Senin, 11 Februari 2013

Korupsi dalam Lirik Puisi (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Riau Pos " edisi Minggu, 10 Februari 2013)


Dalam tarafnya masing-masing, puisi dan korupsi sama-sama menjanjikan kenikmatan tiada tara. Keduanya sanggup membawa penikmatnya melayang ke udara sembari menapaki tangga pelangi di cakrawala. Alangkah hebatnya! Dengan puisi, seseorang sanggup menyelami keping-keping rahasia semesta. Pun betapa ajaibnya! Melalui korupsi, seseorang mampu meresapi bebulir dosa dan kebejatannya.
Sesuai kapasitasnya, puisi menghidangkan asupan nilai guna memperkaya jiwa. Adapun korupsi ringan menghibahkan penyakit radang sukma. Atas dasar itulah, menilik kedahsyatan puisi dan korupsi, para sastrawan mengombinasikan keduanya dalam karya-karya mereka. Seperti halnya Remy Sylado (2004) yang melahirkan puisi bertitel ‘Seorang Prajurit Memulai Korupsi dengan Sumpritan Seharga Rp 200’: Satu prit/ Jigo// Empat prit/ Cepek// Delapan prit/ Kembali pokok.

Korupsi Lebih Najis dari Babi
Melukiskan kegalauannya, Gus Mus pernah menulis puisi berjudul ‘Ada Apa dengan Kalian’: Bila karena merusak kesehatan, rokok kalian benci/ Mengapa kalian diamkan korupsi/ Yang kadar memabukkannya jauh lebih tinggi/ Bila karena najis, babi kalian musuhi/ Mengapa kalian abaikan korupsi/ Yang lebih menjijikkan ketimbang kotoran seribu babi.
Dalam puisi yang diaktualisasikan secara terbuka tersebut, betapa korupsi dijelmakan menjadi barang yang harus dijauhi. Dijauhi karena mengandung daya mabuk luar biasa, sehingga bisa mengantar penikmatnya hilang kesadaran lalu mengamuk, membabibuta. Parahnya lagi, jika didera ketagihan, maka tak ayal baginya untuk melakukan apapun demi mengetam berbagai ragam khasiat yang dimuat serta merasakan ‘sensasi’-nya.
Korupsi digambarkan pula selaku barang dengan kadar najis selangit. Saking najisnya, bahkan ia lebih najis dari kotoran babi. Padahal dalam Islam, babi adalah hewan najis, yang apabila dijilat, maka seseorang wajib membasuh bagian tubuh yang terkena jilatan itu sebanyak tujuh kali dan salah satu diantarannya dengan air bercampur tanah. Sedemikian hina-dinanya, sebagian orang-orang fasik, orang-orang yang dimurkai Tuhan, menelan kutukan menjadi kera dan babi (surah al-Maidah: 60).
Babi juga dilarang untuk dikonsumsi. Nash al-Qur’an mengharamkan atas hewan yang serat dagingnya memuat cacing pita itu dalam surah al-Baqarah: 173, al-Maidah: 3, dan an-Nahl: 115.
Menurut hikmatu at-tasyri’ (hikmah ditetapkannya suatu syariat), suatu larangan menyimpan mafsadah (kerusakan). Ini berarti,—berdasar pada puisi Gus Mus di atas—bahaya serta kandungan kerusakan pada korupsi jauh lebih besar daripada tubuh babi.

Peti Mati bagi Koruptor
Dalam buku puisi ’Anak Mencari Tuhan’ yang dikemas satu paket dengan Pertempuran Rahasia anggitan Triyanto Triwikromo (Gramedia Pustaka Utama, 2010), Nugroho Suksmanto sempat menuturkan kegelisahan akan korupsi. Berbekal racikan kata sederhana, Nugroho Suksmanto menapak ikhtiar dalam rangka menyuguhkan ‘sesuatu yang paradoks’ dalam korupsi—dengan ketus dan genit, pada puisi bertajuk ‘di China dan di Kita’: Di China/ Pemimpinnya keji/ Saat memberantas korupsi/ Tak segan menembak mati// Di Kita/ Para pemimpin baik hati/ Berderma dari hasil korupsi/ Pergi haji berkali-kali.
Dari puisi di atas, tampaklah bahwa China membentangkan ketegasan membabibuta. Ketegasan yang mengungkap bahwa guna memberantas korupsi, membenamkan nyawa penikmatnya merupakan pilihan paling tepat. Tidak seperti di negeri kita (Indonesia), yang justru pemimpinnya menjadikan rupiah hasil korupsi untuk bersedekah, bahkan berangkat ke Makkah.
Bukan sebiji kebetulan jika Nugroho Suksmanto mendayagunakan China dalam puisinya. Sudah barang tentu, kata tersebut telah melewati penyortiran yang matang. Mengapa? Sebab, China adalah salah satu teladan dunia dalam menangani korupsi. Sesiapa yang terbukti tersentuh korupsi, maka ia harus bersigap memeluk ajal esok hari. Akibat kegigihan dan keberaniannya, China pernah menadah peringkat terpuji dalam “Indeks Persepsi Korupsi” (CPI) maupun “Indeks Transparansi” (TI): berindeks 3,1; sejajar dengan Mesir.
Puncak dari tekad memberangus korupsi itu ialah ketika Presiden Hu Jintao (mulai berkuasa tahun 2003) berikrar menyediakan 100 peti mati untuk para koruptor dan 1 peti untuk dirinya sendiri, kalau ia juga terendus korupsi. Suatu pernyataan yang mengindikasikan simbol dari perwujudan hasrat seorang pemimpin bertanggung jawab.
Wacana pemberlakuan hukuman mati kepada para koruptor perlu mendapat angin baru. Kaum pengganyang uang negara sudah saatnya dijejali hukuman mati, karena selama ini hukuman bui enggan memberikan efek jera (deterrent effect) bagi mereka. Sebenarnya, dalam hukum positif Indonesia, hukuman mati genap terakomodasi dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sayang, dalam realitasnya pemerintah belum berani—atau lebih tepatnya belum punya nyali—secara tegas menerapkannya, sehingga para koruptor masih bisa menghisap rokok sambil ongkang-ongkang kaki.
Penerapan hukuman mati bagi koruptor merupakan hal yang patut dilaksanakan. Sanksi tersebut bukanlah bersifat bengis atau kejam, karena korupsi tergolong crimes against humanity (kejahatan terhadap umat manusia), bukan lagi sekadar extraordinary crime (kejahatan luar biasa), dimana penikmatnya layak mengunyah balasan seberat-beratnya. Mengingat, bahwa korupsi rentan menetaskan dampak negatif yang tidak hanya membahayakan orang seorang, namun masyarakat secara keseluruhan.
Sudah semestinya hukuman perampasan ajal bagi koruptor mengantongi status primum remedium, di mana sanksi pidana dimanfaatkan selaku sarana utama dan pertama kali diancamkan dalam suatu ketentuan Undang-Undang, bukan lagi ultimum remedium, yang mempergunakan sanksi pidana manakala sanksi perdata maupun sanksi administratif sudah tidak berdaya.
Implementasi atas sanksi merupakan di antara jalan menggayuh tujuan masyarakat: the greates happiness of the greates number—dalam ungkapan Jeremy Bentham (1748-1832). Meminjam apa yang dilontarkan oleh pendiri utilitarisme individual tersebut, kejahatan menghilangkan kebahagiaan manusia dan penghukuman memastikan keamanan yang merupakan fondasi kebahagiaan. Walau tampak jahat, hanya dengan mengimplementasikan sebuah sistem paksaan rasional, pemerintah dapat menyokong kebahagiaan para warga. Raibnya kebahagiaan (atau kebalikannya, terjadinya kebahagiaan) merupakan basis utama untuk menghukum para pelaku kejahatan. Semakin seorang pelaku kejahatan “mengganggu kebahagiaan”, semakin “besar tuntutan kebahagiaan untuk menjatuhkan hukuman”. (Richard Schoch, 2009)

Yogyakarta, 2012

Kamis, 07 Februari 2013

Kaligrafi Kematian (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di majalah "Cahaya Nabawiy" edisi Februari 2013)


Aku menelan ludah. Glek. Berulang kali tenggorokan menampung cairan pahit dan kecut itu karena seharian lidah tak terjamah kopi, es teh, atau minuman lain yang biasanya kutenggak di tengah perjalanan. Berkeliling ke beberapa kampung rupanya tak menyulap dompetku berseri-seri, enggan membuat kantongku terisi. Lambung yang kerap menerima limpahan makanan dari orang-orang yang menaruh kasihan, hari ini mengalami kekeringan dan hampir saja gersang.
Punggungku sudah melengkung. Tulang-belulangku genap berteriak, kelelahan. Aaaarggh!
Entah. Sekali lagi entah. Apakah wajahku berubah menyeramkan, hingga orang-orang begitu takut berpapasan denganku. Bahkan, beberapa di antara mereka terbirit-birit, lintang pukang, ketika memergoki jidatku yang lebar, meski dari kejauhan. Sampai-sampai, untuk menjangkau tempat dengan jarak yang tak begitu jauh, ada yang nekat berputar, mencari jalan alternatif yang sesungguhnya malah lebih banyak menghabiskan langkah. Pokoknya, berbagai upaya dilakukan guna menghindari sosok kurus jangkung dengan jenggot yang lecek; aku.
Salah, bila seseorang—lelaki atau perempuan—menyebutku genderuwo. Bukan, bukan! Aku ini penebar ketakutan. Aih, kuralat. Sebetulnya aku hanyalah seorang penjual. Tepatnya, penjual kaligrafi.
Penjual kaligrafi?
Benar. Jangkap tujuh tahun aku menawarkan tulisan arab bermacam bentuk dan variasi, berbahan kaca dan cat warna-warni dengan pigura yang ukirannya lebih bagus dan wah ketimbang garapan orang Jepara sekalipun. Ke tiap rumah, aku menyodorkan kaligrafi buah tanganku sendiri dengan bibir tersungging, agar tuan rumah mau berbasa-basi dengan sekadar melihat-lihat, atau meraba-raba, atau mencocokkan harganya. Maksudku, mencocokkan harga dengan kebutuhannya yang suka mengasapi bibir dengan cerutu termahal, juga istrinya yang rajin bersolek memakai kosmetik impor, juga anak-anaknya yang mulai masuk perguruan tinggi dan minta uang jajan lebih. Syukur-syukur, kalau berkenan membeli. Lebih syukur lagi, jika membeli tanpa melalui proses tawar-menawar. Itu artinya, aku bisa mengantongi untung lumayan, tanpa sibuk mengobral ludah; bersusah-payah menjelaskan berapa rupiah yang wajib kurogoh demi melahirkan satu karya.
Dibanding dengan yang lain, aku tergolong penjual kaligrafi yang tahan banting. Ah, aku malas mengada-ada. Jika kurang percaya, tanya saja Ridlo atau Hadi atau Hakim atau Muayat atau Fadli atau Muhtadun atau Qomaruddin, yang dulu bersama-sama denganku rutin menjinjing delapan hingga sembilan kaligrafi dalam sehari untuk ditukar uang. Mereka sepertiku juga; membuat kaligrafi lalu menjemput sendiri para pembeli dengan mengedarkan “barang jualan” ke berbagai tempat. Bila boleh memberitahu, kami adalah jebolan salah satu pesantren salaf di kota mungil di Jawa Timur yang mengajarkan kaligrafi kepada para santri. Maklum, karena tak punya keterampilan lain, kami memanfaatkan bekal tersebut guna menyambung hidup.
Sebentar, sebentar. Untuk lelaki terakhir, siapa tadi? O, ya, Qomaruddin. Maaf, maaf! Kau mesti pergi ke kuburan di pinggir sawah Mas Kariman yang terkenal angker, kalau bernafsu membuktikan seberapa akurat ocehanku ini. Benar. Kau harus menggoyang-goyang nisan berpahatkan huruf qof, mim, ra’, alif, lam, dal, ya’, dan nun seraya bertanya dustakah kalimat yang telah kuracaukan. Karena, kau tahu? Pemuda yang seminggu lagi melangsungkan pernikahan dengan anak Pak Lurah itu menghembuskan nafas pungkasan, tepat ketika menenteng kaligrafi di kolong pohon nangka, di suatu malam celaka. Malam yang mengantarnya lekas minggat dari dunia, lantaran penyakit bengek yang terlampau akut.
Selain Qomaruddin, teman-teman lain memilih mundur dari profesi yang kuanggap mulia ini dengan alasan serupa. Mereka bosan berlama-lama menggantungkan hidup dari hasil menjajakan tulisan ayat-ayat Al-Qur’an, karena pendapatan sebulan cuma cukup buat menebus sabun di toko Mbok Kinah. “Jaman sudah beda”. Itulah kata-kata terakhir yang sempat dihembuskan mulut Muayat kala berpamitan padaku untuk mengundi nasib ke Jakarta. Adapun Ridlo, Hadi, Hakim, Fadli dan Muhtadun, lebih percaya bahwa rizki mereka mengendap di lumpur dan tanah. Jadilah kelimanya menggeluti hidup dengan bertani dan bercocok tanam.
Tahun ini, tahun beraut muka sangat muram ini, memang berbeda jauh dibanding tahun-tahun sebelumnya. Barangkali kau merasa heran, jika aku berkecek bahwa dulu karya kami cukup laku di pasaran. Orang-orang amat tertarik membeli kaligrafi, meski dengan harga di atas rata-rata. Tak jarang kaligrafi yang kami tawarkan, ludes sebelum senja mengenakan celananya. Bahkan, saking larisnya, banyak di antara konglomerat rela membayar di muka, walaupun kaligrafi belum ada. Mereka sengaja melakukannya agar ketika tersedia, “barang pesanan” langsung diantar ke rumah mereka.
Kaligrafi, bagi mereka, bukan cuma berfungsi menghias dinding, melainkan juga sebagai pengingat.
Tunggu! Pengingat?
Yap. Dengan merenungi tulisan yang tertera di kaligrafi, niscaya mereka mudah mengingat mati. O, ya, dari tadi belum kujelaskan bahwa dalam berkarya, kami menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang kematian. Itulah mengapa, ketika seseorang membaca karya kami, di atas alisnya terbentang ratusan mendung hitam, hingga sepasang pipinya siap menadah hujan paling lebat yang turun melewati lubang netra yang berkilat-kilat. Seraya menggerung-gerung, bertanya-tanya kepada diri sendiri kapan ia menjemput ajal, kapan ia mengakhiri hidup yang penuh tipudaya dan fatamorgana, juga kapan-kapan lain yang kurang pantas rasanya jika disebutkan satu persatu. Usai melempar pertanyaan dengan berbagai kapan itu, timbullah penyesalan mendalam terhadap dosa-dosa yang terlanjur ditumpuk di atas punggung, lalu muncullah komitmen memperbaiki diri dengan memperbanyak kebajikan.  
Seperti halnya saat Mujiono, penulis besar dengan buku-buku best seller-nya, membaca kaligrafi bertuliskan surat Al-Baqarah ayat 243: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: ‘matilah kamu’, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” Dengan memegangi kepala, ia tersungkur sambil menyebut nama Tuhan. Sepulang dari rumahku, sebagian besar harta kekayaannya disumbangkan ke masjid-masjid dan panti asuhan.
Atau Rohmah, janda kembang yang menjadi rebutan sebab ketenarannya selaku pedagang karpet yang sukses, waktu membaca kaligrafi surat Ali ‘Imran ayat 145: Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.” Karena terlalu menghayati, ia akhirnya tak sadarkan diri hingga tiga hari tiga malam. Setelah siuman, ia memberangkatkan dua ratus guru SD al-Kautsar untuk umroh ke Mekkah.
Juga yang terjadi di rumah Muhtadun. Suatu siang, lelaki buta hurufaku lupa siapa namanya—memandangi karya bercorak kuning keemasan dipadu warna hijau lumut dengan gambar masjid di tengahnya. Karena tertarik, ia meminta Muhtadun untuk melafalkan tulisan yang sedang dipolototinya. Tak keberatan, penyuka tembang jawa kuno itu melisankan dengan lirih surat An-Nisa’ ayat 78: “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh….” Sekonyong-konyong lelaki gondrong bertato kura-kura di lengannya tadi gemetar tangan-kakinya, bergemelatuk gigi-giginya, mengigil dada bidangnya. Seketika itu juga, ia berjanji untuk menghapus kebiasaannya memalak di stasiun dan terminal.
Perlu kau ketahui, kami sengaja memang menggoreskan ayat-ayat yang berhubungan dengan kematian. Menurut kami, selain berburu rizki, kaligrafi juga dapat digunakan sebagai sarana berdakwah. Inilah yang mengakibatkan kami gemar sekali menuliskan surat Al-Baqarah ayat 94, An-Nahl ayat 70, Al-Anbiya’ ayat 35, Al-Mukminun ayat 23, Al-Qashash ayat 28, Al-Ankabut ayat 57, Al-Ahzab ayat 16, Az-Zumar ayat 30, Qaaf ayat 19, Ar-Rahman ayat 26, Al-Jumu’ah ayat 8, ‘Abasa ayat 21, dan At-Takatsur ayat 2. Anehnya, banyak orang yang justru membeli karya kami lantaran ingin mengingat mati. Mereka mengaku, bahwa dengan memajang kaligrafi kematian di rumah, perusahaan, atau kantor, tebersit kesadaran bahwa kelak mereka akan menuju kuburan; mereka akan meninggalkan segala kemewahan dan kenikmatan yang bersifat fana lagi sementara. Dan, mustahil mereka berwasiat agar emas, perak serta permata dimakamkan bersama tengkorak mereka.
Sayangnya, “jaman sudah beda”. Mungkin benar perkataan Muayat. Kini, orang-orang tidak lagi menaruh hati pada kaligrafi. Parahnya lagi, orang-orang mulai membenci tulisan arab yang mengabarkan kematian. Apa pasal? Dengan membeli kaligrafi kematian, barang tentu hal itu membuat karyawan malas bekerja, presiden takut berbuat semena-mena, pejabat berhenti melakukan korupsi, anggota dewan malu membelanjakan uang rakyat untuk berfoya-foya, hakim sungkan meloloskan para tersangka, menantu keder mengelabui mertua, sebab mereka semua bisa terus-terusan dihantui kematian.
Ah, sore merangkak senja. Sepemakan sirih lagi azan maghrib berkoar di mana-mana. Walau kaligrafi yang kupanggul tak terlego satu pun, baiknya aku bersiap-siap melangkah ke masjid terdekat.
Selepas menunaikan shalat berjama’ah, dengan khusyu’ aku akan memohon kepada Tuhan, agar batang umurku diperpanjang, ragaku selalu dianugerahi kesehatan, rizkiku senantiasa dilapangkan. Dan, ketika sudah benar-benar jutawan, aku bakal membangun toko terbesar dan termegah di kota ini. Toko yang menyediakan berbagai ragam kaligrafi indah. Kaligrafi yang bukan mengabarkan tentang kematian, agar aku leluasa memelihara kebahagiaan di dunia, tanpa direcoki pertanyaan berapa puluh tahun lagi Izra’il datang mencungkil ruhku dengan paksa.

Yogyakarta, 2012 

Tuhan, dari Masa ke Masa (Resensi_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Haluan" edisi Minggu, 3 Februari 2013)


Judul: Sejarah Tuhan (Gold Edition)
Penulis: Karen Armstrong
Penerjemah: Zaimul Am
Harga: Rp 99.000
Penerbit: Mizan
Cetakan: Ketiga, 2012
Tebal: 676 halaman

Apa yang dipegang teguh oleh Karen Armstrong mempunyai keserupaan dengan Arnold Toynbee—sejarawan terkemuka asal Inggris. Karen Armstrong menancapkan postulat bahwa manusia merupakan makhluk spiritual. Hal ini bisa ditelisik dari sejumlah kajian yang bertahun-tahun genap dilakukan.
Terdapat alasan logis yang menjadi latar belakang mengapa ia nekat melanting kesimpulan bahwa selain Homo sapiens, manusia juga Homo religiosus. Perempuan yang pernah menjadi biarawati Katolik Roma tersebut meyakini bahwa manusia mulai mengabdikan diri kepada dewa-dewa setelah mereka insaf. Agama-agama mereka ciptakan pada saat yang sama dengan karya seni. Embrio keimanan mereka menununjukkan ketakjuban sekaligus misteri di mana dua-duanya merupakan unsur penting pengalaman manusia dalam menanggapi dunia yang meskipun menggetarkan, namun juga menyajikan keindahan.
Sebagaimana seni, munculnya agama merupakan upaya manusia dalam menggali makna dan nilai kehidupan. Ketika manusia disibukkan oleh rutinitas kehidupan yang membosankan dan cenderung menawarkan buih-buih penderitaan, agama lahir selaku sarana mendinginkan keadaan. Di sinilah timbul semacam kecurigaan adakah agama sekadar ‘hiburan’?
Kehadiran buku ini bukan bermaksud untuk berkoar mengenai realitas Tuhan, melainkan menguak sejarah persepsi umat manusia tentang ‘siapa yang mereka sembah’ sejak masa Ibrahim hingga hari ini.

Tuhan bagi Filosof dan Kaum Mistik
Telaah Karen Armstrong mengenai sejarah Tuhan mengambil bentuk dalam upaya penelusurannya atas kehidupan orang Arab. Apa pasal? Selain menarik, hal ini juga menjadi poin krusial yang perlu diangkat agar motif missing link bisa terhindarkan saat mengambil benang merah antara beberapa peristiwa besar religiositas.
Sesuai catatan penerima anugerah TED Prize pada tahun 2008 tersebut, persentuhan orang Arab dengan sains dan filsafat Yunani pada abad kesembilan mengakibatkan lahirnya kelompok Muslim yang disebut filosof. Pada awalnya, fokus utama mereka adalah ilmu-ilmu alam, namun lama-kelamaan metafisika Yunani juga menjadi bagian esensial dari kajian mereka. Bahkan, terdapat kecenderungan untuk menerapkan prinsip-prinsipnya ke dalam Islam, sehingga Tuhan para filosof Yunani identik dengan Allah. Hal ini merupakan hasil dari kepercayaan terhadap rasionalisme yang diterka mampu mendermakan bentuk agama yang paling maju; agama yang mengembangkan pandangan yang lebih tinggi tentang Tuhan daripada yang diwahyukan dalam kitab suci (halaman 266).
Sebut saja Al-Kindi. Ia berargumen, segala sesuatu pasti mempunyai sebab. Atas dasar itulah, mesti ada suatu Penggerak yang Tak Digerakkan untuk memulai kejadian. Prinsip pertama ini adalah Wujud itu sendiri, tidak berubah, sempurna, serta mustahil dapat dihancurkan. Namun, ketika tiba pada kesimpulan, Al-Kindi sengaja memisahkan diri dari Aristoteles dengan berpijak pada doktrin Al-Quran tentang penciptaan dari ketiadaan (ex nihilo).
Atau Al-Farabi, yang memindai mata rantai wujud secara abadi memancar dari Tuhan dalam sepuluh emanasi atau “intelek” berturut-turut, di mana masing-masing membentuk satu bidang Ptolemis: langit terluar, lapisan bintang-bintang tetap, garis lintasan Saturnus, Yupiter, Mars, Matahari, Venus, Merkurius, dan Bulan. Memang di sini terdapat perbedaan yang nyata dengan visi Al-Quran tentang realitas, namun Al-Farabi memandang filsafat sebagai cara yang lebih unggul guna memahami kebenaran yang telah disampaikan pada nabi secara metaforis dan puitis supaya mudah memancing simpati banyak orang.
Sejarah Tuhan juga tidak terlepas dari mistisisme. Mengapa? Agama mistik cenderung lebih dapat membantu pada waktu-waktu sulit ketimbang keimanan yang didominasi oleh otak. Latihan-latihan ruhani yang intens dalam mistisisme mendorong seseorang kembali kepada Yang Esa. Hal ini di antaranya ditunjukkan oleh mistisisme awal Yahudi yang berkembang selama abad kedua dan ketiga, meskipun orang Yahudi sendiri belum memahaminya secara utuh.
Dalam perjalanannya, mistisisme ternyata mampu bertahan, bahkan menjangkiti dunia Barat. Hasrat terhadap mistisisme di antaranya terbukti dengan sambutan luas atas terbitnya karya tentang mitologi oleh pemikir Amerika kontemporer, Joseph Campbell. Karena itulah muncul dugaan kuat bahwa orang-orang Barat tengah membutuhkan alternatif untuk mengimbangi cara pandang ilmiah murni terhadap alam semesta.

Mencecar yang Gaib
Dalam The Idea of the Holy, ahli sejarah agama berkebangsaan Jerman, Rudolf Oto (1917), mempercayai adanya rasa tentang gaib (numinous) sebagai dasar dari agama. Landasan bagi perilaku beretika merupakan efek dari timbulnya perasaan gaib pada diri manusia. Kehadiran kekuatan gaib dan misterius selalu dirasakan oleh manusia dalam setiap aspek kehidupan. Imbasnya, menyebarlah mitos-mitos sebagai upaya metaforis guna mendeskripsikan realitas yang terlampau rumit untuk diekspresikan dengan cara lain. 
Sebagai contoh pada periode Paleolitik, di mana ketika pertanian tumbuh berkembang, manusia menganggap bahwa kesuburan pada tanaman merupakan anugerah dari Dewi Ibu. Akibatnya, terjadi pengkultusan terhadap dewi yang digambarkan sebagai perempuan hamil telanjang tersebut. Hal ini mirip sekali dengan mitos Jawa yang berabad-abad diwariskan. Masyarakat Jawa suka menghubungkan kondisi pertanian dengan sikap Dewi Sri. Jika tanaman dalam keadaan subur, maka bisa dipastikan kalau mereka berhasil membuat Dewi Sri senang. Sebaliknya, jika Dewi Sri terlanjur marah, maka imbasnya yaitu tanaman mereka akan mengalami kerusakan atau bahkan gagal panen.
Dalam ajaran Islam, alam gaib juga menempati posisi sentral dalam corak keimanan. Hal ini secara eksplisit disinggung dalam kitab suci Al-Quran. Tepatnya, ayat tiga dari surat Al-Baqarah. Ayat itu memaparkan mengenai siapakah orang-orang yang beriman (muttaqin). Mereka adalah: “orang-orang yang percaya kepada hal-hal gaib……..” (Al-Baqarah: 3).
Perhatian manusia pada mitos ditegaskan lagi oleh Karen Armstrong dengan pernyataan: “mitos mengekspresikan makna batin peradaban”. Orang Babilonia, misalnya, mereka merayakan liturgi pada Tahun Baru, di mana para dewa tunduk pada liturgi tersebut. Mereka juga menaruh keyakinan, Babilonia adalah tempat suci, pusat dunia, dan tanah air dewata. Bila dihubungkan dengan ketiga agama monoteistik, maka ide tentang kota suci sangatlah penting guna memperoleh keharmonisan dengan kekuatan sakral. Begitu sentralnya, maka tak ayal, Babilonia dapat disandingkan dengan kota-kota suci lainnya, seperti Makkah bagi orang Islam, Nazaret bagi orang Kristen, Hebron bagi orang Yahudi, ataupun Yerussalem bagi ketiga penganut agama besar tersebut.
Bagi orang Babilonia, Marduk—Dewa Matahari—merupakan spesimen keturunan dewa yang paling sempurna. Dalam sebuah pertemuan Majelis Agung para dewa, Marduk berjanji hendak memerangi Tiamat dengan syarat bahwa dialah yang nanti menjadi penguasa mereka. Akhirnya, usai melewati pertarungan yang cukup panjang serta bersusah payah, Tiamat sanggup dikalahkan. Marduk lantas memutuskan untuk mewujudkan dunia baru; Tiamat dibelahnya menjadi dua bagian guna membentuk lengkungan langit dan bumi manusia. Undang-undang pun disusun, demi memelihara agar segala sesuatu tetap berada dalam porsi yang ditentukan. Setelah itu semua dilakukan, barulah manusia diciptakan. (halaman 36-37).
Melalui buku ini, seolah Karen Armstrong ingin memekik lantang, bahwa gagasan manusia mengenai Tuhan senantiasa terkungkung oleh sejarah, karena bagaimana pun juga gagasan itu mengantongi perbedaan bagi setiap kelompok manusia yang menggunakannya di pelbagai masa.

Yogyakarta, 2012