Senin, 28 Januari 2013

Segebok Petuah dalam Bungkus Kisah (Resensi_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Haluan" edisi Minggu, 27 Januari 2013)

Judul: Dari Seberang Perbatasan (Cerpen Pilihan Riau Pos 2012)
Penulis: Hasan Junus, dll
Editor: Purnimasari
Terbit: November 2012
Penerbit: Yayasan Sagang, Riau
Tebal: vi + 240 halaman

Judul buku ini dipetik dari tulisan Hasan Junus yang terbit pada 1 April 2012. Selain karena karyanya memang patut diapresiasi, Hasan Junus merupakan sastrawan Riau yang sangat berpengaruh. Dari kata pengantarnya disebutkan bahwa ia adalah pewaris darah Raja Ali Haji. Sedangkan ayahnya, Raja Haji Muhammad Yunus Ahmad, dianggap sebagai anggota pengarang Rusyidah Klab, perkumpulan pengarang Riau yang meletakkan fondasinya pada penghujung abad ke-19 dan berjaya pada awal abad ke-20.
Menurut UU Hamidy, di antara keunggulan Hasan Junus yaitu kemampuannya merambah kegiatan kreatif para pengarang dunia dan berhasil membukakannya kepada pengarang muda di Riau. Berbekal pena, tokoh yang berpulang pada Jum’at, 30 Maret 2012 ini menghidangkan tulisan mengenai pengarang-pengarang dari berbagai belahan dunia, baik Eropa, Amerika, Timur Tengah, bahkan Amerika Latin. Sehingga, muncul seloroh bahwa jika ada pengarang Riau tidak mengenalnya, maka akan diragukan kepengarangannya. (halaman v-vi)
23 cerpen yang terkumpul dalam buku ini merupakan pilihan dari 36 cerpen yang terbit di Riau Pos (rubrik Pujangga) setiap hari Minggu sejak Januari hingga September 2012. Beberapa nama terbilang produktif mengirimkan karyanya, semisal Jefri al Malay, M. Badri, dan Musa Ismail. Akan tetapi, dengan alasan keterwakilan penulis, hanya satu cerpen dari masing-masing mereka yang dimuat dalam buku ini. (halaman vi)
Berikut disajikan ulasan ringkas sebagian di antara cerpen-cerpen yang dimaksud:
Buah tangan Chairil Gibran Ramadhan “Si Gila” terbilang unik dan ganjil. Cerpen ini mengisahkan tentang perempuan gila berumur lebih dari 37 tahun. Gemar sekali ia berkeliaran di stasiun kereta dekat kantor wali kota. Anehnya, setiap kali diberi makanan, ia justru membuangnya dan membentak si pemberi. Oleh orang-orang, ia dijuluki dengan Mpok Sarap, Bu Beringas, dan Si Sangar, karena kepada siapa saja ia nekat berbuat kasar. Bahkan, ia suka melemparkan kotoran kucing ke kaca rumah terdekat dengannya. Akan tetapi, kebrutalannya akhirnya harus berakhir, ketika suatu hari ia mati ditabrak kereta api.
Cerpen Khrisna Pabichara bertajuk “Berhenti Merawat Luka” diangkat dari secuplik memoar Dahlan Iskan. Reputasi Dahlan Iskan yang semakin melesat karena pernah memegang jabatan Direktur Utama PLN dan kini menjadi menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyebabkan banyak pengarang tertarik untuk memotret perjalanan hidupnya dalam sebuah karya. Diceritakan dalam cerpen ini, bahwa di tengah-tengah himpitan hidup, Dahlan kecil mengidamkan sepasang sepatu dan sepeda. Demi mewujudkannya, sejak kelas 3 SR, ia bekerja sebagai kuli nyeset. Ia giat menabung upahnya, agar suatu saat dapat membeli dua mimpi terbesarnya. Namun, karena kebutuhan ekonomi begitu mendesak, sebagian besar hasilnya diberikan kepada sang ibu. Pada suatu pagi, Dahlan sangat terkejut ketika tidak menemukan nasi tiwul untuk dimakan. Padahal, biasanya ibunya selalu menyediakan untuk sarapan. Lebih tergeragap lagi, waktu ia menemukan ibunya berjongkok, terguncang-guncang menahan batuk, sambil memegangi batang pisang. Sesaat kemudian, ibunya terjengkang dan dilarikan ke rumah sakit. Meskipun demikian, Dahlan tetap tabah menghadapi cobaan. Di akhir cerita, ia mengabadikan apa yang dialaminya dalam buku catatan. Menulis, baginya, merupakan terapi mujarab dalam rangka mengurangi beban hidup.
Adapun M. Arman AZ, melalui cerpen “Kota Tanpa Kepala”, mempersembahkan cerita yang tergolong absurd dan menerjang batas-batas logika. Bagaimana tidak? Dalam paragraf pembukanya, penulis mengenalkan sebuah kota berpenghuni manusia-manusia tanpa kepala. Sesuai keyakinan yang beredar, awal mula kelahiran kota tersebut adalah sejak pemimpinnya mati misterius. Lantas diangkatlah pemimpin baru, guna menggantikan kedudukannya. Akan tetapi, terbitlah penyesalan, karena setelah dipilih, ia tidak becus membenahi kesejahteraan penduduk. Akhirnya mereka berbondong-bondong memprotes kebijakan sang pemimpin serta mencaci namanya dan merobek-robek gambar dirinya di koran. Merasa jengah, pemimpin itu membentuk pasukan khusus untuk mengamputasi kepala seluruh penduduk. Tentu saja, anggota keluarga dan orang-orang kepercayaan sang pemimpin luput dari bahaya tersebut. Setelah melaksanakan hasratnya, kepala-kepala yang telah dipenggal dijadikan tumbal untuk bendungan, jembatan, dan gedung pencakar langit di kota itu. Rupanya, seorang pemuda berhasil menyelamatkan diri. Berlari ke tempat lain, ia membentuk perkampungan baru yang indah. Tak lama kemudian, ia pun didapuk menjadi pemimpin. Namun sayang, ternyata lambat laun ia menjadi ‘tangan besi’, yang memimpin dengan kejam. Dari sinilah terbersit gambaran bahwa para tiran akan selalu lahir di muka bumi, untuk melancarkan kebengisan dan melakukan penindasan.
Selain ketiga cerpen di atas, masih banyak lagi cerpen yang patut dinikmati, seperti: “Kampung Surga” (Hermawan Aksan), “Pulang” (Isbedy Stiawan), “Tanah Merah” (Delvi Yandra), dan “Sekolah Babi” (Riki Utomi). Hal ini dikarenakan para penulis sanggup memadukan berbagai macam karakter tokoh, persoalan, serta alur dalam racikan kata-kata memesona. Lebih dari itu, pesan-pesan yang disampaikan bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Buku ini layak dimiliki, karena menyajikan beragam tema yang dikemas dalam cerita-cerita yang renyah. Ditambah lagi dengan pemilihan warna cover yang pas dan kertas yang berkualitas.

Yogyakarta, 2012

Rabu, 23 Januari 2013

Lari dari Kira (Resensi_Riza Multazam Luthfy, terbit di “Kompas.com” edisi Selasa, 22 Januari 2013)


Judul: Kira, Waktu Memaksaku Melepaskanmu
Penulis: Dhian Gowinda
Terbit: Juli 2012
Penerbit: Bentang Belia
Tebal: 160 halaman
Harga: Rp. 29.000

Anggitan narasi cinta oleh Dhian Gowinda ini memang memukau. Penulis tak hanya mengajak pembaca untuk merunut kisah kasih antara Kira dengan Rangga, melainkan juga menghidangkan pelajaran bahwa betapa seseorang yang terpuruk karena masa lalu, tidak boleh memanggul beban derita hingga berlarat-larat. Ia harus berdiri tegap menatap jauh ke depan. Seseorang yang terlampau merenungi waktu silam tidak akan mampu menjalani kehidupan dengan baik. Itulah mengapa ia dituntut tetap bertahan. Ia boleh merawat kenangan, tanpa perlu membuangnya jauh-jauh. Lebih dari itu, ia harus bangkit melawan kesedihan, karena life must go on.
Pada awalnya, kisah yang dibalut dengan kata-kata gaul dan identik dengan kaum ABG ini terkesan klise. Akan tetapi, salah! Ini adalah anggapan sesat yang mendesak diluruskan. Pasalnya, penulis tetap menyajikan hal baru bagi pembaca. Tentunya dengan catatan jika pembaca bersedia menyimak cerita ini secara utuh; hal yang ringan dilakukan, mengingat bahasa percakapan antar tokoh disajikan dengan renyah.
Di antara keistimewaan buku ini yaitu penulis mampu menciptakan surprise bagi pembaca. Efek kejut sengaja dirancang sebagai ikhtiar melibatkan emosi pembaca. Dengan menyelipkan kegembiraan dan kesedihan yang bertumpang tindih, tak ayal, perasaan pembaca akan diaduk-aduk sehingga dengan mudah menitihkan air mata sekaligus tersenyum sendiri. Walhasil, pembaca akan menghirup napas dalam-dalam seraya melanting decak kagum.
Adalah Rangga, tokoh utama dalam novel yang cocok dinikmati oleh kawula muda ini. Ialah lelaki penggandrung berat keusilan, kejahilan serta kegesitan Kira. Lelaki yang diam-diam menaruh simpati kepada gadis dengan rambut selalu acak-acakan dan mengantongi gelar trouble maker. Sayangnya, ia belum sadar bahwa di dalam hatinya sebenarnya tersimpan rasa yang lebih dari sekadar simpati. Ia baru menyadarinya ketika Mozza menanyakan apakah dirinya menyukai Kira.
Rangga seolah mendapat angin segar ketika suatu saat Mozza menyodorkan list kesukaan Kira. Percaya dengan bocoran sahabat kental Kira tersebut, akhirnya Rangga mencoba menarik hati gadis pujaannya dengan meniru gaya Lupus. Jadilah rambutnya aneh bin ajaib, karena mirip burung berjambul. Tak hanya itu, ia juga merogoh koceknya agar Kira terpikat. Ia  membelikan Kira beberapa keping DVD berisi film-film Korea: Sector 7, Secret Garden, Heart String, dan City Hunter. Juga CD SHINee, boyband yang digandrungi Kira setengah mati.
Di luar dugaan, Kira justru menolak mentah-mentah hadiah tersebut dengan berujar: “gue gak butuh ginian!!!!” (halaman 15) lalu meninggalkan Rangga, yang masih bingung dan belum paham dengan sikap Kira.
Upaya Rangga dalam menjinakkan hati Kira akhirnya berbuah. Ia mengetahui bahwa sesungguhnya Kira juga menaruh perasaan yang sama ketika suatu hari diary berwarna biru diberikan kepadanya. Saking senangnya, Rangga memberitahukan bahwa ia dan Kira sudah resmi pacaran dengan mengirim SMS ke semua teman sekolah.  
Mengetahui tingkah laku Rangga yang cenderung lebay itu, Kira begitu marah. Sampai-sampai ia berkata pada Mozza: “tapi, seenggaknya dia ngobrol dulu, kek, sama gue. Sableng, tuh, anak, belum ada apa-apa udah kasih woro-woro ke anak-anak.” (halaman 43).
Rangga meminta maaf kepada Kira atas sikapnya yang berlebihan. Atas dasar cinta, Kira selalu memaafkan Rangga, meski bukan sekali saja kekasihnya itu berbuat salah. Begitulah. Kisah asmara keduanya sering kali diwarnai pertengkaran yang disulut hal-hal sepele. Akan tetapi, mereka berdua sanggup mengatasi itu semua dengan mulus.
Makin hari kemesraan Rangga dengan Kira makin tampak. Kebahagiaan senantiasa terpancar di wajah keduanya. Hingga sebuah peristiwa memaksa kebahagiaan itu berakhir dan menyebabkan sepasang kekasih itu berpisah. Ya, berpisah untuk selamanya, karena Kira meninggal dunia dalam perjalanan bersama Rangga.
Depresi berat menghinggapi Rangga. Atas dasar itulah, ia bermaksud melupakan semua kenangannya bersama Kira dengan menempuh studi di Korea. Celakanya, setiap otaknya melepaskan potret dambaan hatinya, setiap itu pula bayangan Kira kembali muncul.
Di negeri berpenghuni orang-orang Mongoloid tersebut, Rangga bertemu dengan Tari, sepupu Kira yang ternyata juga sedang menempuh studi di Korea. Gadis berwajah oriental tersebut mengaku tidak terima atas kepergian Kira dengan berucap: “Pembunuh! Tenang lo di sini? Tujuh tahun gue menikmati penderitaan elo. Dan, sekarang elo mau melarikan diri begitu aja.” (halaman 102).
Rangga tertegun. Nyatanya, selama ini Tari selalu menguntitnya. Tari ingin membuat penderitaan Rangga semakin menjadi dengan rajin menyalahkan Rangga.
Di pucuk cerita, Tari menyadari bahwa kematian sepupunya itu adalah takdir semata yang tidak perlu disesali terus-menerus. Begitu juga dengan Rangga. Meski Kira sudah tiada, ia yakin bahwa kekasihnya itu selalu bersamanya dalam menggapai cita-cita.

Yogyakarta, 2012

Senin, 21 Januari 2013

Cinta yang Berlari (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di majalah "Joe Fiksi" edisi Januari 2013)


Syrum; pemuda buruk rupa dengan dagu lancip dan bibir tebal. Suaranya yang parau mengantar jari udara malas menyentuh ubun-ubunnya. Sedangkan Bihse merupakan perawan elok tiada tara. Cahaya yang bergelantungan di bola netranya memicu burung-burung homu gemar menyumbang lagu untuknya. Rumah keduanya saling berdekatan. Dan bukan sebutir kebetulan, jika keduanya mempunyai ikatan kekerabatan. Benar. Ayah Syrum adalah kakak tertua dari ibu Bihse.  
Awalnya, Syrum kecil adalah anak periang yang suka bermain dengan Bihse. Jika matahari belum genap melata, Syrum akan mengajak sepupunya itu menghabiskan waktu di taman belakang rumah. Di sana mereka memetik keindahan bunga hyaar atau berburu capung mirett yang masih terlelap. Kerap juga keduanya bermain petak umpet. Suatu hari, pernah pandangan Bihse tak mampu menjangkau di mana letak persembunyian Syrum. Disergap kesal, pungkasnya Bihse menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Tak ayal, Syrum terpaksa menampakkan diri. Sebab kejadian itulah, Bihse menaruh jengkel setengah mati kepada Syrum. Namun kejengkelan tersebut nyatanya mudah raib kala ia bertembung lagi dengan Syrum di esok hari. Apa sebab? Karena, jika Bihse dirundung sedih, katup mulut Syrum rajin melempar cerita-cerita unik dan menggelitik. Cerita tentang kenapa capung mirett berwarna merah jingga. Kenapa bunga hyaar hanya mau mekar jika ditiup angin utara. Kenapa tanah kebun Paman Lodan menyimpan ribuan cacing. Juga rimbun lagi kenapa-kenapa yang lainnya. Dengan kelihaian berkisah, Syrum ringan mengusir kesedihan yang teronggok di hati Bihse.  
Betapa hari-hari Syrum dan Bihse selalu diliputi kegembiraan yang sangat. Kegembiraan yang belum tentu dapat diketam ketika cinta mereka terhalang istiadat nenek moyang.
***
“Mengapa kau belum mau menikah, anakku?”
Syrum membisu tatkala menangkap buah kalam dari sang ibu. Sebenarnya telinga si cebol sudah terbiasa menelan pertanyaan yang mempersoalkan statusnya. Dan semisal biasa pula, ia juga rajin mengembalikan pertanyaan dengan jawaban sekenanya: “Belum waktunya, Bu.” Atau “Belum siap, Bu.” Atau pernah juga karena terdesak, lidahnya berkecek: “Belum ada calon yang pas.” Begitulah, ada saja dalih yang membenarkan mengapa ia betah memelihara keperjakaan.
Akan tetapi, itu hari, Syrum hanya mematung. Ya, mematung dengan dahi berkerut dan lubang-lubang tubuh tiba-tiba berpeluh. Lelaki berumur 30 tahun itu merasa berdosa kepada seseorang yang menetaskan dan merawatnya dengan luapan kasih sayang. Betul-betul keterlaluan! Guna menyembunyikan keadaan, rela ia membohongi ibu sekaligus perasaan sendiri.
Sang ibu bingung mencerap sikap anaknya. Tidak biasanya ia melihat wajah Syrum tampak gugup menyambut pertanyaan. “Apa ada yang salah?” Batinnya mendesis. Sececah kemudian, dengan lembut, ia menghibur bujangnya: “Ya sudah. Kalau memang belum siap, ibu juga tak akan mendesak.”
Puan bermata kelereng itu berbalik, hendak menuju dapur. Mau menunggui api tungku yang tengah membakar ikan tangkapan suaminya. Belum jangkap kakinya menggulirkan 3 langkah, ia berhenti ketika menadah pengakuan Syrum. “Aku cinta Bihse, Bu.”
Seketika, hati ibu bergemuruh. Bulir kata yang dihembuskan Syrum naga-naganya membuat sesetel liang telinganya seperti dialiri air mendidih yang direbus selama tiga jam.
***
Entah rasa apa yang membekuk hati Bihse. Bermula dari perjumpaan-perjumpaan di taman, kepalanya enggan menjauh dari bayangan Syrum. Sering ia menandaskan malam dengan menganyam khayalan. Khayalan yang mendera giginya tersenyum, membayangkan kebersaaman dengan Syrum. Juga khayalan yang menerapnya terisak-isak, jika mengandaikan nasib tragis menyapa keduanya. Akhir-akhir ini, ia benci tidur. Benci tidur? Benar. Ia gemar berdoa supaya bisa memirsa Syrum dalam tidurnya. Sialnya, mulai mata berpejam hingga kokok ayam bersahutan, tiada suah ia bermimpi bertemu dengan Syrum.
Tampaknya, ketampanan bukanlah satu-satunya penyebab seorang puan menanam kagum pada lelaki. Itulah yang terjadi pada Bihse. Ya. Ia tergila-gila pada Syrum, bukan sebab fisiknya. Mengapa? Karena wajah Syrum tercipta jauh dari sempurna. Ah, bukan, bukan. Tepatnya, jauh dari kata tampan. Tubuhnya yang pendek serta berperut buncit membuahkan penampilan kurang proporsional. Tak ayal, beberapa teman memanggilnya Si Burung Hantu.
Yang mengundang Bihse terpesona adalah biji-biji kebaikan yang menyembul dari jiwa Syrum. Alangkah banyak jejaka bercakap durja, namun hatinya busuk tiada kira. Syrum; sosok lelaki yang berlembut kata, bertanggung jawab, dan senang membantu jika Bihse terjepit masalah. Baginya, kriteria suami yang diidamkan tertimbun dalam diri Syrum.
Entah berapa ratus pejantan melanting lamaran kepada Bihse. Apesnya, mereka semua pulang tanpa membagul apa-apa. Pernah suatu kali, putra pejabat besar hendak melamar. Membawa berkarung-karung emas, kuda-kuda terkuat dari daratan Bohuy, dan beberapa gaun cantik luar biasa. Sesuai keyakinan, Bihse akan terbujuk dan terbuai dengan mahar yang dipersembahkan. Namun, di luar syak wasangka, Bihse menolaknya mentah-mentah. Hal serupa menimpa pula pada pangeran rupawan dari negeri seberang. Betapa ia layak menanggung wirang, karena bukan sekadar lamarannya ditolak, akan tetapi Bihse juga malas menampakkan batang hidung kala putra raja tersebut bertandang ke rumahnya.
***
“Jika aku mengetahui kau berjumpa lagi dengan sepupumu itu, kita semua akan berpindah ke kaki gunung Xemmu. Paham?”
Menyerap kemarahan sang ayah, serata badan Syrum menggigil. Sungguh, tiada pernah ia berangan, kalau permasalahan akan sekusut ini. Bila didesak memilih, maka sudah barang tentu ia akan menjemput ajal daripada berjauhan dengan Bihse. Sadar ia, bahwa ayahnya tak salah. Pun mafhum, kalau leluhur penduduk Vemus menerbitkan larangan hubungan antara dua insan yang masih terjalin tali kekeluargaan. Semenjak balita, kerap ia mengunyah alkisah kuno dari Kakek Furgan. Alkisah yang mewartakan, jika sepasang pemuda-pemudi berdarah serupa nekat berbagi hati, maka langit bakal memasang murka dan mengguyurkan hujan berupa batu raksasa. Walakin, ia juga miskin kuasa menyanggah perasaan sendiri. Perasaan yang membuncah, terengah-engah, rindu meneguk cairan cinta dari Bihse.   
Malam itu, malam dengan desiran gelombang angin itu, berbaring di atas tikar tipis, memandangi langit-langit kamar, Syrum bernala-nala bagaimana mengetam cara agar tetap bertembung dengan Bihse. Namun, hingga fajar melebarkan sayap, rupanya otaknya sukar meringkus kiat terbaik guna menggapai keinginan.
Syrum gelagapan. Ia mengerti bahwa Bihse sedang menunggu di taman. Padahal, sejak hari itu, ia wajib mengindahkan buah cakap ayahnya. Jika sang ayah memergokinya di taman, pasti ia—juga Bihse—bakal memetik penderitaan. Sesuatu yang selama ini selalu ia takutkan.
Ketika surya melambung kira-kira sepenggalah, terbitlah sebulir siasat. Dengan cerdik, ia memohon izin kepada ayah untuk meruncit makanan ternak yang hampir habis. Dengan cara itu, pasti ayahnya lekas memperbolehkannya keluar. Pagi itu, keberuntungan memang berpihak pada Syrum. Mengantongi izin dari ayah, Syrum pura-pura berlenggang ke arah toko di mana ia mau membeli makanan ternak. Delapan hasta sebelum loka tersebut, tergeletak jalan tikus yang memautkan antara jalan besar dengan taman. Akhirnya, Syrum menitinya lantas mendekati taman penuh riang. Setakar taksiran, Bihse sudah berada di sana, mengharap kehadiran dirinya. Dan, nyata benar. Bihse sibuk menanti seorang diri, dengan raut gelisah.
“Maaf, aku terlambat. Bihse, kita harus segera menemukan cara lain agar tetap bisa berhubungan. Ayah membenci hubungan kita. Jika ia tahu anaknya bertemu denganmu di taman ini, ia akan memisahkan kita berdua. Bagaimana?”
“Hmmmm….”
***
Halangan yang kian membentang urung menyulut keduanya menyerah. Malah, dengan segenap daya beserta upaya, mereka bersigap menerjangnya. Apa pun yang terjadi.
Di celah tersebut mereka berdua membisikkan bahasa cinta. Celah mungil yang terdapat di tengah-tengah tembok rumah Syrum dan Bihse rela menjadi saksi atas kemurnian cinta mereka. Dengan tulus, celah tersebut menolong dua insan pemuja cinta.
Syrum dan Bihse jangkap bersepakat, bahwa waktu paling tepat untuk menjalin hubungan adalah beberapa jenak usai tengah malam mendarat; saat ternyaman bagi manusia guna melayani dengkurnya.  
Indah nian, mengungkap isi hati tanpa seorang pun mengganggu. Dan, malam-malam mereka lalui dengan kebahagiaan. Hingga pada khatamnya, di malam ke 71, hubungan itu terendus oleh ayah Syrum. Lanang sepuh bercambang lebat itu menabung curiga, kenapa akhir-akhir ini anaknya rajin tidur di pagi hari. Sebab keganjilan itulah, ia mengawasi semua ulah si anak dan mendapati bahwa Syrum tega mendurhakainya.
“Baiklah. Jika ini keinginanmu, akan ayah kabulkan. Lusa, kita semua beranjak ke gunung Xemmu.”
***
Tunai bertukar pikiran, Syrum dan Bihse memutus untuk tetap melancarkan cinta terlarang. Ya. Cinta yang dalam adat Vemus bersicepat merengkuh kemurkaan. Mereka berdua yakin, bahwa kemurkaan langit segan datang, jika dalam hati keduanya terpendam cinta suci. Dan dengan hasrat membara, keduanya kabur dari penjara rumah masing-masing. Mereka berjalan telanjang kaki ke serata bumi; sekadar memadu tali kasih yang sama sekali tiada direstui.

