Sabtu, 01 Maret 2014

33 Angka Keramat? (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Republika" edisi Minggu, 23 Februari 2014)

Sebagian di antara kita percaya bahwa munculnya angka tidak berdiri sendiri. Dalam situasi dan kondisi tertentu, angka selalu berhubungan dengan hal-hal yang berada di sekitar. Dalam setiap fakta dan peristiwa, angka menjadi nilai, faktor, atau bahkan unsur yang sangat menentukan. Tak ayal, dalam perjalanannya, angka diklaim sebagai penyangga sistem, tradisi, atau kepercayaan yang turun-temurun.
Begitu besarnya perhatian terhadap angka, lahirlah numerologi, yang didefinisikan oleh Muharram H (2009) sebagai “ilmu pengetahuan yang didasarkan pada sudut pandang bahwa seluruh alam raya ini bergerak teratur menurut perhitungan tertentu, yang bisa dieksplorasikan dengan angka-angka”.

Malapetaka
Para numerolog berpendapat bahwa di balik kabar suka maupun nestapa tersimpan angka. Saat manusia merajut tali kebahagiaan ataupun sedang memeluk mesra penderitaan, angka bersembunyi di belakangnya. Namun demikian, yang kerap mengundang pergunjingan adalah ketika angka dituduh sebagai biang keladi atau kambing hitam atas kesedihan dan kepedihan yang berlarat-larat. Untuk hal ini, menurut saya, 33 menjadi contoh yang bagus sekaligus representatif. 
Angka 33 berhubungan dengan penderitaan dan nasib tragis umat manusia. Sebagaimana diramalkan oleh Jayabaya, tiga jaman akan dilalui oleh manusia (Kaliyuga, Kalisengara, serta Kalabendhu), yang berlangsung selama 33 tahun. Pada Jaman Kaliyuga, banyak orang pontang panting, susah, berpindah mukim, berjuang melawan bengisnya hidup serta terus menerus tertimpa kesengsaraan. Pada Jaman Kalisengara, orang-orang kebingungan, kesepian, negara kehilangan kewibawaan, para gadis kehilangan kehormatan, para lelaki kehilangan kekuasaan, ajaran kebaikan diabaikan, digenapi dengan pemandangan yang penuh iba. Adapun Jaman Kalabendhu diawali dengan bumi bergoncang, lautan bergelora, hujan salah musim, banjir bandang, tanah longsor, orang melupakan saudara sendiri, orang tua melupakan anak, begitu pula sebaliknya.
Mengenai hal ini, Arwan Tuti Artha, dalam buku Laku Spiritual Sultan; Langkah Raja Jawa Menuju Istana (Galangpress, 2009: 159) menyebutkan: “Jika membuka Serat Centhini, tarikh Masehi terbagi menjadi tiga zaman besar dalam kurun tujuh ratus tahunan untuk kemudian seratus tahunan dibagi lagi menjadi tiga 33 tahunan. Dengan pembagian tahun hanya tiga kali tujuh ratus tahunan, Jayabaya seolah-olah meramalkan, akhir zaman akan terjadi pada abad ke-21 ini.”
Peristiwa berdarah yang memenuhi buku-buku sejarah juga bersinggungan dengan 33. Di antaranya yaitu pembunuhan Presiden Amerika Serikat ke-35, John F. Kennedy. Sebagaimana dicuplik dalam berbagai diskusi dan blog pribadi, James Shelby Downard (1913-1998) yang menulis sebuah artikel bertajuk “Sorcery, Sex, Assassination and the Science of Symbolism” mencoba memberikan analisa mengenai kaitan antara kasus pembunuhan John F. Kennedy yang terjadi pada 22 November 1963 dengan letak geografis seputar pembunuhan tersebut. Ia berkesimpulan bahwa presiden yang mengawali kuliahnya di Harvard College itu tertembak ketika berada dalam limousin di Elm Street, Dallas, sebuah kota yang berada di dekat 33 Lintang Utara.
Bagi Anda, para pelahap gosip, barang tentu mafhum bahwa aktor dan produser film yang genap memenangkan tiga kali penghargaan Golden Globe Award, Tom Cruise, menduga bahwa 33 adalah wujud kesialan dalam hidupnya. Bagaimana tidak, bahtera rumah tangga yang diarungi sebanyak 3 kali ternyata harus berakhir kandas berhubungan dengan 33. Baginya, barangkali bukan sebuah kebetulan, jika robohnya fondasi kebahagian yang telah ia bangun dengan segenap usaha dan cinta selalu memiliki keterkaitan dengan angka tersebut. Baik aktris Mimi Rogers (dinikahi tahun 1987), aktris Nicole Kidman (dinikahi tahun 1990), maupun aktris Katie Holmes (dinikahi tahun 2006), bercerai dengan Tom Cruise dalam usia yang sama: 33 tahun!
Angka 33 memberikan kenangan pahit dan suram bagi perjalanan hidup salah satu aktor tersukses di Hollywood yang memulai karier aktingnya sejak era 1980an tersebut. Sepertinya, demi sekadar meraih puncak kebahagian dalam ikatan keluarga, ia harus berjuang melawan kesialan yang ditimpakan angka 33. Dunia boleh berseloroh bahwa ia tersohor lewat peran-peran suksesnya dalam film Risky Business (1983), Top Gun (1986), Mission: Impossible (1996), Mission: Impossible II (2000), Mission: Impossible III (2006), Jerry Maguire (1996), Vanilla Sky (2001), The Last Samurai (2003), War of the Worlds (2005) juga dalam Mission: Impossible IV (2012). Akan tetapi, kegagalan dalam rumah tangga seakan meruntuhkan kesempurnaan akting serta sejumlah capaian besarnya.

Numerologi
Akhir-akhir ini, banyak yang merasa was-was dengan pemberitaan media. Bukan hanya terhadap penyanyi dangdut yang digadang sebagai kandidat presiden sebuah partai, Ratu Atut yang mulai kisruh di penjara, atau Anas yang menyerahkan diri ke KPK, tetapi juga buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh" yang belum lama ini diluncurkan namun mengalami beragam penolakan.
Publik sastra yang tidak setuju dan merasa terganggu dengan penerbitan buku tersebut beramai-ramai meluncurkan petisi yang di antaranya berisi: pertama, buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh" harus dicabut dari peredaran. Kedua, anggota Tim 8 sebagai penyusun dan kurator (Maman S Mahayana, Agus R Sarjono, Acep Zamzam Noor, Jamal D Rahman, Joni Ariadinata, Nenden Lilis A, Berthold Damhuser, dan Ahmad Gaus) harus meminta maaf secara terbuka kepada bangsa Indonesia. Tuntutan ini merupakan bentuk perlawanan terhadap kejahatan literasi berwujud "kebohongan menyesatkan" dengan menempatkan Denny JA, sebagai "Tokoh Sastra Paling Berpengaruh" di Indonesia.
Bagi mereka, Denny JA tidak memiliki kontribusi penting terhadap perkembangan sastra Indonesia. Ia sekadar menggemborkan puisi-esai, kerap mengadakan perlombaan bertabur hadiah, serta rajin mempublikasikan eksistensi dengan cara merangkul para sastrawan dan kritikus sastra yang bisa dibeli. Padahal, sebenarnya masih banyak sastrawan bernas yang belum ter-cover dalam buku ini. Misalnya Sitor Situmorang, Umar kayam, juga Ahmad Tohari.
Saya sih tak perlu pusing dengan sibuk menuding bahwa peristiwa miris di atas merupakan hasil rekayasa sosial, politisasi, ataupun imbas berkepanjangan dari “demokrasi wani piro”. Saya juga tidak mungkin memprediksi angka 33 dalam judul buku rentan memancing musibah besar dalam jagat sastra Indonesia. Saya hanya menerka: Tim 8 sedang memanjatkan doa agar 33 sastrawan yang didaulat sebagai tokoh sastra paling berpengaruh—termasuk Denny JA barang tentu—kelak menikmati surga tanpa harus direcoki masa tua. Anda tahu, menurut Al-Ghazali, penghuni surga selalu berusia 33.

Yogyakarta, 2014

Selasa, 04 Februari 2014

Geliat Sastra dalam Tubuh Negara (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Lampung Post" edisi Minggu, 2 Februari 2014)

Sering kali, hubungan antara sastra dengan negara berada dalam kondisi yang akut. Kondisi di mana di dalamnya berhamburan benang-benang kusut. Kondisi yang terkesan hampa dari sehelai tawa, namun riuh dan gaduh dengan percikan air mata.
Sejarah berkoar, bahwa dalam beberapa dasawarsa, negara kita memperlakukan sastra tidak dengan semestinya. Negara melihat sastra dalam pandangan picik serta hati yang buta. Negara menaruh kecurigaan yang berlebihan terhadap sastra, dengan menganggapnya sebagai antek berbahaya. Tak ayal, para abdi negara mengantongi ‘tugas mulia’ untuk membumihanguskan segala hal yang berkaitan dengan sastra. Buku-buku dibakar, pementasan naskah drama dipaksa bubar, para penyair diculik, dibuang, diasingkan, atau dihabisi dengan kejam. Segenap upaya ditempuh demi membendung kemapanan sastra. Segala cara dijalankan guna menghalangi sastra, agar terhindar dari masa pertumbuhan, kemajuan, bahkan kejayaan.
Kebengisan negara terhadap sastra dari satu masa ke masa lainnya mengalami pasang surut. Hal ini mengakibatkan tingkat keakutan hubungan antara sastra dan negara selalu menunjukkan perbedaan. Jika dicermati, perbedaan tersebut tidak bisa terlepas dari profil siapa yang sedang menggenggam kekuasaan. Seberapa besar rasa benci penguasa terhadap sastra, sebesar itu pula perlakuan kasar yang ditunjukkan oleh negara. Jadilah negara sebagai sarana paling tepat dalam menelikung perjalanan sastra. Negara yang semestinya menjadi pemelihara serta pengembangbiak nilai-nilai kebudayaan—antara lain dengan memperkuat eksistensi sastra—malah dimanfaatkan untuk menuruti hasrat dan nafsu penguasa belaka. Sastra yang dibekali daya vitalitas tinggi dalam rangka mengokohkan nation building, ternyata justru mendapat tempat yang kurang layak, bahkan cenderung terkucil. Parahnya, dalam beberapa kasus, sastra dituduh selaku kambing hitam dalam melancarkan kudeta, mengincar posisi strategis penguasa. Dengan alasan inilah, akhirnya sastra didapuk menjadi musuh utama bagi negara.

Penguasa Versus Pemeluk Sastra
Dibanding beberapa kelompok masyarakat lain dalam negara, sastrawan dikenal sebagai pemeluk sastra paling teguh. Melalui sastra, kaum sastrawan begitu genit dan cerewet mengomentari berbagai ketimpangan sosial. Bermodal pena, para sastrawan melontarkan kritik pedas terhadap perilaku penguasa yang semena-mena. Imbasnya, penguasa menjadi gerah dan bermaksud menindaklanjuti dengan jalan menghalau atau bahkan menghentikan aksi mereka. Di antara langkah kongkrit yang diambil yaitu membekukan aktifitas sastrawan serta menerbitkan larangan terhadap ‘buah tangan’ mereka yang dinilai melawan arus pemikiran.
Saat tampuk kekuasaan di genggaman Orde Lama, khalayak tidak diperbolehkan mengkonsumsi tulisan-tulisan sastrawan. Diduga membawa pesan-pesan yang bertolak belakang dengan kemauan penguasa, karya mereka dilarang beredar di pasaran. 
Hamka mengunyah penderitaan berlarat-larat lantaran karya-karyanya sengaja dijauhkan dari masyarakat. Hal itu terjadi setelah ia diduga berencana membunuh Soekarno dan sejumlah menteri. Padahal, sebelumnya, ia dipaksa menginap dua tahun  di bui, meskipun kesalahannya tidak pernah terbukti.
Selain karya, perlakuan buruk penguasa juga merambah pada jabatan. Sastrawan-sastrawan yang bekerja di lembaga pemerintah digusur dari jabatannya, sebagai buntut dari terbitnya larangan resmi Presiden Soekarno terhadap Manikebu (Manifes Kebudayaan) pada tanggal 8 Mei 1964. Sebut saja Wiratmo Soekito yang diusir dari Radio Republik Indonesia dan HB. Jassin yang kehilangan kedudukannya selaku dosen di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Padahal, tanpa mengawat jabatan tertentu, sastrawan merasa kesulitan untuk menyumbangkan pemikiran. Pasalnya, media kurang berani menampung tulisan mereka demi menghindar dari demonstrasi massa kelompok kiri. Atau kalaupun dimuat, harus mencantumkan nama samaran. (Arief Budiman, 2006: 340)
Ketika kekuasaan beralih tangan ke Orde Baru, nyaris saja nasib sastrawan berada di ujung tanduk. Penguasa memperlakukan sastrawan lebih buruk dari sebelumnya. Merasa dirongrong oleh teriakan-teriakan sastrawan, penguasa berusaha semaksimal mungkin untuk membungkam. Dalam hal ini, WS. Rendra menjadi salah seorang saksi atas kebuasan penguasa pada waktu itu.
Harry Aveling (2001) menyebutkan, ketika WS. Rendra menggelar pembacaan puisi di TIM pada Mei 1978, ketika itu pula sebuah bom meledak. Ia pun ditangkap dan dijebloskan ke penjara atas dasar bahwa aktivitasnya diyakini telah menggencarkan provokasi politik. Tiga bulan setelahnya, Si Burung Merak dibebaskan karena penahanan tersebut bertentangan dengan undang-undang kolonial Belanda. Meskipun demikian, ia segera ditetapkan sebagai tahanan kota sampai bulan Oktober, kala semua tuduhan atas dirinya dibatalkan. Akan tetapi, atas beragam pertimbangan yang kurang masuk akal, ia dilarang sepenuhnya untuk mengadakan pertunjukan karya hingga bulan November 1985.
Pada dekade berikutnya, penyair semisal Linus Suryadi Ag. dan Emha Ainun Najib juga mengetam perlakuan serupa, ketika bermaksud membacakan puisi di depan publik. Penguasa sempat melarang Linus Suryadi Ag. yang ingin sekali merapal puisinya “Maria dari Magdala”, sebab dikhawatirkan dapat menimbulkan ketegangan orang-orang Protestan dan Katolik. Padahal puisi tersebut sebelumnya pernah terbit di majalah Hidup yang diedit oleh seorang imam. Adapun Emha Ainun Najib, ia mendapat kesukaran mengantongi izin untuk menggelar karyanya, dikarenakan adanya kekhawatiran penguasa terhadap efek kata-kata pada massa yang cukup luas.
Mengutip Jurnal Ilmu Sastra dan Budaya, Susastra 4 (2006: 141), penderitaan lahir dan batin harus ditelan oleh Pramoedya Ananta Toer ketika menghirup udara bui selama 14 tahun sebagai tahanan politik sejak 13 Oktober 1965 hingga 21 Desember 1979. Barang tentu apa yang dilakukan penguasa Orde Baru terhadap kandidat nobelis beberapa kali tersebut sangat jauh berbeda dengan penguasa-penguasa sebelumnya. Belanda menahannya 3 tahun, sedangkan Orde Lama memenjarakannya hanya 1 tahun. Sungguhpun demikian, sewaktu bermukim di Pulau Buru (1969-1979), Pram masih sanggup mengolah imajinasi dan intuisi dengan menghasilkan masterpiece-nya, tetralogi Bumi Manusia, yang semula lahir dari cerita lisan yang disampaikan kepada teman-temannya. 
Ketakutan penguasa pada kekuatan kata-kata Pram merupakan di antara latar belakang mengapa Orde Baru mengurungnya begitu lama. Hal tersebut menjadi lebih kentara saat disembunyikannya mesin ketik kiriman Jean Paul Sartre, sastrawan terkenal Prancis, yang seharusnya bisa dipakai Pram dalam ‘rumah derita’.

Mempertahankan Posisi Ideal
Memperhatikan perlakuan penguasa terhadap para sastrawan, baik Orde Lama maupun Orde Baru, dapat kita petik pelajaran berharga. Pelajaran bagaimana kaum sastrawan memperjuangkan hak-hak rakyat yang dirampas membabibuta. Pelajaran mengenai kegigihan sastrawan dalam membela orang-orang tak berdaya. Pelajaran tentang keberanian sastrawan menegakkan fondasi kebenaran, meskipun ditebus dengan cara menyakitkan.
Bila diperhatikan secara seksama, apa yang dilontarkan sastrawan, baik melalui lisan ataupun tulisan, merupakan kritik membangun bagi pribadi penguasa. Dengan kritik tersebut, diharapkan penguasa dapat berbenah diri dan mengadakan evaluasi. Dengan demikian, sudah seharusnya penguasa berterima kasih kepada mereka, bukannya naik darah dengan membelalakkan mata dan berpanas telinga.
Oleh karena itu, di masa sekarang maupun mendatang, kritik dari para sastrawan terhadap penguasa seyogyanya disikapi dengan arif dan bijak. Bagaimana pun juga, suara sumbang dari mulut sastrawan adalah suara yang menyembul dari hati nurani terdalam. Menghukum sastrawan dengan keji atau membabat habis karya mereka bukan pilihan tepat dalam rangka meningkatkan iklim bernegara, bahkan sebaliknya, dapat mengubur hidup-hidup peradaban bangsa. 
Sikap sastrawan yang berkacak pinggang di hadapan penguasa, karena selalu memberontak status quo, perlu dipertahankan. Sastrawan adalah kaum oposisi, yang bertugas mengkritisi kebijakan penguasa. Segala ketentuan penguasa yang melanggar norma dan etika kemanusiaan patut diluruskan. Jika penguasa enggan diingatkan, dalam diri sastrawan hanya ada satu kata, “lawan!”—mengutip kata-kata penyair Wiji Thukul.
Negara besar adalah negara yang menghargai dan menjunjung tinggi berbagai perbedaan, bukan yang menghendaki keseragaman. Mochtar Lubis (1995: 7) mengatakan bahwa kemajuan bangsa hanya dapat didorong dalam iklim kebebasan kebudayaan yang baik, di mana daya cipta setiap anggota masyarakat—termasuk sastrawan—dibiarkan berkembang. Pandangan yang ganjil dan mungkin pula bertentangan merupakan unsur vital bagi munculnya pemikiran-pemikiran yang matang mengenai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.


Yogyakarta, 2012

Para Penghormat Buku (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Bali Post" edisi Minggu, 26 Januari 2014)

Buku menjadi sesuatu yang sakral bagi sebagian manusia. Bukanlah ia sekadar bundelan kertas berlumur tinta yang memadati meja dan rak cendekiawan-cendekiawan atau pengaku penikmat-pencecap ilmu pengetahuan. Sebagaimana pusaka, dalam tubuh buku terselip kekuatan besar yang sanggup meluluhlantakkan benda di sekitarnya. Ia menyimpan daya magis sehingga dengan mudah sanggup menyihir dan melenakan setiap pembaca.
Lebih dari itu. Dalam kadar tertentu, buku adalah candu bagi para pemabuk-pecinta. Rangkaian kata dalam buku membuat orang rela membelanjakan nafsu dan waktu demi bermesraan dengannya. Ia begitu dipuja, disanjung, diagung-agungkan oleh kaum penggandrungnya. Bukan hanya itu! Bagi yang terlampau akur dengan derita, buku menjadi teman setia pengusap air mata. Bagi si sakit, layaklah ia sebagai pengusir-penundung bengalnya penyakit. Bagi si gelap jiwa, buku pantas didaulat menjadi sahabat penerang gulita, pengantar ke gerbang dunia.
Karena begitu penting dan berharga, para penggandrung buku merawat segenap cara dan upaya dalam menaruh takzim kepadanya. Mereka memposisikan buku sebagai makhluk suci yang harus mendapat kedudukan tinggi. Mereka berteguh niat dalam membela hak-hak buku. Mereka menempatkan diri dalam garda depan para penjunjung tinggi martabat aksara.
Itulah mengapa, dalam buku Wiji Thukul, Teka-teki Orang Hilang (KPG, 2013), Arif Zulkifli, dkk (penyunting) menyebut Wiji Thukul suatu saat sempat berang ketika mengetahui seorang temannya menggunakan buku selaku alas makanan. Aktivis politik sekaligus pembela kaum buruh yang dinyatakan raib dan hingga sekarang belum ditemukan itu tak sampai hati jika buku dihinakan atau direndahkan. Bahkan kepada sobekan koran atau majalah, ia pun melakukan hal serupa. Sepertinya, ia memupuk anggapan dan keyakinan bahwa setiap kertas yang memuat informasi genap membisikkan pada telinga nuraninya suatu kewajiban moral untuk senantiasa menghormati serta memuliakannya.
Dalam diri penyair cadel yang potongan puisinya “hanya satu kata: lawan!” selalu menjadi koor wajib bagi para demonstran tersebut, buku menempati posisi urgent. Atas dasar itulah, ke mana pun berlari dan bersembunyi—karena saking kerapnya diburu oknum militertak jarang ia menenteng tas karung berisi buku dan kacamata. Tentu saja kacamata yang dibawa bukanlah untuk tampil gaya-memesona, melainkan berfungsi sebagai peraba dan penanda huruf-huruf yang dalam penglihatannya sudah nampak agak pudar (barangkali karena suatu ketika, oleh seorang tentara, mukanya pernah dihantamkan ke kaca mobil pada waktu menggerakkan massa dalam sebuah demonstrasi).
Oleh Wiji Thukul, stempel ‘istimewa’ dilekatkan pada buku. Hal tersebut tak lain sebab dalam menjalankan aksi heroiknya ketika membela kaum pinggiran, buku menjadi guru terbaiknya. Bukulah yang diangkat sebagai pembimbing dalam melancarkan misi saat berusaha menghentikan kezaliman penguasa.
Adalah Muhidin M Dahlan bersama Taufik Rahzen, Dipo Andy, Galam Zulkifli, serta Eddy Susanto—para pencetus Yayasan Indonesia Buku—yang memiliki hasrat membabibuta dalam menyemarakkan jagat literasi, pada tahun 2011 mendirikan Radio Buku. Radio berbasis internet yang bermarkas di Jl. Patehan Wetan 3 Alun-alun Kidul Yogyakarta.
Bermodal kecintaan yang meluap-luap terhadap buku, para punggawa radio komunitas (buku) pertama di Indonesia tersebut mengabdikan diri sepenuh hati untuk menjadikan ‘ritual menghormati buku’ sebagai bagian dari alur kehidupan yang tidak bisa ditinggalkan. Bagi mereka, hidup bersama buku adalah keharusan yang tak boleh ditawar. Mereka membutuhkan buku seperti halnya menghajatkan hidup itu sendiri. Tanpa disertai buku, mereka bagaikan hidup tanpa ruh.
Ikhtiar pemuliaan buku mereka wujudkan dengan cara membuka Radio Buku sebagai lahan persinggahan bagi siapa pun yang tekun memelihara antusiasme terhadap buku. Itulah mengapa, tak bosan-bosannya mereka membujuk Booklovers—sebutan bagi para pecinta buku—untuk mengisi hari-hari dengan ‘bersenggama’ dengan buku. Dalam rangka itulah, diselenggarakan beberapa program agar berahi mereka dapat tersalurkan, antara lain—sesuai yang dijumput dari www.radiobuku.com: Katalog Seni (mengulas karya seni dari pelbagai bidang), Angkringan Buku (dialog seputar buku dengan menghadirkan komunitas pembaca selaku pembedah), Buku Pertamaku (cerita individu tentang keintiman dengan buku), dan Komunitas: (merekam geliat komunitas-komunitas literasi). Diharapkan dengan berjalannya program-program tersebut, mereka mengalami dua hal yang saling melengkapi antara satu dengan yang lain, yaitu puncak pemuliaan sekaligus klimaks kenikmatan.
Para penggandrung buku berikutnya berasal dari barisan kaum bersarung (santri). Para penimba ilmu di pesantren itulah yang giat menyuarakan slogan “hormati buku sekarang juga!”. Salah satu wujud tawadlu’ (sikap rendah hati) mereka terhadap ilmu yaitu dengan membaringkan buku tidak pada sembarang tempat. Tak ayal, jika ada seorang santri yang suatu kali sembrono menaruh buku di lantai, maka segera meluncur teguran dari teman atau bahkan gurunya. Bagaimana pun juga, hal itu dianggap sebagai bentuk penistaan terhadap ilmu.
Dalam Ta’lim al-Muta’allim, kitab acuan para santri dalam mempelajari tatakrama mencari ilmu disebutkan, buku harus dihormati dan dimuliakan sedemikian rupa dengan adanya larangan seseorang meletakkan buku di dekat atau sejajar dengan kaki ketika bersila. Bahkan, kitab anggitan Syeikh al-Zarnuji tersebut menuturkan bahwa ketika seseorang membaca buku, maka seyogyanya ia dalam keadaan suci (berwudlu). Karena, “ilmu adalah cahaya, wudlu juga cahaya. Mustahil cahaya ilmu bisa bertambah kecuali dengan berwudlu”.
Demikianlah di antara sebagian wujud penghormatan para penggandrung buku terhadap sesuatu yang dicintai. Dengan tulus-ikhlas, mereka menghargai buku melebihi dari yang lain. Bagi mereka, adalah suatu kebahagiaan berlipat, jika berhasil mendudukkan buku pada derajat terhormat. Pun sebaliknya. Merupakan penderitaan berlarat-larat, jika suatu saat tersebar warta tentang gencarnya pemerintah membumihanguskan ribuan buku atau bergeloranya teroris dalam merakit bom buku.


Yogyakarta, 2013

Maya dan Karina (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Sinar Harapan" edisi Sabtu-Minggu, 25-26 Januari 2014)

Maya meliuk-liuk di hadapan orang-orang dengan sesekali melempar senyum. Meskipun tampak lelah, ia berusaha menikmati profesi yang telah digeluti selama delapan tahun. Selama itu pula, sudah tak terhitung lagi berapa lusin lelaki yang menari-nari di tubuhnya, bersenang-senang di atas penderitaannya, berjingkrak-jingkrak menyanyikan lagu kebebasan ketika jiwanya justru berada dalam pasungan.
Nihil. Usahanya memungut kedamaian saat menghibur tamu atau bahkan pelanggan sama sekali tak berhasil. Seakan-akan, kehidupan ini ia jalani dengan keterpaksaan.
Atau keputusasaan? Entahlah.
Ia terus saja menggerakkan tubuh. Bergoyang ke kiri, kanan. Memperlihatkan lekukan demi lekukan yang lekas menyebabkan orang-orang di sekelilingnya mengulum jakun. Ia tancapkan pandangan pada mata-mata nakal yang begitu setia meresapi kecantikannya, lidah-lidah yang bernafsu memuji keindahannya, juga hidung-hidung yang berhasrat menjamah kemolekannya. Ia kerap berpikir, apakah di dunia ini kaum lelaki hanya ingin menjajah perempuan dengan berkilah bahwa mereka ingin berbagi kebahagiaan?
Turun, setelah hampir setengah jam tersiksa di atas panggung. Ia lantas menuju meja bar dan duduk santai menyandarkan punggung. Meskipun tanpa berbicara, si bartender paham bahwa perempuan di depannya sedang memesan segelas vodka dengan campuran anggur.
Menurut syak-wasangka, seorang lelaki segera menghampiri, duduk di samping, serta mengobral bualan yang semestinya tidak perlu ditanggapi. Ia tahu pasti, bahwa mereka yang mendekatinya hanya terkategori dua. Pertama, lelaki yang memintanya untuk menemani minum hingga lepas malam dengan risiko serata tubuhnya akan dirayapi jemari dan lidah yang genit. Untuk pekerjaan ini, nominal rupiah yang ia terima sangatlah kecil. Kedua, lelaki yang merayunya untuk bersedia mengalirkan kehangatan serta memuaskan gairah di atas ranjang. Untuk ini, ia akan mengantongi tips yang tidak begitu besar.
Dan, benar. Lelaki jangkung bermata sipit berjalan pelan ke arahnya. Akan tetapi, sesampai di dekatnya, lelaki tadi hanya menatap Maya, tanpa mengeluarkan sepatah kata. Berbeda jauh dengan dua macam lelaki di atas, ia tidak meminta Maya untuk melakukan apapun. Namun demikian, tangannya mengulurkan amplop berisi puluhan kali gaji pramusaji. Adapun Maya tergeragap dengan melipat kening, menautkan sepasang alis, bermain-main dengan pikirannya.
***
Itu pagi, lagi-lagi Karina mendapat pekerjaan tambahan. Ia, seperti biasanya, membuang sampah dan merapikan beberapa tempat tidur. Daftar kewajibannya kian melimpah lantaran teman-temannya gemar memaksa dirinya untuk mengambil alih tugas yang semestinya mereka laksanakan.
Sesungguhnya keadaan bisa berubah andai saja ia mampu melawan. Tetapi, tidak. Dua kali Karina melancarkan perlawanan, bukannya keberuntungan yang diketam, melainkan lebam-lebam di sekujur badan. Gino, Ramidi, Heru, Surya mengeroyoknya tanpa ampun. Layaknya para penderita kelaparan yang menyerbu dan melahap makanan sisa orang-orang kantoran.
Tetapi, Karina bukanlah makanan yang sengaja dibuang di tempat sampah, got, atau bahkan lubang kloset kamar mandi umum. Anak buangan? Entahlah. Yang pasti, hampir semua anak menyebutnya demikian ketika ia enggan menuruti permintaan mereka. Saat itulah, ia hanya bisa membisu dengan memegangi sepasang netra yang membendung gumpalan airmata.
Kepada para penghuni panti asuhan, ia tidak mungkin membocorkan rasa sedih yang selalu dipendam, sebab sama saja dengan mendermakan kepada mereka kesempatan untuk memberondongnya dengan olok-olok yang lebih dahsyat. Hal ini bukan berarti menunjukkan bahwa ia adalah anak yang tegar. Jika boleh dikata, ia adalah gadis kecil yang rapuh. Gadis kecil yang tanda-tanda kerapuhannya nampak saat teman-temannya sedang terlelap. Karena, di waktu mata-mata terpejam itulah ia begitu leluasa meluapkan kesedihan kepada bulan purnama yang berbaring di cakrawala.
“Bulan, hari ini adalah hari kesekian aku dijadikan bahan ejekan. Entah kenapa mereka enggan memberiku kesempatan membela diri. Mereka lebih suka tertawa terbahak-bahak ketika aku hendak berbicara.”
“Aku tidak pernah memiliki niat membalas mereka, Bulan. Aku hanya berharap mereka berhenti menyebutku anak buangan dari rahim ibu yang tidak bertanggung jawab.”
Atau di waktu lain, ia lebih suka mempertanyakan hal-hal yang kerap mengganggunya.
“Bulan, kenapa teman-teman memperlakukanku demikian? Apakah mereka sama sekali tidak sayang padaku?”
“Relakah kau melihat penderitaanku, Bulan? Tegakah kau menikmati duka yang semakin lama semakin menumpuk di badan? Ayo jawab, Bulan! Bulan!”
Jawaban tak kunjung datang. Malah, sering kali bulan menampilkan diri separuh. Tidak utuh. Karina begitu kecewa. Hal itu ditengarai sebagai keengganan bulan menanggapi pertanyaannya.
***
Pertemuan pertama dengan lelaki jangkung bermata sipit membuat Maya susah tidur. Ia selalu terbayang dengan sosoknya. Ia ingat betul dengan mata lelaki itu. Mata teduh yang siap melindunginya dari semua ancaman. Mata riuh yang bersigap mengusir segala kesunyian. Setiap kali memikirkan mata itu, ingin sekali ia berteduh di dekatnya. Merasakan kehangatan yang ditawarkannya. Meresapi bulir demi bulir kedamaian yang ditumbuhkannya.
Menurut Maya, mata lelaki itu ibarat pohon rindang, dimana setiap orang yang melewati, ingin sekali memetik kenyamanan. Dan ia, terlanjur mendaulat diri menjadi salah satu dari mereka. Itulah mengapa, saat membayangkan mata indah itu, timbul hasrat untuk merangkai kehidupan baru yang lebih menjanjikan.
Namun demikian, saat keinginan berlipat, ketakutan dan kegelisahan ikut merapat. Tak ingin ia mengulang kembali penderitaan yang menyebabkan hatinya tercabik-cabik. Apalagi mata dengan pelangi berada di selingkarnya itu menerbangkan kenangan pada seorang lelaki di masa lalu. Lelaki yang menyalakan api cinta, juga sedikit demi sedikit memadamkannya. Lelaki yang menjerumuskannya ke lembah kegelapan, padahal benih keturunan terlanjur ia tancapkan. Dan, secara ajaib, kenangan pahit tersebut membuatnya teringat pada gadis kecil, buah dari rasa cinta lelaki terkutuk itu dengannya. Maka, di satu sisi, ia sangat menyayangi gadis kecil yang merepresentasikan dirinya secara utuh. Namun, di sisi lain, hatinya menaruh dendam, karena bagaimana pun juga, dalam diri gadis kecil tersebut darah sang ayah ikut tertanam.
Sejak itu, hari-hari Maya harus dilalui dengan bayangan si mata indah, mantan kekasih, juga darah daging yang sengaja ia hindarkan dari kehidupan yang serba suram.
***
Beruntunglah Karina, karena saat kecewa terhadap bulan, seorang perempuan menjanjikannya sebuah harapan. Perempuan yang menurutnya sangatlah cantik dengan kasih sayang tiada tara. Selain karena bersedia menampung keluh-kesahnya, perempuan tersebut juga membawakannya beragam hadiah yang selama ini hanya mampir dalam mimpi Karina, seperti cokelat, permen warna-warni, dan boneka barby.
Waktu menemuinya di ruang tunggu panti asuhan, Karina melanting pertanyaan.
“Kenapa kau mau menjadi temanku? Padahal semua yang di sini sama menjauh.”
Hanya tetes air mata yang menjadi jawabannya.
“Kok malah menangis?”
“Air mata sanggup menjawab pertanyaan paling sulit sekalipun, Karina.”
Karina menggeleng tidak mengerti.
Sementara hati Karina mengayuh gembira, olok-olok sebagai anak buangan semakin gencar, setelah datangnya perempuan yang menurut Karina jelmaan bidadari. Di samping disulut kedengkian teman-temannya mengetahui Karina memperoleh banyak hadiah, juga karena kemiripan perempuan tersebut dengan Karina. Wajah tirus, hidung lancip, bibir tipis, dan rambut sedikit bergelombang merupakan di antara tanda-tanda fisik keduanya.
Ejekan yang semakin hebat nyatanya urung menyebabkan Karina jengah. Apalagi, di luar dugaan, sang bidadari ternyata rutin mengunjunginya dua minggu sekali. Hal yang membuat Karina terharu, karena di saat semua menjauh, justru hadir seseorang yang ingin mendekapnya erat.
Maka, suatu malam, kepada bulan, ia bersoal.
“Bolehkah aku menganggap bidadari itu sebagai…….”
Sejenak kemudian, ia menutup rapat kedua katup mulutnya. Sungguh, sekali lagi sungguh, Karina tidak ingin kembali dikecewakan. Bagi Karina, bulan adalah makhluk pendiam, yang terlahir tanpa dibekali perasaan.
***
Sesuai rencana, keduanya kini berjumpa di sebuah taman yang begitu luas. Taman yang oleh sebagian warga diyakini sebagai tempat terindah untuk meluapkan perasaan. Hati mereka berdebar hebat. Jantung mereka berdegup cepat. Di saat seperti inilah, dalam rindu yang membuncah, kepada bidadari itu Karina hendak memanggilnya ibu. Adapun Maya, si penari telanjang itu, harus segera melenyapkan putrinya, jika ingin melupakan kedua lelaki yang setiap detik bergentayangan di kepala.

Yogyakarta, 2013

Keterangan: saat terbit, cerpen ini beridentitas: Zazam Lut (nama pena Riza Multazam Luthfy).

Selasa, 14 Januari 2014

Argosoro (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Padang Ekspres" edisi Minggu, 12 Januari 2014)

Dua bulan Hadi mendengkur di rumah. Dua bulan pula ia menikmati udara segar pedesaan. Sebetulnya, cukup jarang ia belanjakan liburan bersama keluarga. Tinggal di kota Srabeh dengan segenap hiruk-pikuknya merupakan pilihannya dua tahun berturut-turut. Maklum, selain karena rumah yang berjarak jauh dengan kampusnya, untuk mudik, ia juga harus menghunus biaya transportasi selangit. Namun, karena desakan orang tua, ini tahun ia memutuskan pulang ke desa Gagapsepi, daerah mungil di punggung gunung Sendangpuro.
Bosan meneguk liburan panjang, kemarin, Hadi balik ke Gotakara guna menimba ilmu di sebuah perguruan tinggi ternama. Setiba di terminal Sowondaru, mahasiswa semester enam itu memilih naik Argosoro. Ini bukan kebetulan. Pun bukan sebiji keterpaksaan. Pinangan jatuh pada Argosoro, sebab telinganya muak menelan kabar, bahwa bus tersebut merupakan kendaraan berkecepatan tinggi sekaligus pengundang marabahaya. Mafhumlah. Selain kecepatan yang menjadi kelebihannya, ini bus menyandang track-record tersendiri dalam kecelakaan lalu lintas. Maka, siapa saja berkehendak jadi penumpang, terlebih dahulu harus bertafakur matang-matang.
“Jangan sekali-kali kamu naik Argosoro, kalau gak pengen mati konyol.” Pesan itu yang terpacak dalam-dalam dari kalam Kang Dirman.
“Lebih baik cari bus yang lain aja. Meskipun murah, bus Argosoro sering nabrak orang lho”. Desis Mbak Kumintang, tatkala berpapasan dengan Hadi sebelum berangkat.
Semakin kerap mendapat nasehat, semakin pula ia bernafsu membuktikannya. Kebengisan Argosoro baginya hanyalah mitos. Seorang mahasiswa haruslah kritis. Demi memetik kebenaran, segala sesuatu wajib diverifikasi. Dengan memantapkan hati, ia menetapkan Argosoro sebagai tunggangannya menuju Gotakara.  
***
Di terminal Sowondaru, awalnya Hadi melungguh sekoteng di dalam Argosoro. Lama kelamaan menyusul penumpang-penumpang lain yang telah mengantongi bujuk rayu Pak Kernet dan Pak Kondektur. Sebetulnya, tiadalah mereka seperti Hadi, yang dengan rela dan sadar mencatatkan diri menjadi penumpang.
Benar. Ya, benar. Batinnya mendesis. Bus yang bertarif ekonomis itu memang cocok dengan jasadnya; ber-AC alami, kursi penumpang banyak yang jebol, beratap triplek, lampu pecah, dan berkaca buram. Sampai sini, ia belum percaya dengan satu hal; tentang kecepatan Argosoro yang selama ini dielu-elukan orang-orang.
“Masak bus kayak begini, larinya bisa cepat. Nabrak lalat aja gak mati, apalagi manusia.”
Awal mula lepas landas, isyarat-isyarat kecepatan belum tertentang. Pak Sopir masih mempertimbangkan, barangkali masih tersisa manusia yang mau menimbrung di bus.
“Terakhir. Terakhir. Terakhir.” Hanya kata-kata itu yang menyembul dari bibir Pak Kernet. Wajarlah. Untuk membujuk penumpang, segala upaya ditunaikan. Dan pemberdayaan kata-kata adalah usaha yang kehebatannya tak perlu diragukan.
Orang-orang pun tergiur dengan rayuan. Mengira Argosoro adalah bus terakhir, dengan sigap, mereka berbondong-bondong layaknya hendak mengungsi ke lokasi penampungan. Padahal, di belakang masih berjibun bus yang lebih layak, dengan fisik yang lebih sempurna. Memang dalam usaha rekruitmen dan penyesatan penumpang, kru bus Argosoro terkenal lihai dan patut memungut acungan jempol. Buruknya penampilan, bukan memerankan penghalang dalam mereguk sebanyak-banyak penumpang. Dan, dalam waktu singkat, bus memadat. Padat dengan orang-orang yang termakan omongan Pak Kernet; si penipu ulung.
Hadi tampak santai melongok situasi. Ia duduk di belakang Pak Sopir. Sambil menghirup dalam-dalam asap tembakau, kepalanya dilendehkan ke kursi. Kedua tangan ditangkupkan di selingkar perut. Sedang kakinya berayun-ayun ke kiri dan ke kanan. 
Setelah lima belas menit membeku di dalam bus, ia mulai mencium ketidakberesan. Setiap ada orang, selalu saja diangkut. Tak peduli dengan penumpang yang ada di dalam. Mata Pak Sopir memandang mereka bukan sebagai makhluk hidup. Namun sebagai komoditas yang bisa ditukar dengan uang. Oleh sebab itu, merupakan tindak kebodohan jika membiarkan mereka disambar oleh bus-bus yang lain.
Kursi yang sudah berjubal manusia pun tak jadi soal. Dalam pikiran Pak Kernet dan Pak Kondektur, selalu ada kaidah guna menata hal tersebut. Sehingga, bagai anak sekolah sedang latihan baris-berbaris, para penumpang dibariskan dengan posisi berbanjar ke belakang. Benar. Ruang tengah tanpa kursi yang sebenarnya untuk berlalu-lalang, disulap menjelma tempat cadangan guna menumpuk para penumpang.
Batin Hadi mengerang. “Ini sopir gila. Masak bus penuh begini, masih saja ngangkut penumpang”
Karena jenuh dengan keadaan, sebagian penumpang meluncurkan protes kecil-kecilan.
“Pak, sudahlah, Pak. Sudah sesak nih.” Perempuan berambut sebahu yang membopong balita angkat suara. Rintihan sang anak seakan menggodanya untuk melenguh.
Pak Sopir membisu. Kata-kata yang meluncur dari penumpang dicuaikan begitu saja. Tanpa tanggapan. Tanpa sebulir jawaban.
Otak Hadi mendidih. Tindakan mesti segera diambil. Sebagai mahasiswa, ia bosan menadah kezaliman yang menghantam dirinya dan penumpang-penumpang lain. Agen of change wajib menyalin situasi. Tidak terbatas pada pergerakan untuk menumbangkan rezim yang korup. Atau mempertanyakan kebijakan rektor dalam meninggikan biaya kuliah. Bahkan dalam keadaan paling remeh sekalipun, mahasiswa dituntut berdiri di garda paling depan.
Sejurus kemudian, moncong Hadi bocor juga. “Pak. Kami ini manusia. Disamakan saja sama kerbau!”
Mendengar kaul kurang sedap, Pak Sopir enteng menganugerahkan sambutan. “Kalau keberatan, turun saja, Mas.”
Bagai pedang mengayun di tubuhnya, kata-kata Pak Sopir terlalu tajam untuk dilawan. Terlalu sukar dihindari. Ayunan yang begitu tangkas dan mematikan. Dan terpaksa ia mengalah. Mengalah dengan seribu dendam. Mengalah dengan secuil bara yang mengendap di hati. 
***
Matahari asyik memanggang diri. Mendung bersembunyi. Para penumpang mulai gerah. Keringat membanjiri kursi, lantai, dan udara. Bau kecut menyeruak. Semua keringat bercampur menjadi satu. Keringat penjual tahu yang mau pulang. Keringat jagal yang dapat panggilan. Keringat pejabat yang menggelapkan uang rakyat. Dan semua keringat dari segenap kasta di masyarakat. Seolah-olah keringat-keringat itu mengaduk beraneka suasana dan perasaan; kumuh, gaduh, sesak, tegang, marah, dan sinis.
Karena miskin AC, terpaksa semua kaca dibuka. Terkecuali kaca depan dan belakang yang memang muskil disingkap. Mereka kini layaknya hewan liar yang tertangkap di jalan-jalan dan segera dibawa ke kebun binatang. Pak Kondektur hanya cuek dan tersenyum kecil melihat kemenangan yang ada di pihaknya.
Dalam hitungan beberapa menit, satu per satu, angka penumpang menyusut. Dengan berbekal kecewa, mereka mendarat di loka tujuan masing-masing. Baguslah. Mereka berhasil bertahan menghadapi siksaan dalam potongan waktu. Parahnya, siksaan itu bukannya dihindari, tetapi malah ditebus dengan rupiah. Keberutungan mencuat. Buat sesaat, bus melega. Udara bisa dihirup lagi. Harapan mulai terbit. Penumpang berseri-seri. Sinar kegembiraan hinggap di wajah mereka.
Namun, setiba di perempatan Mojokali, lagi-lagi mereka mengulun jakun dan kembali memendam kebencian. Ini kali, harapan seakan sirna. Sekitar sepuluh orang diselundupkan. Ditampung bersama penumpang lain yang kian tersiksa.
Mendapat perlakuan semena-mena, disertai dengan gonggongan batuk, seorang berkopyah hitam, dengan beberapa kerut di muka nyerocos. Belum genap menghembuskan rengekan, segesit kilat, Pak Sopir segera mengatasi keadaan.
“Diamlah kau, Kakek Tua.”
Seperti sambaran petir di siang bolong, kaul Pak Sopir menghantam dada sang kakek. Ia pun terdiam. Pandangannya tertunduk. Hanyalah ia sang renta berumur sekitar 70 tahun. Sekadar penumpang yang membawa uang pas. Jadi, menyerah lebih baik daripada diturunkan dan mati membusuk di jalan. Ya, akhirnya ia menyerah. Meski dalam hatinya, pengemudi berambut gimbal itu diumpat habis-habisan.
Bisikan-bisikan berseliweran. Lidah-lidah menyembur. Ludah-ludah menyembul. Dan dari arah belakang, jejaka bernama Gobel, mempengaruhi teman sekursi guna mewujudkan perlawanan. Perlawanan dari penumpang kepada Pak Sopir. Perlawanan kaum tertindas terhadap si penindas. Perlawanan yang dinahkodai bukan oleh seorang mahasiswa seperti Hadi, tapi seorang penjual ikat pinggang yang saban hari mangkal di pasar Krewit.
Ya, dengan kesepakatan yang bergulir dari dua orang, kemudian disambungkan ke seluruh penumpang, akhirnya mereka mufakat untuk memberontak. Segala benda dipukul-pukulkan. Botol, tongkat, besi, kayu, semuanya. Ke kursi, kaca, lantai, atap, serta tubuh mereka sendiri. Sehingga bus yang tumpat manusia itu bising. Umpatan-umpatan beterbangan. Caci maki meluncur riang. Ada yang menyanyi “Sorak-sorak bergembira”. Ada yang berpuisi “Aku”. Ada yang kencing. Ada yang berjoget. Ada juga yang membikin yel-yel. Mereka akan menggulingkan penguasa yang sewenang-wenang. Mereka bakal merobohkan tiang kediktatoran. Mereka berjuang mati-matian demi meraih keadilan dan kehidupan yang lebih manusiawi.
***
Dan, tadi pagi, sebiji surat kabar mewartakan, bahwa pada hari Rabu, 20 Juli 2011, bus Argosoro mengalami kecelakaan dahsyat di daerah Lowoangum. Kecelakaan yang membuahkan 34 orang meninggal, termasuk Pak Sopir, Pak Kondektur, dan Pak Kernet. Kecelakaan yang melumat warung nasi Mbok Jah bersama seluruh isinya. Kecelakaan yang disesalkan oleh mereka yang menasehati Hadi. Serta kecelakaan yang membuat orang tua Hadi kelimpungan, sebab sampai detik ini belum dapat dipastikan; apakah Hadi selamat, atau nyawanya ikut kabur bersama penumpang yang nahas.


Yogyakarta, 2011

Minggu, 29 Desember 2013

Perginya Pendengar yang Setia (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Banjarmasin Post" edisi Minggu, 29 Desember 2013)

Tidak seperti biasanya, subuh itu, di meja makan genap tercawis sarapan. Secangkir kopi siap diseruput. Sepasang sepatu fantovel usang mengkilap, tanda seseorang sudah menyemirnya. Norman berdecak heran. Ia tahu bahwa yang melakukan itu semua adalah Marni. Akan tetapi, bukankah sejak perkawinan, segala pekerjaan rumah tangga dilahap sendiri oleh Norman, sebab Marni—yang dikenal selama ini—termasuk istri durhaka? Apalagi, ya apalagi, gajinya tak sanggup menyewa tenaga pembantu paling murah sekalipun.
Norman mencium bau wangi di seluruh ruangan. Lantai dan kaca-kaca jendela kinclong. Bunga-bunga di halaman basah kuyup oleh siraman tangan lembut. Jikalau memang benar Marni yang melakukan, pastilah perempuan yang pernah keguguran itu menunaikannya sebelum fajar bertandang. Atau bahkan, tengah malam. Tengah malam? Benar. Mustahil, jika pekerjaan seabrek itu rampung dalam satu dua jam.
Antara terkagum-kagum bercampur bingung, Norman mondar-mandir di ruang tengah, sambil berjamak kali meruah nama istrinya. Akan tetapi, tak sekeping jawaban pun menghiraukannya. Ia memanggil lagi. Memanggil, dan memanggil. Dan, nihil.
Sungguh, Norman tak menyangka bila sang istri akan meninggalkannya begitu saja. Meninggalkan tanpa terlebih dulu menghibahkan firasat apa-apa. Meninggalkan dengan melahirkan beribu pertanyaan di kepala. Padahal, Norman mengaku berbahagia. Meskipun menurut tetangga, Marni adalah sosok istri yang tak tahu diri, akan tetapi bagi Norman, perempuan yang dinikahi baru setahun itu pendengar yang setia. Dan tentu saja mencari pengganti sepertinya sangatlah sulit. Atau bisa jadi mustahil. Bukankah di dunia ini jarang sekali perempuan yang dengan tekun menyimak kata-kata lelaki jika sedang berbicara?
Norman lebih senang bila Marni mau mendengar celotehnya saja daripada jika istrinya itu mengunyah segala jenis pekerjaan rumah tangga, namun tiada waktu untuk sekadar diam, pura-pura menghiraukan buah cakapnya. Selaku karyawan toko buku kecil, kerap ia mendengus kesal sebab perlakuan kasar dari sang senior atau pembeli yang tingkah lakunya kelewatan. Apabila mendapati hal demikian, ia akan mengungkapkannya kepada Marni, sesampai di rumah. Dan, dua lembar telinga Marni bersigap menadahnya, disertai anggukan kecil atau tampang muram. Serampung melempar unek-uneknya, Norman bisa tersenyum puas. Dengan menularkan kedongkolannya itu, Norman merasa beban yang berbaring di dadanya musnah. Buat Norman, yang mampu menjadi pendengar yang baik hanyalah Marni seorang. Ya, hanya Marni!
***
“Barangkali Mas Norman akan terkejut setelah mengetahui bahwa selama ini Marni memperalat Mas Norman. Marni cuma menumpang hidup dan makan dari keringat Mas Norman. Walaupun demikian, Marni heran dengan sikap Mas Norman yang begitu perhatian dan selalu memberikan segenap kasih sayang. Padahal Marni tidak pernah menunaikan tugas sebagai istri, kecuali saat nafsu Marni memuncak.
Sebenarnya, dalam diri Marni tiada perasaan cinta sedikitpun kepada Mas Norman. Marni cuma menuruti kata-kata ibu. Ibu bilang kalau sebelum meninggal, ayah berwasiat agar Marni dijodohkan sama Mas Norman. Jika tidak, maka anak-cucunya akan penyakitan tujuh turunan. Marni kurang percaya dengan takhayul itu, Mas. Tapi mau bagaimana lagi. Bila enggan mematuhi wasiat tersebut, Marni takut penyakit asma ibu bakal kambuh.
Pernikahan ini amat berat, Mas. Setiap hari Marni berusaha sekuat tenaga untuk pelan-pelan mencintai Mas Norman, tapi ternyata tetap tidak bisa. Masih ada bayangan seorang lelaki yang sampai sekarang Marni simpan dalam hati. Dan untuk melupakannya, rasanya tidak mungkin.
Kini, setelah ibu meninggal, tiada lagi yang Marni khawatirkan. Terus terang, Marni bertahan karena tidak ingin melihat ibu susah. Sudah banyak kesedihan yang telah dialaminya. Dan Marni berusaha supaya kesedihan itu tidak bertambah karena ulah anak satu-satunya ini.
Terserah Mas Norman mau bilang apa. Memang Marni kurang layak jadi istri lelaki yang baiknya setengah mati kayak Mas Norman. Kalau terlalu sulit memaafkan dosa Marni yang terlanjur segunung, Marni cuma mohon agar Mas Norman merelakan kepergian Marni. Itu saja. Marni akan menyusul seseorang yang Marni cintai. Di sebuah tempat. Tempat yang jauh di sana.”
Nafas Norman kembang kempis. Bola netranya berkaca-kaca. Jemarinya gemetaran. Jantungnya bergetar hebat, seakan mau meledak. Kata-kata dalam surat lusuh yang ia temukan di meja kamarnya menghunjamkan tombak-tombak lancip ke relung dada.
Tunai mengeremus bebulir abjad dari istrinya, Norman menelepon salah seorang atasannya. Memberitahukan bahwa saudaranya tertimpa kecelakaan dan sedang kritis, sehingga ia terpaksa absen kerja. Untuk ini kali, ia berbohong. Maklumlah. Kalau bukan sebab alasan darurat, loka yang menyediakan buku-buku sekolah itu urung mendermakan dispensasi kepada para karyawan untuk meliburkan diri.
***
“Norman, apa kau bercerai dengan istrimu?”
Sanusi, lelaki setengah baya, buruh bangunan di Sumatra itu sekonyong-konyong bersoal kepada Norman.
Norman bungkam. Atau lebih tepatnya sekadar menggeleng.
Sanusi malas menyerah. Entah apa untungnya ia mendedah hal yang bukan urusannya itu, hingga nekat bertanya lebih jauh. “Terus, apa yang terjadi dengan rumah tanggamu?”
Sekali lagi, Norman mematung. Bibirnya kian mengatup. Andai pun ia bocorkan kabar hubungannya dengan Marni, lelaki di depannya itu dikira tidak akan sanggup membantu.
“Dua minggu yang lalu aku lihat Marni.”
“Apa?”
Norman terpancing. Pundaknya terangkat. Keningnya bergelombang. Dengan lihainya, Sanusi berhasil menerap lawan bicaranya bertekuk lutut.
“Aku lihat istrimu bersama lelaki jangkung.”
“Di mana kau melihatnya?”
“Di dalam bus, saat mau mudik. Istrimu tak sadar kalau kuawasi dari belakang.”
Sanusi berhenti berkotek. Menyedot kreteknya dalam-dalam. Lantas ia lanjutkan, “emm.. Aku sengaja tak menegurnya.”
“Sebutkan ciri-ciri lelaki yang bersamanya!”
“Berambut cepak, berkumis runcing, tubuhnya ceking. Ada tato kepiting di lengan kanannya.”
“Eko!”
Semula, Norman berjanji untuk mengikhlaskan keputusan Marni memungut kembali cinta lamanya. Namun, ternyata ia kurang terima jika lelaki itu, lelaki yang dipuja-puja istrinya itu adalah seseorang yang dari dulu menjadi bebuyutannya. Saat melungguh di bangku SMA, Ekolah yang merusak jalinan asmaranya dengan Dewi, gadis primadona anak Pak Lurah. Ketika kuliah di sebuah kampus swasta, Eko juga tega memperdaya Lidya, dengan menyelipkan berita bahwa Norman adalah cowok play boy yang murah cinta dan gemar menebar janji kepada kaum Hawa. Dan, tatkala Norman hendak merajut sebetul-betul kebahagiaan, Eko datang lagi untuk menghancurkan.
***
Sehari dua malam Norman mengupas waktu di perjalanan. Kini, ia berada di ujung Sumatra, tempat di mana Sanusi memergoki Marni. Atas petunjuk dari beberapa teman istrinya, Norman menuju sebuah rumah berdinding batu bata yang belum dijangkapi cat. Kacanya kusam, seolah membocorkan kalau si empu rumah jarang mengelapnya.  
Sore yang agak mendung itu paling cocok buat bercengkerama. Tentu sayang kalau dilewatkan. Itulah mengapa, Marni dan Eko bertukar canda di beranda, ditemani biskuit cokelat dan teh hangat. Layaknya suami-istri, mereka berdua terlihat mesra.
Marni tampak bersemangat memunguti kata-kata yang Eko suguhkan. Sambil bertutur, sesekali Eko mencubit dan membelai pipi Marni. Demikian pula Marni, yang memukul manja pundak Arjunanya itu. Alangkah bahagianya! Bak burung kepodang yang baru saja menemukan sirsirannya.  
Tanpa permisi dan salam, Norman masuk ke dalam. Kebetulan pagar tidak terkunci. Sesetel kaki Norman bergontai ke arah kedua manusia yang dirundung renjana. Setiba di hadapan Marni, ia berujar lirih, “kau memang pendengar yang setia.”


Yogyakarta, 2012

Rabu, 18 Desember 2013

Tongkat Si Buta (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Inilah Koran" edisi Minggu, 15 Desember 2013)

Mata Sugino merayapi gerak-gerik lelaki berumur tiga puluhan tahun di depannya. Maklum. Baru itu kali ada orang buta makan di warung Mbok Kinah. Kopi yang ia pesan dibiarkannya terbuka, dikerubungi lalat, demi memuaskan hasratnya memerhatikan obyek gratis di tempat ia membanting bosan. Hiburan menarik, yang minimal dapat mengurangi beban pikiran. Pagi-pagi benar ia sudah mengunyah mentah-mentah gunjingan dari istrinya yang menuntut uang belanja. Padahal, di sakunya tergolek tiga ribu rupiah. Uang yang hanya cukup untuk membeli secangkir kopi. Ditambah sebatang kretek paling murah.
Dengan menu kare ayam dijangkapi tiga biji kerupuk, rupanya membuat orang buta tadi makan begitu lahap. Sugino mengulum ujung jakun. Liurnya pasti menetes, jika saja tak segera disusuli dengan menyeruput kopi. Bagi Sugino, lauk ayam adalah lauk paling istimewa di dunia. Mengingat ia dan istrinya selalu berlauk tempe atau tahu. Kalau ingin ganti menu, maka pilihan jatuh pada ikan asin. Menurut catatan otaknya, istrinya menghidangkan opor ayam sudah tiga bulan lalu. Itupun cipratan syukuran dari Mbak Atin, tetangganya yang melahirkan. 
Cara memungut nasi dengan sendok, melumat lauk, dan mengeremus kerupuk si buta sama sekali tak luput dari indra penglihatan Sugino. Ketika tinggal tersisa segenggam nasi di piring si buta, sekonyong-konyong pikirannya bersoal: dari mana si buta memperoleh uang? Pekerjaan apa yang menyebabkannya mengantongi uang dan leluasa memilih menu ternikmat di warung Mbok Kinah? Kelebihan apa yang dipunyai orang yang satu matanya tertutup sedang lainnya terbuka dengan warna putih semua itu? Ah, pertanyaan-pertanyaan yang ringan menyebabkan Sugino menaruh iri dan kian penasaran.
Didorong pertanyaan-pertanyaan tersebut, terbesit keinginan Sugino untuk membuntuti si buta. Oleh dasar itulah, ia menanti si buta rampung dari makan siangnya.
Sugino begitu bungah, mengetahui bahwa seusai minum segelas teh hangat, si buta langsung menanyakan kepada Mbok Kinah berapa jumlah yang harus dibayar. Berarti muncul tanda kalau sebentar lagi si buta keluar. Tak seperti dirinya yang suka duduk berjam-jam, ngomong ngalor-ngidul, sering juga ketiduran, meski hanya membeli secangkir kopi. Itu pun Mbok Kinah masih beruntung apabila Sugino mau melunasi seketika. Terkadang, kalau lagi kering, lelaki berambut keribo itu memperpanjang kontrak utangnya.
***
Tongkat itu berjamak kali dipandangi Sugino. Meski tunai mengutilnya, ia belum tahu betul apa yang hendak dilakukan dengan benda berbahan alumunium tersebut. Sesungguhnya ia kurang tega ketika mengambilnya diam-diam, waktu si buta beristirahat di bawah pohon nangka dekat rumah Pak Lurah. Barang tentu, tanpa memegang tongkat, si buta bakal kelabakan. Untuk sekadar berjalan, atau membedakan apakah di selingkarnya terdapat batu, pecahan kaca, kaleng, ataupun benda lain. Tapi, bagaimanapun juga Sugino terdesak melakukannya. Dalam otak kecilnya, ia percaya bahwa karena tongkat itulah ia akan dengan mudah meringkus rejeki, layaknya si buta. Meski berbeda jauh dengan wujud tongkat Mbah Wondo, yang dimandikan setiap bulan Syuro, Sugino menabung keyakinan, tongkat si buta mengandung tuah.
Malamnya, Sugino tak bisa tidur. Ah, tepatnya tak ingin tidur. Menemukan apa yang akan diperbuat dengan tongkat curiannya lebih penting daripada merebahkan badan guna melepas letih. Ia berpikir, berpikir, berpikir. Dan, berhasil.
Genap menimbang pikiran semalam suntuk, paginya, Sugino berkata pada istrinya:
“Marni, hari ini aku mau ke Surabaya.” Walaupun agak ragu, nyatanya Sugino membocorkan ludahnya.
“Apa?” Istrinya pura-pura tidak mendengar dan terus memukul-mukul kasur yang dijemur di samping rumah.
“Aku mau ke Surabaya. Aku ingin mengadu nasib di sana.”
“Sama siapa ke sana? Apa Mas Gino sudah punya tujuan?” kali ini istrinya agak serius menanggapi.
“Sendirian. Kemarin aku diberi tahu Nardi kalau tempat percetakan Pak Ali sedang butuh karyawan. Katanya, ada salah satu karyawan yang pulang dan tak kembali.”
Istrinya menatap wajah Sugino tajam. Mencoba meyakinkan dirinya bahwa apa yang terlontar dari mulut suaminya itu bukanlah bualan belaka. Ia melihat wajah Sugino merengut, ditambah dengan netra yang berkaca-kaca.
***
Plastik hitam yang berada di tangan itu terayun-ayun mengiringi langkah Sugino yang kian lemah. Ia masih menyisir daerah mana yang pas untuk memulai aksinya. Jika kurang cermat menentukan tempat, bisa-bisa apa yang akan ditunaikan merengkuh kegagalan. Padahal, uang yang ia pinjam dari Beno sudah ludes buat ongkos kendaraan dan meneguk es blewah di dekat terminal.
Menggelundung belasan kilo meter, akhirnya ia menemukan surau tua. Bergenteng bocor dengan dinding yang catnya mengelupas. Ia clingak-clinguk ke sekeliling, memastikan bahwa sekitarnya sepi orang. Lekas ia masuk ke dalam, mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana bolong-bolong disertai tambalan di sana-sini. Kaos partai bergambar beringin dan celana komprang yang bosan dipakai keluyuran itu disulap menjadi busana gembel. Dua hari Sugino mengerjakannya, tanpa sepengetahuan istrinya.
Sugino tidak pernah latihan drama atau ikut pementasan teater. Apalagi syuting sinetron di TV lokal. Akan tetapi, dalam dirinya terpendam bakat untuk berperan sebagai aktor. Buktinya, kepura-puraan yang ia simpan baik-baik pada raut wajahnya enggan diendus sang istri. Benar. Berangkat ke Surabaya untuk bekerja di percetakan Pak Ali merupakan siasatnya. Sebetulnya, ia pergi ke sana guna melancarkan niat yang ia tanam semalam.
Kini, Sugino berubah menjadi tokoh idola yang ia bayangkan. Mengambil tongkat dari plastik yang dari tadi ditenteng, ia siap memerankan aksi orang buta yang beberapa hari lalu ditemui di warung Mbok Kinah: bermuka melas dengan keringat berhamburan, berjalan gemetaran dengan kaki kanan diseret. Nyaris sempurna. Sayang, Sugino hanya berpura-pura memejamkan mata, karena mustahil sanggup menyamakan dirinya dengan orang buta yang satu matanya tertutup sedang lainnya terbuka dengan warna putih semua. Kecuali, ya kecuali ia nekat menyiramkan cairan aki ke mata kirinya, agar warna hitam di tengahnya lenyap.
Tertatih-tatih, dengan bimbingan tongkat, Sugino mendekati kerumunan orang di pasar. Ia mengincar perempuan berbedak dan berlipstik tebal di sebelah pos ojek. Rasanya, target seperti itu urung membuatnya kecewa.
Sesampai di hadapan perempuan pesolek tersebut—dengan tetap menjaga penampilan yang memprihatinkan—ia menjulurkan kedua tangannya, mirip si buta saat meronta-ronta memohon sumbangan. Pastilah pengemis buta yang digenapi kondisi mengenaskan lebih memancing belas kasihan ketimbang mereka yang meminta-minta dengan tubuh segar-bugar. Batinnya mendesis.
Dan, benar. Dari usahanya pertama kali itu, Sugino diganjar lima ribu rupiah. Jumlah yang lebih dari lumayan bagi manusia yang baru terjun dalam dunia pengemis. Bersuara serak-lirih layaknya orang kehausan, sambil membungkuk-bungkuk, ia berulang-ulang menyampaikan terima kasih.
Merasa semangatnya berlipat-lipat, ia mengemis lagi. Ia malas mengiba-iba pada sembarang orang. Entah mengapa yang selalu menjadi korbannya adalah perempuan. Barangkali, meski terkesan pelit, makhluk Hawa dianggap memiliki perasaan lebih peka dan kurang tega mengetahui orang lain susah dibanding kaum Adam.
***
Sore bertudung mendung itu, ia menghitung uang hasil jerih payahnya. Seratus ribu! Seratus ribu cuma dalam waktu tiga jam! Lebih dari cukup untuk sekadar memborong semua persediaan kare ayam Mbok Kinah.
Sungguh, ia begitu mujur diperjumpakan Tuhan dengan si buta, sehingga menemukan profesi barunya. Profesi yang kerap dicerca banyak orang, namun justru mendatangkan rimbun uang. Ia tak perlu lagi menjadi tukang pijit atau tukang gali sumur yang pernah dilakoninya selama empat tahun dan hanya dapat uang jika ada panggilan. Atau tukang parkir, yang baru lima hari bekerja, ia sudah babak belur sebab tepergok mencuri helm teropong yang terapit di motor Kawasaki Ninja milik Pak Bupati.
Selepas membersihkan badan, ia masuk ke masjid alun-alun guna melaksanakan shalat Ashar berjamaah. Tentu tanpa berwudlu, sebab sejak kecil ia tak tahu cara berwudlu yang benar. Sengaja Sugino meluangkan waktu untuk menghadap ke Penguasa semesta, sebagai rasa syukurnya yang mendalam. Padahal, sudah lima tahun ini ia jarang sekali menunaikan perintah Tuhan. Jangankan shalat lima waktu, shalat Jum’at yang seharusnya ditunaikan seminggu sekali saja ia sering absen. Yang belum pernah ditinggalkan hingga sekarang adalah shalat hari raya, khususnya Idul Adha. Mengapa? Karena sehabis shalat yang didirikan setahun sekali tersebut, biasanya takmir masjid mendata para jama’ah untuk kemudian pada siang atau sore harinya mereka menerima kiriman daging kurban. 
Keluar dari masjid, di depan kios jamu tradisional, lelaki yang mencium bau sekolah cuma lima bulan itu melihat Joko. Ya, Joko. Hei, itu kan pemuda yang dulu berbuat kurang ajar terhadap istriku! Tunggu! Akan kuhajar kau sampai mampus. Batinnya meraung.
Ketika hendak menumpahkan dendam, langkahnya tiba-tiba tertahan. Terpaksa ia mengubur maksudnya dalam-dalam. Sayang, jika demi membalas apa yang dulu dilakukan Joko pada sang istri, Sugino harus mengorbankan profesinya. Belum lunas melampiaskan amarah, bisa-bisa kedoknya selaku pengemis buta terbongkar. Wah, malah runyam urusan!
Sugino menghindar, berjalan berlawanan arah dari Joko. Dan, tergeragap. Di depannya tengah berdiri seseorang berumur tiga puluhan tahun. Ialah lelaki yang ditemui di warung Mbok Kinah, yang makan begitu lahap dengan menu kare ayam dijangkapi tiga biji kerupuk. Lelaki dengan satu mata tertutup sedang lainnya terbuka dengan warna putih semua. Lelaki yang bermuka melas dengan keringat berhamburan serta berjalan gemetaran dengan kaki kanan diseret saat meminta-minta. Akan tetapi, anehnya, lelaki tersebut sama sekali tidak menunjukkan bahwa dirinya cacat. Bahkan, ia nampak amat sehat.
Mata lelaki yang dikira Sugino buta itu membelalak. Tanpa diberitahu pun, Sugino mafhum kalau lelaki yang pura-pura menjadi pengemis buta semisal dirinya itu sedang dihinggapi kemarahan. Kemarahan membabibuta yang mudah mencelakakan keselamatan nyawanya.
Sugino memandangi tongkat yang dicuri dari lelaki di depannya. Tongkat itu. Tongkat yang membantunya mengetam uang seratus ribu dalam waktu tiga jam itu. Sungguh, ia ditikam gamang: memohon maaf dan menyerahkan tongkat kepada pemiliknya ataukah kabur tunggang langgang seraya mengumpat sekenanya.  

Yogyakarta, 2012