Selasa, 02 April 2013

Puisi_Riza Multazam Luthfy (Terbit di harian "Haluan" edisi Minggu, 31 Maret 2013)


Cerita Ayah

anakku,
sebenarnya
ayah benci menceritakan hal ini
tapi, demi kebaikan masa depanmu
serta perkembangan jiwa adik-adikmu
ayah rela menunaikannya

awas!
jangan bilang ibu
ia satu-satunya manusia
paling benci merekam ulang
kejayaan suaminya

semasa menanggung muda
ayah kerap jadi bahan perbincangan,
buah lisan, juga rebutan para perawan
dan janda tua yang merindukan cinta edan

tampang ayah sungguh menggiurkan
tangan lumayan panjang
mulut haus utang
dompet kekeringan

kalau lagi pacaran
ayah tidak segan-segan
meminjam cincin, kalung, giwang, gelang,
segala perhiasan yang menempel di badan

“sayang harus dibuktikan”
slogan itu berulang-ulang ayah teriakkan
   ketika menangani korban

supaya lebih meyakinkan
ayah nekat memberi jaminan:
“ingat,  sebagai tanda ikatan
 barang saya simpan di pegadaian
 tenang, jangan buruk pikiran
 dalam jangka empat bulan
 cinta urung diteruskan
 seluruhnya tidak dikembalikan”

dan syukurlah
dulu otak perempuan
masih rawan dikendalikan
tidak seperti sekarang
hati mereka suka mempertanyakan
hal-hal yang menurut ayah kurang sopan:
golongan darah, pekerjaan, jabatan,
pemasukan, jumlah tabungan
termasuk juga jenis kendaraan  

padahal anakku, itu semua
pertanyaan yang sangat menjemukan

seperti yang kau dengar dari ibu
ayah berdarah binatang
kerja menunggu panggilan
pangkat jenderal pengangguran
pemasukan jarang-jarang
simpanan hanya cukup pesan nisan
motor kredit, belum sanggup bayar kontan

Malang, 2011


Susu Kaleng

pernah
seekor cahaya
menyelinap di gigimu

dan
sejak itulah
kau mulai ragu
menetek putingku

Malang, 2011


Penjahat Kelas

baiklah, Ibu
akan kusebut satu persatu
mereka yang sampai hati menggoda anakmu

Tatang
ia nongkrong di bangku paling belakang
badan mengenaskan, jalan sempoyongan
tapi, sekali bikin kecemasan
bisa-bisa buku dan pensilku ia singkirkan

Heru
            namanya memang kurang seru
            ia paling sering bolos di otakku:
            membenahi, mereparasi ekor nafsu
            yang pernah mampus ditikam waktu

Jaka
            anak manusia bandar narkoba
            dengan uang ia bisa beli semua
            termasuk nilai-nilai terkaya
yang dulu sempat kupunya

Sigit
            baru sebulan kabur dari rumah sakit
            mungkin karena salah penyakit
            tingkah lakunya amit-amit
            hati dan jiwaku rajin kena gigit          

dari ke sekian teman
ada yang tak perlu disebutkan

ialah

Acong
            putra Bapak Pong
            cucu Kakek Suhong
bibirnya sombong, mukanya bohong
nakal dan bengisnya tak mampu lagi ditolong

Malang, 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar