Selasa, 10 Juli 2012

Gemuruh Buku ‘Proses Kreatif’ (Esai_ Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Riau Pos" edisi Minggu, 8 Juli 2012)

“Creativity means believing you have greatnessKreativitas merupakan indikasi bahwa kau (manusia) memang memiliki keunggulan yang luar biasa.” (Dr. Wayne W. Dyer)
***
Dalam satu dasawarsa terakhir, industri buku di Indonesia diramaikan dengan hadirnya buku-buku ‘proses kreatif’—yang merupakan sebiji terobosan unik sekaligus menggelitik dalam menggayuh minat pembaca. Bagaimana tidak? Dengan menganggit buku bertajuk ‘proses kreatif’, pengarang berusaha menyuguhkan kiat terbaik dalam rangka menggapai hasil yang diidamkan. Tak ayal, berbondong-bondonglah orang-orang—terutama kaum penggandrung keserbainstanan—menyambar dan mengunyah lahap-lahap nutrisi yang dijanjikan.  
Lahirnya buku-buku ‘proses kreatif’, dalam perjalanannya, ternyata sanggup merekacipta semacam simbiosis mutualisme. Benar. Pengarang yang berhasrat karyanya dinikmati mendapat tempat, sedangkan para pembaca seolah menadah durian runtuh. Pasalnya, mereka dibantu oleh ikhtiar pengarang dalam rangka memenuhi aspirasi.

Kreativitas
Dalam memuluskan niatnya, pengarang dituntut kreatif. Kreatif dalam arti mampu mewujudkan terobosan aktual dalam wilayah yang digarap. Sebagai misal, pengarang buku proses kreatif penyair besar harus sanggup mendermakan cara mudah dan jitu untuk menulis puisi dengan baik serta bermutu.
Jika ditelusuri lebih dalam, banyak juga buku ‘proses kreatif’ dengan memuat kiat-kiat yang berhasil dikumpulkan oleh seorang editor. Dalam hal ini, tentunya editor tidak bertugas menyajikan idenya sendiri, melainkan hanya menukil pendapat dari para tokoh dan ahli dalam bidangnya.
Demikianlah, baik para pengarang maupun editor buku ‘proses kreatif’, layak mendayagunakan kreativitasnya. Kreativitas yang—menurut Tim Pustaka Familia (2006) adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru—patut dijunjung tinggi guna memetik hasil yang sempurna.

Proses Kreatif
Buku-buku ‘proses kreatif’ mencakup berbagai ragam bidang. Mulai dari kesusasteraan, kewirausahaan, pendidikan, hingga organisasi. Berikut disebutkan sebagian di antaranya.
Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang. Buku dengan editornya Pamusuk Eneste ini terdiri dari 3 jilid. Jilid pertama memuat kepengarangan Pramoedya Ananta Toer, Sitor Situmorang, Gerson Poyk, Umar Kayam, Nasjah Djamin, Sapardi Djoko Damono, Sori Siregar, Danarto, Hamsad Rangkuti, Satyagraha Hoerip, Abdul Hadi W.M., dan M. Poppy D.H. Jilid kedua memuat S. Takdir Alisjahbana, Subagio Sastrowardoyo, A.A. Navis, Trisnoyuwono, Wildan Yatim, Nh. Dini. Budi Darma, Ajip Rosidi, Putu Wijaya, Jullius R.S., dan Arswendo Atmowiloto. Adapun jilid ketiga memuat Linus Suryadi AG, Darmanto Jatman, Titis Basino P.I, Rendra, Saini K.M., B.Soelarto, Toety Heraty, Y.B. Mangunwijaya, Muhammad Ali, Ramadhan K.H., Utuy T. Sontani, dan Achdiat K. Miharja.
Mencuplik pendapat Putu Wijaya (2001), bahwa selaku penerobosan terhadap berbagai kendala, proses kreatif merupakan kiat untuk berkelit, melompat, dan menerobos berbagai hambatan. Terobosan itu kelak melahirkan bentuk pengucapan yang lain, lebih segar, mungkin sekali baru, sehingga memungkinkan kebenaran yang hendak diutarakan tidak tercecer atau terjegal di tengah jalan. Caranya, misalnya dengan memainkan sudut pandang alternatif, bahasa, penarikan dimensi (zoom out), teknik bertutur, dan sebagainya. 
Cara Gila Jadi Pengusaha, Virus Entrepreneur jadi Pengusaha Sukses! Buku yang ditulis oleh Purdi E. Chandra dan diterbitkan tahun 2007 ini menyebutkan bahwa untuk menjadi pengusaha haruslah kreatif. Tiada hari tanpa kreativitas. Ini mengingat macamnya usaha di Indonesia belum sebanyak di negara-negara lain. Di Amerika Serikat misalnya, ada bisnis langka dan belum memasyarakat di Indonesia, yakni menyewakan pakaian dan perlengkapan bayi. Jadi sebenarnya banyak macam usaha yang bisa dikerjakan, asal mau kreatif. Dalam menjalankan usaha juga harus kreatif. Maka, tak ada salahnya kalau suasana di perusahaan diciptakan iklim yang kondusif untuk kreatif. Dengan begitu, ide-ide kreatif akan senantiasa bermunculan. Hanya saja, kreatif itu memerlukan proses. Jadi pada awalnya, untuk menjadi kreatif perlu persiapan, meski secara tidak formal.
Belajar Matematikaku, Pembelajaran Matematika secara Visual dan Kinestetik. Dalam buku susunan Iwan Zahar dan terbit pada tahun 2009 tersebut, dituturkan bahwa terdapat upaya menimbulkan proses kreatif pada anak dengan matematika. Sebuah proses kreatif yang diteliti oleh Helmholtz dan Henry Poincare, kemudian disempurnakan oleh Jacob Getzels. Proses tersebut berlangsung dalam diri manusia, bermula dari “First Insight” (mencari problem yang belum pernah dibuat sebelumnya), “Saturation” (memberi nama pada problem dan mengumpulkan data), “Incubation” (memvisualisasikan data yang diterima), “Aha!” (timbulnya ide), dan “Verification” (ide dijabarkan, dibuktikan, dianalisis, kemudian disusun urutan pengerjaannya). “First Insigt”, “Incubation”, dan “Aha!” menggunakan belahan otak kanan, sedangkan “Saturation” dan “Verification” memanfaatkan belahan otak kiri.
Semua Orang Bisa Hebat. Buku besutan Hillon I. Goa dan diluncurkan oleh Grasindo ini menjelaskan bahwa dalam membangun tim yang hebat, unsur pertama ditentukan oleh adanya sinergi. Sinergi sangat tergantung pada kreativitas para anggota tim dalam memadukan segala sumberdaya menjadi inovasi yang memberi nilai tambah signifikan. Pengalaman akan sampai pada pemahaman bahwa suatu inovasi akan terjadi melalui proses kreatif tertentu. Kreativitas tak ubahnya seperti penciptaan sesuatu yang baru, yang menuntut penguasaan informasi sebanyak mungkin atas hal-hal yang sudah ada. Oleh karena itu, ada tiga langkah mengembangkan kreativitas, yaitu melupakan semua yang diketahui, mengingat semua yang diketahui, lalu mengatur ulang semua yang diketahui. Adapun hambatannya di antaranya adalah asumsi, penghakiman, dan takut kegagalan.

Yogyakarta, 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar