Selasa, 04 Februari 2014

Para Penghormat Buku (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Bali Post" edisi Minggu, 26 Januari 2014)

Buku menjadi sesuatu yang sakral bagi sebagian manusia. Bukanlah ia sekadar bundelan kertas berlumur tinta yang memadati meja dan rak cendekiawan-cendekiawan atau pengaku penikmat-pencecap ilmu pengetahuan. Sebagaimana pusaka, dalam tubuh buku terselip kekuatan besar yang sanggup meluluhlantakkan benda di sekitarnya. Ia menyimpan daya magis sehingga dengan mudah sanggup menyihir dan melenakan setiap pembaca.
Lebih dari itu. Dalam kadar tertentu, buku adalah candu bagi para pemabuk-pecinta. Rangkaian kata dalam buku membuat orang rela membelanjakan nafsu dan waktu demi bermesraan dengannya. Ia begitu dipuja, disanjung, diagung-agungkan oleh kaum penggandrungnya. Bukan hanya itu! Bagi yang terlampau akur dengan derita, buku menjadi teman setia pengusap air mata. Bagi si sakit, layaklah ia sebagai pengusir-penundung bengalnya penyakit. Bagi si gelap jiwa, buku pantas didaulat menjadi sahabat penerang gulita, pengantar ke gerbang dunia.
Karena begitu penting dan berharga, para penggandrung buku merawat segenap cara dan upaya dalam menaruh takzim kepadanya. Mereka memposisikan buku sebagai makhluk suci yang harus mendapat kedudukan tinggi. Mereka berteguh niat dalam membela hak-hak buku. Mereka menempatkan diri dalam garda depan para penjunjung tinggi martabat aksara.
Itulah mengapa, dalam buku Wiji Thukul, Teka-teki Orang Hilang (KPG, 2013), Arif Zulkifli, dkk (penyunting) menyebut Wiji Thukul suatu saat sempat berang ketika mengetahui seorang temannya menggunakan buku selaku alas makanan. Aktivis politik sekaligus pembela kaum buruh yang dinyatakan raib dan hingga sekarang belum ditemukan itu tak sampai hati jika buku dihinakan atau direndahkan. Bahkan kepada sobekan koran atau majalah, ia pun melakukan hal serupa. Sepertinya, ia memupuk anggapan dan keyakinan bahwa setiap kertas yang memuat informasi genap membisikkan pada telinga nuraninya suatu kewajiban moral untuk senantiasa menghormati serta memuliakannya.
Dalam diri penyair cadel yang potongan puisinya “hanya satu kata: lawan!” selalu menjadi koor wajib bagi para demonstran tersebut, buku menempati posisi urgent. Atas dasar itulah, ke mana pun berlari dan bersembunyi—karena saking kerapnya diburu oknum militertak jarang ia menenteng tas karung berisi buku dan kacamata. Tentu saja kacamata yang dibawa bukanlah untuk tampil gaya-memesona, melainkan berfungsi sebagai peraba dan penanda huruf-huruf yang dalam penglihatannya sudah nampak agak pudar (barangkali karena suatu ketika, oleh seorang tentara, mukanya pernah dihantamkan ke kaca mobil pada waktu menggerakkan massa dalam sebuah demonstrasi).
Oleh Wiji Thukul, stempel ‘istimewa’ dilekatkan pada buku. Hal tersebut tak lain sebab dalam menjalankan aksi heroiknya ketika membela kaum pinggiran, buku menjadi guru terbaiknya. Bukulah yang diangkat sebagai pembimbing dalam melancarkan misi saat berusaha menghentikan kezaliman penguasa.
Adalah Muhidin M Dahlan bersama Taufik Rahzen, Dipo Andy, Galam Zulkifli, serta Eddy Susanto—para pencetus Yayasan Indonesia Buku—yang memiliki hasrat membabibuta dalam menyemarakkan jagat literasi, pada tahun 2011 mendirikan Radio Buku. Radio berbasis internet yang bermarkas di Jl. Patehan Wetan 3 Alun-alun Kidul Yogyakarta.
Bermodal kecintaan yang meluap-luap terhadap buku, para punggawa radio komunitas (buku) pertama di Indonesia tersebut mengabdikan diri sepenuh hati untuk menjadikan ‘ritual menghormati buku’ sebagai bagian dari alur kehidupan yang tidak bisa ditinggalkan. Bagi mereka, hidup bersama buku adalah keharusan yang tak boleh ditawar. Mereka membutuhkan buku seperti halnya menghajatkan hidup itu sendiri. Tanpa disertai buku, mereka bagaikan hidup tanpa ruh.
Ikhtiar pemuliaan buku mereka wujudkan dengan cara membuka Radio Buku sebagai lahan persinggahan bagi siapa pun yang tekun memelihara antusiasme terhadap buku. Itulah mengapa, tak bosan-bosannya mereka membujuk Booklovers—sebutan bagi para pecinta buku—untuk mengisi hari-hari dengan ‘bersenggama’ dengan buku. Dalam rangka itulah, diselenggarakan beberapa program agar berahi mereka dapat tersalurkan, antara lain—sesuai yang dijumput dari www.radiobuku.com: Katalog Seni (mengulas karya seni dari pelbagai bidang), Angkringan Buku (dialog seputar buku dengan menghadirkan komunitas pembaca selaku pembedah), Buku Pertamaku (cerita individu tentang keintiman dengan buku), dan Komunitas: (merekam geliat komunitas-komunitas literasi). Diharapkan dengan berjalannya program-program tersebut, mereka mengalami dua hal yang saling melengkapi antara satu dengan yang lain, yaitu puncak pemuliaan sekaligus klimaks kenikmatan.
Para penggandrung buku berikutnya berasal dari barisan kaum bersarung (santri). Para penimba ilmu di pesantren itulah yang giat menyuarakan slogan “hormati buku sekarang juga!”. Salah satu wujud tawadlu’ (sikap rendah hati) mereka terhadap ilmu yaitu dengan membaringkan buku tidak pada sembarang tempat. Tak ayal, jika ada seorang santri yang suatu kali sembrono menaruh buku di lantai, maka segera meluncur teguran dari teman atau bahkan gurunya. Bagaimana pun juga, hal itu dianggap sebagai bentuk penistaan terhadap ilmu.
Dalam Ta’lim al-Muta’allim, kitab acuan para santri dalam mempelajari tatakrama mencari ilmu disebutkan, buku harus dihormati dan dimuliakan sedemikian rupa dengan adanya larangan seseorang meletakkan buku di dekat atau sejajar dengan kaki ketika bersila. Bahkan, kitab anggitan Syeikh al-Zarnuji tersebut menuturkan bahwa ketika seseorang membaca buku, maka seyogyanya ia dalam keadaan suci (berwudlu). Karena, “ilmu adalah cahaya, wudlu juga cahaya. Mustahil cahaya ilmu bisa bertambah kecuali dengan berwudlu”.
Demikianlah di antara sebagian wujud penghormatan para penggandrung buku terhadap sesuatu yang dicintai. Dengan tulus-ikhlas, mereka menghargai buku melebihi dari yang lain. Bagi mereka, adalah suatu kebahagiaan berlipat, jika berhasil mendudukkan buku pada derajat terhormat. Pun sebaliknya. Merupakan penderitaan berlarat-larat, jika suatu saat tersebar warta tentang gencarnya pemerintah membumihanguskan ribuan buku atau bergeloranya teroris dalam merakit bom buku.


Yogyakarta, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar