Jumat, 14 Juni 2013

Akulah Angin (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian “Joglo Semar” edisi Minggu, 9 Juni 2013)


Aku adalah angin yang setiap hari menghuni loka penampungan sampah di pinggiran kota. Aku adalah angin yang puluhan tahun menghirup bau tak sedap dari daun busuk, kaleng, plastik dan bungkus makanan. Akulah angin yang oleh sejumlah makhluk lainnya seringkali dianggap tiada berguna. Tak apa. Aku menerima saja takdirku sebagai angin. Ya, angin, yang bisanya mematuhi alur kehidupan dari Tuhan.
Sayangnya, aku tergolong angin yang kurang percaya kepada manusia; makhluk yang didaulat untuk senantiasa memelihara semesta dan sedianya menebarkan benih-benih kebaikan, dan nyatanya malah mengumbar keonaran. Aku bingung kenapa hidup makhluk paling dimuliakan itu begitu nista. Senista iblis, pecandu kesesatan dan segala jenis kebejatan. Ah, aku tak mengerti apakah kini manusia menjadi setan. Setan? Maaf, maaf. Aku tak tahu. Sungguh. Bilamana dibekali pikiran, mungkin aku sanggup mendiamkan pertanyaan yang kian hari kian menjengkelkan ini.
Kalian percaya? Mustahil aku ngawur dan asal nyeplos. Semua perkataanku tadi berlogika serta ada dasarnya. Meskipun hanya angin, aku ini angin yang menjaga martabat. Malu dong kalau aku sampai disebut makhluk durjana semisal manusia.
Tepatnya, beberapa bulan lalu, saat jalan-jalan, aku mengetam pengalaman yang barangkali jauh dari bayangan kalian. Pagi itu, ya, pagi dengan sinar matahari berloncatan kesana kemari itu, aku bosan berbaring terus di sebuah tempat yang selayaknya tidak dihuni. Aku ingin melihat-lihat keadaan di luar sana. Menyesap suasana agak berbeda dari biasanya. Dan, ngeluyurlah aku ke terminal, gedung DPR dan sungai. Ya, sungai yang terakhir kusambangi tiga lebaran silam. Sungai yang pernah kukagumi keindahannya itu.
Di terminal, aku melihat beberapa pengasong menawarkan manisan mangga yang begitu memikat, menjerat calon penumpang untuk menerogoh dompet dan kemudian menebusnya. Apabila seseorang bepergian sendirian, maka ia akan membeli minimal satu bungkus. Agar saat berada di kendaraan, ia bisa menikmatinya guna mengusir rasa pahit di kerongkongan. Apabila ada ibu bersama anak kecil, maka ia akan membayar dua bungkus. Tentu si anak memilih merengek jika tidak dijejali manisan berpenampilan aduhai itu. Adapun sang ibu bakal meneteskan liur jika saja tidak ikut mencicipi. Jikalau seseorang hendak berkunjung ke rumah mertua, maka pastilah ia memborong lusinan makanan ringan penuh pemanis itu. Mertua mana yang keberatan dibawakan oleh-oleh dari menantunya. Oleh-oleh yang meskipun murah, akan tetapi tetap berasa di lidah.
Alangkah sialnya! Para penggandrung manisan itu sebenarnya adalah korban. Korban? Benar. Transaksi jual-beli yang seolah berdasar suka sama suka itu mengandung unsur tipu daya. Pembeli tak ubahnya selaku mangsa. Adapun penjual mengangkat diri selaku penipu ulung yang berhasrat meraup untung. Jika memergoki muasal pembuatannya, dijamin kalian akan muntah-muntah, beol seharian, serta seumur hidup tak bakal makan manisan. Asal kalian pahami, warna kuning kemerah-merahan pada manisan yang bertebaran di terminal itu ternyata diperah dari pewarna tekstil. Sebab itulah tampilannya selalu segar dan menentramkan.
Kalian mungkin tak sampai menduga, kalau oleh pembuatnya, manisan tersebut dijauhkan dari jangkauan anggota keluarga—disebabkan ribuan bahaya terselip di dalamnya. Aih, aih, aih. Menginsafi hal itu, aku pun mengurut dada. Benar-benar keterlaluan! Manisan yang dilarang dikonsumsi keluarga sendiri karena menyimpan racun malah disebarkan kepada orang lain, demi memungut uang.
Di gedung DPR, melalui jendela, celah-celah pintu, juga lubang-lubang kecil plafonnya, aku menemukan orang-orang dewasa sedang bermain. Mereka layaknya anak-anak play group yang menguras waktu di plorotan dan ayunan. Begitu riangnya hingga terdengar riuh tawa membahana. Tiada beban menghinggapi dada mereka. Tiada kesedihan pada raut wajah mereka. Bagaimana tidak. Hidup mereka ditanggung oleh gaji selangit, yang dikeruk dari keringat manusia lainnya.
Juga bagai anak balita, mereka gemar berkelahi antara satu dengan lainnya. Entah mempertengkarkan apa. Sekali lagi, entahlah. Yang jelas, setelah terlihat saling bermusuhan, bertengkar lantas menangis menggerung-gerung, mereka akur seperti semula. Seperti tidak terjadi apa-apa. Dan, kembali mereka bermain bersama, lalu karena disulut masalah sepele mereka saling berkelahi. Lagi, lagi. Dan, lagi. Begitulah seterusnya, seakan menunjukkan putaran kehidupan tiada putusnya.
Fungsi gedung megah yang fondasinya mengorbankan banyak peluh dan darah itu mirip sekali dengan bangunan penentu takdir manusia. Dalam gedung itu, nasib petani, buruh, tukang parkir, guru, penyair, artis, dan ratusan jenis profesi lainnya digariskan. Anehnya, orang-orang kekanak-kanakan itulah yang memegang hak dalam membagikan kesejahteraan. Begitu pula dalam urusan menyebarluaskan penderitaan. Maka, berbahagialah bagi orang-orang yang merapat-mendekat dan berhasil mencuri hati mereka. Pun sebaliknya, meranalah orang-orang yang kurang akrab dengan mereka atau bahkan sama sekali tak dikenal.
Barang tentu para pemasok uanglah yang menjadi sahabat terbaik mereka (para fakir, kaum melarat, gembel, juga pemilik-kekayaan-terbatas sengaja dijauhi). Undang-undang dengan mudah dikondisikan sesuai kepentingan pemodal. Kata-kata dalam peraturan merupakan penjelmaan dari beragam pesanan. Lantas menyebarlah berita memilukan itu. Berita yang mewartakan bahwa mereka dengan terang-terangan nekat membandrol tiap pasal dengan tarif ratusan juta hingga milyaran. Lewat televisi, radio, koran dan internet, mereka menyebar pengumuman. Bahkan pernah suatu saat kami—para angin—mendapat tawaran untuk turut serta mensukseskan program mereka. Sesuai kemampuan, kami menadah perintah untuk meniupkan pengumuman gila tersebut ke segala penjuru. Mulai dari daerah perkotaan yang syarat kebisingan hingga wilayah paling dalam dari perkampungan. Sebagian besar di antara kami menolak mentah-mentah. Namun sebagian kecil menerima dengan berharap imbalan sepantasnya. Dan, akibatnya, angin yang bertindak lalai tersebut kami kucilkan dengan terlebih dahulu kami siksa habis-habisan.
Di sungai, aku mendapati genangan darah di sana-sini. Sungai yang dulu bermata jernih dan bersih itu berubah sayu, keruh dan berwarna merah. Sungai yang hampir saban hari dipakai mencuci tangan-tangan pembunuh sesudah membinasakan lawan bisnis, rival karir, atau pesaing cinta. Sungai yang dimanfaatkan untuk meraibkan jejak-jejak penjahat seusai melunasi tugasnya.
Sungguh, sepasang mataku gemar memuncratkan rintik-rintik tipis cairan asin ketika memandangi sungai malang itu. Di sanalah, di hamparan tubuhnya, aku menyaksikan onggokan mayat manusia. Benar. Mayat yang sebagian besar diantaranya sama sekali tiada kuraba identitasnya. Mayat yang jika boleh memanggil namanya, akan kusebut tiga saja. Merekalah yang selama ini kujajaki secuil kepribadiannya.
Mayat pertama, mayat Bu Lasmi. Perempuan bunting delapan bulan itu mati mengenaskan, akibat dibantai Kriwul di malam gerhana. Kepala pecah, mata kiri keluar dan ususnya terburai di lantai. Terdapat indikasi kuat bahwa pemuda pengangguran itu suruhan Bu Mirah, perempuan paruh baya berprofesi sama dengan si korban. Toko plastik Bu Lasmi yang akhir-akhir ini padat pembeli rupanya menjadi alasan utama mengapa perempuan itu harus menghirup nafas terakhir, sebelum melahirkan jabang bayinya. Begitulah. Nyaris aku tak percaya. Ternyata di kampung mungil yang katanya sangat damai sekalipun tersembul dengki membabibuta. Dengki yang mengantarkan perempuan harus meninggalkan dunia tanpa memafhumi kesalahannya.
Kedua, mayat Pak Bambang—terapung tiga hari tiga malam. Ialah lelaki berumur tiga puluhan tahun yang baru empat bulan menjabat direktur perusahaan besar. Lelaki yang selalu mengundang iri para bawahan karena lajunya yang begitu cepat meraih posisi puncak. Lelaki yang mencintai sekaligus dicintai seluruh keluarga namun dibenci beberapa kolega. Dan, barangkali di alam sana, lelaki itu menyesal kenapa ia menjadi direktur. Sebiji jabatan yang enggan memancing berkah, namun justru menjaring musibah.
Juga mayat Karyamin, penarik becak miskin yang berani melamar Aryani, putri saudagar terkenal di ujung kota. Ialah pemantik geram Yanto, pemuda lulusan kampus ternama, yang setengah mati jatuh hati pada bunga kampung itu. Terang saja Yanto berbulat niat untuk melibas nyawa si tampan berkumis runcing itu, karena tahu Aryani menyambut pinangannya. Dan, jadilah ladang belakang rumah Gepeng sebagai ajang kebiadabannya: melesapkan parang di genggamannya tepat di lambung dan leher Karyamin.    
Demikianlah. Seperti kalian simak, sehabis mengunjungi terminal, gedung DPR dan sungai, rasa percayaku kepada manusia mulai berkurang. Dan, dapat dipastikan, dalam sebentar lagi rasa itu sepenuhnya hilang. Sehingga pada saatnya nanti, aku lebih suka mengakrabi waktu di loka penampungan sampah di pinggiran kota—walaupun bosan menjadi ancaman tersendiri: menghirup bau tak sedap dari daun busuk, kaleng, plastik dan bungkus makanan. Juga menerima saja takdirku sebagai angin. Ya, angin, yang bisanya mematuhi alur kehidupan dari Tuhan.

Yogyakarta, 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar