Rabu, 22 Mei 2013

Negeri Fakir Kentut (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Banjarmasin Post" edisi Minggu, 12 Mei 2013)

Di negeri itu, kami tidak pernah kentut. Kentut dalam arti sebenar-benarnya. Senyata-nyatanya. Tuan percaya? Sesungguhnya kami sendiri ragu mengucapkannya. Namun, itu realita. Kami mengalaminya.
Dalam suatu masa, kentut pernah menjelma persoalan yang menentukan hidup dan matinya seseorang. Benar. Walaupun mengandung kedamaian, ia juga memuat kegetiran. Itulah sebabnya, kalau ingin kentut, seliat tenaga kami mencoba menahannya. Atau jika sudah tiada daya sekaligus upaya untuk bertahan, akan kami hembuskan gas alami itu dengan terlebih dahulu mengasing ke sebuah tempat. Mengapa? Agar tak seorang pun tahu bahwa kami menghunus kentut. Dan sebelum pergi, sudah kami siapkan beberapa lembar daun sarukai. Daun yang biasa digunakan untuk mengusir bau kentut. Tampak aneh memang. Manusia sesakti apapun mustahil terhindar dari kentut. Yohan, Kori, Marius, dan Gribto—ksatria-ksatria hebat yang cekatan dalam bertempur itu—juga pernah kentut. Paling tidak, sekali seumur hidup. Karena, jikalau tidak kentut, mereka bukanlah manusia.
Di negeri itu, raja kami melarang semua orang untuk kentut. Barang siapa berani kentut, batang kepalanya akan dipenggal. Bokongnya dicincang dan dijemur di keramaian. Tak terkecuali prajurit, dayang-dayang, bahkan permaisuri dan putra raja sekalipun. Yang bisa dan leluasa mengumbar kentut hanyalah raja. Ya. Cuma ia seorang yang boleh melakukannya. Seenak udelnya. Sekena gayanya; dengan moncong mendengus dan liang pantat menganga. Benar-benar egois! Tidak. Ia bukan egois. Ia menerbitkan larangan tersebut memang berdasar. Seorang peramal dari negeri seberang—seingat kami namanya Locce—suatu malam berkata, “singgasanamu bakal ditaklukkan oleh orang yang ahli kentut”. Ahli kentut? Memang Ada? Entahlah, telinga kami juga baru itu kali mengendusnya. Pasti Tuan juga mengerti, bahwa demi mempertahankan kekuasaan, tiada kata egois.
Entah berapa ratus orang mampus sia-sia hanya karena lalai, atau lebih tepatnya kurang sanggup menahan biji kentutnya. Atau, anggapan ini keliru. Boleh jadi, kematian—bagi mereka—menjadi alternatif terbaik. Daripada hidup kembung terus-terusan, lebih baik mencoba mengakrabi kematian. Siapa tahu hidup di alam baka lebih bebas ketimbang hidup di dunia. Siapa tahu di sana kentut tidak dilarang; bahkan dianjurkan. Karena bokong yang sehat adalah bokong yang rajin meluncurkan kentut. Jadi, mereka akan bersaing dalam memproduksi kentut. Setiap fajar, siang, senja, dan malam, mereka siap bersenang-senang dengan kentut. Tiap kali keluar rumah, mereka membawa banyak kentut yang manis dan penurut. Supaya nanti, bila bertemu teman juga sanak keluarga, kentut-kentut itu bisa dibagi-bagikan. Lumayan, buat oleh-oleh dari keluyuran. Atau bisa jadi, emmm… Sesiapa mengantongi kentut paling menawan, ia lekas mendapat penghargaan. Maka digelarlah perlombaan mengarang kentut; di tanah lapang. Dinikmati dan ditonton banyak orang.
Saban hari, di negeri itu, pembicaraan kami enggan melenceng jauh dari kentut. Seakan-akan obrolan kurang afdal jika mengabaikan kentut di dalamnya. Mulai dari siapa yang nekat terang-terangan kentut, ajal siapa yang raib karena kentut, hingga berapa kali bokong raja sudah kentut. Ahh.. kentut, kentut. Kau begitu mulia, hingga raja seorang yang berhak memelukmu.
***
Awalnya, kami kurang percaya jika ahli kentut itu ada. Apalagi, diceritakan, ia mampu memecundangi raja. Mana mungkin raja gagah perkasa, punya pasukan panah tangguh luar biasa, serta begitu disegani oleh musuhnya, bakal tunduk oleh ahli kentut. Ya. Seorang makhluk yang lihai dan cakap memainkan pantatnya. Cih… Atas dasar apa mulut peramal yang gelap identitas itu menebar lelucon paling bodoh sedunia. Kitab apa pula yang jadi rujukannya. Berulang kali kekhawatiran menyelimuti dada kami. Jangan-jangan ia orang kurang waras yang dengan kekurangwarasannya dapat mempengaruhi raja. Ahh… Sungguh sukar diterima logika!
Siksaan demi siksaan yang menimpa saudara-saudara kami jangkap meluluhlantakkan rasa hormat kami kepada raja. Dan, dalam perjalanannya, kebengisan rajalah yang pada akhirnya memaksa kami meyakini bualan peramal.
Meski menaruh benci setengah mati pada peramal gila itu, maka mau tak mau, kami layak mengamini apa yang muncrat dari lidahnya. Dengan demikian, kala kehidupan ini terlantas mesra dengan kesedihan, masih tersisa sepercik harapan. Harapan bahwa akan muncul seorang penyelamat. Penyelamat yang tiada lain pun tiada bukan adalah ahli kentut.
Inilah, Tuan.. Inilah yang menyebabkan kami tak segan-segan menaruh harap agar sang juru selamat lekas datang ke negeri mengerikan itu. Kami bosan menghirup nafas dengan perut kejang-kejang disertai lambung gemetaran—sebab menahan rintihan. Telah lama kami rindukan pahlawan yang mampu membebaskan kami dari beban derita. Kami akan sangat bergembira dan berterima kasih kepadanya apabila ia mau menggulingkan kekuasaan raja, menghapus larangannya, serta mengantar bokong kami bergetar semaunya. Tentu, jika semua itu terwujud, akan kami angkat ia sebagai raja baru. Petuahnya kami masukkan dalam sanubari. Titahnya selalu kami patuhi. Kalau perlu, kami bangun patung raksasa menyerupainya. Lalu kami dirikan tugu besar yang menopang batu hitam mirip bokongnya. Dan, di permukaan batu tersebut akan kami pahat sebulir kalimat: “inilah bokong yang berhasil menyelamatkan nenek moyang kalian”. Begitulah. Sehingga anak turun kami turut mengenangnya selaku seseorang yang genap memberangus kezaliman.
***
Suatu senja yang menggigil, lelaki asing berjanggut tebal menggelesot santai di bawah rindang pohon beringin. Penampilannya, gerak-geriknya, raut mukanya, rambutnya, bola matanya, dan yang terpenting bokongnya, mengindikasikan bahwa ia adalah ahli kentut yang disebut-sebut sebelas tahun silam. 
Seseorang di antara kami memekik renyai; mewartakan bahwa juru selamat telah tiba. Urita tersebut dengan sigap dan gesit merayap dari satu mulut ke mulut warga lainnya. Meski berupa kabar burung belaka, kepiluan kami meluap seketika.
Kesukacitaan yang kami peroleh ternyata menginap barang semalam. Esoknya, setelah berembuk dengan sesepuh, kami bermaksud mengunjungi orang asing itu di rumah kakek tua. Celaka! Orang yang terlanjur kami puja-puja itu buru-buru meninggalkan dunia. Dunia yang terlalu kejam bagi seorang musafir sepertinya.
Penyesalan tiba-tiba menyeruak. Mengapa, mengapa orang yang tidak tahu apa-apa itu kami anggap sebagai ahli kentut. Dan, sebab anggapan kami itulah, dengan segenap kuasa, raja memerintahkan prajurit untuk memburu dan menghabisi nyawanya.
Sejak itu, raja semakin membabibuta. Segenap orang asing yang singgah di negeri itu ia bunuh. Tak perduli siapa dirinya, dari mana asalnya, dan untuk keperluan apa ia berada di sana. Ketakutan kian mengancam. Kematian gemar bertandang kapan dan dimana ia berkehendak. Dalam hemat kami, jarak antara bokong dengan kematian amatlah dekat. Maka, banyak dari kami memutuskan untuk menggunting bokongnya, agar terjauh dari bau kematian. Karena, siapa pun mafhum, bahwa manusia yang masih memiliki pantat, ia tetap meniupkan kentut. Secerdik apapun kiat dan kilahnya.  
Bukan sampai situ kebiadaban raja, Tuan. Tatkala permaisuri sedang terlelap, ia memergoki daging subur yang teronggok di atas paha wanita cantik itu berasap. Tanpa ba bi bu, langsung ia tikam lehernya dengan parang yang tergolek di samping ranjang. Benar-benar raja edan, gendeng, miring, sinting!  
Mengetahui apa yang diperbuat sang ayah, putra raja memilih kabur dari istana dan menetapkan hutan Kobre selaku loka tinggalnya. Baginya, bersanding dengan auman macan dan lolongan serigala lebih menguntungkan dibanding hidup berlimpah kemewahan namun juga beradu kening dengan kematian. 
Sedangkan kami, hari demi hari, masih saja menanti kehadiran ahli kentut. Benar. Seseorang yang hendak mengentas kami dari keterpurukan. Sialnya, tanda-tanda kehadirannya tak jua tampak. Dan, seiring mengalirnya waktu, korban-korban kebrutalan raja terus berjatuhan. Bahkan, sesepuh kami, Mouyare, juga tergerus imbasnya. Dengan mangkatnya orang yang paling kami muliakan, hanguslah alasan untuk berdiam di negeri terkutuk itu.   
***
Begitulah latar belakang mengapa kami berlima nekat minggat dari negeri itu, Tuan. Satu-satunya tujuan kami datang kemari yaitu sekadar ingin menumpahkan kentut dengan nyaman. Tanpa gangguan. Tanpa hambatan. Tanpa seorang pun mengekang. Alangkah senangnya kentut kami meluncur ringan; menari-nari dan menyanyi dengan riang. Engkau tahu, Tuan? Hidup ini miskin arti, jika hanya demi kentut saja, kami harus pontang-panting bersembunyi. Padahal bagi kami, kentut adalah hak manusia paling asasi di muka bumi.

Yogyakarta, 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar