Kamis, 07 Februari 2013

Kaligrafi Kematian (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di majalah "Cahaya Nabawiy" edisi Februari 2013)


Aku menelan ludah. Glek. Berulang kali tenggorokan menampung cairan pahit dan kecut itu karena seharian lidah tak terjamah kopi, es teh, atau minuman lain yang biasanya kutenggak di tengah perjalanan. Berkeliling ke beberapa kampung rupanya tak menyulap dompetku berseri-seri, enggan membuat kantongku terisi. Lambung yang kerap menerima limpahan makanan dari orang-orang yang menaruh kasihan, hari ini mengalami kekeringan dan hampir saja gersang.
Punggungku sudah melengkung. Tulang-belulangku genap berteriak, kelelahan. Aaaarggh!
Entah. Sekali lagi entah. Apakah wajahku berubah menyeramkan, hingga orang-orang begitu takut berpapasan denganku. Bahkan, beberapa di antara mereka terbirit-birit, lintang pukang, ketika memergoki jidatku yang lebar, meski dari kejauhan. Sampai-sampai, untuk menjangkau tempat dengan jarak yang tak begitu jauh, ada yang nekat berputar, mencari jalan alternatif yang sesungguhnya malah lebih banyak menghabiskan langkah. Pokoknya, berbagai upaya dilakukan guna menghindari sosok kurus jangkung dengan jenggot yang lecek; aku.
Salah, bila seseorang—lelaki atau perempuan—menyebutku genderuwo. Bukan, bukan! Aku ini penebar ketakutan. Aih, kuralat. Sebetulnya aku hanyalah seorang penjual. Tepatnya, penjual kaligrafi.
Penjual kaligrafi?
Benar. Jangkap tujuh tahun aku menawarkan tulisan arab bermacam bentuk dan variasi, berbahan kaca dan cat warna-warni dengan pigura yang ukirannya lebih bagus dan wah ketimbang garapan orang Jepara sekalipun. Ke tiap rumah, aku menyodorkan kaligrafi buah tanganku sendiri dengan bibir tersungging, agar tuan rumah mau berbasa-basi dengan sekadar melihat-lihat, atau meraba-raba, atau mencocokkan harganya. Maksudku, mencocokkan harga dengan kebutuhannya yang suka mengasapi bibir dengan cerutu termahal, juga istrinya yang rajin bersolek memakai kosmetik impor, juga anak-anaknya yang mulai masuk perguruan tinggi dan minta uang jajan lebih. Syukur-syukur, kalau berkenan membeli. Lebih syukur lagi, jika membeli tanpa melalui proses tawar-menawar. Itu artinya, aku bisa mengantongi untung lumayan, tanpa sibuk mengobral ludah; bersusah-payah menjelaskan berapa rupiah yang wajib kurogoh demi melahirkan satu karya.
Dibanding dengan yang lain, aku tergolong penjual kaligrafi yang tahan banting. Ah, aku malas mengada-ada. Jika kurang percaya, tanya saja Ridlo atau Hadi atau Hakim atau Muayat atau Fadli atau Muhtadun atau Qomaruddin, yang dulu bersama-sama denganku rutin menjinjing delapan hingga sembilan kaligrafi dalam sehari untuk ditukar uang. Mereka sepertiku juga; membuat kaligrafi lalu menjemput sendiri para pembeli dengan mengedarkan “barang jualan” ke berbagai tempat. Bila boleh memberitahu, kami adalah jebolan salah satu pesantren salaf di kota mungil di Jawa Timur yang mengajarkan kaligrafi kepada para santri. Maklum, karena tak punya keterampilan lain, kami memanfaatkan bekal tersebut guna menyambung hidup.
Sebentar, sebentar. Untuk lelaki terakhir, siapa tadi? O, ya, Qomaruddin. Maaf, maaf! Kau mesti pergi ke kuburan di pinggir sawah Mas Kariman yang terkenal angker, kalau bernafsu membuktikan seberapa akurat ocehanku ini. Benar. Kau harus menggoyang-goyang nisan berpahatkan huruf qof, mim, ra’, alif, lam, dal, ya’, dan nun seraya bertanya dustakah kalimat yang telah kuracaukan. Karena, kau tahu? Pemuda yang seminggu lagi melangsungkan pernikahan dengan anak Pak Lurah itu menghembuskan nafas pungkasan, tepat ketika menenteng kaligrafi di kolong pohon nangka, di suatu malam celaka. Malam yang mengantarnya lekas minggat dari dunia, lantaran penyakit bengek yang terlampau akut.
Selain Qomaruddin, teman-teman lain memilih mundur dari profesi yang kuanggap mulia ini dengan alasan serupa. Mereka bosan berlama-lama menggantungkan hidup dari hasil menjajakan tulisan ayat-ayat Al-Qur’an, karena pendapatan sebulan cuma cukup buat menebus sabun di toko Mbok Kinah. “Jaman sudah beda”. Itulah kata-kata terakhir yang sempat dihembuskan mulut Muayat kala berpamitan padaku untuk mengundi nasib ke Jakarta. Adapun Ridlo, Hadi, Hakim, Fadli dan Muhtadun, lebih percaya bahwa rizki mereka mengendap di lumpur dan tanah. Jadilah kelimanya menggeluti hidup dengan bertani dan bercocok tanam.
Tahun ini, tahun beraut muka sangat muram ini, memang berbeda jauh dibanding tahun-tahun sebelumnya. Barangkali kau merasa heran, jika aku berkecek bahwa dulu karya kami cukup laku di pasaran. Orang-orang amat tertarik membeli kaligrafi, meski dengan harga di atas rata-rata. Tak jarang kaligrafi yang kami tawarkan, ludes sebelum senja mengenakan celananya. Bahkan, saking larisnya, banyak di antara konglomerat rela membayar di muka, walaupun kaligrafi belum ada. Mereka sengaja melakukannya agar ketika tersedia, “barang pesanan” langsung diantar ke rumah mereka.
Kaligrafi, bagi mereka, bukan cuma berfungsi menghias dinding, melainkan juga sebagai pengingat.
Tunggu! Pengingat?
Yap. Dengan merenungi tulisan yang tertera di kaligrafi, niscaya mereka mudah mengingat mati. O, ya, dari tadi belum kujelaskan bahwa dalam berkarya, kami menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang kematian. Itulah mengapa, ketika seseorang membaca karya kami, di atas alisnya terbentang ratusan mendung hitam, hingga sepasang pipinya siap menadah hujan paling lebat yang turun melewati lubang netra yang berkilat-kilat. Seraya menggerung-gerung, bertanya-tanya kepada diri sendiri kapan ia menjemput ajal, kapan ia mengakhiri hidup yang penuh tipudaya dan fatamorgana, juga kapan-kapan lain yang kurang pantas rasanya jika disebutkan satu persatu. Usai melempar pertanyaan dengan berbagai kapan itu, timbullah penyesalan mendalam terhadap dosa-dosa yang terlanjur ditumpuk di atas punggung, lalu muncullah komitmen memperbaiki diri dengan memperbanyak kebajikan.  
Seperti halnya saat Mujiono, penulis besar dengan buku-buku best seller-nya, membaca kaligrafi bertuliskan surat Al-Baqarah ayat 243: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: ‘matilah kamu’, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” Dengan memegangi kepala, ia tersungkur sambil menyebut nama Tuhan. Sepulang dari rumahku, sebagian besar harta kekayaannya disumbangkan ke masjid-masjid dan panti asuhan.
Atau Rohmah, janda kembang yang menjadi rebutan sebab ketenarannya selaku pedagang karpet yang sukses, waktu membaca kaligrafi surat Ali ‘Imran ayat 145: Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.” Karena terlalu menghayati, ia akhirnya tak sadarkan diri hingga tiga hari tiga malam. Setelah siuman, ia memberangkatkan dua ratus guru SD al-Kautsar untuk umroh ke Mekkah.
Juga yang terjadi di rumah Muhtadun. Suatu siang, lelaki buta hurufaku lupa siapa namanya—memandangi karya bercorak kuning keemasan dipadu warna hijau lumut dengan gambar masjid di tengahnya. Karena tertarik, ia meminta Muhtadun untuk melafalkan tulisan yang sedang dipolototinya. Tak keberatan, penyuka tembang jawa kuno itu melisankan dengan lirih surat An-Nisa’ ayat 78: “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh….” Sekonyong-konyong lelaki gondrong bertato kura-kura di lengannya tadi gemetar tangan-kakinya, bergemelatuk gigi-giginya, mengigil dada bidangnya. Seketika itu juga, ia berjanji untuk menghapus kebiasaannya memalak di stasiun dan terminal.
Perlu kau ketahui, kami sengaja memang menggoreskan ayat-ayat yang berhubungan dengan kematian. Menurut kami, selain berburu rizki, kaligrafi juga dapat digunakan sebagai sarana berdakwah. Inilah yang mengakibatkan kami gemar sekali menuliskan surat Al-Baqarah ayat 94, An-Nahl ayat 70, Al-Anbiya’ ayat 35, Al-Mukminun ayat 23, Al-Qashash ayat 28, Al-Ankabut ayat 57, Al-Ahzab ayat 16, Az-Zumar ayat 30, Qaaf ayat 19, Ar-Rahman ayat 26, Al-Jumu’ah ayat 8, ‘Abasa ayat 21, dan At-Takatsur ayat 2. Anehnya, banyak orang yang justru membeli karya kami lantaran ingin mengingat mati. Mereka mengaku, bahwa dengan memajang kaligrafi kematian di rumah, perusahaan, atau kantor, tebersit kesadaran bahwa kelak mereka akan menuju kuburan; mereka akan meninggalkan segala kemewahan dan kenikmatan yang bersifat fana lagi sementara. Dan, mustahil mereka berwasiat agar emas, perak serta permata dimakamkan bersama tengkorak mereka.
Sayangnya, “jaman sudah beda”. Mungkin benar perkataan Muayat. Kini, orang-orang tidak lagi menaruh hati pada kaligrafi. Parahnya lagi, orang-orang mulai membenci tulisan arab yang mengabarkan kematian. Apa pasal? Dengan membeli kaligrafi kematian, barang tentu hal itu membuat karyawan malas bekerja, presiden takut berbuat semena-mena, pejabat berhenti melakukan korupsi, anggota dewan malu membelanjakan uang rakyat untuk berfoya-foya, hakim sungkan meloloskan para tersangka, menantu keder mengelabui mertua, sebab mereka semua bisa terus-terusan dihantui kematian.
Ah, sore merangkak senja. Sepemakan sirih lagi azan maghrib berkoar di mana-mana. Walau kaligrafi yang kupanggul tak terlego satu pun, baiknya aku bersiap-siap melangkah ke masjid terdekat.
Selepas menunaikan shalat berjama’ah, dengan khusyu’ aku akan memohon kepada Tuhan, agar batang umurku diperpanjang, ragaku selalu dianugerahi kesehatan, rizkiku senantiasa dilapangkan. Dan, ketika sudah benar-benar jutawan, aku bakal membangun toko terbesar dan termegah di kota ini. Toko yang menyediakan berbagai ragam kaligrafi indah. Kaligrafi yang bukan mengabarkan tentang kematian, agar aku leluasa memelihara kebahagiaan di dunia, tanpa direcoki pertanyaan berapa puluh tahun lagi Izra’il datang mencungkil ruhku dengan paksa.

Yogyakarta, 2012 

Tuhan, dari Masa ke Masa (Resensi_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Haluan" edisi Minggu, 3 Februari 2013)


Judul: Sejarah Tuhan (Gold Edition)
Penulis: Karen Armstrong
Penerjemah: Zaimul Am
Harga: Rp 99.000
Penerbit: Mizan
Cetakan: Ketiga, 2012
Tebal: 676 halaman

Apa yang dipegang teguh oleh Karen Armstrong mempunyai keserupaan dengan Arnold Toynbee—sejarawan terkemuka asal Inggris. Karen Armstrong menancapkan postulat bahwa manusia merupakan makhluk spiritual. Hal ini bisa ditelisik dari sejumlah kajian yang bertahun-tahun genap dilakukan.
Terdapat alasan logis yang menjadi latar belakang mengapa ia nekat melanting kesimpulan bahwa selain Homo sapiens, manusia juga Homo religiosus. Perempuan yang pernah menjadi biarawati Katolik Roma tersebut meyakini bahwa manusia mulai mengabdikan diri kepada dewa-dewa setelah mereka insaf. Agama-agama mereka ciptakan pada saat yang sama dengan karya seni. Embrio keimanan mereka menununjukkan ketakjuban sekaligus misteri di mana dua-duanya merupakan unsur penting pengalaman manusia dalam menanggapi dunia yang meskipun menggetarkan, namun juga menyajikan keindahan.
Sebagaimana seni, munculnya agama merupakan upaya manusia dalam menggali makna dan nilai kehidupan. Ketika manusia disibukkan oleh rutinitas kehidupan yang membosankan dan cenderung menawarkan buih-buih penderitaan, agama lahir selaku sarana mendinginkan keadaan. Di sinilah timbul semacam kecurigaan adakah agama sekadar ‘hiburan’?
Kehadiran buku ini bukan bermaksud untuk berkoar mengenai realitas Tuhan, melainkan menguak sejarah persepsi umat manusia tentang ‘siapa yang mereka sembah’ sejak masa Ibrahim hingga hari ini.

Tuhan bagi Filosof dan Kaum Mistik
Telaah Karen Armstrong mengenai sejarah Tuhan mengambil bentuk dalam upaya penelusurannya atas kehidupan orang Arab. Apa pasal? Selain menarik, hal ini juga menjadi poin krusial yang perlu diangkat agar motif missing link bisa terhindarkan saat mengambil benang merah antara beberapa peristiwa besar religiositas.
Sesuai catatan penerima anugerah TED Prize pada tahun 2008 tersebut, persentuhan orang Arab dengan sains dan filsafat Yunani pada abad kesembilan mengakibatkan lahirnya kelompok Muslim yang disebut filosof. Pada awalnya, fokus utama mereka adalah ilmu-ilmu alam, namun lama-kelamaan metafisika Yunani juga menjadi bagian esensial dari kajian mereka. Bahkan, terdapat kecenderungan untuk menerapkan prinsip-prinsipnya ke dalam Islam, sehingga Tuhan para filosof Yunani identik dengan Allah. Hal ini merupakan hasil dari kepercayaan terhadap rasionalisme yang diterka mampu mendermakan bentuk agama yang paling maju; agama yang mengembangkan pandangan yang lebih tinggi tentang Tuhan daripada yang diwahyukan dalam kitab suci (halaman 266).
Sebut saja Al-Kindi. Ia berargumen, segala sesuatu pasti mempunyai sebab. Atas dasar itulah, mesti ada suatu Penggerak yang Tak Digerakkan untuk memulai kejadian. Prinsip pertama ini adalah Wujud itu sendiri, tidak berubah, sempurna, serta mustahil dapat dihancurkan. Namun, ketika tiba pada kesimpulan, Al-Kindi sengaja memisahkan diri dari Aristoteles dengan berpijak pada doktrin Al-Quran tentang penciptaan dari ketiadaan (ex nihilo).
Atau Al-Farabi, yang memindai mata rantai wujud secara abadi memancar dari Tuhan dalam sepuluh emanasi atau “intelek” berturut-turut, di mana masing-masing membentuk satu bidang Ptolemis: langit terluar, lapisan bintang-bintang tetap, garis lintasan Saturnus, Yupiter, Mars, Matahari, Venus, Merkurius, dan Bulan. Memang di sini terdapat perbedaan yang nyata dengan visi Al-Quran tentang realitas, namun Al-Farabi memandang filsafat sebagai cara yang lebih unggul guna memahami kebenaran yang telah disampaikan pada nabi secara metaforis dan puitis supaya mudah memancing simpati banyak orang.
Sejarah Tuhan juga tidak terlepas dari mistisisme. Mengapa? Agama mistik cenderung lebih dapat membantu pada waktu-waktu sulit ketimbang keimanan yang didominasi oleh otak. Latihan-latihan ruhani yang intens dalam mistisisme mendorong seseorang kembali kepada Yang Esa. Hal ini di antaranya ditunjukkan oleh mistisisme awal Yahudi yang berkembang selama abad kedua dan ketiga, meskipun orang Yahudi sendiri belum memahaminya secara utuh.
Dalam perjalanannya, mistisisme ternyata mampu bertahan, bahkan menjangkiti dunia Barat. Hasrat terhadap mistisisme di antaranya terbukti dengan sambutan luas atas terbitnya karya tentang mitologi oleh pemikir Amerika kontemporer, Joseph Campbell. Karena itulah muncul dugaan kuat bahwa orang-orang Barat tengah membutuhkan alternatif untuk mengimbangi cara pandang ilmiah murni terhadap alam semesta.

Mencecar yang Gaib
Dalam The Idea of the Holy, ahli sejarah agama berkebangsaan Jerman, Rudolf Oto (1917), mempercayai adanya rasa tentang gaib (numinous) sebagai dasar dari agama. Landasan bagi perilaku beretika merupakan efek dari timbulnya perasaan gaib pada diri manusia. Kehadiran kekuatan gaib dan misterius selalu dirasakan oleh manusia dalam setiap aspek kehidupan. Imbasnya, menyebarlah mitos-mitos sebagai upaya metaforis guna mendeskripsikan realitas yang terlampau rumit untuk diekspresikan dengan cara lain. 
Sebagai contoh pada periode Paleolitik, di mana ketika pertanian tumbuh berkembang, manusia menganggap bahwa kesuburan pada tanaman merupakan anugerah dari Dewi Ibu. Akibatnya, terjadi pengkultusan terhadap dewi yang digambarkan sebagai perempuan hamil telanjang tersebut. Hal ini mirip sekali dengan mitos Jawa yang berabad-abad diwariskan. Masyarakat Jawa suka menghubungkan kondisi pertanian dengan sikap Dewi Sri. Jika tanaman dalam keadaan subur, maka bisa dipastikan kalau mereka berhasil membuat Dewi Sri senang. Sebaliknya, jika Dewi Sri terlanjur marah, maka imbasnya yaitu tanaman mereka akan mengalami kerusakan atau bahkan gagal panen.
Dalam ajaran Islam, alam gaib juga menempati posisi sentral dalam corak keimanan. Hal ini secara eksplisit disinggung dalam kitab suci Al-Quran. Tepatnya, ayat tiga dari surat Al-Baqarah. Ayat itu memaparkan mengenai siapakah orang-orang yang beriman (muttaqin). Mereka adalah: “orang-orang yang percaya kepada hal-hal gaib……..” (Al-Baqarah: 3).
Perhatian manusia pada mitos ditegaskan lagi oleh Karen Armstrong dengan pernyataan: “mitos mengekspresikan makna batin peradaban”. Orang Babilonia, misalnya, mereka merayakan liturgi pada Tahun Baru, di mana para dewa tunduk pada liturgi tersebut. Mereka juga menaruh keyakinan, Babilonia adalah tempat suci, pusat dunia, dan tanah air dewata. Bila dihubungkan dengan ketiga agama monoteistik, maka ide tentang kota suci sangatlah penting guna memperoleh keharmonisan dengan kekuatan sakral. Begitu sentralnya, maka tak ayal, Babilonia dapat disandingkan dengan kota-kota suci lainnya, seperti Makkah bagi orang Islam, Nazaret bagi orang Kristen, Hebron bagi orang Yahudi, ataupun Yerussalem bagi ketiga penganut agama besar tersebut.
Bagi orang Babilonia, Marduk—Dewa Matahari—merupakan spesimen keturunan dewa yang paling sempurna. Dalam sebuah pertemuan Majelis Agung para dewa, Marduk berjanji hendak memerangi Tiamat dengan syarat bahwa dialah yang nanti menjadi penguasa mereka. Akhirnya, usai melewati pertarungan yang cukup panjang serta bersusah payah, Tiamat sanggup dikalahkan. Marduk lantas memutuskan untuk mewujudkan dunia baru; Tiamat dibelahnya menjadi dua bagian guna membentuk lengkungan langit dan bumi manusia. Undang-undang pun disusun, demi memelihara agar segala sesuatu tetap berada dalam porsi yang ditentukan. Setelah itu semua dilakukan, barulah manusia diciptakan. (halaman 36-37).
Melalui buku ini, seolah Karen Armstrong ingin memekik lantang, bahwa gagasan manusia mengenai Tuhan senantiasa terkungkung oleh sejarah, karena bagaimana pun juga gagasan itu mengantongi perbedaan bagi setiap kelompok manusia yang menggunakannya di pelbagai masa.

Yogyakarta, 2012

Senin, 28 Januari 2013

Segebok Petuah dalam Bungkus Kisah (Resensi_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Haluan" edisi Minggu, 27 Januari 2013)

Judul: Dari Seberang Perbatasan (Cerpen Pilihan Riau Pos 2012)
Penulis: Hasan Junus, dll
Editor: Purnimasari
Terbit: November 2012
Penerbit: Yayasan Sagang, Riau
Tebal: vi + 240 halaman

Judul buku ini dipetik dari tulisan Hasan Junus yang terbit pada 1 April 2012. Selain karena karyanya memang patut diapresiasi, Hasan Junus merupakan sastrawan Riau yang sangat berpengaruh. Dari kata pengantarnya disebutkan bahwa ia adalah pewaris darah Raja Ali Haji. Sedangkan ayahnya, Raja Haji Muhammad Yunus Ahmad, dianggap sebagai anggota pengarang Rusyidah Klab, perkumpulan pengarang Riau yang meletakkan fondasinya pada penghujung abad ke-19 dan berjaya pada awal abad ke-20.
Menurut UU Hamidy, di antara keunggulan Hasan Junus yaitu kemampuannya merambah kegiatan kreatif para pengarang dunia dan berhasil membukakannya kepada pengarang muda di Riau. Berbekal pena, tokoh yang berpulang pada Jum’at, 30 Maret 2012 ini menghidangkan tulisan mengenai pengarang-pengarang dari berbagai belahan dunia, baik Eropa, Amerika, Timur Tengah, bahkan Amerika Latin. Sehingga, muncul seloroh bahwa jika ada pengarang Riau tidak mengenalnya, maka akan diragukan kepengarangannya. (halaman v-vi)
23 cerpen yang terkumpul dalam buku ini merupakan pilihan dari 36 cerpen yang terbit di Riau Pos (rubrik Pujangga) setiap hari Minggu sejak Januari hingga September 2012. Beberapa nama terbilang produktif mengirimkan karyanya, semisal Jefri al Malay, M. Badri, dan Musa Ismail. Akan tetapi, dengan alasan keterwakilan penulis, hanya satu cerpen dari masing-masing mereka yang dimuat dalam buku ini. (halaman vi)
Berikut disajikan ulasan ringkas sebagian di antara cerpen-cerpen yang dimaksud:
Buah tangan Chairil Gibran Ramadhan “Si Gila” terbilang unik dan ganjil. Cerpen ini mengisahkan tentang perempuan gila berumur lebih dari 37 tahun. Gemar sekali ia berkeliaran di stasiun kereta dekat kantor wali kota. Anehnya, setiap kali diberi makanan, ia justru membuangnya dan membentak si pemberi. Oleh orang-orang, ia dijuluki dengan Mpok Sarap, Bu Beringas, dan Si Sangar, karena kepada siapa saja ia nekat berbuat kasar. Bahkan, ia suka melemparkan kotoran kucing ke kaca rumah terdekat dengannya. Akan tetapi, kebrutalannya akhirnya harus berakhir, ketika suatu hari ia mati ditabrak kereta api.
Cerpen Khrisna Pabichara bertajuk “Berhenti Merawat Luka” diangkat dari secuplik memoar Dahlan Iskan. Reputasi Dahlan Iskan yang semakin melesat karena pernah memegang jabatan Direktur Utama PLN dan kini menjadi menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyebabkan banyak pengarang tertarik untuk memotret perjalanan hidupnya dalam sebuah karya. Diceritakan dalam cerpen ini, bahwa di tengah-tengah himpitan hidup, Dahlan kecil mengidamkan sepasang sepatu dan sepeda. Demi mewujudkannya, sejak kelas 3 SR, ia bekerja sebagai kuli nyeset. Ia giat menabung upahnya, agar suatu saat dapat membeli dua mimpi terbesarnya. Namun, karena kebutuhan ekonomi begitu mendesak, sebagian besar hasilnya diberikan kepada sang ibu. Pada suatu pagi, Dahlan sangat terkejut ketika tidak menemukan nasi tiwul untuk dimakan. Padahal, biasanya ibunya selalu menyediakan untuk sarapan. Lebih tergeragap lagi, waktu ia menemukan ibunya berjongkok, terguncang-guncang menahan batuk, sambil memegangi batang pisang. Sesaat kemudian, ibunya terjengkang dan dilarikan ke rumah sakit. Meskipun demikian, Dahlan tetap tabah menghadapi cobaan. Di akhir cerita, ia mengabadikan apa yang dialaminya dalam buku catatan. Menulis, baginya, merupakan terapi mujarab dalam rangka mengurangi beban hidup.
Adapun M. Arman AZ, melalui cerpen “Kota Tanpa Kepala”, mempersembahkan cerita yang tergolong absurd dan menerjang batas-batas logika. Bagaimana tidak? Dalam paragraf pembukanya, penulis mengenalkan sebuah kota berpenghuni manusia-manusia tanpa kepala. Sesuai keyakinan yang beredar, awal mula kelahiran kota tersebut adalah sejak pemimpinnya mati misterius. Lantas diangkatlah pemimpin baru, guna menggantikan kedudukannya. Akan tetapi, terbitlah penyesalan, karena setelah dipilih, ia tidak becus membenahi kesejahteraan penduduk. Akhirnya mereka berbondong-bondong memprotes kebijakan sang pemimpin serta mencaci namanya dan merobek-robek gambar dirinya di koran. Merasa jengah, pemimpin itu membentuk pasukan khusus untuk mengamputasi kepala seluruh penduduk. Tentu saja, anggota keluarga dan orang-orang kepercayaan sang pemimpin luput dari bahaya tersebut. Setelah melaksanakan hasratnya, kepala-kepala yang telah dipenggal dijadikan tumbal untuk bendungan, jembatan, dan gedung pencakar langit di kota itu. Rupanya, seorang pemuda berhasil menyelamatkan diri. Berlari ke tempat lain, ia membentuk perkampungan baru yang indah. Tak lama kemudian, ia pun didapuk menjadi pemimpin. Namun sayang, ternyata lambat laun ia menjadi ‘tangan besi’, yang memimpin dengan kejam. Dari sinilah terbersit gambaran bahwa para tiran akan selalu lahir di muka bumi, untuk melancarkan kebengisan dan melakukan penindasan.
Selain ketiga cerpen di atas, masih banyak lagi cerpen yang patut dinikmati, seperti: “Kampung Surga” (Hermawan Aksan), “Pulang” (Isbedy Stiawan), “Tanah Merah” (Delvi Yandra), dan “Sekolah Babi” (Riki Utomi). Hal ini dikarenakan para penulis sanggup memadukan berbagai macam karakter tokoh, persoalan, serta alur dalam racikan kata-kata memesona. Lebih dari itu, pesan-pesan yang disampaikan bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Buku ini layak dimiliki, karena menyajikan beragam tema yang dikemas dalam cerita-cerita yang renyah. Ditambah lagi dengan pemilihan warna cover yang pas dan kertas yang berkualitas.

Yogyakarta, 2012

Rabu, 23 Januari 2013

Lari dari Kira (Resensi_Riza Multazam Luthfy, terbit di “Kompas.com” edisi Selasa, 22 Januari 2013)


Judul: Kira, Waktu Memaksaku Melepaskanmu
Penulis: Dhian Gowinda
Terbit: Juli 2012
Penerbit: Bentang Belia
Tebal: 160 halaman
Harga: Rp. 29.000

Anggitan narasi cinta oleh Dhian Gowinda ini memang memukau. Penulis tak hanya mengajak pembaca untuk merunut kisah kasih antara Kira dengan Rangga, melainkan juga menghidangkan pelajaran bahwa betapa seseorang yang terpuruk karena masa lalu, tidak boleh memanggul beban derita hingga berlarat-larat. Ia harus berdiri tegap menatap jauh ke depan. Seseorang yang terlampau merenungi waktu silam tidak akan mampu menjalani kehidupan dengan baik. Itulah mengapa ia dituntut tetap bertahan. Ia boleh merawat kenangan, tanpa perlu membuangnya jauh-jauh. Lebih dari itu, ia harus bangkit melawan kesedihan, karena life must go on.
Pada awalnya, kisah yang dibalut dengan kata-kata gaul dan identik dengan kaum ABG ini terkesan klise. Akan tetapi, salah! Ini adalah anggapan sesat yang mendesak diluruskan. Pasalnya, penulis tetap menyajikan hal baru bagi pembaca. Tentunya dengan catatan jika pembaca bersedia menyimak cerita ini secara utuh; hal yang ringan dilakukan, mengingat bahasa percakapan antar tokoh disajikan dengan renyah.
Di antara keistimewaan buku ini yaitu penulis mampu menciptakan surprise bagi pembaca. Efek kejut sengaja dirancang sebagai ikhtiar melibatkan emosi pembaca. Dengan menyelipkan kegembiraan dan kesedihan yang bertumpang tindih, tak ayal, perasaan pembaca akan diaduk-aduk sehingga dengan mudah menitihkan air mata sekaligus tersenyum sendiri. Walhasil, pembaca akan menghirup napas dalam-dalam seraya melanting decak kagum.
Adalah Rangga, tokoh utama dalam novel yang cocok dinikmati oleh kawula muda ini. Ialah lelaki penggandrung berat keusilan, kejahilan serta kegesitan Kira. Lelaki yang diam-diam menaruh simpati kepada gadis dengan rambut selalu acak-acakan dan mengantongi gelar trouble maker. Sayangnya, ia belum sadar bahwa di dalam hatinya sebenarnya tersimpan rasa yang lebih dari sekadar simpati. Ia baru menyadarinya ketika Mozza menanyakan apakah dirinya menyukai Kira.
Rangga seolah mendapat angin segar ketika suatu saat Mozza menyodorkan list kesukaan Kira. Percaya dengan bocoran sahabat kental Kira tersebut, akhirnya Rangga mencoba menarik hati gadis pujaannya dengan meniru gaya Lupus. Jadilah rambutnya aneh bin ajaib, karena mirip burung berjambul. Tak hanya itu, ia juga merogoh koceknya agar Kira terpikat. Ia  membelikan Kira beberapa keping DVD berisi film-film Korea: Sector 7, Secret Garden, Heart String, dan City Hunter. Juga CD SHINee, boyband yang digandrungi Kira setengah mati.
Di luar dugaan, Kira justru menolak mentah-mentah hadiah tersebut dengan berujar: “gue gak butuh ginian!!!!” (halaman 15) lalu meninggalkan Rangga, yang masih bingung dan belum paham dengan sikap Kira.
Upaya Rangga dalam menjinakkan hati Kira akhirnya berbuah. Ia mengetahui bahwa sesungguhnya Kira juga menaruh perasaan yang sama ketika suatu hari diary berwarna biru diberikan kepadanya. Saking senangnya, Rangga memberitahukan bahwa ia dan Kira sudah resmi pacaran dengan mengirim SMS ke semua teman sekolah.  
Mengetahui tingkah laku Rangga yang cenderung lebay itu, Kira begitu marah. Sampai-sampai ia berkata pada Mozza: “tapi, seenggaknya dia ngobrol dulu, kek, sama gue. Sableng, tuh, anak, belum ada apa-apa udah kasih woro-woro ke anak-anak.” (halaman 43).
Rangga meminta maaf kepada Kira atas sikapnya yang berlebihan. Atas dasar cinta, Kira selalu memaafkan Rangga, meski bukan sekali saja kekasihnya itu berbuat salah. Begitulah. Kisah asmara keduanya sering kali diwarnai pertengkaran yang disulut hal-hal sepele. Akan tetapi, mereka berdua sanggup mengatasi itu semua dengan mulus.
Makin hari kemesraan Rangga dengan Kira makin tampak. Kebahagiaan senantiasa terpancar di wajah keduanya. Hingga sebuah peristiwa memaksa kebahagiaan itu berakhir dan menyebabkan sepasang kekasih itu berpisah. Ya, berpisah untuk selamanya, karena Kira meninggal dunia dalam perjalanan bersama Rangga.
Depresi berat menghinggapi Rangga. Atas dasar itulah, ia bermaksud melupakan semua kenangannya bersama Kira dengan menempuh studi di Korea. Celakanya, setiap otaknya melepaskan potret dambaan hatinya, setiap itu pula bayangan Kira kembali muncul.
Di negeri berpenghuni orang-orang Mongoloid tersebut, Rangga bertemu dengan Tari, sepupu Kira yang ternyata juga sedang menempuh studi di Korea. Gadis berwajah oriental tersebut mengaku tidak terima atas kepergian Kira dengan berucap: “Pembunuh! Tenang lo di sini? Tujuh tahun gue menikmati penderitaan elo. Dan, sekarang elo mau melarikan diri begitu aja.” (halaman 102).
Rangga tertegun. Nyatanya, selama ini Tari selalu menguntitnya. Tari ingin membuat penderitaan Rangga semakin menjadi dengan rajin menyalahkan Rangga.
Di pucuk cerita, Tari menyadari bahwa kematian sepupunya itu adalah takdir semata yang tidak perlu disesali terus-menerus. Begitu juga dengan Rangga. Meski Kira sudah tiada, ia yakin bahwa kekasihnya itu selalu bersamanya dalam menggapai cita-cita.

Yogyakarta, 2012