Yogyakarta, 2011

Senin, 14 Januari 2013

Meniti Sukses Sejak Muda (Resensi_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Radar Surabaya" edisi Minggu, 13 Januari 2013)

Judul: Young on Top Campus Ambassadors
(Kumpulan Nilai Sukses Anak Muda Inspiratif Indonesia)
Penulis: Citra Natasya, dkk.
Penerbit: B first (PT Bentang Pustaka)
Terbit: Cetakan Kedua, November 2012
Tebal: xxvi + 158
Harga: Rp. 39.000,-
Success is a state of mind. If you want success, start thinking of yourself as a success” (Joyce Brothers)
Kesuksesan merupakan impian banyak orang. Menjadi sukses adalah hak bagi semua orang. Itulah mengapa berbagai langkah ditempuh guna memetik kesuksesan. Beragam cara dilakukan demi mengetam kesuksesan. Tanpa kesuksesan, seakan hidup ini ada yang kurang.
Bagi kawula muda, mengejar kesuksesan merupakan beberapa di antara hal yang menjadi rencana hidup. Di antara mereka ada yang telah membuktikan bahwa di usia yang masih muda, kesuksesan ternyata bisa diraih. Sebut saja Mark Zuckerberg yang oleh Forbers didapuk sebagai anak muda terkaya di dunia, Leanna Archer, CEO Leanna’s Inc. yang berumur 16 tahun dengan estimasi pendapatan lebih dari US$600 ribu per tahun, juga Alia Sabur yang diabadikan dalam Guiness Book of Record sebagai profesor doktor termuda di dunia dalam bidang matematika modern pada usia 19 tahun, mengalahkan rekor yang bertahan selama 200 tahun oleh seorang murid Sir Isaac Newton. (halaman viii)
Buku ini merupakan sharing dari lima anak muda berprestasi di bidang-bidang yang berbeda. Bila diperhatikan, mereka sebenarnya memulai kesuksesan dengan mimpi-mimpi besar yang diimbangi dengan kemauan dan kerja keras. Mimpi-mimpi tersebut telah menjadikan mereka orang-orang hebat yang tercatat dalam sejarah peradaban manusia.
Kelima anak muda yang dimaksud yaitu Citra Natasya, David Immanuel Sihombing, Muhammad Iman Usman, Jonathan Christian Susanto, dan Palmira Vidya Mumpuni. Berikut disebutkan secara singkat beberapa tip dalam meraih kesuksesan dari kelima anak muda tersebut.
Citra Natasya, alumnus FISIP, Hubungan Internasional, Universitas Pelita Harapan yang lulus cum laude dalam waktu 3,5 tahun, mengatakan bahwa untuk menjadi sukses, seseorang diharuskan memiliki komitmen untuk bahagia. Komitmen bahagia tersebut bisa terealisir jika dua langkah ini dipenuhi. Pertama, free your heart from hatred. Pada waktu kita bisa berdiri lebih tinggi, orang-orang akan berlomba-lomba mencari kesalahan, sehingga mengakibatkan kita akan merasa tidak nyaman. Inilah yang harus dihindari. Semaksimal mungkin, kita tidak menaruh perasaan benci kepada mereka. Kedua, free your mind from worries. Kebanyakan dari kita sangat khawatir dengan kehidupan yang selanjutnya bisa menciptakan paranoid. Jika kita terlalu sering mengkhawatirkan apa yang akan terjadi, membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk, maka hal itu hanya akan membebani otak. Oleh karena itu, kita dituntut untuk menjauhi kekhawatiran yang berlebihan dan segera melakukan apa yang harus dikerjakan. (halaman 14-15)
David Immanuel Sihombing, mempunyai slogan “you are what you negotiate”. Pendiri GARUDA Youth Community (GRC), komunitas yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat berbasis kewirausahaan tersebut menularkan kiat berdiplomasi dengan perusahaan. Ada tiga tahapan yang perlu diketahui saat melakukan negosiasi jangka panjang, yaitu: persiapan (prior), pelaksanaan (during), dan evaluasi/pengawasan (after). Sebelum melakukan diplomasi dengan counterpart, ada baiknya kita sudah mengetahui tujuan, bentuk pendekatan, dan posisi kita dalam pertemua fisik dengan lawan diskusi. Bagi Sihombing, tahapan persiapan, yang kerap diremehkan oleh beberapa orang, menjadi sangat penting. Apa pasal? Karena kita harus yakin dengan keputusan dan/atau penawaran itu sendiri. Kalau gagal dalam tahap ini, bisa jadi untuk dua tahap selanjutnya, kita akan menemui kegagalan serupa.
Muhammad Iman Usman. Untuk meraih kesuksesan, pemuda yang mengantongi penghargaan Pemimpin Muda Indonesia 2008 dari Presiden RI dan United Nations Youth Assembly Recognition on Humanitarian Development 2011 di New York tersebut, mengajarkan kepada kita untuk selalu percaya diri dan tidak takut kepada segala tantangan. Masalah-masalah yang ada harus kita hadapi dengan kepala tegak, tanpa ada maksud untuk lari dari realita. Dengan dua tip ini, seseorang akan bisa mencapai apa yang diinginkan kelak.
Berbeda halnya dengan Jonathan Christian Susanto. Pemuda kelahiran Surabaya pada 1989 yang memperoleh penghargaan sebagai Global Peace Young Leaders Award dari Global Peace Foundation tersebut membagi rahasia kesuksesan dalam kalimat, “create your own vision”. Ia menganggap bahwa visi merupakan gambaran masa depan. Dengan adanya visi, ke mana pun kita melangkah, visi tersebut akan terus mengarahkan kita pada koridor yang tepat dan menghindarkan kita dari sikap melenceng. Dengan mempertahankan visi, tujuan yang dikejar akan menjadi kenyataan.  (halaman 104)
Adapun Palmira Vidya Mumpuni, Presiden Leo Young Club-Jakarta Kota 2011/2012, organisasi internasional yang bergerak di bidang sosial tersebut mengatakan bahwa dalam kehidupan ini, kita dituntut untuk mempunyai empat jenis keseimbangan (balance), yaitu family balance, health balance, fun balance, dan love balance. Dengan keseimbangan-keseimbangan tersebut, niscaya kesuksesan akan mudah didapatkan.
Buku ini layak dimiliki oleh mereka yang ingin menggapai kesuksesan. Selain karena menularkan berbagai kiat, tip, dan rahasia orang-orang sukses, bahasanya juga mudah dicerna, sehingga memudahkan para pembaca untuk menyelami setiap baris demi baris.

Yogyakarta, 2012