Sabtu, 05 Oktober 2013

Puisi_Riza Multazam Luthfy (Terbit di harian "Suara Karya" edisi Sabtu, 5 Oktober 2013)

Regol Mata

apa karena debu ini
kau menghardik
kakiku?

sebenarnya
ia hanya berharap
kau mau mengobati
matanya
yang telah lama
tak mengenalmu

Malang, 2009


Obituari Jiwa

sungguh,
aku tak ingin keningmu
bergaris senja

sebelum kau tebarkan
gerigi jagungmu
pada filusuf tua
dan pemburu manja

kau ini
pegawai gadai yang lemah
bisa bertingkah
bila si empu tak rela
merawat atau menyimpan
di keranjang sampah

Malang, 2009


Sebadan

hanya kata
hanya sukma
bergumul
melumat bibir puisi
menuai teduh sunyi

bertukar rasa
berjabat sapa
menular biji perih, luka
menguar bebenih cinta

o, para durja
peliharalah kami
dalam jengkal langkah
dan hasrat manusiawi

Bojonegoro, 2013


Gunting

wahai rambut
dari segala lelembut

boleh saja
kau titipkan nasib
serdadu kutu durjana
guna ditebas hidung, telinga

daripada jemari kami
lelah menggantung doa
mengais sisa para punggawa

Yogyakarta, 2013


Sarung

lebar seperti jangat
kuat seliat kawat

kami titiskan lembut
dalam arus perut

kami redamkan maut
dalam setiap keriput

gerangan siapa
teguh meluput nestapa
ringan mengulur hampa
siap kami belitkan lengan
kami susupkan riang
pada bulu cecabang
penjaga paha betis kalian

Yogyakarta, 2013


Kepada Peluk

waktu telah membusuk
diterkam cahaya lapuk

mimpi genap terbungkus
dalam tanah yang tandus

maka, dari engkaulah
kami membuka mata
melebar liang telinga
mengubur kembali
sangsi pun sangsai
yang tak sempat usai

Yogyakarta, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar