menghadap ke Penguasa semesta, sebagai rasa syukurnya yang mendalam. Padahal, sudah lima tahun ini ia jarang sekali menunaikan perintah Tuhan. Jangankan shalat lima waktu, shalat Jum’at yang seharusnya ditunaikan seminggu sekali saja ia sering absen. Yang belum pernah ditinggalkan hingga sekarang adalah shalat hari raya, khususnya Idul Adha. Mengapa? Karena sehabis shalat yang didirikan setahun sekali tersebut, biasanya takmir masjid mendata para jama’ah untuk kemudian pada siang atau sore harinya mereka menerima kiriman daging kurban. 
Keluar dari masjid, di depan kios jamu tradisional, lelaki yang mencium bau sekolah cuma lima bulan itu melihat Joko. Ya, Joko. Hei, itu kan pemuda yang dulu berbuat kurang ajar terhadap istriku! Tunggu! Akan kuhajar kau sampai mampus. Batinnya meraung.
Ketika hendak menumpahkan dendam, langkahnya tiba-tiba tertahan. Terpaksa ia mengubur maksudnya dalam-dalam. Sayang, jika demi membalas apa yang dulu dilakukan Joko pada sang istri, Sugino harus mengorbankan profesinya. Belum lunas melampiaskan amarah, bisa-bisa kedoknya selaku pengemis buta terbongkar. Wah, malah runyam urusan!
Sugino menghindar, berjalan berlawanan arah dari Joko. Dan, tergeragap. Di depannya tengah berdiri seseorang berumur tiga puluhan tahun. Ialah lelaki yang ditemui di warung Mbok Kinah, yang makan begitu lahap dengan menu kare ayam dijangkapi tiga biji kerupuk. Lelaki dengan satu mata tertutup sedang lainnya terbuka dengan warna putih semua. Lelaki yang bermuka melas dengan keringat berhamburan serta berjalan gemetaran dengan kaki kanan diseret saat meminta-minta. Akan tetapi, anehnya, lelaki tersebut sama sekali tidak menunjukkan bahwa dirinya cacat. Bahkan, ia nampak amat sehat.
Mata lelaki yang dikira Sugino buta itu membelalak. Tanpa diberitahu pun, Sugino mafhum kalau lelaki yang pura-pura menjadi pengemis buta semisal dirinya itu sedang dihinggapi kemarahan. Kemarahan membabibuta yang mudah mencelakakan keselamatan nyawanya.
Sugino memandangi tongkat yang dicuri dari lelaki di depannya. Tongkat itu. Tongkat yang membantunya mengetam uang seratus ribu dalam waktu tiga jam itu. Sungguh, ia ditikam gamang: memohon maaf dan menyerahkan tongkat kepada pemiliknya ataukah kabur tunggang langgang seraya mengumpat sekenanya.  

Yogyakarta, 2012

Senin, 25 November 2013

Perjuangan Inspirator Sejati (Resensi_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian “Lampung Post” edisi Minggu, 24 November 2013)

Judul: Indonesia Menginspirasi
Penulis: Ciptono Jayin
Terbit: Juni 2013
Penerbit: B-First (Bentang Pustaka)
Tebal: xv + 160 halaman
ISBN: 9786027888289
Harga: Rp. 36.000,-

Buku yang berada di genggaman pembaca ini menyajikan inspirasi tiada henti bagi siapa saja yang ingin meraih mimpi. Penulisnya, Ciptono Jayin, adalah anak desa yang dengan keterbatasannya tetap berhasrat memupuk cita-cita setinggi mungkin. Dengan usaha yang tidak setengah-setengah dan tanpa mengenal lelah, anak tersebut akhirnya berhasil menggapai apa yang diinginkan. Lebih dari itu, orang lain pun juga merasakan buah dari kerja kerasnya.  
Bila merunut riwayat hidupnya, Ciptono adalah sosok pejuang tangguh. Dalam mewujudkan cita-cita, ia benar-benar merangkak dari nol. Bagaimana tidak? Penerima penghargaan Kick Andy Heroes tersebut mulanya adalah pelajar dengan prestasi yang tidak terlalu memuaskan. Menimba ilmu pada salah satu sekolah favorit di Yogyakarta tidak membuatnya bangga, melainkan cenderung agak minder. Hal ini dikarenakan nilainya yang pas-pasan dan selalu berada di bawah teman-temannya.
 Namun demikian, ia tidak patah arang. Semangat menggebu dan pantang menyerah, setelah lulus SMA, ia mendaftarkan diri ke Universitas Gajah Mada (UGM) Jurusan Kedokteran. Hal ini berangkat dari cita-citanya sejak kecil yang ingin mengkhidmatkan diri sebagai dokter. Di luar dugaan, ketika pengumuman, ternyata namanya tidak muncul. Untungnya, pada saat yang sama, ia juga daftar di IKIP Negeri Yogyakarta Jurusan Pendidikan Khusus dan namanya tercantum dalam daftar mahasiswa baru yang diterima di kampus ternama tersebut.
Awalnya, Ciptono muda merasa kecewa. Meskipun demikian, ia tetap bertahan untuk tetap belajar di jurusan pendidikan. Rupanya, semakin hari ia semakin betah dan kerasan. Pasalnya, materi di jurusannya memiliki keserupaan dengan mata kuliah kedokteran, mulai dari psikologi, diagnostik ABK (anak berkebutuhan khusus), hingga anatomi. Ia pun menikmati masa-masa kuliah dengan mengubur dalam-dalam keinginan menjadi dokter.
Setelah menjadi sarjana, Ciptono mencoba peruntungan dengan menguji ijazahnya dalam perekrutan CPNS. Ia pun lolos dan mendapat tugas di SLB C YPAC Semarang. Di masa-masa inilah kegembiraannya bertambah, karena Tuhan menganugerahkan kepadanya istri yang cantik bernama Uning.
Di sekolah tempat ia mengabdikan diri, Ciptono sangat rajin menularkan bekal keterampilan dan kesenian kepada para siswa. Ia berkeyakinan bahwa dalam diri anak-anak yang memang ‘berbeda dengan yang lain’ tersebut tersimpan bakat dan kelebihan. Itulah yang menjadikannya berusaha semaksimal mungkin supaya apa yang terpendam dalam diri mereka bisa tersalurkan. Tidak berhenti sampai situ. Di luar jam mengajar, ketika semestinya beristirahat, ia bersama sang istri justru meluangkan diri mengajari anak-anak di dekat rumahnya. 
Perjuangan Ciptono tidak selalu mulus. Sering kali ia dihadapkan pada faktor-faktor pengganjal dalam menangani ABK. Bagaimana pun juga, mendidik ABK memerlukan tingkat kesabaran, ketelatenan, serta kreativitas yang tinggi. Jika tidak, maka proses belajar-mengajar hanya akan menemui kegagalan. Mengenai hal ini, ia mengaku, “saya mencurahkan segala kreativitas saya agar siswa-siswi selalu ceria. Mereka sulit sekali untuk menghafal angka maupun huruf. Berbekal dengan segala kreativitas, saya selalu mengupayakan agar mereka menikmati belajar sambil bermain, dari memodifikasi suatu pembelajaran sampai membuat nyanyian saat belajar. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika anak-anak selalu ceria, bersemangat, dan tidak pernah bolos sekolah.” (halaman 86)
Seiring dengan meningkatnya jumlah orang tua yang membutuhkan sekolah khusus bagi anak-anak mereka, akhirnya Ciptono mendirikan lembaga pendidikan baru. Di luar kesibukannya sebagai guru PNS dan pengajar les privat, ia menyempatkan diri untuk mengelola Sekolah Intervensi Diri, sekolah yang berhasil ia dirikan dengan modal bantuan orang tua.
Terwujudnya beberapa target nyatanya tidak lantas membuat Ciptono puas. Ia tetap getol dalam mengangkat talenta ABK. Di antaranya dibuktikan dengan memrakarsai Delly Melodi, alumnus SLB Dria Adi, untuk melakukan pemecahan rekor MURI. Tak ayal, kemampuannya dalam menyanyikan dan menghafal berbagai lagu serta memainkan organ telah mengantarkannya sebagai ‘tunanetra yang hafal dan dapat menyanyikan 650 lagu’.
Apa yang dicapai Ciptono menyebabkan beberapa pihak menaruh kepercayaan kepadanya. Tidak sampai lima tahun jumlah murid di sekolahnya bertambah pesat dan melalui Dinas Pendidikan, 34 guru PNS ditugaskan di sekolahnya. Beberapa toko kain menyumbang kain perca, Bank Indonesia memberi bantuan ratusan tanaman buah, Dinas Pertanian juga turut berpartisipasi. Dengan adanya kepercayaan tersebut, berkembanglah kewirausahaan di sekolah yang dirintisnya. Mulai dari produk roti sederhana, produk tata boga, cuci motor, bengkel, hingga salon kecantikan, masing-masing mempunyai pelanggan sendiri. Belum lagi dengan organ tunggal yang kerap mendapat undangan untuk mengisi acara pernikahan, peresmian gedung, seminar dan jalan sehat. (halaman 108)
Keseriusan Ciptono dalam mendidik ABK menyebabkan dirinya dipercaya sebagai motivator dan trainer di beberapa sekolah bahkan perusahaan ternama. Ia pun terbiasa mengisi acara, seminar, serta workshop di pelbagai kota di Indonesia.
Nama Ciptono mulai melambung. Profilnya berulang kali menghiasi media, baik koran maupun televisi. Sungguh pun demikian, dengan meroketnya namanya, Ciptono tidak lantas menyombongkan diri. Bahkan, ia ingin berbagi dan menularkan keberhasilannya dengan menggagas Indonesia Menginspirasi, sebuah program yang bertujuan memberikan inspirasi bagi semua orang.
Dari program ini, muncullah ide tentang Rumah Inspirasi, yang merupakan sarana bagi ABK agar dapat mengeksplorasi potensi yang ada dalam diri mereka. Ciptono membangun 33 Rumah Inspirasi. Di antaranya: panggung pentas, Kelompok Karawitan Tunanetra, Band Autis Pertama di Dunia, Band Tunagrahita, Tunanetra Hafal 650 Lagu, Autis Hafal 250 Lagu, dan Autis Hafal Al-Qur’an. Rumah-rumah inspirasi tersebut siap menyebarkan virus inspirasi bagi siapa saja yang mengunjungi. Apakah Anda termasuk di antara mereka yang terinspirasi?

Yogyakarta, 2013

Senin, 18 November 2013

Penerbit Nakal, Penebar Sial (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Koran Merapi" edisi Minggu, 10 November 2013)

Menjauhi Bacaan Sesat
Menjamurnya penerbit akhir-akhir ini bak tumbuhnya cendawan di musim hujan. Dalam jagat literasi, di satu sisi, fenomena ini patut mendapat sambutan hangat sekaligus apresiasi yang setinggi-tingginya dari semua pihak. Namun, di sisi lain, juga perlu dicurigai, karena bisa jadi sebuah penerbit berdiri dilatarbelakangi adanya nafsu berburu keuntungan semata, sehingga perhatian terhadap muatan atau isi buku merupakan hal kesekian. Yang menjadi prioritas adalah bagaimana caranya agar buku bisa laku di pasaran, bak kacang rebus yang baru mendarat di pinggan. Hasrat pembaca untuk memperkaya diri dengan wacana serta mengunyah informasi berharga terpaksa dikesampingkan.
Ketika pembaca terlanjur mengunyah bacaan sesat, yang sering terjadi yaitu bukannya memperoleh pencerahan, melainkan justru terjerumus dalam kubang kegelapan. Sejumput rupiah yang keluar guna menebus harga bacaan kurang seimbang dengan hasil yang diketam. Imbasnya, kepuasan batiniah pembaca dalam memungut kepingan pengetahuan menjadi gersang, karena dicekoki dengan bacaan yang membodohkan.
Oleh karena itu, sebelum menyantap bacaan, dianjurkan bagi pembaca untuk mengenal sejauh mungkin profil penerbitnya. Tujuannya yaitu untuk menjauhkaan diri dari bacaan sesat. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mengkroscek kebenaran alamat penerbit yang biasanya tertera di bagian cover belakang atau di bagian dalam buku (cover dalam). Penerbit nakal punya seribu satu siasat dalam membuat alamat-alamat palsu lengkap dengan nomor jalan dan emailnya, sehingga pembaca bisa terkecoh karena mengira penerbit tadi berkredibilitas tinggi.  
Langkah lain yang perlu ditempuh yaitu mengetahui beberapa ciri buku-buku terbitan penerbit nakal, yaitu: terkesan ‘asal terbit’ karena kemasan kurang meyakinkan, penulisnya kurang dikenal di telinga masyarakat pembaca, daftar rujukan kurang terpercaya (kebanyakan diunduh dari internet), serta kertas yang dipakai kurang bermutu.   

Menghindari Penerbit Nakal
Selain menghadirkan bacaan sesat, ada juga penerbit yang gemar mengelabui penulis. Efek negatif yang ditimbulkan yaitu tingkat kepercayaan kepada penerbit tersebut menurun. Parahnya lagi, jika terus-menerus dibohongi, penulis memilih pensiun dini, gantung pena, lantaran merasa jera dan enggan lagi menitipkan karyanya ke penerbit.
Bagi penulis, munculnya penerbit jenis ini merupakan kabar buruk. Mengutip Johan Wahyudi (2011), hak penulis untuk mendapatkan dua versi laporan (pencetakan dan penjualan) secara periodik kerap kali dikorbankan demi segelintir kepentingan. Penerbit yang tergolong nakal lebih memilih untuk tidak mengirim laporan secara akuntabel kepada penulis dengan cara merancang data non-valid. Akibatnya, akuntabilitas laporan pencetakan dan penjualan buku kurang bisa dipertanggungjawabkan. Hal ini berpengaruh terhadap jumlah royalti yang harus dikirim ke penulis. Boleh dikatakan, “semakin melenceng data yang dibuat, semakin kecil nilai royalti yang didapat”.
Pengingkaran janji juga menjadi momok menakutkan bagi penulis. Masih menurut Johan, memang sebelum buku diluncurkan, penerbit selalu menyodorkan SPK (Surat Penjanjian Kerjasama), yang memuat kewajiban-kewajiban penerbit kepada penulis. Namun, penerbit dapat dengan leluasa mengingkarinya. Faktor keculasan penerbit bisa bermacam-macam, antara lain jauhnya tempat tinggal penulis dengan penerbit. Hal ini dimanfaatkan penerbit guna melancarkan intrik, yang pada akhirnya menjadikan posisi penulis kian terjepit. Karena faktor  jarak tadi, sulit bagi penulis untuk melakukan complain terhadap perlakuan semena-mena penerbit. Adapun ketika penulis menggunakan alat komunikasi semisal HP atau telepon, penerbit bisa saja menyiasati, karena tidak berhadapan dengan penulis secara langsung.
Seorang teman penulis sampai pernah berkali-kali merasa ditipu, karena dideline pembayaran royalti selalu dilanggar. Dengan berbagai alasan, penerbit seenaknya membohongi penulis. Ada saja dalih yang digunakan dalam rangka menutupi kebusukannya, seperti terlambatnya laporan dari toko-toko buku yang menampung karyanya, juga pergantian karyawan—khususnya bagian keuangan.
Melihat fenomena di atas, sangat dianjurkan kepada para penulis untuk menanyakan kepada penulis yang lebih senior perihal mana saja penerbit yang benar-benar dapat dipercaya dan mana saja yang kerap berdusta.

Mengambil Langkah Alternatif
Dalam memilih bacaan, pembaca dituntut untuk selalu kritis dan selektif. Tentu bukan perkara ringan untuk melakukannya. Kepekaan dan naluri yang kuat memudahkan untuk menghindari bacaan sesat. Dengan demikian, bagi yang terbiasa menikmati buku dengan kategori tertentu, niscaya ia mampu mengatasinya. Sebagai misal, jika seseorang gandrung membaca buku pemikiran kontemporer, maka dengan sendirinya ia bisa membedakan mana buku yang berbobot, mana pula yang tidak.
Lantas bagaimana jika seseorang ingin mengeremus bacaan yang belum akrab baginya? Bertanya kepada si ahli adalah di antara secuplik kiat. Ahli yang dimaksud bisa berarti teman, keluarga, atau orang lain yang lebih mengerti tentang buku yang akan dibaca.
Sungguh pun demikian, sebenarnya terdapat langkah alternatif yang lain, yaitu dengan memilih penerbit yang sudah melambung namanya. Misalnya, pembaca memilih buku-buku terbitan Gramedia Pustaka Utama (GPU) yang selama beberapa dasawarsa mampu menunjukkan taringnya dengan menerbitkan berbagai ragam buku berkualitas, mulai dari agama, psikologi, hukum, kesehatan, arsitektur, bahasa, biografi dan otobiografi, ekonomi dan bisnis, fotografi, keluarga, komputer, musik, pendidikan, sejarah, hingga teknologi.
Untuk pemikiran soshumbud (sosial, humaniora, budaya) pembaca direkomendasikan untuk memilih buku-buku Pustaka Pelajar yang, terbukti menjadi partner yang baik. Sedangkan untuk filsafat, penerbit Kanisius dan Jalasutra merupakan dua di antara penerbit yang konsen memberikan pengabdian bagi para pembaca.
Begitu pula dengan penulis yang hendak menerbitkan karya. Demi mencari ‘keselamatan’, meminang penerbit besar merupakan jalan yang tidak bisa ditawar. Semisal untuk karya sastra, penerbit Bentang adalah ahlinya. Selain dianggap memperhatikan ‘nasib’ penulis karena memberikan hak-haknya, penerbit ini juga sanggup mempertahankan kualitas. Penerbit Bentang dikenal mampu mengemas buku dengan tampilan menarik. Bukan hanya didukung oleh kecakapan para redaktur dan editor profesional, keahlian layouter juga dimanfaatkan. Sehingga penentuan warna cover, ukuran buku, maupun font tulisan benar-benar diperhatikan. Bagaimana pun juga, dalam konsep marketing, tampilan fisik turut menentukan laris-tidaknya buku. Tak ayal, sejumlah sastrawan besar genap mempercayakan naskahnya untuk digarap oleh penerbit ini. Misalnya Seno Gumira Ajidarma (“Trilogi Insiden”, 2010), Agus Noor (“Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia”, 2010), Putu Wijaya (“Klop”, 2010), Dee/Dewi Lestari (“Madre”, 2011), juga Andrea Hirata (“Laskar Pelangi Song Book”, 2012).

Yogyakarta, 2012

Rabu, 16 Oktober 2013

Puisi_Riza Multazam Luthfy (Terbit di harian "Joglosemar" edisi Minggu, 14 Oktober 2013)

Sesaat

kaki,
hanya kau yang sanggup
keluhkan derita
hanya kau yang mampu
puaskan hasrat
si sukma

sekarang, boleh jadi
kau acuh
pada kenangan
yang tak kan kembali

Malang, 2009


Riwayatnya

aku dan kata
berbaur
menjadi
- sukmamu -

Malang, 2009


Cinta Si Gila

pagi ini kau ingin aku keluh
tapi aku tak rela, karena kau berharap lumpuh
layar cinta yang kuberikan padamu tak berlabuh
ubahku adalah tenaga yang kaubuang seluruh
hasrat itu enggan bertumbuh
sayangmu pun lari penuh
hanya harap yang tak bersentuh
terkenang pada tubuh piyuh
enggan berburuh
pada si pengaruh

Malang, 2009


Humor?

maut dan dosa
suka bercanda
lewat:
            - air mata -

Malang, 2009


Jas Hujan

aku rindu mengajakmu
melihat kepingan mimpi
di tengah kebisingan

aku tak mau lagi
melihatmu tersesat, terseret
apalagi terjerembab
dalam ombak kegirangan

anak kecil itu
memukul-mukul perut
menjambak-jambak rambut
berharap segera bertemu
malaikat maut

apakah kita
hanya bermodal raga
padahal si sukma
mengobral jasa
menyisihkan, menyisakan
satu jas hujan

agar kehangatan
bisa mereka hirup
agar semua sadar
mereka butuh hidup


Malang, 2010

Meraih Asa dengan Tiga Juta (Resensi_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Metro Riau" edisi Minggu, 6 Oktober 2013)

Judul: Rp 3 Juta Keliling China Utara
Penulis: Rahma Yulianti
Terbit: Januari 2013
Penerbit: B first
Tebal: 224 halaman
ISBN: 978-602-8864-71-8
Harga: Rp. 39.000,-
Bagi Anda yang tertarik menikmati pesona China Utara dengan biaya murah, maka buku ini dapat menjadi pemandu sekaligus sahabat terbaik dalam perjalanan. Tidak hanya menunjukkan loka wisata mana saja yang layak dikunjungi, namun juga membocorkan aneka ragam tips agar perjalanan bisa lebih nyaman, rileks, dan tanpa perlu memusingkan pembiayaan.
Ialah Rahma Yulianti. Lulusan Universitas Indonesia (UI) Jurusan Arsitektur yang bersedia meluangkan waktu untuk berbagi pengalaman melalui buku yang ditulis. Kegemaran backpacking jurnalis salah satu tabloid arsitektur di Jakarta tersebut rupanya mengilhaminya untuk mengabadikan pengalaman ketika berkelana ke luar negeri. Yang menarik dari catatannya yang telah dibukukan yaitu tawaran bagi para backpacker untuk mengelilingi China Utara dengan harga di bawah normal. Inilah yang membuat karya perempuan yang melakukan backpacking pertama kali pada 2005 tersebut berbeda dengan karya-karya lain yang sejenis.
Buku ini tidak melulu menyajikan panduan mengenai rute transportasi kawasan yang dituju, namun juga daftar restoran penyedia makanan halal; kosakata simple yang wajib di ketahui; info penginapan, belanja, dan contoh itinerary; dan yang terpenting adalah rincian biaya keseluruhan dengan harga hemat dan akurat. Jadi, bagi Anda yang menginginkan bepergian ke China Utara dengan biaya super irit, maka buku ini bisa menjadi solusi yang tepat. Apalagi, pengalaman penulis dalam hal berkelana dengan dana terbatas sudah tidak diragukan lagi. Hal ini tidak terlepas dari kegandrungannya berburu tiket murah guna menelusuri keindahan dan keelokan kota-kota besar di dunia.
Di antara yang direkomendasikan untuk dikunjungi yaitu Ancient Cultural Street. Ialah jalan sepanjang 0,36 mil yang dibangun dengan meniru konsep kawasan kota lama Tianjin. Bangunan-bangunan di sana tersusun dari batu bata berwarna abu-abu, beratap lengkuh khas China, dan berpintu merah. Jalannya dilapisi dengan conblock, mirip setting film-film China zaman dahulu. Jalan ini digunakan untuk memborong oleh-oleh khas China atau mencicipi makanan ala China. Jika Anda berkunjung pada 23 Maret, tempat ini akan berhias ribuan lampion dan diramaikan dengan pertunjukan barongsai (halaman 33).
Tempat lain yaitu Forbidden City yang sekarang berganti nama Palace Museum. Pembangunannya dimulai pada 1406 dan pernah dijadikan istana oleh 24 kaisar. Alasan kenapa dulu dinamakan Forbidden City yaitu karena tempat ini pada zaman dulu pernah terlarang bagi orang luar. Tanpa seizing kaisar, siapa pun dilarang keluar-masuk di tempat ini. Apabila terbukti melanggar, maka hukumannya adalah mati. Forbidden City terdiri atas banyak bangunan dengan berbagai fungsi berbeda, seperti ruang tunggu, ruang upacaran juga ruang ganti baju kaisar (halaman 86). Dengan demikian, tempat ini penuh dengan nuansa kesejarahan yang kental. Maka, di samping mengagumi kokoh dan megahnya bangunan-bangunan usang dengan konstruksi yang monumental, tentu bagi yang berminat dengan historiografi, berkunjung ke tempat bersejarah ini bukan hal yang patut ditawar lagi. 
Informasi mengenai rute transportasi ke Shanghai International Youth Hostel (Utels) oleh penulis ditunjukkan pada halaman 123. Dengan menggunakan subway, Anda bisa sampai ke tempat tujuan dengan memulai perjalanan dari bandara ke stasiun subway yang berada di Lantai B1, lalu berhenti di Zhongsan Park. Kemudian bertukar ke line 3 atau 4, dengan tempo berkisar 30 menit.
Adapun restoran yang bisa menjadi rujukan bagi orang-orang Islam antara lain restoran China Muslim yang berada lebih kurang 20 meter dari Tu Lau Fan, Muslim Food Center yang terletak di seberang Masjid Niu Jie, serta restoran Muslim di dekat Chaoyang Road. Selain itu, di sekitar Grand Mosque terdapat juga pusat makanan halal yang menjual kebab dan roti naan. Maka, tidak ada kekhawatiran bagi Anda yang diharuskan menghindari makanan-makanan larangan syariat.
Mengenai biaya penginapan, dibeberkan beberapa yang dianggap perlu. 6-bed mixe dorm $8,3, 4-bed mixed dorm $10, standar twin private ensuite $24, dan basic twin private ensuite $ 21,57 (penginapan Tian An Men Sunrise Hotel); single $28,16, budge double $29,81, twin private bathroom $31, 38, dan double private bathroom $31,38 (penginapan no. 161 Hostel); 6-bad dorm-mixed $11,01, 6-bed dorm-mixed $12,58, dan double $26,4 (penginapan Happy Dragon Courtyard Hostel). (halaman 104-105). Dengan daftar biaya semacam ini, Anda tidak perlu was-was, jika berkunjung ke China Utara dengan bekal pas-pasan.
Nilai lebih buku yang dikemas penuh elegan ini kian teruji dengan upaya penulis menyelipkan secuplik pembuktian mengenai beberapa mitos mengenai orang China. Di antaranya ketidakmampuan orang China berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Faktanya, generasi muda China kini mulai belajar dan berbahasa Inggris, meskipun kebanyakan orang, seperti petugas loket, sopir taksi, sopir bus, dan petugas informasi, belum menunjukkan kemampuannya dalam hal ini. Mitos tentang joroknya toilet-toilet di sana. Kenyataannya, beberapa toilet, khususnya di Badaling Great Wall, Forbidden City, Summer Palace, South Bejing Station, juga Niu Jie Mosque, tempat membuang sampah perut tersebut justru sudah dilengkapi dengan autoflush (tombol peniram otomatis), meskipun orang-orang lanjut usia dikenal tidak menyiram kotoran mereka. Mitos tentang kekurangcocokan China bagi orang Islam. Realitas berkata lain. Walaupun tidak semudah jika berkunjung ke negara dengan mayoritas penduduknya muslim, namun di sana bayak terdapat masjid dan beberapa restoran dengan label halal. Mitos mengenai kesombongan dan keangkuhan orang China. Faktanya tidak sepenuhnya demikian. Memang banyak yang suka menyerobot antrean, acuh tak acuh kepada orang lain, berbicara dengan nada tinggi, serta menunjukkan kemarahan. Akan tetapi, banyak pula yang tidak keberatan ketika dimintai bantuan untuk menunjukkan jalan.

Yogyakarta, 2013

Sabtu, 05 Oktober 2013

Puisi_Riza Multazam Luthfy (Terbit di harian "Suara Karya" edisi Sabtu, 5 Oktober 2013)

Regol Mata

apa karena debu ini
kau menghardik
kakiku?

sebenarnya
ia hanya berharap
kau mau mengobati
matanya
yang telah lama
tak mengenalmu

Malang, 2009


Obituari Jiwa

sungguh,
aku tak ingin keningmu
bergaris senja

sebelum kau tebarkan
gerigi jagungmu
pada filusuf tua
dan pemburu manja

kau ini
pegawai gadai yang lemah
bisa bertingkah
bila si empu tak rela
merawat atau menyimpan
di keranjang sampah

Malang, 2009


Sebadan

hanya kata
hanya sukma
bergumul
melumat bibir puisi
menuai teduh sunyi

bertukar rasa
berjabat sapa
menular biji perih, luka
menguar bebenih cinta

o, para durja
peliharalah kami
dalam jengkal langkah
dan hasrat manusiawi

Bojonegoro, 2013


Gunting

wahai rambut
dari segala lelembut

boleh saja
kau titipkan nasib
serdadu kutu durjana
guna ditebas hidung, telinga

daripada jemari kami
lelah menggantung doa
mengais sisa para punggawa

Yogyakarta, 2013


Sarung

lebar seperti jangat
kuat seliat kawat

kami titiskan lembut
dalam arus perut

kami redamkan maut
dalam setiap keriput

gerangan siapa
teguh meluput nestapa
ringan mengulur hampa
siap kami belitkan lengan
kami susupkan riang
pada bulu cecabang
penjaga paha betis kalian

Yogyakarta, 2013


Kepada Peluk

waktu telah membusuk
diterkam cahaya lapuk

mimpi genap terbungkus
dalam tanah yang tandus

maka, dari engkaulah
kami membuka mata
melebar liang telinga
mengubur kembali
sangsi pun sangsai
yang tak sempat usai

Yogyakarta, 2013