Rabu, 01 April 2015

Bangsa Singkong, Dulu-Kini (Teroka_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Kompas" edisi Rabu, 1 April 2015)


Jadi kita mesti tidak malu/ untuk makan tiwul./ Saya selaku Presiden Republik Indonesia/ akan menginstruksikan kepada seluruh jajaran kabinet/ dan pejabat tinggi negara/ untuk mulai detik ini/ mengganti menu mereka dengan singkong./ Bilamana perlu saya akan keluarken/ Dekrit Singkong.//

Bisa jadi karena terinspirasi dari sajak F. Rahardi di atas, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi menerbitkan Surat Edaran No 10 Tahun 2014, yang menginstruksikan agar semua instansi pemerintahan menyediakan makanan lokal, antara lain singkong. Selain menghargai jerih payah para petani, makan singkong juga tidak berpotensi besar mengundang penyakit.
Di tengah gempuran makanan impor, kebijakan ini perlu diapresiasi. Kebijakan itu memberdayakan hasil local sekaligus mendorong hidup sehat dengan makanan lokal. Menjamurnya makanan cepat saja (fast food) yang mengesampingkan bahaya, perlu diimbangi dengan upaya memopulerkan makanan alami, tanpa bahan pengawet serta murah.
Sebelum merdeka, rakyat Indonesia terbiasa makan singkong. Itu bukan pilihan, melainkan mungkin keniscayaan. Singkong jadi makanan pokok, baru kemudian beras. Siapa yang mampu makan singkong dianggap beruntung, karena sulit mendapatkan makanan pokok itu.
Situasi itu berbeda dengan kondisi mutakhir, ketika singkong sekadar menjadi camilan atau kudapan tambahan dari beras/nasi. Bahkan bagi segolongan orang kota, singkong sekadar nostalgia: mengingat keguyuban di pedesaan. 

Derajat Singkong
Dalam batas tertentu, singkong berfungsi sebagai penanda status sosial. Setelah kemerdekaan, orang yang masih makan singkong dipandang “rendah”. Sebaliknya, semakin tinggi status sosial seseorang, semakin jauh pula dari singkong.
Itu mengapa muncul istilah “anak singkong”, untuk anak-anak bumiputera sebagai lawan “anak keju” bagi anak-anak Belanda. Anak pribumi dengan status sosial lebih rendah harus selalu mengalah pada anak-anak bangsa penjajah.
Keberadaan singkong kian disepelekan ketika orang yang makan keju dianggap berderajat lebih tinggi ketimbang pemakan singkong. Akibatnya, orang-orang kaya lebih suka membeli keju demi memperoleh pengakuan masyarakat. Fenomena ini sejalan dengan kerapnya penggunaan nama asing untuk tempat, jalan, dan bangunan. Padahal, sebenarnya, dengan kenyataan ini, masyarakat pribumi semakin terisolir dari alam, tradisi, serta sejarahnya (E.N. Timo, 2005: 104).
Keadaan ini diperparah dengan salah tafsir atas peribahasa “ana dina ana sega” (ada hari kalau ada nasi). Martabat singkong kian terpuruk. Di Jawa, sebagian orang belum merasa makan jika perutnya belum terisi nasi meski sudah kenyang menyantap singkong.

Identitas Singkong
Sebenarnya singkong tak selalu identik dengan stereotip negatif. Singkong masih memiliki harga diri, bahkan dimuliakan. Di Blitar, misalnya, ada bait mars perjuangan berbunyi: Telo jagung iku kang diutamakne (singkong jagung itulah yang diutamakan)/ Mergo cepet kanggo ngisi weteng luwe (karena cepat untuk mengisi perut lapar)/ Wargo Keprasan wis siji kaniatane (warga Keprasan sudah satu niatnya/tekadnya)/ Sopo wae sing ngadang disingkirake (siapa saja yang menghadang akan disingkirkan)//.
Selain pengganjal lapar, tanaman yang berasal dari Amerika Selatan itu juga berfungsi menumbuhkan daya juang. Begitu pun bagi kebanyakan masyarakat tradisional di Nusa Tenggara Barat, singkong tetap salah satu identitas kulinernya.
Bahkan di kalangan seniman modern, julukan “manusia singkong” dengan takzim dilekatkan pada F. Rahardi karena singkong menjadi sumber imajinasi. Lahir di lereng gunung Unggaran di Ambarawa, Jawa Tengah, yang terbiasa dengan alam pedesaan, seniman itu banyak memanfaatkan singkong sebagai penyampai pesan. Bangga dengan julukannya, sampai-sampai salah satu karyanya berjudul Kentrung Itelile: Kumpulan Cerpen Manusia Singkong (1993).
Singkong, bagi Rahardi, mewakili penderitaan rakyat. Dengan tanaman itu, dia ingin menunjukkan masih kuatnya ketimpangan sosial di negeri ini. Simaklah potongan “Sajak Transmigran”: sepuluh tahun masih makan singkong/ duapuluh tahun makin singkong/ dan limapuluh tahun kemudian/ transmigran beruban/ sakit-sakitan/ mati/ lalu dikubur di ladang singkong//.
Ahmad Tohari, sastrawan asal Banyumas, Jawa Tengah, juga memanfaatkan singkong dalam alur cerita novel Ronggeng Dukuh Paruk. Rasus, tokoh dalam kisah itu, diceritakan berebut singkong bersama-sama temannya setelah dijebol ramai-ramai dengan bantuan air kencing mereka. Simak juga saat orang-orang upahan Pak Sentika mengangkut singkong dari Alaswangkal sampai ke pangkalan di tepi jalan besar.
Atau saat laki-laki gunung bercawat yang bergerombol di dekat pikulan singkong, memperhatikan kecantikan Srintil yang sedang memijat betisnya. Singkong yang banyak ditemukan di tempat kelahirannya, Banyumas, memberikan pengaruh terhadap karya sastrawan yang pernah mengantongi penghargaan dari Radio Nederlands Wereldomroep itu. Singkong, biarpun kelezatannya tertimbun dalam tanah, posisi dan perannya dalam hidup kita sebagai bangsa tak akan lenyap dalam sejarah.

Bojonegoro, 2014

Selasa, 31 Maret 2015

Buku dan Radikalisme Agama (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Lampung Post" edisi Minggu, 29 Maret 2015)

Materi kontroversial dalam buku Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti kelas XI tingkat SMA perlu dikaji ulang. Pasalnya, pada halaman 78, buku terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tersebut menyatakan bahwa pembunuhan terhadap orang yang menyembah selain Allah, atau musyrik, boleh dilakukan.
Fakta di atas mengindikasikan bahwa kampanye anti radikalisme agama yang tengah didengung-dengungkan oleh pemerintah dan sebagian besar masyarakat mengalami anti-klimaks. Hal ini dikarenakan upaya serius dalam membendung ideologi berbasis kekerasan sedang mengalami penggembosan.
Ditinjau dari sisi historisnya, radikalisme agama merupakan kelanjutan dari menguatnya fundamentalisme. Dalam konteks ini, gerakan keagamaan yang terjadi di Indonesia merupakan realisasi dari sikap fanatisme, yang mencerminkan rasa kebersamaan dan solidaritas kelompok sebagai pemeluk suatu agama. Pada akhirnya, ketika berhadapan dengan kelompok lain, sikap ini bergeser ke dalam bentuk radikalisme dan militanisme (LIPI, 2005).
Di Indonesia, radikalisme dan militanisme diwujudkan dengan beragam tindakan. Di antaranya dengan merobohkan rumah-rumah peribadatan agama lain; membubarkan sejumlah kegiatan yang terindikasi maksiat; serta merampas brendi, cognac, wiski, vodka, liquer, wine, sampanye, bir, atau miras oplosan di kafe-kafe dan warung remang-remang.
Sebab mengalami kejenuhan dengan cara-cara yang dianggap ‘mainstream’ inilah, kelompok fundamentalis-radikal mulai menempuh cara baru, yaitu dengan menyisipkan teks-teks dalam buku. Bagi mereka, buku menjadi sarana efektif dalam meluapkan beragam ekspresi.
Pertama, buku menjadi ekspresi ketidakpuasan terhadap sistem demokrasi yang bersifat sekuler, di mana dalam penyelenggaraan negara, agama tidak mendapatkan ruang. Mengutip Rumadi (2006), demokrasi yang menempatkan suara rakyat adalah suara Tuhan (vox populi vox dei) dianggap telah mensubsordinasi Tuhan. Ketidakpuasan inilah yang menyebabkan kelompok fundamentalis-radikal memanfaatkan buku sebagai sarana memperjuangkan aspirasi politik mereka.
Kedua, buku merupakan ekspresi dari kekecewaan terhadap kebobrokan sistem sosial akibat ketidakmampuan negara dalam mengatur kehidupan masyarakat secara religius. Fakta ini menginisiasi kelompok fundamentalis-radikal untuk melakukan upaya islamisasi buku, baik yang dikonsumsi oleh siswa, mahasiswa, mapun masyarakat umum. Jika sementara ini, upaya radikalisme agama baru ditemukan dalam buku Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti kelas XI tingkat SMA, maka bisa jadi upaya tersebut juga ditemukan di buku-buku lainnya.
Ketiga, buku mewakili ekspresi atas ketidakadilan politik. Di Indonesia, perbedaan sering kali dipolitisir, sehingga suatu kelompok merasakan adanya perlakuan tidak adil oleh kelompok lain. Perlakuan diskriminatif seperti ini memunculkan primordialisme yang ditampilkan secara vulgar menjadi suatu identitas. Dalam konteks inilah, kelompok fundamentalis-radikal menghalalkan gerakan pemberontakan dan perlawanan atas nama agama, salah satunya dengan buku.
Fenomena buku sebagai bagian dari strategi para fundamentalis-radikal harus mendapat perhatian, sebab ancaman pendangkalan agama berada di depan mata. Apalagi, mengutip Jawa Pos (22/03), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mendeteksi adanya sembilan ribu situs yang mengandung paham radikal. Oleh dasar itulah, sudah semestinya penangkalan terhadap bahaya radikalisme menjadi materi yang diajarkan kepada para siswa. Para siswa harus paham bahwa radikalisme tidak menjadikan agama semakin digandrungi, melainkan justru ditakuti. Dengan radikalisme, orang-orang tidak akan berduyun-duyun memeluk agama Islam, bahkan menjauhinya. Bagaimana pun juga, kekerasan atas nama agama tidak akan memunculkan simpati, melainkan fobia.
Sebagai pihak yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, guru harus memosisikan diri sebagai tameng terhadap ‘tombak radikalisme’ yang tengah dilesatkan oleh kelompok tertentu. Para siswa harus diberitahu bahwa gerakan terorisme yang akhir-akhir ini kian meresahkan merupakan aksi orang-orang yang belum mengerti sepenuhnya tentang hakikat agama Islam. Siswa harus dipahamkan bahwa ulah ISIS yang memenggal leher manusia tanpa rasa penyesalan sedikit pun adalah penyimpangan yang tentu saja tidak boleh dibenarkan.
Kepada para siswa, guru harus menyampaikan bahwa konsep rahmatan lil ‘alamin tidak mungkin terwujud jika kasus-kasus kekerasan atas nama agama masih menjamur. Dengan demikian, radikalisme hanya akan menjadi bumerang bagi agama Islam yang senantiasa memerintahkan umatnya untuk menyebarkan ‘virus’ kasih sayang.
Di samping itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) juga dituntut lebih selektif terhadap naskah dan materi yang diajarkan kepada para siswa. Jangan sampai buku menjadi senjata mematikan bagi para militan, sehingga sekolah sebagai tempat penyemaian benih-benih pendidikan berkarakter berubah menjadi sarang radikalisme agama.


Bojonegoro, 2015

Minggu, 01 Maret 2015

Lisa (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Koran Merapi" edisi Minggu, 1 Maret 2015)

Dewi menghisap rokok dalam-dalam. Sepemakan sirih kemudian dari lubang mulutnya mengepul asap bulat. Hari itu ia merayakan keberhasilannya sehabis membuat orang yang paling dekat di hatinya menaruh bangga atas apa yang dikerjakan.
Ayahnya, Lasdi, tukang becak yang sakit-sakitan itu, tidak perlu capai-capai mencari uang. Ya, ia menggelesot santai di kolong pohon nangka, setelah diberi tujuh lembar rupiah berwarna merah menyala oleh Dewi. Seharusnya pada saat seperti itu, ia duduk berselonjor sambil menikmati kretek murah yang disambar dari toko Mbok Ijah. Tapi, tidak. Beberapa bulan lalu, Dewi menyuruhnya berhenti dari kebiasaan itu ketika berhari-hari batuknya membabibuta dan dikhawatirkan mengidap penyakit paru-paru.  
Ketika menerima uang, ia tak mengucapkan apa-apa, kecuali terima kasih karena Dewi telah memperhatikan dirinya yang semakin uzur.
Cuma terima kasih?
Benar. Sama sekali ia tak pernah mempermasalahkan Dewi yang kerap pulang larut malam dan gemar menyulut rokok untuk dijepit di bibirnya. Dan, waktu itu, Lasdi tahu bahwa asap bulat yang menyembul dari jendela itu berasal dari bibir anaknya. Ia juga paham, jika menyemburkan asap, itu berarti hati Dewi tengah mengayuh gembira.
***
Tengah malam, Lasdi memandangi Dewi yang terlelap di depan televisi. Mengamati wajahnya, otaknya memutar potret Wardah seketika. Saat itulah dua matanya berkaca-kaca. Selalu saja ia meratap, kenapa sepuluh tahun silam, ia mengizinkan istrinya merantau ke Malaysia, guna berburu uang.
Tak bosan-bosannya ia berpesan pada Dewi untuk tetap tinggal di desa, separah apa pun kondisi ekonominya. Anak satu-satunya itu boleh bekerja apa saja, asal tidak merantau ke kota, atau malah ke luar negeri. Lasdi tidak ingin kehilangan untuk kedua kali setelah istrinya raib. Menyikapi penderitaan ini, ia hanya melanting senyum ketika teman-teman atau tetangganya bersoal mengenai Wardah, seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada istrinya itu. Ia selalu menutupi agar berita hilangnya Wardah tidak diendus oleh orang lain selain Dewi, juga beberapa kerabat dekatnya. Itulah mengapa, ketika didesak menggelar hajatan, mengirim doa bersama supaya Wardah kembali pulang, ia menolak. Yakin, kalau menelan kabar itu, pastilah teman-temannya mengimbuhi dengan omongan miring yang mudah membikin panas telinga.
Genap sebulan ia tidak lagi bekerja. Genap sebulan pula, Dewilah yang menggantikan posisinya dalam mencari nafkah. Lasdi membayangkan, alangkah payahnya anaknya itu, yang telah memeras peluh seharian; berangkat pagi buta dan pulang ketika langit berganti muka. Sebenarnya ingin sekali ia memijit punggung Dewi; hal serupa yang dulu diperbuat Wardah kepadanya ketika ia pulang dari bekerja. Namun, terpaksa ia tahan. Ia tak mau lantaran sentuhan jari-jarinya, Dewi lantas terbangun dari dengkurnya.
Di hadapan Dewi yang tidur, Lasdi berjanji akan menggunakan uang pemberian itu dengan sebaik-baiknya. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk menghindarkan diri dari judi buntut, yang rutin diikuti oleh teman-temannya sesama tukang becak. Juga tuak, minuman favorit para kuli bangunan yang baru mendapat bayaran.
***
Dewi dan Lasdi, keduanya, keluar rumah bersama. Sengaja Lasdi mengantar anaknya dengan becak. Lasdi mengotot agar anaknya bersedia diantar. Dewi menyanggupi dengan syarat ayahnya lain kali tidak melakukan hal yang sama. Ia lebih suka memanfaatkan jasa tukang ojek, agar ayahnya bisa istirahat saja di rumah.
Pagi dengan matahari yang malu-malu, masih bersembunyi itu, selain menemani anaknya sampai stasiun, Lasdi juga bermaksud menyambangi teman-temannya yang mangkal tidak jauh dari sana. Terus terang, ia kangen berat dengan mereka. Ingin sekali mendengarkan ocehan dan bahan tertawaan khas tukang becak, yang langka diperoleh di mana pun dan kapan pun.
Ketika lewat di depan kerumunan tukang becak, Lasdi menyapa mereka sambil menyunggingkan senyum. Mendapati Lasdi bersama gadis cantik, mereka langsung memanggil-manggil Dewi, tanpa menghiraukan sedikit pun sapaan Lasdi. Juga ada yang bersiul-siul dan bertepuk tangan. Sebagian lainnya memilih memandangi anaknya dengan pandangan penuh nafsu.
Wajah Lasdi mengerut. Sebetulnya ia agak tersinggung melihat ulah mereka. Apakah seperti halnya dirinya, segerombolan orang itu juga tidak pernah mengenyam pendidikan, hingga tingkah laku mereka jauh dari sopan. Apalagi, Dimo, salah satu temannya, sempat berkata jorok pada Dewi.
Lasdi juga geram, kenapa perhatian teman-temannya hanya tertuju pada anaknya. Adakah bini-bini mereka sudah beberapa bulan malas memberikan belaian, hingga perilaku mereka seperti cacing kepanasan. Tidak hanya itu. Ia bingung bercampur heran, ketika anaknya dipanggil dengan sebutan Lisa.
Seusai punggung tangannya dikecup oleh Dewi, sebagai tanda pamit anak kepada ayahnya, Lasdi buru-buru menggenjot becaknya, kembali menuju tempat di mana ia dulu menunggu penumpang. Dari tadi kepalanya digedor-gedor sebongkah pertanyaan yang terus-terusan mengganggu, “kenapa anakku dipanggil Lisa?”. Meski ada perasaan jengkel setengah mati sebab kekurangajaran teman-temannya, pikirannya lebih terbebani dengan satu nama yang begitu asing didengarnya itu.
“Hai Lasdi, lama kau tidak ke sini. Ke mana saja?”
Jupri menyapanya lebih dulu, sebelum Lasdi mencongkel pertanyaan yang mengendap di batok kepalanya.
“Di rumah. Tadi……”
Belum sempat Lasdi menggenapi kalimatnya, tiba-tiba dipotong seenaknya oleh Yanto, tanpa menunjukkan rasa salah sedikit pun, “kau dapat pekerjaan baru? Hei, ngomong-ngomong, kok bisa-bisanya kau merayu Lisa naik becakmu?”
Sepasang alis Lasdi mengait. Berang, sehabis ia menangkap ucapan lelaki paruh baya yang di matanya berubah menjadi kera itu. Tapi, ia masih punya cukup kekuatan guna mengontrol dirinya yang terlihat limbung. Dan, pertanyaan di otaknya kian berganda.
“Maksudmu?” Lasdi balik menginterogasi.
“Ya, Lisa. Kau belum mengenalnya? O, ya aku lupa. Kau sudah tidak di sini ketika pertama kali Lisa bekerja. Ia primadona para pejabat, lho. Makanya, kita tak pernah bisa membujuknya naik becak. Ia lebih suka pulang pakai ojek atau taksi. Katanya gengsi naik becak.”
Lasdi semakin karut dengan ucapan Yanto. Ketika lipatan di keningnya bertambah, Hari menimbrung, “Lisa memang jadi pilihan orang-orang yang punya uang. Mustahil, ia mau melayani tukang becak kayak kita, kecuali kita mampu membayarnya.”
“Jadi Lisa itu……”
“Pelacur! Ibunya dulu pergi ke Malaysia, tapi tak pulang-pulang. Ia sekarang jadi begitu, mungkin lantaran tak ada uang buat makan. Kalau ayahnya, e… ke mana ya? Kasihan gadis cantik sepertinya harus jadi….”
“Sudah, sudah!” Lasdi enggan memperpanjang pembicaraan. Menggenjot becaknya, ia ngacir pulang.
Teman-temannya menatapnya keheranan.
***
Dua minggu Lasdi memendam gelisah. Terlanjur ia mempersilakan anaknya mengais rezeki dengan cara apa saja, asalkan tetap bertahan di desa. Ia menyesal. Sungguh menyesal. Barang tentu ini bukan kabar baik yang jika Wardah mengetahui, orang pertama kali yang berhak disalahkan yaitu Lasdi; ayah yang kurang mengerti bagaimana cara mendidik anak. Meskipun demikian, ia tetap menunjukkan perangai seperti sedia kala.
Dua minggu pula Dewi menjauhi rokok. Itu artinya, Dewi tidak sedang gembira. Atau lebih tepatnya, ia tengah bersedih. Rupanya, ia mampu membaca kegelisahan yang hinggap di hati sang ayah. Akan tetapi, perihal mengapa perasaan ayahnya bisa demikian, ia tidak pernah tahu, dan enggan menanyakan langsung.
Setelah beberapa lama menahan gejolak jiwanya, akhirnya pendirian Lasdi goyah. Ini kali ia melanggar janjinya kepada Dewi; uang simpanan yang sudah mencapai empat juta lebih digunakannya berjudi dan membeli empat botol tuak. Malam itu, ia teler bersama Gimin, Karjo dan Diran. Tak lupa pula ia mampir ke losmen mungil dekat stasiun. Di sanalah tempat para lelaki membunuh sepi.
Menanti antrian hampir satu jam, tibalah kini giliran Lasdi. Dibukanya pintu kamar perlahan-lahan. Dan, di atas ranjang tergolek gadis berambut sebahu dengan sehelai kain menempel di dada dan pangkal pahanya tengah siap mengalirkan sentuhan hangat kepadanya.
Gadis itu tertegun hingga tiada sepatah kata pun merembes dari katup mulutnya. Adapun Lasdi, lelaki dengan beberapa uban di atas kupingnya itu, membisikkan kalimat sok mesra, “Lisa, temani aku semalam saja…..”


Yogyakarta, 2012

Polisi dalam Lirikan Puisi (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Lampung Post" edisi Minggu, 22 Februari 2015)

Kronik Puisi, Kronik Polisi
Dalam beberapa dasawarsa terakhir, sindrom kegalauan berhasil menyerang tubuh para penyair, sehingga mereka menulis puisi dengan nada kegelisahan yang tinggi. Sebaliknya, ulah oknum polisi yang kurang bertanggungjawab membuahkan kegelisahan-kegelisahan masyarakat. Oleh dasar itulah, jika dicermati, terdapat hubungan erat antara kronik riwayat puisi dengan kronik perjalanan polisi.
Pertama, kronik penulisan puisi di Indonesia menunjukkan bahwa tema sosial menduduki rating tinggi dan menjadi pilihan logis bagi kalangan penyair dalam mengelola imajinasi. Dengan menganggit puisi, mereka dengan lantang ingin meneriakkan bahwa di negeri ini masih banyak ketimpangan. Bermodal puisi, masyarakat diajak untuk mengkritisi disekuilibrium-disekuilibrium yang menyelinap dalam alur kehidupan. Dan, rupanya, pembicaraan latah mengenai polisi merupakan salah satunya.  
Kedua, kronik perjalanan polisi tidak bisa terlepas dari gejolak antara aparat dan rakyat kecil. Gejolak tersebut muncul di antaranya karena ketidakberdayaan rakyat kecil menghadapi kesewenang-wenangan polisi. Sistem yang berjalan di negeri ini sepertinya menempatkan rakyat kecil pada pihak ‘yang dikuasai’, sedangkan polisi selaku ‘yang menguasai’. Akibatnya, rakyat kecil mau tidak mau harus bersedia menjadi obyek kezaliman aparat. Terkait hal ini, ada tiga contoh kasus menarik.
Kasus pertama, pada tahun 1970-an Sengkon dan Karta terpaksa menjalani pidana penjara bertahun-tahun atas kejahatan pembunuhan yang tidak mereka kerjakan. Ternyata keduanya mendekam satu sel dengan pembunuh yang asli. Singkat cerita, saat Sengkon sekarat, seorang narapidana bernama Gunel menaruh kasihan. Merasa berdosa, Gunel meminta maaf kepada Sengkon lalu mengakui bahwa dirinya bersama teman-temannyalah yang telah membunuh Sulaiman dan Siti Haya. Hal ini terjadi lantaran ulah polisi yang salah tangkap.
Kasus kedua, penangkapan polisi atas Mbok Minah (55) asal Banyumas, hanya karena mencuri tiga buah kakao dengan harga tidak lebih dari Rp 10.000. Nenek tersebut akhirnya terkena vonis pada 2009.
Kasus ketiga, di akhir tahun 2011 kasus AAL mencuat karena dituduh oknum polisi mencuri sandal. Sesuai pasal 362 KUHP tentang pencurian, ia terancam kurungan maksimal lima tahun penjara. Lantas putusan hakim menyatakan AAL bersalah namun tidak dijatuhi hukuman. Akhirnya ia dikembalikan kepada orang tua. Putusan pengadilan ini dinilai Komnas Perlindungan Anak menciderai rasa keadilan.
Sebab keberingasan tersebutlah, tak ayal, jika rakyat kecil menganggap bahwa aparat tak ubahnya hantu bertampang seram sekaligus menakutkan.

Mencecar Polisi Melalui Puisi
Adanya hubungan antara dua kronik (kronik puisi-kronik polisi) di atas, ternyata memantik para penyair untuk mengambil jalan tengah. Kegelisahan-kegelisahan masyarakat atas tindakan polisi sebisanya ditampung dalam puisi.
Dengan semangat berlipat-lipat, para penyair menyuarakan kegelisahan tersebut ke ruang publik. Mereka menggunakan puisi dalam ikhtiar ‘mengingatkan’ polisi. Bagaimana pun juga, polisi membutuhkan entitas dari luar yang peduli terhadap masa depan polisi. Dalam peran inilah puisi memosisikan diri. Puisi menjadi alternatif terbaik dalam melancarkan kritik terhadap kinerja polisi.
Dengan tabiatnya yang lembut, diharapkan puisi mampu menyelipkan saran demi perbaikan kiprah penegak hukum di masa mendatang. Tak jarang, kritik yang disampaikan dengan cara lembut santun akan lebih mudah diterima dengan lapang dada.  
Kegelisahan-kegelisahan dalam puisi biasanya dibungkus dengan ungkapan yang tersirat. Akan tetapi, tak jarang juga ditampilkan secara terang-terangan. Misalnya puisi Sahlul Fuad berjudul Umrah dalam 33 Puisi Dusta (Miring, 2011): Tuhan, kami menang tender usaha/ Ke rumah-Mu kami bersilaturahmi/ Kami bawakan Engkau sekeranjang dosa/ Agar kami tak terendus polisi.
Dalam puisi di atas, penyair menempatkan polisi selaku pihak yang ditakuti. Saking takutnya, uang yang dihasilkan dari tender (diduga tender gelap) justru dipakai pergi ke rumah Tuhan—dalam bentuk ibadah Umrah—, demi menghindari kejaran polisi.
Meskipun bersifat parodi, pesan yang coba disampaikan puisi tersebut bisa ditangkap. Penyair ingin menegaskan bahwa terdapat ketakutan luar biasa yang menimpa rakyat kecil ketika menghadapi polisi, sehingga apabila bertemu dengan polisi, sama saja memergoki drakula dengan taring yang menyeringai.
Selain itu, polisi juga pernah digambarkan sebagai sosok yang lemah. Potongan puisi Jante Arkidam buah pena Ajip Rosidi (Tjari Muatan, 1959) menunjukkan hal tersebut: Mantri Polisi lihat kemari!/ Bakar meja judi dengan uangku sepenuh saku//. Kata Jante berapi-api. Seorang jagoan, buronan polisi, penjudi, peminum kelas berat, yang diangkat dari khasanah critera rakyat tersebut seenak perutnya menyuruh polisi untuk membakar meja judi. Padahal, umumnya seseorang yang tertangkap basah oleh polisi ketika berjudi, ia akan memilih lari terbirit-birit.
Tak berhenti di situ. Jante menantang, berkata lantang: ‘Aku, akulah Jante Arkidam/ Siapa berani melangkah kutigas tubuhnya batang pisang/ Tajam tanganku lelancip gobang/ Telah kulipat ruji besi.
Sama sekali Jante tak gentar menghadapi polisi. Sambil bermaksud menghina, ia menenggak tuak, lalu mendengkur di depan polisi. Hal ini diungkapkan dalam tiga baris: Jante masih menari berselempang selendang/ Diteguknya sloki kesembilan likur/ Waktu mentari bangun, Jante tertidur.
Nyali Jante enggan surut ketika diancam bakal dijebloskan ke penjara Nusa Kambangan: ‘Jante, Jante Arkidam, Nusa Kambangan!’//
Bahkan ketika mendengar gertakan, Jante malah menjawab sekenanya, dan kembali ia meluncurkan cemoohan: ‘Mantri polisi, tindakanmu betina punya!//
Akan tetapi, kenekatan Jante diimbangi dengan kemampuannya menundukkan polisi. Ketika jagoan dari daerah Sunda itu dibui, ternyata ia dapat dengan mudah merusak jeruji besi, kabur dan menghabisi polisi serta memebenamkan mayatnya ke dalam sungai: Sebelum habis hari pertama/ Jante pilin ruji penjara/ Dia minggat meniti cahya// Sebelum tiba malam pertama/ Terbenam tubuh mantra polisi di dasar kali//.
Melalui puisi, penyair menunjukkan ketidakberdayaan polisi dalam meringkus penjahat.
Namun demikian, ada juga puisi yang justru melekatkan image positif pada diri polisi. Bagaimana pun juga, polisi layak memperoleh apresiasi setinggi-tingginya atas segala usaha yang telah dilakukan. Dalam buku puisi Anak Mencari Tuhan, yang dikemas satu paket dengan Pertempuran Rahasia karangan Triyanto Triwikromo (Gramedia Pustaka Utama, 2010), Nugroho Suksmanto menaruh harapan besar kepada polisi. Hal itu dituturkannya dalam puisi bertajuk Pak Polisi:
Pak Polisi,/ Kaulah pahlawanku/ Mengatur lalu lintas di persimpangan/ Menuntun kawan-kawan menyeberang jalan/ Menangkap pencuri, menumpas perampokan/ Mengungkap pembunuhan, mengejar pelaku pengeboman/ Menjebak pengedar narkoba, membongkar penyelundupan//.
Bahkan, sampai dalam tataran tertentu, polisi tetap berhak memperoleh kepercayaan dari segenap masyarakat. Kepada polisi informasi mengenai profil penjahat bisa dilacak, sehingga seseorang bisa selalu mawas diri. Yudhistira ANM Massardi, dengan langgamnya yang mbeling dan ‘bermain-main’, menulisnya dalam puisi Biarin! (1974): Kalau kamu nggak suka kepadaku sebab itu aku rampok hati kamu./ Tokh nggak ada yang nggak perampok di dunia ini/ Iya nggak? Kalau nggak percaya, tanya saja sama polisi//.
Demikianlah. Dengan adanya kritik serta ‘pekik penyemangat’ yang digencarkan puisi, diharapkan polisi lekas berbenah diri, sehingga tiga tugas utama polisi: melayani masyarakat, melindungi masyarakat, serta menegakkan hukum, bisa terlaksana dengan baik. Semoga!

Yogyakarta, 2012

Minggu, 22 Februari 2015

Kepergian Briton Menuju Istana Kegelapan (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Padang Ekspres" edisi Minggu, 1 Februari 2015)

Di sebongkah pagi yang bertudung embun, aku bersama teman-teman—Toni, Sukma, Heru, dan Joko—melendeh santai di teras rumah Pak Raden. Hari Minggu adalah waktu di mana kami rehat dari pelajaran sekolah. Kami biasa mengisinya dengan beraneka kegiatan yang mengantar hati mengayuh gembira. Mendengar cerita Pak Raden merupakan salah satu di antaranya.
Sesuai janji, Pak Raden hendak mewartakan sebiji kisah yang belum pernah diriwayatkan kepada siapa pun. Termasuk cucunya sendiri, Bomi. Sungguh, kami mengantongi perlakuan istimewa. Alangkah serunya! Menyimak kisah yang tergolong langka itu.
Ditemani secangkir kopi dan lintingan tembakau, Pak Raden memulai alkisah dengan suara yang serak-basah; dengan nada melengking tinggi, kadang mendatar-merendah.
***
Istana Hungi adalah tempat yang sangat gelap. Istana megah itu urung tersentuh cahaya. Segala sesuatu di dalamnya tampak suram sekaligus menakutkan. Di sana selalu malam. Ya, malam dengan angin berdesir-desir dan lolongan satwa buas berkejaran. Pagi, siang, sore, dan senja memilih menjauh. Tapi tidak bagi manusia. Mereka berpenat-penat seraya mendekat. Sayang, belum terbit satu pun dari makhluk dengan seribu perasaan itu yang dapat menjangkau jalan menuju istana.
Namun demikian, suatu hari, pemuda yang dilahirkan ibu manusia, bertekad berkunjung ke sana. Berbekal lentera kecil, ia telusuri jalan tikus yang menghubungkan Krobbo, kampungnya, dengan hutan Jamul—loka mengerikan berjarak 5 kilo meter dari istana Hungi.
Tentu bukan manusia sembarangan yang bisa menembus hutan rimbun itu. Namun Briton berhasrat membuktikan bahwa dirinya adalah manusia pilihan. Benar. Manusia pilihan yang sanggup melumpuhkan Horsi—ular raksasa yang ratusan tahun tinggal di dalamnya. Binatang dengan sisik ulat, ekor bercabang lima, serta taring-taring tajam yang menempel di serata tubuhnya. Binatang berbisa yang melumat ribuan tulang para pemburu kemuliaan. Tak terkecuali, Monsi, kakek Briton, yang tamak mengejar jabatan tetua suku.
Tujuan sama dengan niat berbeda. Itulah kesan yang terendus dari pribadi Briton. Lelaki dengan jambang mengembang dan kumis lancip itu mafhum, bahwa manusia ingin pergi ke istana Hungi demi menggapai mimpi. Akan tetapi, Briton adalah Briton. Menurutnya, menggayuk mimpi dengan syarat menumbalkan nyawa tiadalah hal yang berguna. Ia enggan tewas konyol. Tewas mengenaskan semisal kakek Monsi usai semburan beracun melemaskan sekujur badan. Sekalian iganya yang bersemburat dan luluh lantak karena remasan Horsi. Briton membagul satu tujuan yang tak sempat terbersit oleh para pendahulunya.
***
Moher terguncang. Gerangan apakah yang membuat istananya mendadak gemetar. Oleng. Dan meraung-raung. Hampir satu abad, ia beserta para begundalnya dikelilingi kedamaian. Kedamaian yang terbungkus kegelapan. Bagi mereka, kegelapan merupakan hal terindah dan begitu diagungkan. Kegelapan—layaknya cahaya—berperan menyuluh kehidupan.
Kini bukan saatnya lagi mengunyah waktu bersama para selir; menikmati teh mura atau mengulun buah buja dengan pijitan halus jemari lentik betina-betina cantik di pundaknya. Ia harus lekas mengawasi keadaan. Terdesak, ia turun tangan tanpa menitahkan ajudan dengan suara paraunya.
Sampai di beranda istana, ia terlonjak. Tercengang. Lalu terdiam. Alisnya menyatu dan bibirnya menggigil. Bola matanya memergoki sepercik api dengan kepulan asap yang meliuk-liuk. Meski tak terlalu besar, ia sungguh berang. Kata Vorgi, paman Briton, Moher beserta pengikutnya sangat benci dengan segala hal yang menghembuskan cahaya. Itulah mengapa beberapa benda seperti obor, lentera, serta tungku milik penduduk Krobbo kerap rusak. Ah, tepatnya dirusak oleh Bunggula, sebutan bagi burung-burung berparuh besi utusan Moher.
Langkah masih tergagap. Ludah mengental di ujung jakun. Moher menduga bahwa sebiji peristiwa buruk mengancam istana. Ia dituntut mengambil tindakan segesit kilat. Atau penyesalan bakal terlebih dahulu menyapa.
***
“Wahai raja berburuk rupa, aku ke sini hanya demi melempar satu pertanyaan.”
Telinga Moher mendidih. Gerahamnya mengencang. Dua tangannya mengepal. Seumur-umur, belum pernah muncul makhluk yang berani berkata-kata memekakkan suasana seperti itu. Tanpa bermaksud merendahkan nyali, pangkal lidahnya bergeser sedikit dan meluncurkan sepotong kalam: “Tenang. Tenang. Perkenalkan dulu siapa dirimu.”
Briton menampik mentah-mentah ocehan Moher. Lalu tanpa basa-basi, ia menyahutnya enteng.
“Apakah kau ayahku?”
Moher tercekat. Ada yang mengunci katup mulutnya. Makhluk berambut cacing dan berbulu serigala itu memandang lurus ke depan. Pandangan yang seolah tertuju pada Briton, namun sebenarnya ia sedang merajut benang-benang masa lalunya. Bayangannya tumpah. Keping-keping ingatan yang dikubur dalam-dalam sekonyong-konyong menyerbu kepala. Bukan maksud menguras sesuatu yang sudah lama disingkirkan. Akan tetapi, sebab ulah Briton, kenangan-kenangan itu diletakkan kembali di punggungnya.
Dengan segenap kelancangan, Briton menebar ancaman.
“Jika tetap bungkam, kebohonganmu akan kubongkar. Dengan begitu, penduduk  Krobbo paham bahwa kau bukanlah raja kegelapan yang mampu mengabulkan segala permintaan. Bukankah selama ini kau merahasiakan hal ini? Termasuk kepada abdimu sendiri? Inikah satu-satunya usaha supaya kewibawaanmu tetap terjaga?.”
Bagai gelombang yang menyapu buih di laut Syme, buah tutur Briton memporakporandakan bangunan siasat Moher. Bingung memburu jawaban yang tepat, ia cuma berkelit: “apa yang kau maksud, anak muda?”
“Baik. Jika itu maumu, aku akan pulang. Ternyata kau lebih menyukai kehancuran daripada kejayaan.”
Belum genap kaki Briton menginjak gerbang istana, Moher menyusul sambil mendengking.
“Tunggu! Jika memiliki tujuh tahi lalat di paha kiri, kau adalah anakku.”
***
Diam-diam para menteri menggelar rapat besar. Genting. Darurat. Mereka merembukkan percakapan antara dua makhluk berlainan wujud itu, Briton dan Moher.
“Kalau memang anak ingusan itu benar, kita mesti mengumpulkan pasukan guna melengserkan raja. Ia layak dibumihanguskan. Sesungguhnya, kegelisahan ini lama kupendam tapi urung kusibak pada kalian.” Celetuk Bopeng.
“Setuju. Dulu kita diperingatkan berulang kali oleh Eyang Homan. Ia sama sekali tak percaya dengan sikap Moher. Siluman laknat itu hampir mengutil Gada Kura, senjata pamungkas Pangemanus—saat mendengkur lelap.” Sahut Gembyor.
Sorrah tergoda dan berkecek: “Tapi, perjanjian itu terlanjur dibuat. Kekuatan kita saat itu kalah telak dibanding jumlah kawulanya. Apa boleh buat; raja kita, Sumare, memutuskan untuk menyerah.”
Siluman berlengan sembilan itu melanjutkan lenguhnya: “Dan hingga sekarang, kita dijadikan jongosnya. Diperintah-perintah seenak udelnya.”
“Harus ada mata-mata.” Sambil menatap muka para siluman yang hadir, moncong Dalbo menguap. Dan tanpa aba-aba, mereka mengangguk serentak.
***
Kutukan itu tengah menerjang. Kutukan yang tak lain berpunca dari istrinya sendiri. Dalam benaknya, ia berdesis: “apakah ini kutukan yang dimaksud Sebru?”
Inilah masa di mana pengkhianatannya berbuah. Moher sadar, bahwa Sebru bukanlah perempuan biasa. Ia keturunan ketiga dari Hubras, penyihir paling masyhur di jagat raya. Namun semua sudah terlanjur. Penyamarannya sebagai jejaka tampan bernama Kamru, patut disesalkan. Moher ingat betul bagaimana dengan tipu muslihatnya, ia memperkenalkan diri selaku putra bungsu Asokin—tokoh tersohor dari Gurta—, sehingga Sebru jatuh ke pelukannya. Lalu bergulirlah lakon terlarang. Riwayat cinta antara manusia dengan siluman. Jalinan asmara yang sama sekali tak direstui oleh Kumila, ibu Sebru.
Berhasil mengetam keperawanan Sebru, Moher barulah mengaku bahwa dirinya bukanlah manusia. Tangis Sebru pecah; airmatanya hancur berderai-derai selama tiga bulan. Lantaran rengekan Sebru itulah, sungai Hibin memerah. Tetesan darah dari lubang netra perempuan berwajah purnama itu menggenangi permukaannya. Dan sesaat sebelum Moher menghilang, Sebru memasang kutukan.
“Ingat. Janin yang menyembul dari perutku ini bakal membinasakanmu. Celakanya, ia mustahil kau bunuh. Karena jika kau membunuhnya, itu sama saja melenyapkan dirimu sendiri.”
***
“Terlambat, Siluman.”
Briton menarik jubah hitam dari karung yang digantung di pinggangnya. Moher sangat kenal dengan kain lusuh itu.
“Itu kan jubah yang kupakai sebelum pergi meninggalkan Sebru.” Gumamnya lirih.
“Kenapa? Kau kaget, Ayah?.”
Sepemakan sirih kemudian, Briton mengenakannya dan api menyala seketika.
“Dengan cara inilah aku merampas nafasmu pelan-pelan. Jubah ini adalah saksi atas pengkhianatanmu pada ibu. Usai kau campakkan, ibu mengutuknya habis-habisan. Siapa saja yang memakainya, pasti ia terbakar. Tak terkecuali denganku, titisannya. Asal kau mengerti; tiadalah kehidupanku berarti jika ibu masih meratap. Kau pasti tahu, jika aku mati kau pun mati. Maka, membakar diri adalah jalan merenggut kebahagiaan. Kebahagiaan kala memandangimu meregang nyawa di hadapanku. Mampus dengan daging gosong dan tulang berantakan. Ya, mampus oleh sebab hal paling kau benci selama hidupmu. Aku telah menanti kesempatan berharga ini semenjak delapan tahun silam. Dan sekarang aku mendapatkannya. Hahaha…..”
Mata Moher membelalak sempurna. Jantungnya hampir lepas. Lantas………
***
Akhhh….. Maaf ya, ceritanya sampai sini dulu. Lain kali kita sambung, deh. Pak Raden mau mengantar Bu Inah ke pasar Sengkong. Tuh, orangnya sudah menunggu di depan.”
Tepat pukul setengah sepuluh, kami pulang dengan segebok pertanyaan menumpuk di kepala.

Yogyakarta, 2011

Minggu, 11 Januari 2015

Anomali Terompet (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Lampung Post" edisi Minggu, 11 Januari 2015)

Sejarah Nusantara tidak bisa terlepas dari terompet. Terompet menjadi bagian penting perjalanan negeri ini. Terompet turut memberi “lampu hijau” atas berkembangnya peradaban yang gilang gemilang. Namun demikian, dari masa ke masa, terompet selalu melakukan redefinisi. Eksistensi terompet tergantung pada realitas sosio-kultural masyarakat.

Dalam Kilasan Sejarah
Dahulu kala, saat masyarakat masih menjunjung tinggi solidaritas, terompet mendapat posisi mulia. Dalam Nusa Jawa: Silang Budaya, mengenai salah satu kota kerajaan, yaitu Surakarta, Denys Lombard (2005) mencatat bahwa ketika dibangun oleh Sunan Paku Buwana II pada tahun 1745, raja dan ratu tampil di panggung singgasana (sitinggil) diiringi oleh sejumlah penari perempuan. Diikuti beberapa gajah, satu barisan penunggang kuda serta lima brigade prajurit (gangsal bregada) Kompeni, mereka disambut oleh meriam, bunyi gamelan, serta tiupan terompet. 
Hal ini menandakan bahwa terompet menjadi saksi historis atas didirikannya Surakarta, sebagai pengganti Kartasura—yang telah dinodai oleh pasukan Cina-Jawa di bawah Sunan Kuning dan pasukan Madura yang dinahkodai Cakraningrat IV. Terompet turut “merestui” Surakarta menjadi kota perniagaan yang besar.
Terompet pernah menjadi pemantik semangat perjuangan. Berdasarkan Pramoedya Ananta Toer (2001), kronik revolusi Indonesia mencatat bahwa saat menghadapi suasana genting, Komandan Divisi X Tgk. Chik di Tiro menerbitkan perintah umum kepada segenap anggota Lasykar Mujahidin untuk bersiaga menghadapi Belanda. Perintah umum yang dikeluarkan sehari setelah Agresi Militer Belanda I pada 1947 tersebut diakhiri dengan seruan:
“Barisan Mujahidin, maju terus ke medan perang. Terompet sudah memanggilmu. Nyanyian bidadari menggema alam fana di dalam kabut asap mesiu untuk menghibur jiwa yang gugur di medan pertempuran.”
Kata “terompet” menjadi stimulus bagi para pejuang untuk melaksanakan mandat patriotisme dan nasionalisme. Terompet mengandung ajakan untuk mempertahankan martabat bangsa agar tidak diinjak-injak.
Sejarah pergerakan perempuan mendapat kawalan ketat dari “Terompet”. SK Trimurti, seorang wartawati, penulis, dan pengajar, telah merintis majalah “Terompet” yang merupakan kelanjutan dari majalah berbahasa Jawa, “Bedug”. Majalah ini bertujuan menggugah kesadaran rakyat luas untuk mengusir penjajah. Dengan tulisan-tulisannya yang kritis, S.K Trimurti menentang kesewenangan orang Belanda memperlakukan pribumi. Menunjukkan sikap anti kapitalisme dan imperialisme, istri Sayuti Melik tersebut berani menelanjangi ketidakadilan kaum kolonial.
Terompet juga memuluskan tersebarnya ide harmonisasi perbedaan. Terompet mengulurkan dukungan terhadap kerukunan antar umat beragama. Pada 30 Desember 1970, Paus Paulus VI memimpin misa di Stadion Utama dalam rangka kunjungannya ke Indonesia (Julius Pour, 2004). Alunan terompet menyambut pemimpin Kristen yang mengulurkan kepedulian terhadap negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Hal ini menandakan keterlibatan terompet dalam melancarkan terbukanya keran pluralisme internasional.

Terompet dan Tahun Baru
Bersamaan dengan arus modernisasi dan globalisasi yang melegalkan individualisme, saat ini, masyarakat cenderung menempatkan terompet pada posisi kurang terhormat. Terompet sekadar menjadi cheerleader hingar-bingar malam tahun baru. Sehingga, terbentuk opini publik bahwa tahun baru identik dengan terompet.
Tahun baru menampilkan terompet sebagai komoditas paling dicari. Tanpa terompet, tahun baru terasa hambar. Terompet mendadak menjadi kebutuhan primer bagi siapa saja yang ingin merayakan awal tahun dengan gegap gempita. Terompet dianggap sebagai most urgent need guna menyaksikan wajah negeri yang bakal berganti. Celakanya, terompet menjadi lebih penting daripada tahun baru itu sendiri.
Di jalan-jalan dan pusat perbelanjaan terompet menjadi penanda bahwa sebentar lagi kalender berganti. Terompet juga melapangkan jalan tahun baru yang selalu menyajikan ironi: meniupkan kabar gembira sekaligus berita duka. Jika pemeluk status sosial tinggi merayakan keberlimpahan, maka pemegang status sosial rendah sibuk merayakan penderitaan.
Bagi orang kaya, tiupan terompet dapat menimbulkan semangat baru. Pergantian tahun mempercepat naiknya pangkat, gengsi, dan gaji. Itulah sebabnya, kesejahteraan yang berada di depan mata perlu disambut dengan pesta dan hura-hura. Terompet menyimpan euforia.
Adapun bagi orang miskin, terompet layaknya sangkakala. Menyimak nada terompet ibarat mendengarkan bunyi sangkakala yang ditiup Isrofil. Pergantian tahun merupakan kiamat bagi mereka. Grafik nasib mereka menurun, lebih buruk dari tahun ke tahun. Kecilnya pendapatan tidak cukup memenuhi kebutuhan seabrek. Pergantian tahun selalu dinanti, meskipun pada akhirnya mereka sakit hati.
Di sinilah terompet mengandung anomali. Sebagian masyarakat menganggapnya pengingat kabar gembira, akan tetapi sebagian lain menudingnya sebagai alarm bahaya. Dengan posisi saling bertolak belakang, terompet kehilangan identitas. Apalagi, martabat terompet cenderung berevolusi, dari penyokong kejadian-kejadian penting (important events) ke sekadar penyangga sikap hedonis-pragmatis.
Realitas ini menyebabkan eksklusifitas terompet terancam. Masa depan terompet rentan mengalami kehancuran. Kita hanya bisa menunggu. Apakah di masa mendatang, terompet hanyalah saksi mata meningkatnya kesenjangan sosial, ataukah saksi historis atas beragam peristiwa besar.

Bojonegoro, 2015

Jumat, 26 Desember 2014

Alkoholisme, Antara Harapan dan Balas Dendam (Opini_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian “Jawa Pos” edisi Jumat, 19 Desember 2014)

Miris. Itulah kesan kita saat mendengar berita kematian warga akibat minuman keras (miras) oplosan. Hal ini tentu saja merupakan isu seksi yang beberapa pekan menjadi trending topic di koran, televisi, maupun media sosial.
Jika kita perhatikan, para korban peristiwa tragis-melodramatis tersebut adalah orang-orang berlatar ekonomi pas-pasan. Orang-orang dengan kategori sosial menengah-lapisan bawah (lower-middle class) yang rela merogoh kocek demi mereguk kesenangan dan kepuasan sesaat.
Sudah jatuh tertimpa tangga. Barangkali inilah peribahasa yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang dialami orang-orang kecil di atas. Selain berjuang melawan racun yang bersarang dalam tubuh, mereka juga harus menelan kesialan lain berupa aksi penyalahan beragam pihak atas tindakan mereka.
Padahal, mereka hanyalah korban dari oknum yang bernafsu mencari segebok keuntungan, meskipun dengan mengesampingkan kepentingan orang lain. Tanpa memikirkan imbasnya, bahan-bahan mengandung racun dicampurkan pada miras beralkohol. Hanya dengan takaran 30 mili liter, sudah cukup mengundang ajal. Sebab, saat menenggak miras oplosan itulah tubuh manusia akan mengubah metanol menjadi formaldehida atau formalin.
Dalam logika produsen dan penjual miras oplosan, hak orang lain halal dikorbankan asalkan kepentingan pribadi (private interest) bisa terwujud. Produksi miras oplosan terus berlanjut dikarenakan hanya bermodal kecil, seseorang bisa meraup untung puluhan juta hingga miliaran rupiah. Hal ini diperparah dengan kenyataan bahwa minuman beralkohol legal lebih sulit didapat karena penjualannya dibatasi.
Korba-korban miras oplosan semakin tersudut, karena selama ini, kita lebih disibukkan dengan data statistik mengenai maraknya kriminalitas, meningkatnya degradasi moral, menurunnya tingkat kecerdasan, dangkalnya kebudayaan, serta rentannya hubungan sosial, sebagai dampak negatif konsumsi miras (alkoholisme). Padahal, rasanya kurang berimbang, jika kita terburu-terburu menuding mereka sebagai kambing hitam tanpa menggali lebih dalam motif dasar mengapa mereka mengonsumsi miras.
Bila ditelisik, ada sejumlah alasan mengapa akhir-akhir ini alkoholisme begitu marak. Pertama, ia menjadi final solution bagi orang-orang kecil saat sudah tidak ada yang dapat diharapkan. Mereka sudah mentok dengan kehidupan yang lebih berpihak pada orang-orang berdompet tebal.
Dengan mabuk, ada keyakinan bahwa mereka masih menyimpan harapan di hari esok. Harapan yang sebenarnya tidak lebih dari sekadar fatamorgana. Dalam minda mereka, seolah terpatri slogan penghibur: “kesusahan boleh datang silih berganti asalkan satu kesenangan bisa diraih hari ini”. Mereka sadar bahwa sesaat setelah pengaruh miras hilang, mereka akan bergaul kembali dengan penderitaan.
Kedua, alkoholisme merepresentasikan balas dendam multidimensional; balas dendam terhadap harga kebutuhan yang meroket, pejabat publik yang sesungguhnya hanya pelayan justru berperan sebagai juragan, koruptor yang sesuka hati menggasak perhiasan Ibu Pertiwi, serta beragam kesulitan yang kian hari kian sukar dihilangkan.
Ketiga, budaya tanding (counter-culture). Dengan menenggak miras, orang-orang kecil bermaksud mendeklarasikan eksistensi mereka. Dengan miras berkelas ecek-ecek, mereka ingin menandingi kebiasaan konglomerat yang menghabiskan jutaan rupiah sekali teler. Mereka ingin berkoar bahwa meskipun bermodal murah, toh efek melayang yang dirasakan tidak jauh berbeda dengan brendi, cognac, wiski, vodka, liquer, wine, sampanye, atau bir.
Keempat, upaya pergeseran status sosial. Miras, bagi orang-orang kecil, adalah salah satu sarana agar status sosial mereka berubah. Imitasi terhadap gaya hidup konglomerat yang gemar mabuk dapat menyebabkan status sosial terdongkrak. Hal ini didukung dengan fakta historis yang menunjukkan bahwa pada 1996, sebuah  tim arkeolog menemukan sisa-sisa anggur berusia 7400 tahun di pegunungan Zagros bagian Utara Iran. Di sana terdapat gua dengan sejumlah ruangan ritual yang menyimpan kendi-kendi besar berisi buah-buahan yang dikeringkan seperti anggur, prune, kenari, dan almond (Fitria, 2011).
Dalam pandangan Mitchell S. Rothman, antropolog dan ahli Chalcolithic di Widener University, saat itu arus industri dan teknologi sedang berkembang. Ada kecenderungan orang untuk melahirkan perbedaan sosial. Ritual dengan meminum sari buah yang memabukkan, di samping sebagai sarana memuja para dewa, ternyata juga menunjukkan bahwa mereka yang terlibat di dalamnya merupakan orang-orang istimewa.
Dengan mengetahui motif dasar alkoholisme, kita berharap agar para penegak hukum tidak sembarangan menyelundupkan orang ke jeruji besi. Ingat, Pak Polisi. Menangani alkoholisme tanpa menyentuh akar persoalan hanya melahirkan kriminalisasi: upaya menghakimi tanpa berniat memberi efek jera yang berarti!

Bojonegoro, 2014