Selasa, 05 Agustus 2014

Puisi_Riza Multazam Luthfy (Terbit di harian "Lampung Post" edisi Minggu, 3 Agustus 2014)

Macam Kaktus, tapi Bukan

Gerimis gundul tiba-tiba datang serupa iblis bermata garang. ia dengan bengis menginjak-injak Pohon Rindu yang baru dua tahun kutanam. di ladang perasaan. di kebun mimpi yang hijau dan rindang.

seperti juga kuda pasukan Sparta kala menyerbu kampung Laconia, Gerimis itu begitu beringasnya. sampai-sampai tiada mampu ia bedakan mana kaki-kakinya yang mengancam. mana pula tumbuhan yang hendak diluluhlantakkan. sampai-sampai pohon kecilku tumbang. akarnya berserakan, melebur dengan muka tanah yang bulat panjang. daun yang semestinya berkorban demi lambung ulat, berceceran tanpa secuilpun mengais manfaat.

padahal, seperti pesan Eyang, pohon satu ini tampak kurang tertarik dengan segala jenis cairan. ia macam kaktus, tapi bukan. ia sangat benci jika suatu hari seekor makhluk sengaja melumeri punggungnya. atau kepalanya. atau lehernya. atau anggota tubuh yang jamak disebut daun dan dahan, tapi ia lebih suka menyebut kaki dan tangan.

maka, Gerimis bedebah! ketahuilah, bahwa aku memberinya minum bukan dengan cara sembarang. berbulan-bulan sebelumnya aku mengambil segayung air dari Sungai Nil untuk kemudian kutitipkan pada tanaman-tanaman rambat di sekitarnya. merekalah yang kumintai bantuan untuk memasukkan setetes demi setetes ke mulutnya, ketika sudah benar-benar mendengkur.

pohon kesayanganku memang pemalu. makanya, jangan heran jikalau ia memilih bermukim di lahan yang subur. dengan begitu, ia bisa terus mengalirkan nafas tanpa terlihat sibuk mencari cairan. ia pura-pura menyapa tetangga, berjabat tangan, lantas mengusapkan jemarinya yang basahkarena bersentuhan dengan tanaman lainke sekujur badan. ia belum mengerti bahwa aku, pemiliknya, telah turut serta menyelundupkan larutan yang sangat diperlukan dalam hidupnya. 

ah, sudahlah. kau, Gerimis! kau boleh tertawa sesuka perutmu, sebab menerka bahwa sebentar lagi aku terlunta-lunta. menderita atas gugurnya pohon kiriman perempuan yang amat kupuja. ya, kupuja lantaran ia tak menaruh rasa sama sekali, tapi aku sungguh mencintainya.

terima kasih, Pohon Rindu. pohon yang memutuskan mati ketimbang memanggul malu. pohon yang pernah mengantar hatiku mekar, meski aroma senyumku makin tawar.

Yogyakarta, 2012


Kasihan!

setiap aku mengangon kata, setiap itu pula tetanggaku ikut bergabung. namanya Dirman. ia dipanggil Kasihan.

benar. orang-orang menyebutnya demikian, dikarenakan memang ia pantas dikasihani. bayangkan! Dirman terlahir dari rongga kemaluan babi betina yang ditemukan Pak Joko waktu berburu di hutan. mata satu. telinga satu. bokong tiga. anunya sepertiga.

oh, pasti kalian benar-benar kasihan kalau mengetahui sejak balita Dirman tak bisa mengucap apa-apa. ia cuma menitihkan air mata jika menghendaki sesuatu. air mata yang tersendat-sendat, karena diperas dari satu mata; lubang yang begitu mungil ukurannya. sayang sekali, Pak Joko sulit memantau mana Dirman yang berduka, mana Dirman yang bersuka, karena antara kesedihan dan kegembiraan terlanjur tiada sekat. berkelindan. bertukar tampang. mengembar siam. siam yang mustahil dibedakan.

sejak umur tujuh tahun aku rajin mengajak Dirman mengangon kata. dengan bersamanya, aku sering mengumpulkan air matanya yang berbau keemasan. air mata yang mengingatkanku pada kakek yang menggerung-gerung sesaat sebelum menjemput maut. pada pipi ibu yang basah kuyup, menyesali kenapa dulu mau dikawini ayah, yang penyair. penyair yang gemar mengobral tanduk puisi di halaman koran. yang bersedia dibayar recehan, namun akhirnya harus mendengkur di bui paling kejam.

meskipun sesenggukan, aku mengerti bahwa menangisnya Dirman menunjukkan kegembiraan. hal itu tampak ketika suatu hari ia mengaku bermimpi bertemu kuda telanjang. ia tidak menangis lantaran kelopak matanya terpejam. anehnya, dari kemaluannya bercucuran air mata keruh, kental, gurih, menggiurkan. dan, sejak balig itulah Dirman kerap merajukku untuk bersama-sama mengangon kata, walau ketika aku menyanggupi, ia malah menangis. tangis yang pura-pura. tangis yang sebetulnya adalah tawa.

tapi, sejak ia berusia dua puluh tahunan, aku mulai resah dan menjauh dari Dirman. pasalnya, semua puisi yang kupelihara selama ini ternyata tertular derita Dirman: bermata satu, bertelinga satu, berbokong tiga, beranu sepertiga. “ah, kasihan!”.

Yogyakarta, 2012

Keterangan: puisi ini terinspirasi dari puisi Mardi Luhung berjudul Sungai Kembar. 

Senin, 12 Mei 2014

Mitos Pencinta Burung (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Solo Pos" dan “Harian Jogja” edisi Minggu, 4 Mei 2014)

Burung Gomi tidaklah menarik. Sayapnya gemar memberontak, bola matanya bulat lebar, dan kicaunya mematuki cakrawala. Hanya saja, ia mengantongi kelebihan yang enggan dimiliki satwa lainnya. Burung dengan paruh pendek dan kepala botak tersebut tercipta untuk dicintai Suhoi. Ya, jejaka penebar pesona yang mengantar jantung perempuan bergetar hebat jika memandangnya. Lelaki tampan yang saking tampannya pernah menolak cinta Aruh dan menyiksanya di kaki gunung Jirem.
Aruh tidak marah. Pun tidak kaget tatkala Suhoi berberat hati menerima perasaan Aruh. Suhoi—bujang gagah dengan senyum yang selalu menempel di gigi itu—memang pantas berbuat demikian. Yang ia sesali, mengapa Suhoi begitu tega menyabetkan cambuk Korsula di sekujur badannya hingga berlumuran darah. Dan sebab kebrutalan Suhoi itu, Aruh memasang kutukan: “Kau memang memikat, Suhoi. Tapi itu kurang berarti, karena dua puluh satu bulan ke depan ketampanan yang kau punya bakal membuat dirimu celaka.”
Pada waktu itulah, petualangan Suhoi dalam berburu cinta dimulai. Bunga lose rajin menertawakannya. Bukit Gemro melempar buah gunjingan untuknya. Segerombolan udara kompak mencibirnya. “Sungguh menyakitkan! Seorang manusia bermuka cahaya menaruh hati pada seekor burung. Buruk rupa pula.”
***
Itu pagi, Suhoi bermaksud menangkap burung Gomi di sebiji lembah yang dingin. Dengan bertelanjang dada, Suhoi melewati semak-belukar dan hutan Sette. Sesuai kebiasaan, burung Gomi baru akan bangun dari dengkurnya ketika matahari naik kira-kira sepenggalah. Suhoi harus berlari cepat atau ia akan kehilangan jejak buruannya. Suhoi bosan jika berulang kali terlambat dan hanya mendapati bulu-bulu kasar burung Gomi yang jatuh di peraduannya.
Mata Suhoi membelalak sempurna saat memergoki tempat burung Gomi nyata kosong. Lebih mengherankan lagi, kenapa ia tak menemukan sama sekali bulu burung Gomi. “Apakah ia berpindah tempat?” Desisnya.
Dengan amarah memuncak, Suhoi membabibuta dan meraung sekeras-kerasnya hingga aliran sungai Toba sekonyong-konyong berhenti. Tanaman Pyres tercenung menyimak polahnya.
Lambat laun, Suhoi tergerak berpikir. Harus berapa lama lagi ia mengejar burung Gomi. Sampai kapan jiwanya terlunta-lunta. Sedang, hingga saat itu, ia menenggak sembilan tahun, demi sekadar mendulangkan cinta pada burung Gomi. Alangkah nista, manusia menguber seekor burung yang fakir rasa. Acap kali ia membuang perasaan laknat tersebut. Anehnya, bukannya raib, justru berlipat ganda.
Sampai suatu saat, ia bermaksud menemui ahli nujum bernama Hiras. Dari renta berumur seabad lebih itulah, dulu kakeknya, Zondir, mampu mengetahui penyakit Bamess. Penyakit langka yang sebelumnya tiada suah menyentuh penduduk Joure itu mampu dikenali Hiras hanya dengan menjulurkan lidah. Sepemakan sirih kemudian, di dahi adiknya itu terpampang jelas nama orang yang sengaja mengirim jarum-jarum kecil ke perut Bamess. Ialah Gosrem, tetangga yang gemar mendermakan buah rohan usai mengetamnya dari ladang.  
Suhoi bergegas. Meski berjarak ribuan mil dari rumah, Suhoi tetap nekat. Berbekal kendi mungil berisi kehur—minuman yang biasa dibawa orang-orang Joure kala melancarkan perjalanan jauh—serta kantong memuat kalung emas, ia bersiap menuju Tubere—kota dimana Hiras tinggal.
Usai berjalan tiga hari dua malam, akhirnya sampailah ia di kediaman Hiras.
“Wahai Tuan, aku datang dari Joure. Aku sangat membutuhkanmu, Tuan.” Nafas Suhoi terengah-engah seperti dengus kijang yang dikejar macan.
“Aku cuma bawa ini, Tuan.” Sambil membuka kantongnya, Suhoi menyambung kalam: “Kalau Tuan bersedia menolong, aku akan memberikannya untuk Tuan. Ini adalah hadiah dari Morgup sebelum ia berpisah denganku.”
“Apa masalahmu, anak muda?” Sahut Hiras.
“Aku sendiri sebenarnya kurang mengerti, Tuan. Ya, Tuan. Aku sedang bingung. Ada apa dengan diriku? Ribuan perempuan mengharapkan cintaku. Namun, aku malah berpaling dari mereka dan menyukai burung Gomi, Tuan. Celakanya, burung yang suka tinggal di lembah dan mengutil buah rohan itu urung menerimaku sebagai kekasihnya. Aku sudah berusaha sekuat tenaga mencampakkan bayangannya. Anehnya, ia selalu datang dalam mimpi. Benar. Dalam mimpi, Tuan.”
“Apakah kau pernah menyaikiti perempuan, anak muda?”
Suhoi terkesiap. Tiada purbasangka sedetik pun, jika Hiras akan melontarkan pertanyaan itu. Katup mulut Suhoi tertutup rapat. Seakan-akan ada yang menahannya dari dalam. Sambil membolak-balik memori, ia melempar kata-kata sekenanya.
“Perempuan, Tuan?”
Ternyata bukan jawaban yang diulurkan Suhoi, namun pertanyaan baru. Pertanyaan yang digunakan sekadar menudungi kebimbangan.
“Ya, anak muda. Pernahkah kau menyakiti perempuan?”
“Hmmmm…..”
***
Sungguh, persyaratan yang luar biasa berat bagi Suhoi. Benar. Menggali maaf dari perempuan adalah sesuatu yang memalukan dan pantang dilaksanakan. Apakah Hiras belum mengerti, bahwa selama ini kaum Hawalah yang layak mengharap maaf darinya. Bukan sebaliknya. Namun, apalah daya. Demi mencabut kutukan Aruh, rela ia menunaikannya. 
Fajar buta, Suhoi pergi ke Xulleas—kampung yang dulu menampung Aruh. Di tengah perjalanan, Suhoi terlihat gelisah. Sangat gelisah. Entah mau ditaruh mana mukanya kala bertembung dengan Aruh. Jalannya merayap laksana siput yang baru melahirkan. Dengan harapan tiada lekas Suhoi hinggap di Xulleas.
Udara masih menggelar selimut. Surya belum menampakkan batang hidungnya. Dalam suasana cukup lengang, tiada yang sudi menemani Suhoi, kecuali segebok pertanyaan yang bergelantungan di kepala.
“Apa yang hendak Aruh lakukan saat berjumpa denganku? Bersediakah ia menerima maaf dari orang yang menyakitinya? Masihkah ia menyimpan perasaan itu?,” serta masih rimbun lagi pertanyaan lainnya.
Setiba di loka tujuan, Suhoi tercengang. Suasana dan tata ruang Xulleas berubah total. Tiada lagi pasar Nonu yang dulu terletak di sudut kampung. Tiada lagi bommbe—toko penyedia senjata yang biasa riuh di Minggu petang. Bola mata Suhoi hanya mendapati beberapa keadaan yang malas berubah: altar di sebelah utara sungai Syiir, balai kampung di jalur menuju jembatan Remah, dan tugu raksasa di pusat keramaian. Sedang rumah-rumah yang tergeletak dalam angan Suhoi lenyap. Dalam keadaan demikian, rasanya sulit sekali menemukan letak rumah Aruh.
Saat berjalan memirsa pemandangan, ia memindai pohon komu berdaun rindang. “Di sana. Ya, di dekat pohon itulah dulu Aruh tinggal.”
Hati Suhoi mengayuh gembira. Namun, ia agak heran ketika melihat rumah di balik pohon dengan ranting-ranting menjulang itu berbeda dengan rumah yang lampau Aruh diami.
“Barangkali rumahnya telah diperbaiki.” Segesit kilat, ia mengatasi keraguan.
“Nenek, benarkah ini rumah Aruh?.” Suhoi bersoal kepada perempuan usang yang tengah melanting seikat sayuran dari dalam rumah.
“Ada keperluan apa, Nak?”
“Ada hal penting yang mau kubicarakan dengannya, Nenek.”
“Maaf, Nak. Aruh meninggal dua tahun silam. Ia digigit ular vloria saat mencari kayu bakar.”
***
Usai mendengar penjelasan, Suhoi berpamit diri. Ia mesti menemukan kuburan Aruh. Kuburan yang dalam pikirannya ringan didapati. Kuburan yang di atasnya teronggok bunga sarukao dan nisannya berwarna hijau tua.
Suhoi berjalan gontai sambil menenangkan diri. “Kali ini, aku bakal menemukanmu, Aruh. Biarlah! Walaupun berupa mayat, aku tetap akan meminta maaf darimu.” Benak Suhoi melenguh. 
Namun apa yang terjadi? Suhoi mencerap kuburan yang ditujunya berantakan. Roqiu—si juru kunci—mewartakan bahwa tiga hari yang lalu, turun angin puting beliung yang memporakporandakan kuburan beserta isinya.
Suhoi tersungkur. Mustahil ia menemui tanda-tanda yang dijelaskan nenek tua. Tiada yang bisa ia perbuat, kecuali melanjutkan lagi pencariannya terhadap burung Gomi.
***
Burung Gomi kesal dengan ulah Suhoi. Betapa karena perbuatan dungunya, Suhoi telah merendahkan burung Gomi di kalangan spesiesnya. Ia dinilai menerap Suhoi jatuh cinta. Sebagian di antara kawanannya mengucilkannya. Mereka berdalih bahwa burung Gomi dituduh mencemarkan kehormatan nenek moyang yang bersumpah memusuhi manusia. Akibatnya, berbulan-bulan burung Gomi sukar tidur, hingga terbitlah sebutir rencana mengerikan: mengkhatami hidup Suhoi.
Burung Gomi mafhum bahwa Angin Timur adalah sosok pemarah serta mudah dihasut. Atas dasar itulah, suatu malam berkabut, burung Gomi mengundang Angin Timur ke rompoknya. Sesampai di sana, burung Gomi mengolah warta:
“Ketahuilah, Angin Timur. Usai mengejarku, Suhoi juga berencana menaklukkanmu.”
Belum genap merangkai buah tuturnya, burung Gomi diperintah diam. Angin Timur terperangah dengan wajah memerah. Kasih dari Angin Barat saja belum sempat ia wadahi. Kini, muncul lagi makhluk yang hendak mengincarnya. Makhluk yang seisi jagat raya mengecapnya gila—karena ingin bercinta dan hidup bersama dengan burung. “Sial. Aku mesti bertindak.” Pikirnya.
***
Kisah di atas kami pungut dari bibir Eyang. Selama ribuan tahun, mitos tersebut beralih tangan dari satu pencerita ke pencerita lainnya. Mitos tentang lakon cinta yang begitu dramatis sekaligus tragis. Itulah mengapa, hingga sekarang, berjuta-juta manusia memilih gurun Bellon selaku loka wisata paling diminati. Di sanalah berbaring Talduc—sejenis pohon mirip beringin. Ialah jelmaan Suhoi yang memungut sihir dari Angin Timur sebab termakan hasutan burung Gomi.


Yogyakarta, 2011

Wanita dan Komik (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Lampung Post" edisi Minggu, 27 April 2014)

Goenawan Mohammad (2005) menaruh sinisme terhadap perkembangan komik Indonesia. Ia menuding sejarah buku komik tanah air tidak pernah ditopang oleh serangkaian prasarana sosial-ekonomi. Barang tentu hal ini berbeda jauh dibanding Amerika Serikat. Geliat komik di sana sejak awal memang menunjukkan kabar menggembirakan. Tak ayal, melalui buku Setelah Revolusi Tak Ada Lagi, Goenawan mengklaim The Katzenjammer Kids sebagai ‘garansi’ bahwa tokoh satu seri komik dapat terus-menerus hadir sebagai bahan bacaan sampai selama 70 tahun di Negeri Paman Sam.    
Bagi saya, tudingan di atas memantik perenungan mendalam atas capaian para komikus Indonesia yang sering kali dipandang sebelah mata. Namun demikian, minimnya prasarana sosial-ekonomi tidak lantas membuat para komikus kita rendah diri. Buktinya, sejumlah karya lahir di tengah keterbatasan, bahkan termasyhur dan menjadi bahan perbincangan oleh para akademisi serta seniman dalam negeri. Tak jarang, atensi pun berasal dari luar. Semisal Marcel Bonnef, seorang berkebangsaan Prancis, yang mengangkat komik Indonesia sebagai tema penelitiannya. Sedemikian pentingnya, disertasi yang berhasil dipertahankan pada 1972 tersebut diterbitkan dan beberapa tahun selanjutnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Si Buta dari Gua Hantu (Ganes TH), Sebuah Noda Hitam (Jan Mintaraga), Si Put On (Kho Wan Gie), Buku Harian Monita (Sim Kim Toh), Gundala Putra Petir (Harya Suryaminata), Sri Asih (RA. Kosasih), dan Setitik Air Mata buat Peter (Zaldy Armendaris) merepresentasikan fakta bahwa ‘buah tangan’ para komikus kita sanggup membungkam keraguan. Di tengah gempuran pesimisme, komik-komik tersebut berhasil menyajikan riwayat kesuksesan.
Sayang dalam perkembangannya, terdapat indikasi kuat bahwa komik Indonesia sedang mati suri sebab komikus-komikus generasi baru tidak mewarisi tongkat estafet keberhasilan para pendahulu mereka. Kondisi ini diperparah oleh kurangnya infrastruktur, sehingga industri komik berjalan tersendat-sendat. Atas dasar itulah, demi membendung gejala yang lebih akut, muncullah gerakan tokoh-tokoh wanita yang menaruh passion pada komik. Mereka berusaha sekuat tenaga agar karya komikus-komikus Indonesia tetap berumur panjang.
Pertama, Rahayu Surtiati. Wanita yang pernah menjadi dosen Fakultas Sastra Prancis Universitas Indonesia (UI) ini menggagas berdirinya Kajian Komik Indonesia (KKI) pada awal 1990an. Beberapa kali seminar dan diskusi yang digelar dengan menghadirkan sejumlah panelis antara lain Rudy Badil, Ishadi SK, Moerti Bunata, dan Arswendo Atmowiloto telah mencoba melihat sejauh mana nasib komik di masa lalu serta harapan di masa datang. Rahayu percaya bahwa selain menghibur komik juga berfungsi sebagai penyampai pesan. Komik memerankan diri selaku agen komunikasi dalam masyarakat. Boleh dibilang, apa yang dilakukan Rahayu setali tiga uang dengan pernyataan Marcel Bonnef (2008: 18) bahwa “komik merupakan salah satu karya sastra yang ampuh dalam menyebarkan gagasan.”
Kedua, Edi Sedyawati. Atas prakarsa wanita inilah untuk pertama kalinya komik disayembarakan oleh pemerintah melalui Direktur Jenderal Kebudayaan Departemen dan Kebudayaan (Depdikbud). Ia juga dinilai sebagai tokoh yang berani menelurkan gebrakan terhadap perkembangan komik tanah air. Dengan beragam upaya, ia bermaksud meningkatkan harga diri komik dengan cara mempublikasikannya ke masyarakat luas. Ia menganggap komik sangat layak diperjuangkan dalam Kongres Kesenian Nasional 1995. Langkah taktis yang dilakukan demi kemajuan komik adalah beraudiensi dengan Presiden Soeharto di Istana Negara. Setelah itu, ia merangkul Dwi Koendoro untuk bersama-sama merancang pekan komik nasional. Hasilnya, pekan komik nasional untuk kali pertama di Indonesia terselenggara pada Februari 1998 (Dwi Koendoro, 2007: 55). Tak salah bila Edi didaulat sebagai pencetus Hari Komik dan Animasi Indonesia.  
Ketiga, Vivian Wijaya atau Vee, satu-satunya mangaka (pembuat manga) asal Indonesia yang karyanya tiap bulan menghiasi koran Jepang. Wanita yang didapuk menjadi asisten Kenjiro Hata yang terkenal dengan karya Hayate The Combat Butler tersebut meresahkan kondisi tragis-melankolis yang dialami komik-komik Indonesia. Ia pun menaruh perhatian khusus terhadap kemunduran komik tanah air.  
Berbeda dengan Rahayu Surtiati dan Edi Sedyawati yang berhasrat mengembalikan kejayaan komik Indonesia masa silam dengan ciri asli dan local wisdom-nya, Vee gencar mempromosikan ‘produk lokal’ berbalut unsur Jepang dengan mendirikan sekolah komik di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Berdiri sejak Oktober 2012, sekolah ini genap diikuti oleh banyak siswa baik domestik maupun mancanegara, seperti Jerman dan Australia. Dengan sekolah ini, alumnus Royal College Surgeon of Irlandia tersebut berharap agar ke depannya, komik Indonesia mampu bersaing dengan komik-komik luar. Menurut saya, hal ini bisa dipandang sebagai solusi (atau alternatif?) merangkul konsumen, sehingga karya komikus Indonesia mampu bersaing dan beradaptasi dengan pasar. Lebih dari itu, langkah ini merupakan upaya agar komik-komik dalam negeri memiliki gaung dan citra eksklusif.
Apa yang dilakukan baik oleh Rahayu Surtiati, Edi Sedyawati maupun Vivian Wijaya termasuk bagian dari agenda besar mempertahankan identitas kebangsaan. Sebuah identitas yang layak dijaga guna menjauhi cengkeraman kaum pengusung kapitalisme-materialistis juga oknum oportunis-pragmatis yang rentan menyelundupkan nilai-nilai perusak jiwa generasi bangsa. Dalam tataran tertentu, ikhtiar tersebut tergolong dalam strategi kebudayaan di mana akhir-akhir ini implementasinya pasang surut sebab mengalami pendefinisan ulang.
Gerakan ketiga tokoh wanita ini patut mendapat apresiasi. Mereka menawarkan semangat nasionalisme melalui ‘komikisasi’, aksi menjadikan komik sebagai ikon antusiasme sekaligus perlawanan: antusiasme memelihara warisan budaya bangsa sekaligus perlawanan menyapu bersih isme-isme destruktif yang tengah membanjiri masyarakat kita lewat beragam media.
Demikianlah secuplik perjuangan tokoh-tokoh wanita, demi menjaga martabat komik Indonesia. Maka, adakah di antara kalian, wahai para wanita, yang mendaftarkan diri sebagai pembela komik tanah air agar memiliki taji dan selalu disegani?


Yogyakarta, 2014

Kamis, 13 Maret 2014

Puisi Menyihir Sahabat Nabi (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Koran Merapi" edisi Minggu, 2 Maret 2014)

Dalam taraf tertentu, puisi bisa menjelma semacam sihir yang membuaikan. Ia sanggup membuat manusia terlena dengan kata-kata yang dihidangkan, imajinasi yang memesonakan, ilustrasi yang menghanyutkan, juga dunia baru yang menjanjikan. Akhirnya, puisi menjadi candu bagi mereka yang terbelenggu kehidupan duniawi dan mengkhayalkan keindahan surgawi.
Oleh dasar itulah, pada zaman Arab Jahiliyah, banyak orang terpana ketika seorang penyair mendeklamasikan sebuah puisi. Terlebih lagi, apabila puisi tersebut sengaja diperuntukkan bagi mereka. Sebagaimana halnya saat Zuhair Ibn Abi Sulma menyanjung kebesaran dan keagungan Haram Ibn Sinan. Bermodal kata-kata, Zuhair dengan lihai menggambarkan kehebatan dan kemuliaan pembesar negara tersebut. Saking gembiranya, Haram memberikan hadiah kepada Zuhair atas karya ciptaannya. Hal yang tak mengherankan, mengingat mayoritas ahli sastra Arab berpendapat bahwa puisi Zuhair Ibn Abi Sulma mengantongi beberapa kelebihan, semisal: singkat, padat, dengan bahasa mudah dicerna; melanting pujian sesuai dengan keadaan sebenarnya; serta tidak bersifat cabul. Selain itu, Kamal Yusuf (2009) mencatat, bahwa Zuhair dikenal sebagai penyair hikmah, yang puisi-puisinya memuat ajakan dan anjuran menuju kebaikan.
Bahkan Labid Ibn Rabiah, yang dianugerahi usia panjang serta suatu saat memeluk Islam, ketika masih kecil mampu membuat tercengang seorang penyair masyhur. Peristiwa ini menunjukkan bahwa bakat kepenyairannya sudah terendus sebelum memasuki usia dewasa. Sebuah riwayat menyebutkan, Labid pernah berjumpa dengan Nabighah dalam suatu majelis. Nabighah, penyair tersohor waktu itu, memperhatikannya. Ketika Nabighah mengatakan bahwa dalam diri Labid terpendam bakat puisi, spontan anak kecil tersebut berpuisi dengan baik. Nabighah menaruh takjub dan berkata bahwa Labid kelak menjadi penyair besar suku Qias. Prediksi itu terbukti dengan didaulatnya Labid sebagai salah seorang penyair yang sangat disegani.
Begitu pula ketika masyarakat Arab menghayati puisi-puisi gubahan Imru’ul Qais, Nabighah Zibyani, A’sya Ibn Qais, Amr Ibn Kaltsum, Tharfah Ibn ‘Abd, Al-Haris ibn Hilza, Abid al-Abros al-Asadi, juga Khansa’ yang bernama lengkap Tumadir bintu Amrin as-Syarib. Bagi mereka, puisi-puisi yang ditulis penyair-penyair di atas sanggup menyajikan ramuan yang menyebabkan orang mabuk kepayang.
Tidak berhenti pada masyarakat Arab pada umumnya, daya tenung puisi ternyata juga menyerang para sahabat Nabi. Sebut saja Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib. Adonis, melalui buku Ats-tsabit wa al-Mutahawwil: Bahts fi al-Itba ‘inda al-Arab yang diterjemahkan dengan Arkeologi Sejarah-Pemikiran Arab-Islam (LKiS, 2012), mengungkapkan bahwa Umar suatu hari mendengar puisi elegi karangan Mutammam bin Nuwairah terhadap saudaranya Malik. Pada waktu itu, Umar langsung terpikat dan memohon kepada Mutammam, “sungguh aku menginginkan engkau membuat puisi elegi untuk saudaraku seperti halnya kamu membuat puisi elegi untuk saudaramu”. Sesaat setelah Mutammam memenuhi permintaan untuk menulis puisi dukacita, Umar berkomentar, “tak seorang pun yang memberikan pelipur lara kepadaku seperti halnya yang ia berikan.”
Umar juga merasa kagum terhadap Zuhair Ibn Abi Sulma yang selalu berhasil memikat pembaca atau pendengar melalui puisi. Dua puisi berikut ini adalah contohnya:
Walau anna hamdan yukhlidu an-nasa akhladu #
                                                   Walakin hamdu an-nasi laisa bimukhlidin
(Andai pujian dapat mengabadikan manusia, mereka pasti mengabadikannya #
Akan tetapi, pujian terhadap mereka tidaklah membuat abadi)
Wa inna al-haqqa muqthi’uhu tsalatsun #
                                                   Yaminun au nafarun au jalaun
(Sesungguhnya kebenaran itu diputuskan dengan tiga hal #
Sumpah, memperkarakan atau mencari kejelasan)
Untuk puisi terakhir, sampai-sampai Umar menyempatkan diri untuk mengulang-ulang baitnya, sebagai rasa kagum atas pengetahuan Zuhair tentang kebenaran.
Adapun Ali bin Abi Thalib dalam menyikapi puisi, sebuah riwayat menuturkan bahwa suatu hari suami Fatimah tersebut ditanya mengenai siapa orang yang paling pandai dalam membuat ilustrasi. Lantas Ali menjawab bahwa orang tersebut adalah Abu Mihjan dengan ucapannya, “janganlah kamu (perempuan) bertanya kepada orang lain tentang hartaku dan berapa banyaknya”. Kalimat singkat ini begitu membekas dalam diri Ali. Sebab kekagumannya itulah, Ali berpendapat bahwa Abu Mihjan merupakan seseorang yang memiliki kelihaian dalam merangkai ilustrasi yang indah, didukung dengan tepatnya pernyataan.
Dari gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa sahabat Nabi pun merasa teror puisi ternyata dapat ‘menghantui’ jiwa manusia, sehingga menyelundupkan kritik, pencerahan, atau sekadar celoteh yang perlu ditularkan. Namun demikian, yang perlu dicatat yaitu tidak setiap puisi mampu menjalankan fungsi tersebut dengan baik. Barang tentu puisi para penyair matang yang rajin berpikir, berkontemplasi, merenung di atas riak-riak kehidupan. Pun tidak semua orang bisa tertimpa sihir puisi, kecuali mereka yang bersih pikirannya juga jernih perasaannya. Semoga kita bukan tergolong orang yang terlanjur mengidap “gila”. 

Yogyakarta, 2013

Puisi_Riza Multazam Luthfy (Terbit di majalah "Kalimas" edisi Januari-Fabruari 2014)

Kepala Sakti

tukang babat itu
tak pernah menghitung
berapa helai bulu
yang telah dipancung

setiap kali beraksi
ia hanya mengingat
bentuk kepala
tak sudi lihat wajah empunya

suatu hari
ada pelanggan istimewa

“kok aneh,
beda dengan kepala biasanya”

dengan memegang gunting
ia siap mengakhiri
riwayat bulu-bulu
yang sedang menunggu

setelah dua jam
tak ada perubahan

si kepala besar
tambah besar kepala
pasalnya,
bulunya kebal senjata

setelah ditelusuri,
ternyata banyak
utang luar negeri
yang diganyang sendiri

“pantas kepalanya sakti
sudah berulang kali
ia masuk bui”

Malang, 2010


Penentuan

kata,
kalau berani
ambil pisaumu

kita
selesaikan
di sini

agar
semua tahu
: siapa yang
dipinang oleh
 - puisi -

Malang, 2010


Kerja Baru

karena sudah
lama nganggur
aku ingin bekerja
padamu, bu!
           
            mengawasi burung ayah
            yang manggung
            di luar rumah

Malang, 2010


Sabtu, 01 Maret 2014

33 Angka Keramat? (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Republika" edisi Minggu, 23 Februari 2014)

Sebagian di antara kita percaya bahwa munculnya angka tidak berdiri sendiri. Dalam situasi dan kondisi tertentu, angka selalu berhubungan dengan hal-hal yang berada di sekitar. Dalam setiap fakta dan peristiwa, angka menjadi nilai, faktor, atau bahkan unsur yang sangat menentukan. Tak ayal, dalam perjalanannya, angka diklaim sebagai penyangga sistem, tradisi, atau kepercayaan yang turun-temurun.
Begitu besarnya perhatian terhadap angka, lahirlah numerologi, yang didefinisikan oleh Muharram H (2009) sebagai “ilmu pengetahuan yang didasarkan pada sudut pandang bahwa seluruh alam raya ini bergerak teratur menurut perhitungan tertentu, yang bisa dieksplorasikan dengan angka-angka”.

Malapetaka
Para numerolog berpendapat bahwa di balik kabar suka maupun nestapa tersimpan angka. Saat manusia merajut tali kebahagiaan ataupun sedang memeluk mesra penderitaan, angka bersembunyi di belakangnya. Namun demikian, yang kerap mengundang pergunjingan adalah ketika angka dituduh sebagai biang keladi atau kambing hitam atas kesedihan dan kepedihan yang berlarat-larat. Untuk hal ini, menurut saya, 33 menjadi contoh yang bagus sekaligus representatif. 
Angka 33 berhubungan dengan penderitaan dan nasib tragis umat manusia. Sebagaimana diramalkan oleh Jayabaya, tiga jaman akan dilalui oleh manusia (Kaliyuga, Kalisengara, serta Kalabendhu), yang berlangsung selama 33 tahun. Pada Jaman Kaliyuga, banyak orang pontang panting, susah, berpindah mukim, berjuang melawan bengisnya hidup serta terus menerus tertimpa kesengsaraan. Pada Jaman Kalisengara, orang-orang kebingungan, kesepian, negara kehilangan kewibawaan, para gadis kehilangan kehormatan, para lelaki kehilangan kekuasaan, ajaran kebaikan diabaikan, digenapi dengan pemandangan yang penuh iba. Adapun Jaman Kalabendhu diawali dengan bumi bergoncang, lautan bergelora, hujan salah musim, banjir bandang, tanah longsor, orang melupakan saudara sendiri, orang tua melupakan anak, begitu pula sebaliknya.
Mengenai hal ini, Arwan Tuti Artha, dalam buku Laku Spiritual Sultan; Langkah Raja Jawa Menuju Istana (Galangpress, 2009: 159) menyebutkan: “Jika membuka Serat Centhini, tarikh Masehi terbagi menjadi tiga zaman besar dalam kurun tujuh ratus tahunan untuk kemudian seratus tahunan dibagi lagi menjadi tiga 33 tahunan. Dengan pembagian tahun hanya tiga kali tujuh ratus tahunan, Jayabaya seolah-olah meramalkan, akhir zaman akan terjadi pada abad ke-21 ini.”
Peristiwa berdarah yang memenuhi buku-buku sejarah juga bersinggungan dengan 33. Di antaranya yaitu pembunuhan Presiden Amerika Serikat ke-35, John F. Kennedy. Sebagaimana dicuplik dalam berbagai diskusi dan blog pribadi, James Shelby Downard (1913-1998) yang menulis sebuah artikel bertajuk “Sorcery, Sex, Assassination and the Science of Symbolism” mencoba memberikan analisa mengenai kaitan antara kasus pembunuhan John F. Kennedy yang terjadi pada 22 November 1963 dengan letak geografis seputar pembunuhan tersebut. Ia berkesimpulan bahwa presiden yang mengawali kuliahnya di Harvard College itu tertembak ketika berada dalam limousin di Elm Street, Dallas, sebuah kota yang berada di dekat 33 Lintang Utara.
Bagi Anda, para pelahap gosip, barang tentu mafhum bahwa aktor dan produser film yang genap memenangkan tiga kali penghargaan Golden Globe Award, Tom Cruise, menduga bahwa 33 adalah wujud kesialan dalam hidupnya. Bagaimana tidak, bahtera rumah tangga yang diarungi sebanyak 3 kali ternyata harus berakhir kandas berhubungan dengan 33. Baginya, barangkali bukan sebuah kebetulan, jika robohnya fondasi kebahagian yang telah ia bangun dengan segenap usaha dan cinta selalu memiliki keterkaitan dengan angka tersebut. Baik aktris Mimi Rogers (dinikahi tahun 1987), aktris Nicole Kidman (dinikahi tahun 1990), maupun aktris Katie Holmes (dinikahi tahun 2006), bercerai dengan Tom Cruise dalam usia yang sama: 33 tahun!
Angka 33 memberikan kenangan pahit dan suram bagi perjalanan hidup salah satu aktor tersukses di Hollywood yang memulai karier aktingnya sejak era 1980an tersebut. Sepertinya, demi sekadar meraih puncak kebahagian dalam ikatan keluarga, ia harus berjuang melawan kesialan yang ditimpakan angka 33. Dunia boleh berseloroh bahwa ia tersohor lewat peran-peran suksesnya dalam film Risky Business (1983), Top Gun (1986), Mission: Impossible (1996), Mission: Impossible II (2000), Mission: Impossible III (2006), Jerry Maguire (1996), Vanilla Sky (2001), The Last Samurai (2003), War of the Worlds (2005) juga dalam Mission: Impossible IV (2012). Akan tetapi, kegagalan dalam rumah tangga seakan meruntuhkan kesempurnaan akting serta sejumlah capaian besarnya.

Numerologi
Akhir-akhir ini, banyak yang merasa was-was dengan pemberitaan media. Bukan hanya terhadap penyanyi dangdut yang digadang sebagai kandidat presiden sebuah partai, Ratu Atut yang mulai kisruh di penjara, atau Anas yang menyerahkan diri ke KPK, tetapi juga buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh" yang belum lama ini diluncurkan namun mengalami beragam penolakan.
Publik sastra yang tidak setuju dan merasa terganggu dengan penerbitan buku tersebut beramai-ramai meluncurkan petisi yang di antaranya berisi: pertama, buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh" harus dicabut dari peredaran. Kedua, anggota Tim 8 sebagai penyusun dan kurator (Maman S Mahayana, Agus R Sarjono, Acep Zamzam Noor, Jamal D Rahman, Joni Ariadinata, Nenden Lilis A, Berthold Damhuser, dan Ahmad Gaus) harus meminta maaf secara terbuka kepada bangsa Indonesia. Tuntutan ini merupakan bentuk perlawanan terhadap kejahatan literasi berwujud "kebohongan menyesatkan" dengan menempatkan Denny JA, sebagai "Tokoh Sastra Paling Berpengaruh" di Indonesia.
Bagi mereka, Denny JA tidak memiliki kontribusi penting terhadap perkembangan sastra Indonesia. Ia sekadar menggemborkan puisi-esai, kerap mengadakan perlombaan bertabur hadiah, serta rajin mempublikasikan eksistensi dengan cara merangkul para sastrawan dan kritikus sastra yang bisa dibeli. Padahal, sebenarnya masih banyak sastrawan bernas yang belum ter-cover dalam buku ini. Misalnya Sitor Situmorang, Umar kayam, juga Ahmad Tohari.
Saya sih tak perlu pusing dengan sibuk menuding bahwa peristiwa miris di atas merupakan hasil rekayasa sosial, politisasi, ataupun imbas berkepanjangan dari “demokrasi wani piro”. Saya juga tidak mungkin memprediksi angka 33 dalam judul buku rentan memancing musibah besar dalam jagat sastra Indonesia. Saya hanya menerka: Tim 8 sedang memanjatkan doa agar 33 sastrawan yang didaulat sebagai tokoh sastra paling berpengaruh—termasuk Denny JA barang tentu—kelak menikmati surga tanpa harus direcoki masa tua. Anda tahu, menurut Al-Ghazali, penghuni surga selalu berusia 33.

Yogyakarta, 2014

Selasa, 04 Februari 2014

Geliat Sastra dalam Tubuh Negara (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Lampung Post" edisi Minggu, 2 Februari 2014)

Sering kali, hubungan antara sastra dengan negara berada dalam kondisi yang akut. Kondisi di mana di dalamnya berhamburan benang-benang kusut. Kondisi yang terkesan hampa dari sehelai tawa, namun riuh dan gaduh dengan percikan air mata.
Sejarah berkoar, bahwa dalam beberapa dasawarsa, negara kita memperlakukan sastra tidak dengan semestinya. Negara melihat sastra dalam pandangan picik serta hati yang buta. Negara menaruh kecurigaan yang berlebihan terhadap sastra, dengan menganggapnya sebagai antek berbahaya. Tak ayal, para abdi negara mengantongi ‘tugas mulia’ untuk membumihanguskan segala hal yang berkaitan dengan sastra. Buku-buku dibakar, pementasan naskah drama dipaksa bubar, para penyair diculik, dibuang, diasingkan, atau dihabisi dengan kejam. Segenap upaya ditempuh demi membendung kemapanan sastra. Segala cara dijalankan guna menghalangi sastra, agar terhindar dari masa pertumbuhan, kemajuan, bahkan kejayaan.
Kebengisan negara terhadap sastra dari satu masa ke masa lainnya mengalami pasang surut. Hal ini mengakibatkan tingkat keakutan hubungan antara sastra dan negara selalu menunjukkan perbedaan. Jika dicermati, perbedaan tersebut tidak bisa terlepas dari profil siapa yang sedang menggenggam kekuasaan. Seberapa besar rasa benci penguasa terhadap sastra, sebesar itu pula perlakuan kasar yang ditunjukkan oleh negara. Jadilah negara sebagai sarana paling tepat dalam menelikung perjalanan sastra. Negara yang semestinya menjadi pemelihara serta pengembangbiak nilai-nilai kebudayaan—antara lain dengan memperkuat eksistensi sastra—malah dimanfaatkan untuk menuruti hasrat dan nafsu penguasa belaka. Sastra yang dibekali daya vitalitas tinggi dalam rangka mengokohkan nation building, ternyata justru mendapat tempat yang kurang layak, bahkan cenderung terkucil. Parahnya, dalam beberapa kasus, sastra dituduh selaku kambing hitam dalam melancarkan kudeta, mengincar posisi strategis penguasa. Dengan alasan inilah, akhirnya sastra didapuk menjadi musuh utama bagi negara.

Penguasa Versus Pemeluk Sastra
Dibanding beberapa kelompok masyarakat lain dalam negara, sastrawan dikenal sebagai pemeluk sastra paling teguh. Melalui sastra, kaum sastrawan begitu genit dan cerewet mengomentari berbagai ketimpangan sosial. Bermodal pena, para sastrawan melontarkan kritik pedas terhadap perilaku penguasa yang semena-mena. Imbasnya, penguasa menjadi gerah dan bermaksud menindaklanjuti dengan jalan menghalau atau bahkan menghentikan aksi mereka. Di antara langkah kongkrit yang diambil yaitu membekukan aktifitas sastrawan serta menerbitkan larangan terhadap ‘buah tangan’ mereka yang dinilai melawan arus pemikiran.
Saat tampuk kekuasaan di genggaman Orde Lama, khalayak tidak diperbolehkan mengkonsumsi tulisan-tulisan sastrawan. Diduga membawa pesan-pesan yang bertolak belakang dengan kemauan penguasa, karya mereka dilarang beredar di pasaran. 
Hamka mengunyah penderitaan berlarat-larat lantaran karya-karyanya sengaja dijauhkan dari masyarakat. Hal itu terjadi setelah ia diduga berencana membunuh Soekarno dan sejumlah menteri. Padahal, sebelumnya, ia dipaksa menginap dua tahun  di bui, meskipun kesalahannya tidak pernah terbukti.
Selain karya, perlakuan buruk penguasa juga merambah pada jabatan. Sastrawan-sastrawan yang bekerja di lembaga pemerintah digusur dari jabatannya, sebagai buntut dari terbitnya larangan resmi Presiden Soekarno terhadap Manikebu (Manifes Kebudayaan) pada tanggal 8 Mei 1964. Sebut saja Wiratmo Soekito yang diusir dari Radio Republik Indonesia dan HB. Jassin yang kehilangan kedudukannya selaku dosen di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Padahal, tanpa mengawat jabatan tertentu, sastrawan merasa kesulitan untuk menyumbangkan pemikiran. Pasalnya, media kurang berani menampung tulisan mereka demi menghindar dari demonstrasi massa kelompok kiri. Atau kalaupun dimuat, harus mencantumkan nama samaran. (Arief Budiman, 2006: 340)
Ketika kekuasaan beralih tangan ke Orde Baru, nyaris saja nasib sastrawan berada di ujung tanduk. Penguasa memperlakukan sastrawan lebih buruk dari sebelumnya. Merasa dirongrong oleh teriakan-teriakan sastrawan, penguasa berusaha semaksimal mungkin untuk membungkam. Dalam hal ini, WS. Rendra menjadi salah seorang saksi atas kebuasan penguasa pada waktu itu.
Harry Aveling (2001) menyebutkan, ketika WS. Rendra menggelar pembacaan puisi di TIM pada Mei 1978, ketika itu pula sebuah bom meledak. Ia pun ditangkap dan dijebloskan ke penjara atas dasar bahwa aktivitasnya diyakini telah menggencarkan provokasi politik. Tiga bulan setelahnya, Si Burung Merak dibebaskan karena penahanan tersebut bertentangan dengan undang-undang kolonial Belanda. Meskipun demikian, ia segera ditetapkan sebagai tahanan kota sampai bulan Oktober, kala semua tuduhan atas dirinya dibatalkan. Akan tetapi, atas beragam pertimbangan yang kurang masuk akal, ia dilarang sepenuhnya untuk mengadakan pertunjukan karya hingga bulan November 1985.
Pada dekade berikutnya, penyair semisal Linus Suryadi Ag. dan Emha Ainun Najib juga mengetam perlakuan serupa, ketika bermaksud membacakan puisi di depan publik. Penguasa sempat melarang Linus Suryadi Ag. yang ingin sekali merapal puisinya “Maria dari Magdala”, sebab dikhawatirkan dapat menimbulkan ketegangan orang-orang Protestan dan Katolik. Padahal puisi tersebut sebelumnya pernah terbit di majalah Hidup yang diedit oleh seorang imam. Adapun Emha Ainun Najib, ia mendapat kesukaran mengantongi izin untuk menggelar karyanya, dikarenakan adanya kekhawatiran penguasa terhadap efek kata-kata pada massa yang cukup luas.
Mengutip Jurnal Ilmu Sastra dan Budaya, Susastra 4 (2006: 141), penderitaan lahir dan batin harus ditelan oleh Pramoedya Ananta Toer ketika menghirup udara bui selama 14 tahun sebagai tahanan politik sejak 13 Oktober 1965 hingga 21 Desember 1979. Barang tentu apa yang dilakukan penguasa Orde Baru terhadap kandidat nobelis beberapa kali tersebut sangat jauh berbeda dengan penguasa-penguasa sebelumnya. Belanda menahannya 3 tahun, sedangkan Orde Lama memenjarakannya hanya 1 tahun. Sungguhpun demikian, sewaktu bermukim di Pulau Buru (1969-1979), Pram masih sanggup mengolah imajinasi dan intuisi dengan menghasilkan masterpiece-nya, tetralogi Bumi Manusia, yang semula lahir dari cerita lisan yang disampaikan kepada teman-temannya. 
Ketakutan penguasa pada kekuatan kata-kata Pram merupakan di antara latar belakang mengapa Orde Baru mengurungnya begitu lama. Hal tersebut menjadi lebih kentara saat disembunyikannya mesin ketik kiriman Jean Paul Sartre, sastrawan terkenal Prancis, yang seharusnya bisa dipakai Pram dalam ‘rumah derita’.

Mempertahankan Posisi Ideal
Memperhatikan perlakuan penguasa terhadap para sastrawan, baik Orde Lama maupun Orde Baru, dapat kita petik pelajaran berharga. Pelajaran bagaimana kaum sastrawan memperjuangkan hak-hak rakyat yang dirampas membabibuta. Pelajaran mengenai kegigihan sastrawan dalam membela orang-orang tak berdaya. Pelajaran tentang keberanian sastrawan menegakkan fondasi kebenaran, meskipun ditebus dengan cara menyakitkan.
Bila diperhatikan secara seksama, apa yang dilontarkan sastrawan, baik melalui lisan ataupun tulisan, merupakan kritik membangun bagi pribadi penguasa. Dengan kritik tersebut, diharapkan penguasa dapat berbenah diri dan mengadakan evaluasi. Dengan demikian, sudah seharusnya penguasa berterima kasih kepada mereka, bukannya naik darah dengan membelalakkan mata dan berpanas telinga.
Oleh karena itu, di masa sekarang maupun mendatang, kritik dari para sastrawan terhadap penguasa seyogyanya disikapi dengan arif dan bijak. Bagaimana pun juga, suara sumbang dari mulut sastrawan adalah suara yang menyembul dari hati nurani terdalam. Menghukum sastrawan dengan keji atau membabat habis karya mereka bukan pilihan tepat dalam rangka meningkatkan iklim bernegara, bahkan sebaliknya, dapat mengubur hidup-hidup peradaban bangsa. 
Sikap sastrawan yang berkacak pinggang di hadapan penguasa, karena selalu memberontak status quo, perlu dipertahankan. Sastrawan adalah kaum oposisi, yang bertugas mengkritisi kebijakan penguasa. Segala ketentuan penguasa yang melanggar norma dan etika kemanusiaan patut diluruskan. Jika penguasa enggan diingatkan, dalam diri sastrawan hanya ada satu kata, “lawan!”—mengutip kata-kata penyair Wiji Thukul.
Negara besar adalah negara yang menghargai dan menjunjung tinggi berbagai perbedaan, bukan yang menghendaki keseragaman. Mochtar Lubis (1995: 7) mengatakan bahwa kemajuan bangsa hanya dapat didorong dalam iklim kebebasan kebudayaan yang baik, di mana daya cipta setiap anggota masyarakat—termasuk sastrawan—dibiarkan berkembang. Pandangan yang ganjil dan mungkin pula bertentangan merupakan unsur vital bagi munculnya pemikiran-pemikiran yang matang mengenai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.


Yogyakarta, 2012