Minggu, 18 Oktober 2015

Narasi dan Reputasi Sarung (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Republika" edisi Minggu, 18 Oktober 2015)

Berasal dari Yaman dengan sebutan futah, sarung menyebar hingga Semenanjung ArabAsia Selatan, Asia Tenggara, Afrika, Amerika, dan Eropa. Dibawa para saudagar Arab dan Gujaratsarung pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke 14Dalam perkembangannya, sarung identik dengan kebudayaan Islam. Itulah mengapa, sarung di antara ciri khas masyarakat Muslim Indonesia.
Meskipun demikian, sesungguhnya pemakaian sarung tidak terbatas pada komunitas tertentu. Suku-suku di berbagai belahan dunia terbukti menggunakan sarung dalam kehidupan sehari-hari. Kain yang berbahan katun, poliester, atau sutera tersebut bisa dimanfaatkan saat santai maupun resmi. Ini berarti, sarung sanggup melewati batas teritorial, sosial dan etnik. Di Indonesia, warna, pola, serta motif yang lebih beragam pada sarung berangkat dari asimilasi budaya sepanjang daerah pesisir. Aneka corak menunjukkan terjadinya peleburan antara desain Islam, Jawa, China dan Indo-Eropa. Maka, orang tak perlu menyangkal konsep Islam Nusantara, jika mengetahui sejarah sarung. 
Sarung menyajikan sejumlah narasi. Dari yang sederhana hingga paling luks sekalipun. Narasi-narasi tersebut berkembang seiring dengan laju perjalanan kehidupan manusia yang semakin kencang. Berjalannya waktu membuktikan penggunaan sarung kian meluas. Sarung tidak sekadar pelindung tubuh. Lebih dari itu, ia telah dilegitimasi menjadi identitas agama hingga pemberontakan budaya.

Reputasi
Saat kolonialisme merongrong Indonesia, sarung mewakili simbol perjuangan melawan budaya Barat. Para santri menggunakan sarung sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya yang dibawa penjajah Belanda. Tak ayal, sejarah menyematkan sebutan “kaum bersarung” bagi mereka. 
Sarung menjadi sarana kaum santri mengekspresikan gejolak batin dan perlawanan terhadap kultur kolonial yang dominan. Dengan mengenakannya, mereka berharap agar imperialisme dan kolonialisme bisa hengkang dari bumi pertiwi.
Sejumlah data juga menunjukkan kaum nasionalis dan aktivis kemerdekaan memakai sarung dalam mengemban tugas kenegaraan. Bagi mereka, sarung tidak hanya berfungsi untuk aktivitas ritual, melainkan juga seremonial. Suatu ketika, Presiden Soekarno mengundang Abdul Wahab ke istana Negara. Protokol kepresidenan memintanya berpakaian resmi dengan setelan jas, dasi, dan celana panjang. Anehnya, saat menghadiri upacara kenegaraan, tokoh sentral NU tersebut justru mengenakan jas dengan bawahan sarung.
Di berbagai kesempatan, Abdul Wahab menunjukkan urgensi sarung sebagai warisan budaya dan identitas nasionalisme. Abdul Wahab mempertahankan konsitensinya menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa. Perjuangannya membawa hasil. Sarung menjadi lambang kehormatan dan kesopanan dalam upacara-upacara sakral di tanah air.
            Derajat sarung pernah merosot saat muncul pandangan negatif terhadap Muslim tradisional. Tuduhan anti-kemajuan berimbas pada sarung. Ia mewakili mereka yang dianggap puritan, ortodoks, konservatif, dan terbelakang. Sarung melambangkan peradaban umat manusia yang kian mundur.
Saat Gus Dur menapaki kursi kepresidenan, sarung menjadi ikon santri yang ikut melambung. Reputasi sarung terangkat. Ia bukan lagi representasi kemunduran, melainkan kedekatan presiden dengan rakyat. Sarung memicu harmonisasi penguasa-yang dikuasai. Ia menegasikan otoritarianisme dan militerisme yang sejak dulu ditampilkan para pemimpin. Sarung membuat hubungan pemberi kuasa-pengemban amanat menjadi hangat. Citra sarung meningkat. 

Inspirasi
Fakta berkoar bahwa dalam sarung terkandung kekuatan besar yang tak bisa dipandang sebelah mata. Itulah mengapa, bagi para sastrawan, sering kali sarung menjadi pemantik atas lahirnya sejumlah karya sastra yang bernas. Sebutlah Joko Pinurbo (Jokpin), yang rajin “menjemur” sarung dalam puisi-puisinya. Begitu cintanya pada sarung, sampai-sampai himpunan puisinya bertajuk Di Bawah Kibaran Sarung (Indonesiatera, 2001).
Di antara potongan puisinya menyebutkan: Di bawah kibaran sarung/ kutuliskan puisimu/ di rumah kecil yang dingin terpencil/ Seperti perempuan perkasa/ yang betah berjaga/ menemani kantuk, menemani sakit/ di remang cahaya:/ menghitung iga, memainkan piano/ di dada lelaki tua/ yang gagap mengucap doa/ Ya, kutuliskan puisimu/ kulepaskan ke seberang/ seperti kanak-kanak berangkat tidur/ ke haribaan malam/ Ayo temui aku di bawah kibaran sarung/ di tempat yang jauh terlindung//
Berbekal sarung, Jokpin menganggit puisi-puisi humor dengan menawarkan metafora-metafora baru dan menyegarkan. Bermodal alur bahasa sederhana serta balutan kalimat yang mudah dipahami, puisi Jokpin bersikeras menyelipkan pesan yang kuat dan melanting kritik sosial yang pedas dan menukik. Dalam gurauannya tersemat filosofi mendalam tentang kehidupan. Hal ini menjadikan puisi-puisinya memungut label nakal sekaligus cerdas, bukan sekadar puisi mbeling yang dangkal dan asal-asalan. Tak heran, jika oleh para kritikus sastra, usahanya yang gigih dinilai sanggup mengadakan pembaruan pada puisi Indonesia.
Terilhami dari sarung, Mahbub Jamaluddin menulis novel Pangeran Bersarung (Matapena, 2005). Melalui buku ini, iberseloroh bahwa ketimbang sekadar simbol, ikatan sarung lebih merepresentasikan tradisi santri, aplikasi syar’i, dan penerapan hukum illahi. Ikatan sarung menggambarkan keteguhan prinsip membendung derasnya arus modernisasi. Karakternya yang kuat dapat merespons peradaban yang semakin menggila. Dengan sifatnya yang luwes, ia bisa dijamah oleh semua lapisan masyarakat. Terlepas dari itu semua, sarung juga dipercaya sebagai penutup aurat paling sempurna.

Bojonegoro, 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar