Senin, 29 Oktober 2012

Puisi_Riza Multazam Luthfy (Terbit di harian "Satelit Post" edisi Minggu, 28 Oktober 2012)


Ruh yang Kau Kirim

di riuh hujan kemarin
ada tawa sisa
menghampiri jalanan terbuka

kaukah itu?
atau hanya ruh
berkelabat dalam sesat

kecut, katanya
ketika melihatku
menunggui tungku cinta

jiwa berkulit jerami
rambut bercadar panas
gontai dan berlalu lalang
seperti tak ada
bulan yang pendar

sekujur zikir,
air mata sembilu
berkelakar
mencari si pemuja

hati menciut
denyut mengerut

ya, kini
aku tahu
ia hanya sebongkah ruh
yang kaukirim
    untukku

demi kenangan
– tak bisa terurai
demi luka
terus menganga
            di tepian senja

Malang, 2008


Doa Sunyi

meracik muka dua nyawa
bersisir seribu pengap
tanpa harap

embun curiga
kau petik dari
ranting gelisah

seberapa panjang
gagang waktumu untukku?

di lambungku,
badai kan segera menyerbu
ombakpun ikut mendayu

cepatlah,
jika kau masih ingin
kesunyian sebagai piaraan
atau sobat menuju
                        kodrat

pasang jala emas
tangkapi udara jahat
bawa pancing nelayan
agar doamu
tak jadi bala
            anak-cucumu!

Malang, 2008


Pasrah??

tak apa aku ingkar
yang penting dapat gelar
tak apa aku dusta
yang penting dapat muka
tak apa aku murka
yang penting dapat kuasa
tak apa aku khianat
yang penting dapat tempat
tak apa aku bejat
yang penting dapat nikmat
tak apa aku curang
yang penting dapat menang
tak apa aku keji
yang penting dapat kursi

tak apa aku hina
yang penting dapat segalanya

Bojonegoro, 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar