Selasa, 27 Agustus 2013

Skarf (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di "Jurnal Nasional" edisi Minggu, 25 Agustus 2013)

Pelan-pelan Wina menaruh kue brownies dan secangkir kopi di meja kamar Andre. Tersenyum, ia memasang selimut suaminya yang tengah melorot. Maklum, Minggu pagi adalah waktu balas dendam bagi pekerja yang bermalam-malam sebelumnya dihajar lembur.
Kembali ia menyiapkan sarapan di dapur. Perut ikan bawal yang tunai dibedah telah dicuci. Raungan minyak goreng yang disundut panas dicuri-dengar. Ikan yang sudah tak bernyawa itu dimasukkan ke dalam adonan bumbu yang telah ia diamkan beberapa menit. Tak lama kemudian, dengan hati-hati, ia cemplungkan ikan bawal ke mulut penggorengan. Ketika itulah, ia membayangkan pundaknya tiba-tiba dihinggapi dua tangan lelaki berdada bidang yang datang dari arah belakang. Pura-pura memusatkan pikiran pada menu yang dimasak, Wina tetap melanjutkan pekerjaan hingga aroma ikan menyeruak. Lalu tanpa permisi, lelaki beralis kepak burung camar itu akan melumat bibirnya dan mengecup keningnya dengan lembut. Sangat lembut. Tak lupa katup mulutnya berbisik, “selamat pagi dunia”, seraya melempar senyum manis padanya.
Namun, tidak. Tiada seorang pun menyapa atau bahkan mengagetkannya dengan cumbuan mesra. Guna meyakinkan hatinya, ia menggoyang kepala dan mengalihkan perhatian bola matanya ke arah samping. Siapa tahu suaminya sedang bersembunyi di balik rak piring.
Menggeleng.
Disertai dengusan berat, ia tahu di sekitarnya hanya berderet perabot dan peralatan dapur. Meskipun demikian, Wina begitu bersemangat. Betapa tidak? Setelah selama enam hari memeras peluh, kini, ia bersama suaminya akan bermalas-malasan. Membenamkan diri dalam kisah kasih dua manusia yang bimbang menafsirkan cinta.
Seperti biasanya, ia berencana menumpahkan unek-uneknya selama berada di kantor. Hal itu pasti ia lakukan selepas sang suami menyantap dengan lahap hidangan favoritnya. Begitulah. Bagi pasangan yang terlalu sibuk dengan urusan kerja masing-masing, perbincangan di masa senggang menjadi sarana bertukar keluh paling ampuh. Kesah yang gemar meniupkan kecemasan, dapat berubah menjadi obrolan ringan dan bahan lelucon, jika disampaikan dengan nada riang. Sebab itulah, Wina akan dengan senang hati mewartakan atasannya yang akhir-akhir ini rutin menghadiahkan pekerjaan tambahan, teman perempuan yang mulai menampakkan rasa sayang berlebihan, Pak Satpam yang kerap tepergok memandangi pahanya saat rok mininya terangkat tinggi-tinggi. Itu semua akan diceritakan dengan menggebu-gebu.
Hampir saja terlonjak, bila mana Wina enggan menahan dua kakinya. Terpaksa ia keluar dari alam khayal, gara-gara tangan kanannya tersengat rasa panas. Rupanya, minyak goreng mulai berloncatan, sebab terlalu lama dijemur di atas api.    
“Aduh.” Seketika mulutnya berteriak. Refleks.
Ia melihat benda bulat bertaburan angka di atas kalender. Oh, jarum pendek memeluk angka sembilan.
“Aduh.” Ini kali suaranya ditekan, lebih keras. Sengaja. Agar suaminya lekas mendekat dan mengulumkan ludah guna mengobati jemari Wina, layaknya adegan di film-film romantis yang ia tonton ketika diserang suntuk.
Tapi, untuk kesekian kalinya, ia dirundung kecewa. Sungguh. Lebih dari itu, mulai ia curiga kenapa dari tadi belum ada tanda-tanda bahwa lelaki yang sudah bertahun-tahun menikahinya bangkit dari ranjang.
Cepat-cepat ia matikan kompor dan bersiap menyajikan hasil masakan, guna dipajang di meja makan. Dan, karena yang ditunggu-tunggu belum tampak batang hidungnya, Wina segera menuju kamar Andre.
Tergeragap, ketika mengetahui kue brownies dan secangkir kopi yang dibuatnya dengan susah payah ternyata masih berada di tempat semula. Utuh. Sama sekali belum terjamah. Lebih tergeragap lagi, ketika melihat tubuh Andre masih terbungkus rapat oleh selimut. “Ada apa ini?” Batinnya berdesis. Padahal, sebelum jarum jam menunjuk angka delapan, biasanya suaminya sudah bersiul-siul di kamar mandi seraya menyanyikan lagu ‘Why Do You Love Me?’.
“Mas?”
Hening.
“Mas? Bangun.”
Hanya suara cicak di dekat jendela yang menyahut.
Wina mengerti, suaminya sebenarnya tidak sedang tidur. Hanya pura-pura membaringkan tubuh dengan sesekali menggeser bantal. Ia juga paham, perilaku demikian menunjukkan bahwa suaminya sedang marah. Tampaknya, selama ini ia memang hafal betul dengan ciri-ciri kemarahan lelaki pendiam di depannya itu.
Ia pun memberanikan diri bersoal, “ada apa, Mas?”
Tanpa menjawab, Andre langsung mengulurkan skarf kepada Wina. Skarf berwarna merah marun bertuliskan ‘I Love You’.
Diam.
Sekuat tenaga Wina berusaha menghembuskan kata-kata yang genap menempel di ujung lidah. Namun, gagal. Getaran hebat tiba-tiba melanda dadanya.
***
Di ruang tengah itu, tiada sebutir kata pun menyembul. Baik Wina maupun Andre, keduanya sibuk merawat pikiran masing-masing. Ikan bawal goreng yang ditaburi cabai hijau menjadi saksi atas bungkamnya dua makhluk yang duduk saling berhadapan.
Merasa bersalah, Wina memutuskan untuk membuka pembicaraan.
“Maafkan Wina, Mas.”
Andre memilih menunduk daripada menimpali kalimat Wina.
“Skarf itu, emmm……” Kata-kata Wina terputus. Namun, sejenak kemudian ia menyambung, “pemberian Indra.”
“Indra? Siapa dia? Apa arti tulisan itu?”
Kurang tahan mengikat lidah, Andre akhirnya mengusir gelisah.
“Wina dan Indra pernah menjalin hubungan.”
“Apa?”
Sepasang alis Andre bertaut. Mukanya memerah bak warna gorden rumah.
“Tunggu dulu! Mas Andre jangan salah paham. Maksud Wina, kami berdua pernah pacaran semasih SMA. Dulu, skarf itu sebagai tanda pertanyaan Wina apakah Indra serius dengan janjinya. Sebab, setelah jadian, beberapa bulan ia tidak menghubungi Wina sama sekali.”
“Terus, apa maksud ia mengembalikannya sekarang? Ingin mengulang masa-masa indah ketika pacaran? Kau tahu, Wina, kau sudah bersuami. Kau anggap apa aku ini!”
Tanpa aba-aba, cairan bening menjalari pipi Wina. Secepat kilat, ia menghapusnya dengan sapu tangan.
“Wina pernah mengirim surat padanya. Ketika itu, Indra buru-buru berangkat study ke Amerika. Beberapa bulan sebelumnya, ternyata Indra menyiapkan diri, agar lolos tes beasiswa. Ibunya melarang menghubungi Wina. Khawatir jadi penghambat. Jadi, hadiah skarf beserta surat itu dirahasiakan ibunya.”
“Apa isi surat itu?”
“Wina bilang, ‘jika kau mencintaiku, kembalikan skarf ini padaku’. Dan, ternyata ia mengembalikannya ketika Wina sudah punya Mas Andre.”
Lagi-lagi cairan bening meleleh dari sudut matanya. Wina tak memiliki kemampuan atau kemauan sedikitpun untuk membendung. 
Belum puas membeberkan penjelasan, Wina segera menggenapi kalimat sebelumnya, “Indra bilang, ibunya seminggu lalu memberikan skarf dan surat itu padanya. Indra baru tahu, setelah menetap di Amerika selama sepuluh tahun. Membuktikan perasaannya, ia pun mengembalikan skarf itu pada Wina. Tanda ia masih cinta.”
“Kau punya perasaan yang sama dengan Indra?”
“Mas omong apa, sih? Kan Wina sudah berumah tangga.”
Wina mencoba menyembunyikan apa yang terkubur rapat dalam lubuk hatinya.
“Baik. Kalau begitu, nanti malam skarf ini tolong kaubakar.”
Menggangguk.
Jemari Wina gemetar, ketika memegang skarf.
***
Menitihkan air mata, Wina bersiap melenyapkan skarf berwarna merah marun. Skarf yang ia persembahkan bagi lelaki pertama yang mengajarkannya arti cinta. 
Hampir saja skarf itu menjelma abu, sekiranya cahaya yang disulut korek api enggan mengenai ujung skarf. Saat itulah Wina sadar, di skarf tersebut melekat kertas lusuh, terlipat sangat kecil.
Mengalihkan niat semula, Wina membuka lipatan dan menemukan sepotong tulisan, “Sayang, bersediakah kau memulai hidup baru di Amerika? Aku punya perusahaan besar di sana.”
Wina terkesiap saat membaca tulisan itu. Namun demikian, sepertinya ia memupuk harapan: bersama Indra, ia bisa segera menjadi perempuan sejati, sebagaimana yang dari dulu selalu ia idam-idamkan. Sedangkan dari Andre, selamanya ia tidak akan pernah memperoleh keturunan.

Yogyakarta, 2013

Rabu, 21 Agustus 2013

Puisi_Riza Multazam Luthfy (Terbit di harian "Lampung Post" edisi Minggu, 18 Agustus 2013)

Gergaji

mata lengkung perut gunung
sayat kemaluan hingga apung

punggung pipih lidah nyermimih
lahap keberanian berderap lirih

dari rangka ini
kalian mafhum sudi
mana harga diri
mana waktu akut
menjaring selusin maut

Yogyakarta, 2013


Piring

tidak selamanya gebok nikmat
menyumpal lambung paling rentan
takkan selalu garam, cabai, tomat
menggiring riuh gaduh meja makan

sesekali perlu kami iris-iris usus kalian
ujung jantung kami luluhlantakkan

santet negeri seberang
sihir bebuyut para danyang
siap melesat penuh garang

Yogyakarta, 2013


Garpu

ke arah liat betis kami
lapar mereka tekun mengintai

pada ulet jari-jari kami
menggantung ribu payung mimpi

padahal di sekeranjang malam
di segantang remang
akan kami saji-hidangkan
duri lembut pagut kelezatan
ke relung paling tenggorokan

jika nyawa tertelan regang
oh, maafkan, maafkan
kami hanyalah mambang
terusir dari lembah keinsafan

Yogyakarta, 2013


Gelas

silakan rendam dengan air
kaki hingga leherku
yang hidmat kikir

moga racun kerontang menyusut
terurai lambung cacing perut
supaya subur senantiasa tumbuh
berkecambah di liang tubuh

tapi, butuhlah waspada
pada gerhana berbiji celaka
cuil kaca bersigap melumat
tiap mulut yang menganga

Yogyakarta, 2013

Minggu, 28 Juli 2013

Gadis Kecil dan Lampu Merah (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Jurnal Nasional" edisi Minggu, 28 Juli 2013)

Gadis kecil berambut kepang dua itu diam. Menoleh ke kiri. Memperhatikan lalu lalang orang-orang di depannya. Sebenarnya, melihat mukanya yang lusuh, pantas ia kupanggil pengemis. Tapi, kurang tega aku menyebutnya demikian. Instingku mengatakan, ia tak akan rela jika label ‘pengemis’ melekat di tubuhnya.
Berjalan ke arah penjual es dawet. Tangan kanannya merogoh saku. Menggeleng. Dahi mengkerut. Nampak mengurungkan niat, kembali ia duduk ke tempat semula. Menghindari mimpi yang begitu dekat. Sepertinya, ia tak mungkin dapat menjangkaunya. Ya, menjangkau mimpi menggelontorkan minuman dingin berbahan santan dengan pewarna memikat, melewati pangkal tenggorokan.
Kantong permen bekas di belakangnya, ia pungut. Pura-pura membaca tulisan berwarna kuning yang mulai pudar. Berdiri. Kakinya beringsut, dua langkah. Mundur lagi. Sebongkah keraguan teronggok di sudut hatinya. Ia tancapkan pandang ke atas. Lampu beralih rupa. Hijau. Lagi-lagi, ia menuju trotoar, tempat ternyaman ia baringkan lelah.
Wajahnya mulai dibanjiri keringat. Ujung bajunya yang kumal dan berhias sejumlah tambalan, ia angkat. Perlahan, ia usap cairan asin yang merembes dari lubang-lubang mungil tubuhnya itu. Dan, tiba-tiba sepasang matanya tertusuk silau mobil hitam-mengkilat yang berhenti, dua meter darinya.
Ia mendongak.
Merah.
Tanpa ragu sedikit pun, ia mengajak kakinya bekerja. Menjemput belas dan kasih.
Kali ini, ia bersemangat. Mengetuk kaca mobil. Sopan. Tiga kali. Masih tertutup. Meskipun agak samar, anak itu mengerti bahwa di dalam kendaraan mewah terdapat seorang perempuan berlipstik tebal sedang asyik bercengkerama bersama lelaki jangkung di sampingnya. Tentu bukan sopir. Apalagi bodyguard. Lebih cocok kalau ia adalah suami, atau pacar, atau teman selingkuh, atau entahlah. Dan, hai! Lihatlah! Di kursi belakang, duduk anak perempuan seusia dengannya. Bermain boneka beruang raksasa dengan sesekali menjilati es krim bertabur cokelat.
***
“Dapat berapa, Raisa?”
Hening.
“Ditanya kok gak jawab. Apa kamu sudah bisu?”
Menunduk. Hanya gelengan kepala ia tunjukkan.
“Hah? Dari pagi gak dapat uang sama sekali. Dasar pemalas!”
Plakk!! Tamparan keras mendarat di pipinya. Ia tersungkur, tanpa berani menitihkan air mata. Sesuai pengalaman kemarin-kemarin, tangisan hanya bakal mengundang siksa yang lebih berat.
“Ingat! Hari ini jatah makanmu lenyap!”
Perempuan berbibir tipis itu meninggalkan Raisa, setelah kenyang memuntahkan amarah.
Bangun. Menyandarkan punggung ke dinding. Matanya menelisik keluar, dengan pandangan hampa. Raisa tak habis pikir, mengapa sering ia diperlakukan kasar. Kasar sekali. Sebab itulah, ia suka bertanya dalam hati, mengapa dulu ayahnya tega menyerahkan dirinya kepada perempuan yang kerap dibayangkan sebagai monster luar angkasa yang pernah ditonton di salah satu televisi swasta tersebut. Sampai sekarang, ia benar-benar belum paham, dalih apa yang mengantarnya harus bermukim bersama manusia yang enggan memperlihatkan rasa kemanusiaannya. Ia hanya tahu, selepas meninggalkannya—dengan berjanji suatu saat akan menjemputnya—, ayahnya menerima tiga lembar uang seratus ribu rupiah.
Mengamati jalan raya, seketika ingatannya terbang ke wajah anak perempuan yang tadi pagi ia dapati bermain boneka beruang raksasa di dalam mobil hitam-mengkilat. Ia membayangkan alangkah senangnya menjadi anak itu. Setiap hari bisa leluasa bermain, tanpa memusingkan berapa rupiah yang harus disetorkan. Paling-paling, yang menjadi beban pikirannya yaitu tugas sekolah. Itu pun dikerjakan dengan uluran bantuan kakak, atau paman, atau orang yang ditugaskan khusus untuk menemaninya belajar. Kini ia membayangkan, anak itu sedang duduk santai di restoran mahal. Melahap ayam goreng, didampingi orang-orang yang selalu menyayanginya. Ah, andai saja ia terlahir sebagai anak beruntung itu, pastilah ia bakal menghabiskan selusin paha ayam goreng, dalam satu malam. Emm, nikmatnya!
Brak!! Suara pintu dibanting.
“E, malah enak-enakan di situ. Baumu kayak bangkai tikus got, tahu? Sana! Mandi!”
Raisa menghirup nafas dalam-dalam, lalu menghempaskannya. Sebal. 
***
Pagi sekali Raisa menggelesot di perempatan Jalan Diponegoro. Di kolong lampu merah. Wajahnya terlihat segar, berseri-seri. Tidak seperti biasanya, ia membawa dua kantong permen bekas sekaligus. Satu dipegangnya, satunya lagi diselipkan di celana.
Sebelum tidur semalam, dalam kepalanya tersusun rencana besar. Ya, hari ini ia akan menggayuh mimpi. Bukan sekadar mimpi menenggak dawet Cah Ayu yang dijual di sebelah toko buku, melainkan mimpi melumat es krim bertabur cokelat, atau mengeremus paha ayam goreng, atau jika memungkinkan, juga membelai dan mengelus boneka beruang raksasa. Ia bermaksud mewujudkan salah satu mimpi tersebut. Atau boleh jadi, jika Tuhan mengijinkan, ketiga-tiganya akan diraih. Meski terbilang kurang rasional, “apa salahnya dicoba”, batinnya berkata mantap.
Ketika isyarat datang, yaitu lampu merah menyala dengan garang, cepat-cepat ia sodorkan kantong kosong ke semua orang. Tak peduli. Dari yang bertampang preman hingga yang paling beriman. Entah mereka mengendarai mobil, motor, sepeda, atau bahkan yang berjalan kaki sekali pun. Padahal, sebelumnya, ia cenderung mengadakan seleksi terhadap siapa yang dimintai sumbangan. Tentu, ketika menemukan seseorang bermuka seram, atau yang di raut mukanya terpahat kerut-kerut penderitaan, ia lebih memilih kabur tunggang-langgang.
Setelah berulang kali mengetam berkah lampu merah, tepat jam dua belas siang, ia menemukan mobil hitam-mengkilat berhenti di depannya. Enggan mengulang kejadian kemarin (tiga kali mengetuk kaca mobil, namun tak direspon), sengaja ia menjauh.
“Dik, sini.”
Raisa membalikkan badan. Ia melihat orang berkepala pelontos memanggil sambil melambaikan tangan. O, ternyata itu bukan mobil kemarin. Ia masih ingat betul ciri-ciri lelaki yang sok dan malas membuka kaca mobil, untuk sekadar meminta maaf karena tidak bisa mengulurkan recehan. Hatinya lega.
Tanpa banyak berpikir, ia mendekat. Dan, “ayah….”
Lelaki itu terperanjat. Uang lima puluh ribu di genggamannya lekas disumpalkan ke kantong permen Raisa. Saking gugupnya, gas mobil langsung diinjak, menerobos lampu merah. 
Raisa berusaha membandingkan wajah ayahnya tiga tahun terakhir dengan lelaki gundul yang memberinya uang terbesar dalam sejarah hidupnya. Sungguh, ia agak ragu ketika menyelorohkan kata ‘ayah’. Mengingat, dulu ayahnya gondrong dengan penampilan awut-awutan. Adapun lelaki yang baru saja ia lihat, sehelai rambut pun tiada menempel di kepalanya. Dan, yang penting lagi, lelaki itu memakai jaket kulit dengan bau harum menusuk. 
Bingung merangkai dua gambar lelaki dalam kepalanya, ia pun memilih beristirahat di bawah pohon beringin, depan kantor polisi. Memeriksa kantongnya. Wow! Matanya berbinar saat menangkap selembar uang berwarna biru.
“Ini berarti, dua di antara beberapa mimpiku segera terwujud.” Batinnya mendesis.
***
“Es krim? Ayam goreng?”
Seolah kerasukan iblis, wanita itu bertubi-tubi mencambukkan ikat pinggang ke serata tubuh Raisa.
“Apa lagi? Hayo, ngaku!”
Sambil merintih, Raisa mengaku bahwa selain dua mimpinya itu, ia tidak membeli apa-apa lagi. Uang berjumlah lima belas ribu tiga ratus rupiah yang diserahkan adalah sisa dari semua jerih payahnya hari itu.
“Anak tidak tahu diuntung! Enak saja uang diboroskan buat hal-hal tak berguna. Uang yang kamu kumpulkan itu buat beli bedak dan gincu kalau kamu besar nanti.”
Raisa menggeliat. Sepertinya, ia tidak mampu lagi menahan rasa sakit yang menjalari ujung kaki hingga kepalanya.
“Kamu sudah jadi milikku. Jadi, aku bisa berbuat apa saja. Jangan harap ayahmu datang, mengambilmu dari sini. Asal kamu tahu, ya. Ayahmu itu kerjanya trafficking!”
Ha? Trafficking? Pikiran Raisa sibuk mencerna sebuah kata yang baginya sangat asing itu.

Yogyakarta, 2013

Minggu, 21 Juli 2013

Kabar dari Alam Barzakh (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Radar Surabaya" edisi Minggu, 21 Juli 2013)

Aku hampir tak percaya. Sungguh. Apa yang selama ini kuharapkan dari beragam amalku ternyata nihil. Bayangan tentang pahala yang menumpuk seabrek sirna. Mana? Mana ganjaran yang rajin digembor-gemborkan kiai tengik itu? Kiai yang saban hari mendermakan bebongkah pesan disertai iming-iming yang menyilaukan.
Dan, bodoh! Di antara ke sekian pemuda yang mengunyah nasihat dan wejangan orang berjubah putih itu, akulah paling buntung. Kenapa? Sebab aku terlalu terburu-buru untuk membuktikan. Membuktikan seberapa benar ocehannya di surau tua samping rumah Pak Lurah. Bukan Jufry, Eko, Agus, Mursid, Furkan, atau Abdul Fatah, anak kiai sendiri.
Jangankan memperoleh semangkuk sup lezat kiriman dari surga. Atau segelas minuman pelepas dahaga dengan kenikmatan tiada tara. Untuk bernafas saja aku kesulitan. Ah, dosa apa yang tunai kuperbuat, sehingga dengan seliat tenaga, bumi menghimpitku bertukas-tukas. Sesak. Andaikan orang-orang mendengar rintihanku, pastilah kuminta sedikit saja sumbangan oksigen guna meringankan nafasku.
Selepas mengubur jasadku, seluruh peziarah pulang. Meski ayah, ibu, dan adik—sambil terisak-isak—selama satu jam menungguiku, pada akhirnya mereka juga meninggalkanku sendirian. Yetti, kekasihku, datang belakangan dengan busana serba hitam. Oh, matanya yang teduh seolah mengalirkan cairan kasih sayang. Cairan yang dihanyutkan semisal tatkala aku mengungkapkan cinta kepadanya.
Namun, pada khatamnya aku ditikam kecewa. Lidah manusia memang ringan berdusta. Parahnya, Yettilah orang kedua yang nekat mengecohku dengan kalimat lembut dan syarat gombal setelah kiai busuk itu. Padahal, dari mulutnya aku mengetam apa arti setia. Hingga sesaat sebelum meregang nyawa, aku masih teperdaya dengan kata-kata yang menyembul dari bibir manisnya. Ya. Tiada hentinya ia memasang janji untuk memilin asmara seiya sekata. Sejiwa seraga. Sehidup semati. Sesurga seneraka. Nyatanya, ia malah mengacir seusai meletakkan secarik bunga di atas nisanku. Bunga murahan pula. Puih! Dan, di sana. Di depan pemakaman sana telah menanti seorang lelaki berwajah lumayan dan berkantong tebal. Rupanya begitu mudah ia terbujuk oleh setan. Dasar perempuan!
Auw, dari tadi kerjaku cuma menggunjing dan mendedah aib orang lain. Selain kurang beretika, itu kan larangan agama. Tapi, aku kan sudah mati. Kira-kira berdosa tidak, ya. Tak tahulah. Hmmm… Daripada menceritakan orang lain lebih baik menguraikan keadaan diri sendiri. Kukira, ini lebih bermanfaat ketimbang memboroskan kata-kata untuk hal yang bukan-bukan.  

Mendarat di Jagat Tanpa Sekat
Benar-benar aku masih bingung dengan semua ini. Apa ada yang salah? Mengapa aku diam seribu bahasa ketika dua makhluk berwibawa itu melempar sejumlah pertanyaan. Padahal pertanyaan-pertanyaan itu sanggup kuhafal beserta jawabannya sejak balita. Mbah Warijo yang mengajarkannya kepadaku. Dengan cara menyajikannya dalam tembang Jawa, aku hanya butuh secuil waktu untuk sekadar merekamnya hingga ingat di luar kepala.   
Sekiranya kedua delegasi Tuhan itu bersedia diajak kerja sama, niscaya hendak kubisikkan bahwa aku tengah mengidap amnesia. Mirip para koruptor yang berlagak lupa ketika diberondong pertanyaan menyudutkan di muka hakim dan jaksa. Tapi, rupanya loyalitas menjadi hal paling utama bagi keduanya. Jadi, sia-sia saja membujuknya.  
Rasa congkak yang kupelihara sekonyong-konyong runtuh ketika pertanyaan man rabbuka tak mampu kujawab. Mulut kaku. Lidah kelu. Siapa gerangan yang mengikat pita suaraku? Sungguh, kesedihan menelikungku. Malu mencabik-cabik dadaku. Dan, setangkas kilat, cambuk raksasa menghantamku bertubi-tubi. Bola mataku keluar. Batang hidungku patah. Daun telingaku sobek. Tulang-belulangku remuk. Hilang bentuk. Ajaibnya, sepemakan sirih kemudian, jasadku kembali utuh seperti semula. Tambun dan segar. Siap menadah beribu aniaya.
Dengan kondisi fisik yang prima, aku berharap bisa membalas segala corak pertanyaan yang ada. Namun, celaka! Pertanyaan kedua hingga terakhir menurutku tak kalah sulit dengan yang pertama. Begitu sukar untuk mengatasi satu saja pertanyaan-pertanyaan tersebut. Akibatnya, cambuk mengerikan kembali melayang dan menghajarku habis-habisan.
Tidak sampai situ saja kemalangan yang menimpa. Sial! Sejak nyemplung di tempat gelap sekaligus lembab ini, sama sekali aku belum pernah merasakan ketenangan. Barangkali atas rekomendasi juru kunci aku ditancapkan di sini. Di tanah bercampur tahi ini; dekat kuburan Mas Gepeng. Ya. Duda dengan dua anak yang enam tahun silam mampus tertabrak bus. Mampus dengan tubuh hancur berantakan. Siapa pula mengira kalau nasibnya bakal setragis itu. Meninggalkan dunia sehabis menenggak tujuh botol arak oplosan.
Sewaktu hidup saja aku selalu menjauhinya. Gengsi dong! Aku kan makhluk mulia. Sedangkan ia terhitung manusia durjana. E, ternyata, sekarang malah jadi tetangga. Berdempetan pula.
Bagaimana aku tak mengeluh, kalau si dungu lulusan SD itu gemar berteriak sejadi-jadinya ketika menggeliat kesakitan. Aih, aih, aih. Ada saja yang dipekikkan. Terkadang bilang aduh! Aduh! Atau panas! Panas! Atau kapok! Kapok! Paling sering menggerung ampun! Ampun! Malaslah aku mencari tahu siksa apa yang diterima. Aku sendiri setengah mati meronta-ronta ketika menjumput limpahan azab. Ditinjau dari raungannya yang menggema, agaknya ia lebih apes dariku.  

Malam Pertama Malam Derita
Di malam pertama bermukim di tempat angker, sempit dan berbau ini, aku merasakan ketakutan membabibuta. Ketakutan yang belum pernah menyerangku sebelumnya. Benar. Di malam itu, saat memeluk sepi, aku dikagetkan dengan kedatangan makhluk buruk rupa. Kepalanya kuda. Berbadan manusia dengan ekor buaya di belakangnya. Gigiku menggigil. Leher gemetaran. Bulu kuduk berloncatan.
Ia mencoba merapat. Sepasang kakinya menggelinding ke arahku. Meski demikian, aku sangat enggan memperhatikan. Lantas dengan senyum dibuat-buat, ia menggelesot di depanku. Kurang tahan dengan gelagat dan gerak-geriknya, akhirnya untuk sementara aku mengalah.  
“Kau siapa?”, aku memulai bersoal.
“Siapa kau?”
Kurang ajar. Baru bersua sekali ia sudah nekat bikin onar. Nyaris aku terbelit kemarahan, jika saja tak mencoba bersabar.
“Jujurlah, siapa kau sebenarnya! Baru pertama kali aku mengetahui makhluk aneh sepertimu.” Aku bertutur pelan, berharap ia mau berterus terang.
“Masa kau tidak mengenalku? Jangan pura-pura begitu!”
“Apa untungnya membohongimu. Presiden saja malas menganggapmu sebagai warga negara.” Emosiku kembali diuji.
“Atau jangan-jangan kau malu, ya.”
“Malu kenapa?”
“Malu mengakui diriku.”
“Malu? Atas dasar apa?”
“Wah.. wah.. Kau ini sudah mati. Masih sombong juga.”
“Ya, maaf. Tapi, benar. Sumpah, aku tak mengenalmu. Katakan siapa dirimu! Plissss!”   
“Eealah… Pakai sumpah segala. Benar kau tak tahu aku? Aku ini amalmu.”
“Amalku? Astaghfirullah.”
Jantungku nyaris lepas. Tapi, sungguhpun lepas, mustahil aku mati untuk kedua kalinya.

Menghabiskan Malam Kedua Bersama Si Botak
Akrok. Namanya Sujak Akrok. Tampak ganjil memang. Selagi di dunia, rasanya belum pernah dengar ada spesies berjuluk demikian. Namun, di sini aku menemukannya. Dan berkumpullah dua makhluk yang sama-sama profesional. Ah, jangan berkomentar dulu! Profesional dalam arti keduanya—aku dan ia—meneguhi posisi masing-masing. Ia satwa dari neraka. Sedang aku berperan selaku mangsanya.  
Apakah kau tahu? Tepatnya di malam kedua, ia datang padaku tanpa permisi terlebih dahulu. Belum sempat menyapa, ia langsung melilit tubuhku tanpa ampun. Ular besar bersisik sangar berkepala pelontos itu mempunyai taring yang, emmm… tajamnya melebihi pedang. Sekali melingkar, aku jangkap dibuatnya lemah tak berdaya. Serata badanku melemas. Dan, jika urung memberanikan diri, sudah ia keremus kepalaku dengan taringnya itu.
“Tunggu!”
“Tunggu!” Terpaksa kuulangi lagi kata itu. Aku masih bingung untuk mencari kata yang pas supaya ia tak tersinggung.
“Jika berkenan, beritahukanlah apa kesalahanku, sehingga tega-teganya kau bermaksud menyantapku.” Aku berlagak sopan.
“Jadi, kau belum mengerti kesalahanmu?”. Suaranya menggelegar bak halilintar menyambar.
“Iyy… iyyyaa.” Tiba-tiba aku gugup.
“Begini saja. Jawab saja pertanyaanku! Bagaimana shalatmu semasa hidup?”
“Setahuku, shalatku amat khusyu’. Setiap membaca alfatihah, surat pendek dan doa-doa di dalamnya, idghom, idzhar, ikhfa’, kubedakan. Panjang-pendek bacaan benar-benar kuteliti. Artinya kuresapi. Guna menggenapkan faedah, terlebih dulu kugosokkan siwak tiga kali. Kukenakan baju koko terindah. Dilengkapi dengan sajadah, sarung, kopyah hitam, serta surban, yang kubeli dengan harga tinggi dan diimpor dari luar negeri.”  
“Bagimu itu baik?”
“Sangat baik. Saking baiknya, aku ditunjuk warga RT. lima untuk menjadi imam di musholla Sabil al-Muttaqin. Maklumlah. Selain shalatku dinilai sempurna, track-record-ku tidak terlalu buruk. Paling-paling mereka mengenalku sebagai mantan maling. Tapi itu kan dulu. Dulu sekali. Sebelum aku bertaubat dan mengubah jalan hidupku tiga ratus enam puluh derajat.”   
“Kau bangga?”
“Ya iyalah. Bagi orang seusiaku, hal itu patut dibanggakan. Apalagi, ya apalagi, aku merasa diuntungkan. Dengan diangkat sebagai imam baru, Yetti, anak Mbok Juminten, jatuh hati padaku. Ini namanya menyelam sambil minum air. Hahaha…”
Tanpa babibu, ular itu menghisap darahku. Dan….
***
Itulah sepotong ceritaku dari alam yang belum pernah kau jajaki, kawan. Alam yang menjadi loka mampir sementara bagi umat manusia sampai dibangkitkan—seperti halnya tumbuhnya tanaman baru—pada yaum al-qiyamah kelak. Ketahuilah! Bahwa di alam tersebut setiap penghuni berada di kolong dunia (masa lalu) sekaligus akhirat (masa depan). Hal yang barangkali akan membuatmu terheran-heran. Ya. Terheran-terheran sembari mencocokkannya dengan semua teori yang kaupelajari dari buku-buku anggitan kaum sarjana dan intelektual. Dan, jika tiada satu teori pun membenarkannya. Maka, aku sarankan untuk percaya saja. Itulah rahasia Tuhan, yang sampai ini hari aku juga masih penasaran.
Kini, aku tahu. Kesalahan paling telak bagiku yaitu terlalu bernafsu untuk bertemu maut. Aku tergiur dengan apa yang diobral mulut kiai sompret itu. Mumpung berkarib dengan kebaikan, aku ingin segera menjemput kematian. Pikirku. Dalam keyakinan sesatku, mati dalam kondisi demikian jelas tergolong husnul khatimah. Balasannya tiada lain tiada bukan adalah surga yang dipenuhi bidadari-bidadari cantik jelita, berusia muda, montok payudaranya serta padat pinggulnya. 
Celakanya, keputusanku seratus persen salah. Tanpa berpikir panjang, aku memutuskan untuk mengakhiri masa aktifku di bumi. Padahal setiap yang bernyawa akan menjumpai mati. Dan, dalam hal ini (boleh disebut pengkhianatan), apa yang dilakukan Yetti bisa dibenarkan. Sengaja ia memuntahkan kembali apa yang terlanjur ia minum, seusai berikrar untuk mati bersama. Sedangkan aku langsung kelenger, setelah menelan pil jahanam perampas kehidupan. Yetti selamat. Adapun aku, seketika menjelma mayat.   
Wahai kawan! Kalau memang cerita ini berguna, semoga menjadi pelajaran bagi semua. Untuk senantiasa menimbang sebelum melanting tindakan. Agar enggan gegabah dalam setiap perbuatan. Dan, barangkali cukuplah kisah ini sebagai peringatan bagi mereka yang kurang beriman. Yang hidup bergelimang kekurangwaspadaan. Atau sesiapa yang gemar meremehkan segala persoalan.
Sudah, sudah. Aku tak hendak memperlebar kalam. Yang jelas, hingga malam kedua saja, aku sudah terlampau sengsara. Entah siksa apa lagi yang akan kuterima di malam ketiga, keempat, kelima, serta malam-malam selanjutnya.

Yogyakarta, 2012

Minggu, 14 Juli 2013

Berburu Husnul Khatimah (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Tribun Jabar" edisi Minggu, 7 Juli 2013)


Sudah beberapa hari Kakek terlihat sangat lemah. Maklum. Di usianya yang senja, Kakek rajin melahap berbagai penyakit. Berkunjung ke dokter menjadi rutinitasnya yang membosankan. Saban hari, di mejanya, teronggok aneka macam obat yang ditebus dari apotek.
Kakek sadar, kalau ajal tengah menantinya. Rasanya, ingin sekali Kakek mereguk kembali kebiasaan yang silam ditunaikan; ialah membaca dan menela’ah al-Qur’an. Sebelum dirundung sakit-sakitan, Kakek gandrung melantunkan firman Tuhan. Meski suara kurang nyaman dicerap, Kakek begitu percaya diri. Sudah bisa dipastikan, tunai melaksanakan sholat Shubuh, berdzikir, dan merapal aurad-nya, Kakek mengalunkan ayat-ayat al-Qur’an dengan keras.
Banyak yang tak mengerti, kenapa Kakek gemar memadatkan suara tiap kali bertadarus. Bahkan, ketika penyakit lambung Mbah Harjo kumat, Kakek tetap urung melirihkan suara. Tak ayal, para tetangga melempar gunjingan dahsyat. Enggan jera, lusa, Kakek malah menjinjing vokalnya lantang. Istri dan anak-anaknya tergencet amarah, tatkala mencoba mengingatkan renta berambut uban itu. 
“Mendengarkan bacaan al-Qur’an itu menyehatkan. Memang, manusia sekarang pilih mengakrabi syetan ketimbang kalam Tuhan.” Begitulah dalihnya.
***
Satu-satunya keinginan Kakek yang tersisa yaitu wafat pada malam Jum’at. Itulah mengapa, semua anak beserta cucunya mengantongi titah untuk senantiasa mendoakan agar harapan tersebut ringan terkabul.
“Le, Nduk, cucu-cucuku semua. Mati malam Jum’at itu mulia. Siapa saja yang nyawanya dicabut pada malam itu, ia dijamin masuk surga. Habis sembahyang lima waktu, jangan lupa, ya! Doakan supaya aku mati pada malam Jum’at.”
Kaul itulah yang berhembus dari katup mulut Kakek ketika kami menggelesot di rumahnya. Lirih, lembut, namun menghunjam di relung dada. Kami sekadar mematung menenggak apa yang dilontarkan. Sudah berlusin kali Kakek menyuruh kami berkumpul, menadah pesan serupa, dan menganggukkan kepala setelahnya. Terlebih lagi, jika tidurnya menghidangkan mimpi buruk. Entah mimpi melihat layang-layang putuslah, menemukan gigi tumbuh di jantunglah, atau jadi pengantinlah. Dalam mitologi Jawa, seseorang yang mengunyah mimpi-mimpi tersebut, diyakini bahwa tak lama lagi ia akan terusir dari dunia. Alasan itu pula yang membuat Kakek enggan dibawa ke rumah sakit. Aku ingin mati di rumah dengan tenang, selorohnya ketus.
Walakin, firasat Kakek kerap meleset. Apa yang dikhawatirkan selama ini urung terjadi. Hingga sebagian di antara kami merasa bosan dan meringik. “Ada-ada saja. Mau mati saja, sulitnya minta ampun.”
***
Lembar-lembar nestapa menyelimuti ubun-ubun Kakek. Betapa pedihnya, menutup mata tanpa disandingi segenap buah hati. Lek Sum—bungsu yang paling disayangnya—pun tak menunjukkan batang gigi. Sebagian dari mereka, yang sengaja absen pada malam mangkatnya Kakek, menelan sesal. Alangkah pandirnya. Malas mereka menuruti permintaan pungkasan Kakek: berhimpun bersama di kediamannya. Mereka kira, Kakek membual belaka, semisal hari-hari yang lewat.
Kesedihan itu…. Kesedihan yang bagai pisau tajam itu nyatanya hanya singgah sebentar. Kesedihan tersebut lekas berkarat, setelah kami memergoki Kakek berpulang pada malam Jum’at, tepat saat jarum jam memeluk angka sembilan.
Disertai tangis membuncah, Ibu, selaku keturunan tertua, melempar senyum—meski dengan cara dipaksa.
“Saudara-saudaraku. Janganlah bersedih. Percayalah! Ayah pergi dalam keadaan husnul khatimah. Ayah bakal masuk surga. Di sana sudah menunggu bidadari-bidadari cantik jelita, ladang pahala, serta kenikmatan luar biasa.”
***
Mbah Laeman, sepuh yang istiqamah shalat berjamaah dengan Kakek di mushalla, sekonyong-konyong menudungi usia. Sontak, seluruh warga desa kami ribut. Apalagi, apalagi kematiannya tergolong tak wajar. Di leher layunya tergolek bekas jeratan. Rupanya, lelaki yang jangkap dua dasawarsa ditinggal mati sang istri dan bermukim sebatang kara di gubuk reyot itu gantung diri. Kang Diran, sepulang dari berburu belut, menemukan tubuhnya menggantung di pekarangan.
Kami tercekat, sempat tak percaya. Mbah Laeman merupakan salah seorang di desa kami yang dikenal saleh, tekun bersila di mushalla, dan suka membagi-bagikan buah nangka. Pun dinilai terlampau sabar meladeni cobaan hidup. Batuknya yang membabibuta, penyakit bengek yang menyiksa, serta kemiskinan yang tiada tara, sukar mengantarnya menyerah. Amat jarang—atau bahkan, barangkali tak pernah—kami memungut keluhan yang menyembul dari lidahnya. Kerap, kami dibuat geleng-geleng kepala. Sebab, dalam menampung berat dan rimbunnya ujian, ia mampu meniti kehidupan dengan dada lapang.
“Kaum muslimin-muslimat. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Telah kembali ke hadirat Ilahi: Mbah Laeman, warga RT. 10. RW. 2 desa Dagugagap, pada jam sembilan tadi malam. Jenazah akan disembahyangkan di masjid al-Falah pada jam sepuluh pagi. Bagi yang bermaksud takziah, diharap hadir maksimal lima belas menit sebelum jenazah diberangkatkan.”
Warta berkabung tersebut disebarluaskan oleh Kang Hadi, kala surya belum benar-benar mengapung. Sebagai antisipasi agar, malamnya, warga yang sedang istirahat tiada terganggu. Ditambah lagi, kematian Mbah Laeman yang tragis, rentan menerbitkan suasana mencekam serta rasa takut bagi sebagian orang. 
Ketika mengambil air di sumur dekat mushalla, kudapati Kang Pardi asyik berbincang dengan Kasiyo. Sembari menimba—berpura-pura melihat ke dalam sumur—aku menyimak apa yang tengah mereka bicarakan.
“Hei, Yo. Jangan bilang ke siapa-siapa ya! Kemarin Mbah Laeman habis ngobrol denganku.” Mulut Kang Pardi berkecek enteng.
“Memangnya, dia ngomong apa?” Kasiyo serius menanggapi.
“Jangan keras gitu kalau ngomong! Mbah Laeman itu sebenarnya pengen mati seperti Mbah Doha.”
“Terus, apa hubungannya dengan kematiannya?”
“Uhh… Bodoh betul kau ini! Kau tahu kapan Mbah Doha meninggal?”
“Malam Jum’at”
“Kalau Mbah Laeman?”
“Tadi malam.”
“Lha, ya.. tadi malam itu malam apa?” Sepasang tanduk mulai berkecambah di kepala Kang Pardi.
“Malam Jum’at”
“Sama, kan?”
“Terus, hubungannya dimana?”
“Kau dulu sekolah di mana? Kerbau..!”
“Aku kan gak sekolah.”
“Pantas saja! Mbah Laeman itu pengen mati mirip Mbah Doha. Paham?”
“Tapi Mbah Laeman kok kendat. Gak samalah dengan matinya Mbah Doha. Harusnya, sebelum mati, dia juga senang minum obat dan menyerahkan bokongnya ke Pak Dokter.”
“Makananmu apa? Banyak makan gizilah, biar cerdas! Maksudnya, Mbah Laeman  pengen mati pada malam Jum’at, seperti Mbah Doha.”
“O, gitu.. Memang apa enaknya mati malam Jum’at?”
“Kata Pak Kiai, barang siapa meninggal pada malam Jum’at, maka ia mendapat husnul khatimah.”
“Husnul khatimah? Bukannya Mbak Husnul sudah jadi istri Pak Gendut?”
Kang Pardi mendengus kesal.
***
Pagi merayapi siang. Shalat jenazah itu dibuntuti selingkar 100 orang. Berjibun memang. Akan tetapi, jika diperhatikan lebih teliti, sungguh kedatangan mereka bukanlah untuk menghibahkan penghormatan terakhir bagi Mbah Laeman. Ada yang ingin mengetam sedekah dari sisa warisannya. Banyak pula yang berhasrat memafhumi lebih dalam faktor apa yang menyelinap di balik kasus bunuh diri lelaki fakir keturunan itu.
Usai memimpin shalat, berdoa sepemakan sirih, dengan lirih Pak Kiai bertutur kepada para hadirin, “para jama’ah sekalian. Setiap jenazah memerlukan kesaksian, tak terkecuali Mbah Laeman. Kesaksian ini merupakan kesaksian terakhir baginya sebelum menuju alam barzah. Jika semua jama’ah memberi kesaksian bahwa Mbah Laeman adalah hamba yang baik, maka ia dicatat oleh Allah selaku orang baik. Sebaliknya, jika disaksikan sebagai hamba yang buruk, ia pun buruk dalam pandangan Allah.”
Serejang kemudian, orang berjenggot abu-abu itu bersoal, “apakah Mbah Laeman termasuk hamba yang baik atau buruk?”
Semua terdiam.
“Mbah Laeman tergolong hamba yang baik atau buruk?” Pak Kiai mengulangi pertanyaan dengan suara agak diangkat.
Para jama’ah masih nekat bungkam, sambil memandangi keranda yang memuat tubuh Mbah Laeman.
“Saya tanya, apakah Mbah Laeman termasuk hamba yang baik atau buruk?”
Sekali lagi, jawaban tak kunjung terbuntang.
“Para jama’ah sekalian. Mohon dijawab! Mbah Laeman itu hamba yang baik atau buruk?”
Seseorang di antara kami—kalau tak salah Kang Gondo—menimpali, “kata apa yang menurut Pak Kiai pantas diucapkan? Akankah kami berkata bahwa mayat yang kami shalatkan ini adalah orang baik. Padahal, padahal dalam pengelihatan kami, ia sangatlah buruk. Sangat buruk sekali.”
Udara pecah. Komplotan debu berkeliaran di pelataran masjid.

Yogyakarta, 2012

Catatan:
Kendat     : istilah dalam bahasa Jawa yang berarti perbuatan bunuh diri dengan cara menggantung leher.