Selasa, 14 Januari 2014

Argosoro (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Padang Ekspres" edisi Minggu, 12 Januari 2014)

Dua bulan Hadi mendengkur di rumah. Dua bulan pula ia menikmati udara segar pedesaan. Sebetulnya, cukup jarang ia belanjakan liburan bersama keluarga. Tinggal di kota Srabeh dengan segenap hiruk-pikuknya merupakan pilihannya dua tahun berturut-turut. Maklum, selain karena rumah yang berjarak jauh dengan kampusnya, untuk mudik, ia juga harus menghunus biaya transportasi selangit. Namun, karena desakan orang tua, ini tahun ia memutuskan pulang ke desa Gagapsepi, daerah mungil di punggung gunung Sendangpuro.
Bosan meneguk liburan panjang, kemarin, Hadi balik ke Gotakara guna menimba ilmu di sebuah perguruan tinggi ternama. Setiba di terminal Sowondaru, mahasiswa semester enam itu memilih naik Argosoro. Ini bukan kebetulan. Pun bukan sebiji keterpaksaan. Pinangan jatuh pada Argosoro, sebab telinganya muak menelan kabar, bahwa bus tersebut merupakan kendaraan berkecepatan tinggi sekaligus pengundang marabahaya. Mafhumlah. Selain kecepatan yang menjadi kelebihannya, ini bus menyandang track-record tersendiri dalam kecelakaan lalu lintas. Maka, siapa saja berkehendak jadi penumpang, terlebih dahulu harus bertafakur matang-matang.
“Jangan sekali-kali kamu naik Argosoro, kalau gak pengen mati konyol.” Pesan itu yang terpacak dalam-dalam dari kalam Kang Dirman.
“Lebih baik cari bus yang lain aja. Meskipun murah, bus Argosoro sering nabrak orang lho”. Desis Mbak Kumintang, tatkala berpapasan dengan Hadi sebelum berangkat.
Semakin kerap mendapat nasehat, semakin pula ia bernafsu membuktikannya. Kebengisan Argosoro baginya hanyalah mitos. Seorang mahasiswa haruslah kritis. Demi memetik kebenaran, segala sesuatu wajib diverifikasi. Dengan memantapkan hati, ia menetapkan Argosoro sebagai tunggangannya menuju Gotakara.  
***
Di terminal Sowondaru, awalnya Hadi melungguh sekoteng di dalam Argosoro. Lama kelamaan menyusul penumpang-penumpang lain yang telah mengantongi bujuk rayu Pak Kernet dan Pak Kondektur. Sebetulnya, tiadalah mereka seperti Hadi, yang dengan rela dan sadar mencatatkan diri menjadi penumpang.
Benar. Ya, benar. Batinnya mendesis. Bus yang bertarif ekonomis itu memang cocok dengan jasadnya; ber-AC alami, kursi penumpang banyak yang jebol, beratap triplek, lampu pecah, dan berkaca buram. Sampai sini, ia belum percaya dengan satu hal; tentang kecepatan Argosoro yang selama ini dielu-elukan orang-orang.
“Masak bus kayak begini, larinya bisa cepat. Nabrak lalat aja gak mati, apalagi manusia.”
Awal mula lepas landas, isyarat-isyarat kecepatan belum tertentang. Pak Sopir masih mempertimbangkan, barangkali masih tersisa manusia yang mau menimbrung di bus.
“Terakhir. Terakhir. Terakhir.” Hanya kata-kata itu yang menyembul dari bibir Pak Kernet. Wajarlah. Untuk membujuk penumpang, segala upaya ditunaikan. Dan pemberdayaan kata-kata adalah usaha yang kehebatannya tak perlu diragukan.
Orang-orang pun tergiur dengan rayuan. Mengira Argosoro adalah bus terakhir, dengan sigap, mereka berbondong-bondong layaknya hendak mengungsi ke lokasi penampungan. Padahal, di belakang masih berjibun bus yang lebih layak, dengan fisik yang lebih sempurna. Memang dalam usaha rekruitmen dan penyesatan penumpang, kru bus Argosoro terkenal lihai dan patut memungut acungan jempol. Buruknya penampilan, bukan memerankan penghalang dalam mereguk sebanyak-banyak penumpang. Dan, dalam waktu singkat, bus memadat. Padat dengan orang-orang yang termakan omongan Pak Kernet; si penipu ulung.
Hadi tampak santai melongok situasi. Ia duduk di belakang Pak Sopir. Sambil menghirup dalam-dalam asap tembakau, kepalanya dilendehkan ke kursi. Kedua tangan ditangkupkan di selingkar perut. Sedang kakinya berayun-ayun ke kiri dan ke kanan. 
Setelah lima belas menit membeku di dalam bus, ia mulai mencium ketidakberesan. Setiap ada orang, selalu saja diangkut. Tak peduli dengan penumpang yang ada di dalam. Mata Pak Sopir memandang mereka bukan sebagai makhluk hidup. Namun sebagai komoditas yang bisa ditukar dengan uang. Oleh sebab itu, merupakan tindak kebodohan jika membiarkan mereka disambar oleh bus-bus yang lain.
Kursi yang sudah berjubal manusia pun tak jadi soal. Dalam pikiran Pak Kernet dan Pak Kondektur, selalu ada kaidah guna menata hal tersebut. Sehingga, bagai anak sekolah sedang latihan baris-berbaris, para penumpang dibariskan dengan posisi berbanjar ke belakang. Benar. Ruang tengah tanpa kursi yang sebenarnya untuk berlalu-lalang, disulap menjelma tempat cadangan guna menumpuk para penumpang.
Batin Hadi mengerang. “Ini sopir gila. Masak bus penuh begini, masih saja ngangkut penumpang”
Karena jenuh dengan keadaan, sebagian penumpang meluncurkan protes kecil-kecilan.
“Pak, sudahlah, Pak. Sudah sesak nih.” Perempuan berambut sebahu yang membopong balita angkat suara. Rintihan sang anak seakan menggodanya untuk melenguh.
Pak Sopir membisu. Kata-kata yang meluncur dari penumpang dicuaikan begitu saja. Tanpa tanggapan. Tanpa sebulir jawaban.
Otak Hadi mendidih. Tindakan mesti segera diambil. Sebagai mahasiswa, ia bosan menadah kezaliman yang menghantam dirinya dan penumpang-penumpang lain. Agen of change wajib menyalin situasi. Tidak terbatas pada pergerakan untuk menumbangkan rezim yang korup. Atau mempertanyakan kebijakan rektor dalam meninggikan biaya kuliah. Bahkan dalam keadaan paling remeh sekalipun, mahasiswa dituntut berdiri di garda paling depan.
Sejurus kemudian, moncong Hadi bocor juga. “Pak. Kami ini manusia. Disamakan saja sama kerbau!”
Mendengar kaul kurang sedap, Pak Sopir enteng menganugerahkan sambutan. “Kalau keberatan, turun saja, Mas.”
Bagai pedang mengayun di tubuhnya, kata-kata Pak Sopir terlalu tajam untuk dilawan. Terlalu sukar dihindari. Ayunan yang begitu tangkas dan mematikan. Dan terpaksa ia mengalah. Mengalah dengan seribu dendam. Mengalah dengan secuil bara yang mengendap di hati. 
***
Matahari asyik memanggang diri. Mendung bersembunyi. Para penumpang mulai gerah. Keringat membanjiri kursi, lantai, dan udara. Bau kecut menyeruak. Semua keringat bercampur menjadi satu. Keringat penjual tahu yang mau pulang. Keringat jagal yang dapat panggilan. Keringat pejabat yang menggelapkan uang rakyat. Dan semua keringat dari segenap kasta di masyarakat. Seolah-olah keringat-keringat itu mengaduk beraneka suasana dan perasaan; kumuh, gaduh, sesak, tegang, marah, dan sinis.
Karena miskin AC, terpaksa semua kaca dibuka. Terkecuali kaca depan dan belakang yang memang muskil disingkap. Mereka kini layaknya hewan liar yang tertangkap di jalan-jalan dan segera dibawa ke kebun binatang. Pak Kondektur hanya cuek dan tersenyum kecil melihat kemenangan yang ada di pihaknya.
Dalam hitungan beberapa menit, satu per satu, angka penumpang menyusut. Dengan berbekal kecewa, mereka mendarat di loka tujuan masing-masing. Baguslah. Mereka berhasil bertahan menghadapi siksaan dalam potongan waktu. Parahnya, siksaan itu bukannya dihindari, tetapi malah ditebus dengan rupiah. Keberutungan mencuat. Buat sesaat, bus melega. Udara bisa dihirup lagi. Harapan mulai terbit. Penumpang berseri-seri. Sinar kegembiraan hinggap di wajah mereka.
Namun, setiba di perempatan Mojokali, lagi-lagi mereka mengulun jakun dan kembali memendam kebencian. Ini kali, harapan seakan sirna. Sekitar sepuluh orang diselundupkan. Ditampung bersama penumpang lain yang kian tersiksa.
Mendapat perlakuan semena-mena, disertai dengan gonggongan batuk, seorang berkopyah hitam, dengan beberapa kerut di muka nyerocos. Belum genap menghembuskan rengekan, segesit kilat, Pak Sopir segera mengatasi keadaan.
“Diamlah kau, Kakek Tua.”
Seperti sambaran petir di siang bolong, kaul Pak Sopir menghantam dada sang kakek. Ia pun terdiam. Pandangannya tertunduk. Hanyalah ia sang renta berumur sekitar 70 tahun. Sekadar penumpang yang membawa uang pas. Jadi, menyerah lebih baik daripada diturunkan dan mati membusuk di jalan. Ya, akhirnya ia menyerah. Meski dalam hatinya, pengemudi berambut gimbal itu diumpat habis-habisan.
Bisikan-bisikan berseliweran. Lidah-lidah menyembur. Ludah-ludah menyembul. Dan dari arah belakang, jejaka bernama Gobel, mempengaruhi teman sekursi guna mewujudkan perlawanan. Perlawanan dari penumpang kepada Pak Sopir. Perlawanan kaum tertindas terhadap si penindas. Perlawanan yang dinahkodai bukan oleh seorang mahasiswa seperti Hadi, tapi seorang penjual ikat pinggang yang saban hari mangkal di pasar Krewit.
Ya, dengan kesepakatan yang bergulir dari dua orang, kemudian disambungkan ke seluruh penumpang, akhirnya mereka mufakat untuk memberontak. Segala benda dipukul-pukulkan. Botol, tongkat, besi, kayu, semuanya. Ke kursi, kaca, lantai, atap, serta tubuh mereka sendiri. Sehingga bus yang tumpat manusia itu bising. Umpatan-umpatan beterbangan. Caci maki meluncur riang. Ada yang menyanyi “Sorak-sorak bergembira”. Ada yang berpuisi “Aku”. Ada yang kencing. Ada yang berjoget. Ada juga yang membikin yel-yel. Mereka akan menggulingkan penguasa yang sewenang-wenang. Mereka bakal merobohkan tiang kediktatoran. Mereka berjuang mati-matian demi meraih keadilan dan kehidupan yang lebih manusiawi.
***
Dan, tadi pagi, sebiji surat kabar mewartakan, bahwa pada hari Rabu, 20 Juli 2011, bus Argosoro mengalami kecelakaan dahsyat di daerah Lowoangum. Kecelakaan yang membuahkan 34 orang meninggal, termasuk Pak Sopir, Pak Kondektur, dan Pak Kernet. Kecelakaan yang melumat warung nasi Mbok Jah bersama seluruh isinya. Kecelakaan yang disesalkan oleh mereka yang menasehati Hadi. Serta kecelakaan yang membuat orang tua Hadi kelimpungan, sebab sampai detik ini belum dapat dipastikan; apakah Hadi selamat, atau nyawanya ikut kabur bersama penumpang yang nahas.


Yogyakarta, 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar