Kamis, 07 Februari 2013

Tuhan, dari Masa ke Masa (Resensi_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Haluan" edisi Minggu, 3 Februari 2013)


Judul: Sejarah Tuhan (Gold Edition)
Penulis: Karen Armstrong
Penerjemah: Zaimul Am
Harga: Rp 99.000
Penerbit: Mizan
Cetakan: Ketiga, 2012
Tebal: 676 halaman

Apa yang dipegang teguh oleh Karen Armstrong mempunyai keserupaan dengan Arnold Toynbee—sejarawan terkemuka asal Inggris. Karen Armstrong menancapkan postulat bahwa manusia merupakan makhluk spiritual. Hal ini bisa ditelisik dari sejumlah kajian yang bertahun-tahun genap dilakukan.
Terdapat alasan logis yang menjadi latar belakang mengapa ia nekat melanting kesimpulan bahwa selain Homo sapiens, manusia juga Homo religiosus. Perempuan yang pernah menjadi biarawati Katolik Roma tersebut meyakini bahwa manusia mulai mengabdikan diri kepada dewa-dewa setelah mereka insaf. Agama-agama mereka ciptakan pada saat yang sama dengan karya seni. Embrio keimanan mereka menununjukkan ketakjuban sekaligus misteri di mana dua-duanya merupakan unsur penting pengalaman manusia dalam menanggapi dunia yang meskipun menggetarkan, namun juga menyajikan keindahan.
Sebagaimana seni, munculnya agama merupakan upaya manusia dalam menggali makna dan nilai kehidupan. Ketika manusia disibukkan oleh rutinitas kehidupan yang membosankan dan cenderung menawarkan buih-buih penderitaan, agama lahir selaku sarana mendinginkan keadaan. Di sinilah timbul semacam kecurigaan adakah agama sekadar ‘hiburan’?
Kehadiran buku ini bukan bermaksud untuk berkoar mengenai realitas Tuhan, melainkan menguak sejarah persepsi umat manusia tentang ‘siapa yang mereka sembah’ sejak masa Ibrahim hingga hari ini.

Tuhan bagi Filosof dan Kaum Mistik
Telaah Karen Armstrong mengenai sejarah Tuhan mengambil bentuk dalam upaya penelusurannya atas kehidupan orang Arab. Apa pasal? Selain menarik, hal ini juga menjadi poin krusial yang perlu diangkat agar motif missing link bisa terhindarkan saat mengambil benang merah antara beberapa peristiwa besar religiositas.
Sesuai catatan penerima anugerah TED Prize pada tahun 2008 tersebut, persentuhan orang Arab dengan sains dan filsafat Yunani pada abad kesembilan mengakibatkan lahirnya kelompok Muslim yang disebut filosof. Pada awalnya, fokus utama mereka adalah ilmu-ilmu alam, namun lama-kelamaan metafisika Yunani juga menjadi bagian esensial dari kajian mereka. Bahkan, terdapat kecenderungan untuk menerapkan prinsip-prinsipnya ke dalam Islam, sehingga Tuhan para filosof Yunani identik dengan Allah. Hal ini merupakan hasil dari kepercayaan terhadap rasionalisme yang diterka mampu mendermakan bentuk agama yang paling maju; agama yang mengembangkan pandangan yang lebih tinggi tentang Tuhan daripada yang diwahyukan dalam kitab suci (halaman 266).
Sebut saja Al-Kindi. Ia berargumen, segala sesuatu pasti mempunyai sebab. Atas dasar itulah, mesti ada suatu Penggerak yang Tak Digerakkan untuk memulai kejadian. Prinsip pertama ini adalah Wujud itu sendiri, tidak berubah, sempurna, serta mustahil dapat dihancurkan. Namun, ketika tiba pada kesimpulan, Al-Kindi sengaja memisahkan diri dari Aristoteles dengan berpijak pada doktrin Al-Quran tentang penciptaan dari ketiadaan (ex nihilo).
Atau Al-Farabi, yang memindai mata rantai wujud secara abadi memancar dari Tuhan dalam sepuluh emanasi atau “intelek” berturut-turut, di mana masing-masing membentuk satu bidang Ptolemis: langit terluar, lapisan bintang-bintang tetap, garis lintasan Saturnus, Yupiter, Mars, Matahari, Venus, Merkurius, dan Bulan. Memang di sini terdapat perbedaan yang nyata dengan visi Al-Quran tentang realitas, namun Al-Farabi memandang filsafat sebagai cara yang lebih unggul guna memahami kebenaran yang telah disampaikan pada nabi secara metaforis dan puitis supaya mudah memancing simpati banyak orang.
Sejarah Tuhan juga tidak terlepas dari mistisisme. Mengapa? Agama mistik cenderung lebih dapat membantu pada waktu-waktu sulit ketimbang keimanan yang didominasi oleh otak. Latihan-latihan ruhani yang intens dalam mistisisme mendorong seseorang kembali kepada Yang Esa. Hal ini di antaranya ditunjukkan oleh mistisisme awal Yahudi yang berkembang selama abad kedua dan ketiga, meskipun orang Yahudi sendiri belum memahaminya secara utuh.
Dalam perjalanannya, mistisisme ternyata mampu bertahan, bahkan menjangkiti dunia Barat. Hasrat terhadap mistisisme di antaranya terbukti dengan sambutan luas atas terbitnya karya tentang mitologi oleh pemikir Amerika kontemporer, Joseph Campbell. Karena itulah muncul dugaan kuat bahwa orang-orang Barat tengah membutuhkan alternatif untuk mengimbangi cara pandang ilmiah murni terhadap alam semesta.

Mencecar yang Gaib
Dalam The Idea of the Holy, ahli sejarah agama berkebangsaan Jerman, Rudolf Oto (1917), mempercayai adanya rasa tentang gaib (numinous) sebagai dasar dari agama. Landasan bagi perilaku beretika merupakan efek dari timbulnya perasaan gaib pada diri manusia. Kehadiran kekuatan gaib dan misterius selalu dirasakan oleh manusia dalam setiap aspek kehidupan. Imbasnya, menyebarlah mitos-mitos sebagai upaya metaforis guna mendeskripsikan realitas yang terlampau rumit untuk diekspresikan dengan cara lain. 
Sebagai contoh pada periode Paleolitik, di mana ketika pertanian tumbuh berkembang, manusia menganggap bahwa kesuburan pada tanaman merupakan anugerah dari Dewi Ibu. Akibatnya, terjadi pengkultusan terhadap dewi yang digambarkan sebagai perempuan hamil telanjang tersebut. Hal ini mirip sekali dengan mitos Jawa yang berabad-abad diwariskan. Masyarakat Jawa suka menghubungkan kondisi pertanian dengan sikap Dewi Sri. Jika tanaman dalam keadaan subur, maka bisa dipastikan kalau mereka berhasil membuat Dewi Sri senang. Sebaliknya, jika Dewi Sri terlanjur marah, maka imbasnya yaitu tanaman mereka akan mengalami kerusakan atau bahkan gagal panen.
Dalam ajaran Islam, alam gaib juga menempati posisi sentral dalam corak keimanan. Hal ini secara eksplisit disinggung dalam kitab suci Al-Quran. Tepatnya, ayat tiga dari surat Al-Baqarah. Ayat itu memaparkan mengenai siapakah orang-orang yang beriman (muttaqin). Mereka adalah: “orang-orang yang percaya kepada hal-hal gaib……..” (Al-Baqarah: 3).
Perhatian manusia pada mitos ditegaskan lagi oleh Karen Armstrong dengan pernyataan: “mitos mengekspresikan makna batin peradaban”. Orang Babilonia, misalnya, mereka merayakan liturgi pada Tahun Baru, di mana para dewa tunduk pada liturgi tersebut. Mereka juga menaruh keyakinan, Babilonia adalah tempat suci, pusat dunia, dan tanah air dewata. Bila dihubungkan dengan ketiga agama monoteistik, maka ide tentang kota suci sangatlah penting guna memperoleh keharmonisan dengan kekuatan sakral. Begitu sentralnya, maka tak ayal, Babilonia dapat disandingkan dengan kota-kota suci lainnya, seperti Makkah bagi orang Islam, Nazaret bagi orang Kristen, Hebron bagi orang Yahudi, ataupun Yerussalem bagi ketiga penganut agama besar tersebut.
Bagi orang Babilonia, Marduk—Dewa Matahari—merupakan spesimen keturunan dewa yang paling sempurna. Dalam sebuah pertemuan Majelis Agung para dewa, Marduk berjanji hendak memerangi Tiamat dengan syarat bahwa dialah yang nanti menjadi penguasa mereka. Akhirnya, usai melewati pertarungan yang cukup panjang serta bersusah payah, Tiamat sanggup dikalahkan. Marduk lantas memutuskan untuk mewujudkan dunia baru; Tiamat dibelahnya menjadi dua bagian guna membentuk lengkungan langit dan bumi manusia. Undang-undang pun disusun, demi memelihara agar segala sesuatu tetap berada dalam porsi yang ditentukan. Setelah itu semua dilakukan, barulah manusia diciptakan. (halaman 36-37).
Melalui buku ini, seolah Karen Armstrong ingin memekik lantang, bahwa gagasan manusia mengenai Tuhan senantiasa terkungkung oleh sejarah, karena bagaimana pun juga gagasan itu mengantongi perbedaan bagi setiap kelompok manusia yang menggunakannya di pelbagai masa.

Yogyakarta, 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar