Minggu, 24 Mei 2015

Perempuan yang Menghindari Perpisahan (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di tabloid "Cempaka" edisi 23-30 Mei 2015)

Membuka jendela, Prita meloncat keluar. Ia ingin menghindari perkawinannya dengan Aldo yang direncanakan besok malam. Bagaimana pun juga, mengabadikan ikatan cinta dengan lelaki penyejuk hatinya selama empat tahun tersebut merupakan impian yang sebentar lagi menjelma kenyataan. Juga bencana paling besar yang akan menimpanya.
Bencana paling besar?
Benar. Di satu sisi, menikah dengan lelaki yang sangat dicintai pastilah menghadirkan kegembiraan luar biasa. Akan tetapi, di sisi lain, juga menghibahkan penderitaan berlarat-larat. Prita menyadari bahwa rasa cintanya kepada Aldo ibarat surya, tak pernah lelah mengirim butir-butir cahaya ke hamparan semesta. Begitu pula sebaliknya. Aldo mencintai Prita begitu tulus, bak biru samudra yang selalu memesona, meski ribuan tahun ditampar gelombang.
Besarnya cinta Prita dan tulusnya hati Aldo merupakan dua kekuatan dahsyat, yang apabila digabungkan nantinya melahirkan kesetiaan. Kesetiaan yang tiada lagi diragukan kualitas dan kuantitasnya. Kesetiaan yang dapat membimbing rumah tangga menuju keluarga yang makmur dan sejahtera. Namun, dengan kekuatan tersebut, Prita justru mengkhawatirkan munculnya ketidaksiapan menghadapi perpisahan. Jikalau diberi tawaran, ia lebih memilih digergaji lehernya daripada harus berpisah dengan orang yang telah memberi kehangatan dalam hidupnya.
Prita meyakini bahwa derita perpisahan melebihi rasa sakit yang dibawa tumor paling ganas sekalipun. Oleh sebab itulah, sekuat tenaga ia berusaha untuk menyingkirkan tubuhnya dari aroma perpisahan. Sedini mungkin.
***
“Bagaimana, anak kita, Ma.?”
“Entahlah, Pa.” Mata Bu Ineke menerawang ke luar. Lantas dengan bibir bergetar, ia melanjutkan, “dari tadi, orang-orang yang kita tugaskan mencarinya selalu bilang kalau Prita belum ditemukan.”
“Sabar ya, Ma.”
“Iya… Tapi bagaimana dengan reaksi besan dan para undangan nanti malam, Pa?”
“Itulah masalahnya. Dari tadi Papa juga cemas, Ma.”
“Aku tak habis pikir….” Ini kali suara Bu Ineke tampak berat. Sangat berat. Sepertinya pita suaranya terikat dari dalam. Beberapa detik mengumpulkan kekuatan, ia menyambung kalimat yang sempat terputus, “mengapa Prita bisa senekat itu. Padahal, ia kan cinta mati pada Aldo.”
Ah, itu perkiraan mama saja. Bisa jadi….”
“Bisa jadi apa, Pa?” Suara Bu Ineke melengking tinggi. Darahnya mulai memanjat ubun-ubun.
“Bisa jadi Prita gak suka Aldo.”
“Papa ini memang gak pernah mau mengerti perasaan anaknya. Setiap hari cuma sibuk dengan urusan kantor. Prita benar-benar mencintai Aldo, Pa!”
Menutup katup mulutnya, Bu Ineke meninggalkan ruang tamu. Sepasang pipinya banjir oleh air mata.
Pak Kelvin merasa bersalah. Sungguh. Seharusnya ia menghalau lidahnya untuk berkata demikian. Seharusnya ia memeluk sang istri, mengusap rambutnya, sambil mengingatkan untuk terus membaca istighfar.
***
“Bagaimana tidurnya semalam, Prit. Nyenyak?”
“Wah, aku gak bisa Tidur, Ren.”
“Kamu pasti memikirkan acara perkawinanmu nanti malam.”
Hooh, Ren.”
Bagi Prita, Reni adalah sahabat terbaik yang ia punya. Seperti memiliki indra keenam, perempuan yang duduk sebangku di SMA dengannya tersebut tidak pernah keliru saat menebak isi hatinya.
“Sudahlah, Prit. Tiada guna kau bersembunyi seperti ini. Menjauhkan diri dari realitas bukanlah solusi terbaik. Lagi pula, perpisahan memang diciptakan mengiringi pertemuan. Sebagaimana kematian yang hadir setelah kehidupan. Bukankah dulu Ustadz Furqan mengatakan demikian?”
“Terus, aku harus bagaimana?”
“Pulanglah, Prit. Papa dan mamamu sudah menunggu. Kasihan mereka.”
Gak mau. Aku di sini saja!”
“Ayolah. Itu sama saja dengan menyakiti perasaan banyak orang. Ingat, Prit. Kalau perkawinanmu batal, yang sakit hati bukan cuma Aldo dan calon mertuamu. Tapi, juga semua tamu yang hadir.”
Diam, Prita memandangi Reni. Ia membenarkan perkataan sahabatnya. Tapi, pikirannya belum bisa bersepakat dengan satu kata, perpisahan.
“Kau harus menunjukkan bahwa Prita adalah perempuan yang gigih. Bukan cengeng dan ringkih.”
Prita masih saja diam.
“Apa perlu aku mengantarmu sekarang?”
Segesit kilat, Prita menjawab, “aku mau pulang. Tapi, ada syaratnya.”
***
“Hei, itu Prita datang, Pa!”
Tergopoh-gopoh, Bu Ineke berlari ke teras. Ia bermaksud meminta maaf, jika penyebab kabur Prita, putri satu-satunya itu, adalah dirinya. Adapun Pak Kelvin, hanya mengenakan kaos dalam, membuntuti dari belakang.
Di luar dugaan, rupanya perkiraan keduanya meleset. Ternyata perempuan yang berdiri di depan rumah adalah Reni. Bajunya mirip sekali dengan baju yang dipakai Prita sewaktu melarikan diri dari rumah. Bulir-bulir kekecewaan menghinggapi raut muka Bu Ineke dan suaminya.
Menguatkan diri agar tidak jatuh lunglai, atau bahkan pingsan, Bu Ineke segera menghampiri Reni. Kemudian tanpa basa-basi, perempuan paruh baya tersebut langsung bersoal mengenai keberadaan Prita.
“Nak Reni. Tahu di mana Prita sekarang? Semalam ia kabur dari rumah. Padahal, Nak Reni tahu sendiri, kalau hari ini adalah hari perkawinannya.”
Belum ada isyarat bahwa Reni akan menjawab, Bu Ineke melanjutkan, “apa Prita belum siap ya?”
“Sudah siap kok. Ibu gak perlu khawatir. Itu, anaknya ada di mobil.”
Prita keluar dengan menyunggingkan senyum.
Bu Ineke terheran-heran, melihat Prita muncul dengan baju merah tua bermotif bunga mawar. Rasanya, Prita belum pernah memakai baju itu sebelumnya. Sama sekali belum pernah.
Berpikir beberapa jenak, Bu Ineke baru ingat, bahwa sebulan lalu, Reni pernah menghadiri pesta ulang tahun Prita dengan baju indah itu. Ya, baju yang kini menempel di tubuh anak kesayangannya itu.

Yogyakarta, 2012

Minggu, 10 Mei 2015

Tambora (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Lampung Post" edisi Minggu, 10 Mei 2015)


Genap 200 tahun meletusnya Gunung Tambora jatuh pada Sabtu, 11 April 2015. Tepatnya, pada 11 April 1815, 10 ribu orang lebih tewas akibat ledakan dahsyat dan aliran piroklastik dari Tambora. Demikianlah di antaran secuplik gambaran dahsyatnya gunung berapi. Tak heran jika laporan berjudul Global Vulcanic Hazard and Risk oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyatakan bahwa sejak tahun 1600, kematian akibat gunung berapi mencapai 278 ribu orang. Dari data tersebut, kematian langsung akibat letusan mencapai 58 persen, termasuk letusan Gunung Tambora (Koran Tempo, 12/04).
Peringatan dua abad meletusnya Gunung Tambora di Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima belum lama ini menunjukkan bahwa gunung tersebut memiliki urgensi dan arti tersendiri bagi sejarah peradaban umat manusia. Tambora dianggap telah meletakkan dasar-dasar perubahan kehidupan, sehingga manusia bisa lebih mudah menggapai kodratnya sebagai makhluk modern sekaligus beradab.  
Meskipun mewariskan isak tangis dan duka mendalam, namun ternyata di balik dahsyatnya letusan stratovolcano aktif di pulau Sumbawa tersebut tersimpan berkah dan manfaat tak terkira bagi sejumlah kawasan. Dalam hal ini, Bali dan Eropa merupakan contoh representatif.

Ekonomi dan Teknologi Transportasi
Ekspor budak merupakan salah satu penopang ekonomi Bali pada permulaan abad ke-19. Tiap tahun, sekitar 2.000 orang dijual oleh para bangsawan. Ironisnya, kebutuhan akan koin-koin tembaga, senjata, dan khususnya candu, yang dikonsumsi secara luas oleh masyarakat Bali, dipenuhi dengan cara impor.  
Meletusnya Gunung Tambora, didukung oleh perkembangan politik dan ekologi, ternyata melahirkan suatu transformasi ekonomi. Berdasarkan kronik MC. Ricklefs (2008), timbunan abu Gunung Tambora segera mengakibatkan kesuburan tanah meningkat, sementara Singapura, daerah jajahan Inggris, menjadi pasar ekspor Bali yang Baru.
Dalam dua dasawarsa, Bali bersulih rupa dari sebuah negara pengekspor budak menjadi pengekspor hasil bumi (khususnya beras, kopi, nila). Bukannya menjual rakyatnya, para raja Bali justru membutukan mereka untuk menggarap lahan-lahan pertanian. Dengan demikian, Sumber Daya Manusia (SDM) di Bali telah dimaksimalkan. Potensi orang-orang Bali berhasil digali dan dimanfaatkan. Di samping sebagai katalisator ekonomi, manusia berhasil diposisikan sebagai makhluk berkebudayaan yang mampu menghasilkan cipta, rasa, dan karsa. Juga tidak kalah penting, ungkapan “homo homini lupus” (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya) berangsur-angsur dihapuskan.
Di Eropa, letusan Gunung Tambora yang menyemburkan berjuta-juta kubik materialnya ke langit memicu hujan salju dan gagal panen. Orang-orang Barat menyebut tahun itu dengan “the year without summer” (tahun tanpa musim panas). Cuaca yang buruk membuat transportasi yang biasanya mengandalkan kuda menjadi kurang nyaman. Banyak kuda disembelih, bukan hanya karena manusia tak memiliki cadangan makanan, melainkan juga karena langkanya makanan kuda.
Sistem transportasi perlahan menjadi kacau. Orang-orang kebingungan untuk melakukan mobilisasi dari satu tempat ke tempat lain. Rupanya keadaan ini melahirkan inspirasi bagi Karl Drais. Ia mencoba menciptakan alat transportasi yang mendayagunakan tenaga manusia. Bermodal eksperimen-eksperimen yang ditempuh, akhirnya ia berhasil membuat alat sederhana beroda dua bernama draisine yang berbahan kayu. Sebab tidak berpedal, seseorang bisa mengendarainya dengan menjejakkan kaki ke tanah.
Sepeda sederhana ini juga disebut hobby horse yang berarti “kuda-kudaan”. Sebab, tujuan pembuatan alat ini yaitu untuk menggantikan kuda sebagai sarana transportasi. Penemuan ini merupakan titik awal prinsip keseimbangan sepeda modern, di mana hak patennya didaftarkan pada tahun 1818. Dengan demikian, ilham dari ganasnya Tambora menjadikan karya Drais lebih revolusioner. Pasalnya, tahun 1791 Comte de Sivrac hanya berhasil menemukan celeraifere, mesin tanpa penarik hewan yang belum bersetir dan berpedal sehingga tidak bisa berbelok.

Munculnya Kesadaran Literasi
Di samping transformasi ekonomi dan perkembangan teknologi transportasi, kesadaran literasi juga menjadi dampak positif dari meletusnya Gunung Tambora. Gunung, betapa pun menimbulkan kekhawatiran, kecemasan dan ketakutan luar biasa bagi manusia, ternyata masih memberikan keberuntungan. Sudah tak terhitung lagi berapa karya sastra/fiksi yang lahir lantaran terinspirasi dari gunung. Imajinasi yang ditimbulkan dari gunung menyebabkan sejumlah penulis dan sastrawan berupaya mengabadikannya. Sebut saja dua novel mengagumkan, yaitu Gunung Sukma karya Gao Xingjian (1990) dan Gunung Kelima karangan Paulo Coelho (1998).
Karya sastra dalam negeri berjibaku mengisahkan gunung. Peristiwa meletusnya Gunung Tambora diceritakan dengan apik dalam Syair Kerajaan Bima yang menurut perkiraan filolog Cambert Loir dikarang sebelum 1833 M, sebelum Raja Bicara Abdul Nabi meletakkan jabatannya. Syair karangan Khatib Lukman tahun 1830 M yang tertulis dalam huruf Jawi dengan bahasa Melayu tersebut menyibak kabut sejarah yang meliputi kerajaan Bima.
Dalam syair itu disebutkan peristiwa-peristiwa di Bima pertengahan abad ke-19, yaitu letusan Gunung Tambora, pemakaman Sultan Abdul Hamid, serangan bajak laut, penobatan Sultan Ismail, pelayaran Sultan Abdul Hamid ke Makasar, kontrak Bima, pelantikan Raja Bicara Abdul Nabi, serta kunjungan H. Zollinger ke Sumbawa (Marwati DP dan Nugroho N, 2008: 74).
Bahkan, belum lama ini, Paox Iben Mudhaffar menulis novel setebal 301 halaman berjudul Tambora 1815 yang diluncurkan di Keraton Bima. Bagi pengarang kelahiran 08 Februari 1976 tersebut, pengarang ibarat penjahit yang menjahit serpihan sejarah dengan bahan mentah berupa sejarah, budaya, dan arkeologi.
Sejumlah penulis luar menanggapi imbas meletusnya Gunung Tambora dengan menulis karya fiksi dan non-fiksi. Lord Byron, penyair Inggris, menulis sebuah puisi berjudul “Darkness”. Dalam menggambarkan kegelapan di bumi dan kelaparan pasca letusan gunung dalam skala tujuh pada Volcanic Explosivity Index tersebut, ia menulis: “I had a dream, which was not all a dream. The bright sun was extinguished, and the stars. Did wander darkling in the eternal space, Rayless, and pathless, and the icy earth. Swung blind and blackening in the moonless air; Morn came and went—and came, and brought no day”.
Adapun buku-buku non-fiksi yang mencoba ‘mendaur ulang’ kisah gunung yang mampu menyebabkan perubahan iklim dunia tersebut antara lain: Tambora: A Killer Volcano from Indonesia (Kathy Furgang, 2005), Encyclopedia of Disasters: Environmental Catastrophes and Human Tragedies (Angus Macleod Gunn, 2007) dan Travels to Sumbawa and the Mountain That Changed the World (Derek Pugh, 2014).

Bojonegoro, 2015

Senin, 04 Mei 2015

Bingkisan Cinta dari Holla (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Padang Ekspres" edisi Minggu, 3 Mei 2015)

Scule kembali ke Rebh seraya menundukkan kepala. Ia menganggap dirinya serupa makhluk hina-dina. Menghabisi nyawa lelaki yang menafkahinya sejak kecil merupakan perbuatan keji tiada duanya. Rasanya pantas, jika serata warga semesta menghunjamkan cacian serta mengalirkan makian untuknya.
Setiba di perkebunan Jooba, Scule urung memijakkan langkah ke rumah. Sungguh, beban berat tengah bergelantungan di dadanya. Dalam keadaan semisal itu, tidaklah mengherankan bila hasratnya mengajak mampir di gubuk Timmer.  
“Wahai orang tua. Aku telah berulah nista. Apa yang sebaiknya kulakukan?.” Lidah Scule menerbitkan madah.
“Ada apa, anak muda?” Sahut Timmer tangkas.
“Tangan… Tangan ini tega membunuh orang paling kucintai setelah ibu dan kekasihku.”
Timmer memergoki jemari Scule berlumuran darah. Darah segar yang dipetik dari tubuh renta dan kusut. Darah merah—yang saking merahnya—ulung menenung saban bola netra yang memandangnya.
Suara Timmer melemah. Kini, ia bagai seekor rusa mencicipi panah pemburu liar. Untungnya, ia masih mengantongi kekuatan untuk menyembunyikan jatidiri. Andai tahu, tentu Scule malas mewartakan hal itu pada lelaki berumur hampir seabad tersebut. Lantaran buah kalam yang diluncurkan Scule, bayangan Timmer melompat ke masa 27 tahun silam. Masa dimana ia merawat janji buat Bonai. Timmer merasa gagal mewujudkan pesan sahibnya itu. Pesan yang diucapkan kala bertempur melawan pasukan Morame.
Selaku tetua kampung, Timmer terbiasa dimintai saran para penduduk dalam segala permasalahan. Ini kali, ia menyerah. Rasa malu yang sekonyong-konyong menyergapnya miskin sirna.
“Maaf, anak muda. Ini bukan bagianku. Anak yang tega menikam ayahnya laik menadah balasan. Pergilah menghadap Nycenae. Ia yang bertugas mengatasinya.”
Dengan pasti, Timmer berkelit.
***
Di sebuah malam yang mengigil, Timmer mematung di kolong pohon Toru. Perangkat memorinya dipadati dengan wajah Bonai. Timmer bernala-nala, kenapa tiada mampu ia menjauhkan urita rahasia dari telinga Scule. Meski bukan yang membocorkan, tetap saja ia merasa khilaf. Dan seperti yang Timmer cerna, ternyata jejaka berdagu pedang itu mafhum bahwa lelaki yang menaruh hati pada Holla, kekasihnya, adalah ayahnya sendiri.
Timmer mengerti, sesungguhnya ini adalah cinta segitiga antara Scule, Bonai, dan Holla. Pun menyadari bahwa Scule melambangkan pejantan yang hendak melakukan apa saja demi meluncurkan asmara. Guna menuang iktikad, Scule bernazar di gurun Jiuso: “barang siapa berani mengganggu kemesraanku dengan Holla, maka ia harus mati.” Nazar tersebutlah yang kelak hari dikenal orang-orang Rebh dengan nazar bagi Holla.
Apa yang diperbuat Scule adalah sebiji keniscayaan. Dalam adat Rebh, nazar tetaplah nazar. Seburuk apapun isinya, nazar mendapat tempat begitu mulia. Siapa saja mengingkari, ia bakal dikutuk habis-habisan oleh Gadelun, tokoh pendiri kebudayaan Rebh. Timmer memirsa, Scule hanyalah bujang yang bermaksud melangsungkan kewajiban. Tak lebih dari itu. Timmer juga tak punya daya untuk menyalahkan Bonai. Bagaimanapun, cinta itu anugerah. Perasaan yang membelit Bonai memang lumrah. Namun, yang patut disayangkan yakni mengapa perasaan itu jatuh pada perawan yang 13 bulan lagi menjelma menantunya. Pula dengan Holla. Puan dengan alis mengerucut dan mata berbinar-binar itu sekadar menelurkan keinginan sang bunda. Bunda yang kerap disakiti oleh Bonai semasa muda. Dengan menaklukkan Bonai, rasa sakit ibunya berkenan sedikit mencair. Rasa sakit yang dibayar dengan tumpahan darah Bonai.  
***
Nycenae menangkap isyarat. Sesuai kesepakatannya dengan Timmer, orang yang ditangani berhak menjalani hukuman. Tepatnya, hukuman yang mustahil ditunaikan. Nycenae menyebutnya dengan tiga hukuman untuk Scule. Penerapan hukuman tersebut bertahap. Artinya, apabila si terhukum mampu melewati hukuman pertama, boleh ia mengenyam hukuman kedua. Jika hukuman kedua sanggup terlaksana, maka ia beralih ke hukuman ketiga, hukuman terakhirnya.
Hukuman pertama yang ditelan Scule yaitu membebaskan pohon Forghe dari debu musim panas. Sebagaimana dimaklumi, pohon Forghe sama sekali belum suah tampak, sejak Garnendos kecewa karena buah yang dipetik dari Forghe sangat asam. Padahal, ia menduga buah itu manis, sehingga dengan memakannya, mulutnya bisa lebih segar. Berdiam diri sepanjang 4 hari—demi menguji kekebalan otot—membuat bibirnya terasa pahit. Akhirnya, dililit amarah yang meluap-luap, ia menitahkan debu musim panas untuk menudungi rindangnya pohon Forghe.
Dalam memacu lagak, Scule—si banyak akal itu—membelokkan dua aliran sungai dan mengarahkan keduanya ke pohon Forghe. Dengan demikian, butiran debu yang menempel di cabang, ranting, serta daun pohon Forghe segera lenyap. Mo dan Neg; dua sungai yang rajin mengirim air bah dan menggenangi ladang-ladang petani itu melenyapkan debu dari pohon Forghe. Bagi keduanya, pekerjaan tersebut terlalu enteng.
Mencerap keperkasaan Scule, Nycenae tercekat. Baru kali itu ia mengamati sendiri aksi memukau pemuda penggandrung kase—minuman memabukkan tersusun dari sari gandum—itu. Mau tidak mau, ia terdesak mengakui kehebatan Scule. Ya. Tiadalah Scule anjing yang bila disuguhi pentungan langsung diam. Scule sosok keras kepala sekaligus lihai mengolah pikiran.
Hukuman kedua yang dilimpahkan pada Scule yaitu bermukim 9 hari bersama Minea, singa paling ditakuti orang Rebh. Sudah tak terhitung lagi makhluk yang lolos dari cengkeraman si kaki 8 dengan cakar mematikan itu. Manusia yang dicemplungkan ke kandang Minea, pastilah keluar tinggal nama. Nycenae yakin bahwa Scule bukanlah pengecualian. Sesakti dan setangguh apapun Scule, cocok ia menjadi menu santapan lezat bagi Minea. Dengan menanamnya di loka mengerikan tersebut, daging dan tulang Scule akan koyak-moyak diterkam Minea.
Pada malam bulan purnama, Scule dibuang ke kandang Minea lalu ditutup rapat. Jikalau orang tersebut bukan Scule, tentu ia meregang nyawa saat itu juga. Namun tidak dengan Scule. Itu malam, Minea meraung sedemikian rupa, sebagaimana layaknya waktu-waktu sebelumnya saat menemui sesosok manusia hinggap di pandangannya. Ganjilnya, Minea meraung bukan sebab kegirangan akan melahap Scule. Minea meraung tanpa meneteskan liur. Hewan berkulit belang itu meraung karena menikmati kehangatan yang ditawarkan Scule. Scule membelai bulunya dengan lembut lantas menciumnya. Sudah lama Minea kehilangan kehangatan itu. Dan kini, ia kembali menjumpainya setelah 8 tahun silam ibunya mati dihantam tombak Fohun, prajurit terkuat dari Yomush. Sebab itulah, Minea menabung dendam pada semua manusia, hingga mashur sebagai satwa terkejam yang gemar mencabik-cabik mangsa.
Malam ke 9, syak wasangka yang teronggok di otak Nycenae terpaksa berubah menjadi keheranan luar biasa. Dugaan bahwa Scule menjemput ajal dengan mengenaskan buru-buru luput. Selamat dari ancaman Minea mengindikasikan kehebatan manusia yang menghadapinya. Dan, hal itu berhasil dibuktikan Scule. Lebih menakjubkan lagi, Minea bersalin binatang penurut di bawah asuhan Scule.
Nycenae berang. Lolosnya Scule dari maut dinilai sekadar keberuntungan. Genap ia menyiapkan hukuman selanjutnya. “Kali ini, kau akan menyerah, Scule”. Gumamnya lirih.
Hukuman pungkasan bagi Scule yaitu mengusir kawanan tikus perusak kebun Liiyohh. Pholimeinem bukanlah sembarang tikus biasa; berbulu lebat, bergigi taring, bermata kucing. Jikalau menggigit, maka si korban lekas menarik napas penghabisan dalam tempo semalam. Mayatnya juga menerbitkan aroma busuk layaknya bau tikus itu sendiri. Ratusan pawang dikerahkan, namun semua kelabakan. Bahkan sebagian besar dari mereka rela mengetam akibatnya: berkalang tanah dengan bermandikan rimbun darah.  
Scule mencoba bersikap tenang. Ia berencana memporakporandakan sarang tikus-tikus menjijikkan itu dengan bantuan Angin Barat kala matahari sedang terik-teriknya. Scule paham betul kelemahan musuhnya; sinar matahari. Benar. Dengan menyemprotkan sinar matahari pada tubuh mereka, niscaya kulit, daging, serta tulang mereka akan melepuh. Itulah mengapa kebun Liiyohh memperoleh serangan tikus-tikus itu saat malam bertandang.
Urusan ini tidaklah ringan. Mengapa? Sebab, bukan cuma nyawa Scule yang jadi taruhan. Jika tikus-tikus tersebut kurang berjaya dikeluarkan dari sarang di siang bolong, maka sisa-sisa tikus yang masih hidup bakal mengamuk dan melampiaskan murka ke seluruh penduduk.
Oleh dasar itulah, Scule melempar saran pada Angin Barat agar berhati-hati dalam melaksanakan amanat. Ia memperingatkan, waktu paling baik untuk beraksi adalah kala matahari tepat di atas kepala; usai terpekik auman macan dari arah utara. Angin Barat menurut. Sehabis menunggu waktu yang tepat, akhirnya ia lepas tiupan dahsyat ke sarang Pholimeinem sehingga semuanya menyembul. Dan, dalam sekejap, tikus-tikus itu terbakar tanpa sisa oleh tandukan sang surya.
***
Usai menuntaskan ketiga hukuman yang nian berat, Scule berkehendak meminang tambatan hatinya. Dalam benaknya, mestilah Holla semakin terpana mengendus keperkasaannya menundukkan ganjaran dari Nycenae. Dengan mencawiskan gaun indah berhias permata—cindera mata dari Volka selepas menyingkirkan gadis itu dari sengatan kalajengking raksasa, 3 karung emas pilihan dari kota Zioho, juga beberapa kuda perkasa peninggalan ayahnya, Scule bersambang ke rumah Holla. Walakin, alangkah terkejutnya, tatkala ia menyaksikan kediaman Holla kosong, sepi penghuni. Nyatanya, Holla beserta ibunya terlebih dahulu meninggalkan tanah Samerr dan menetap di gunung Xuure. Scule pun sadar, kalau cinta Holla pada dirinya bersifat sementara. Bukan cinta kekal-abadi sesuai yang ia idam-idamkan selama ini. Benar. Persembahan cinta Holla laksana pewarna kain dari daerah Toman: mudah sekali luntur—saat dendam ibunya tunai terlampiaskan.  

Yogyakarta, 2011

Puisi_Riza Multazam Luthfy (Terbit di harian "Solo Pos" edisi Minggu, 3 Mei 2015)


Jealous

meski
tak lagi bersama,

tak kan
kubiarkan
kaurengkuh kesempurnaan
di dinding kalbu-Nya

Bojonegoro, 2008


Jangan Percaya Padanya

apa kabar puisi
kenapa kau termangu di situ
sepi, sendiri
apakah sedang berpikir
tentang kata
yang menyusun kerangkamu

kata tak seperti yang kau duga
ia bisa menyelinap
dan membunuhmu
kapan saja
hati-hati dengannya
ia musuh bermuka seram
ia racun dalam tubuhmu

bagaimana puisi
percayakah kini kau dengan kata

kalau masih ragu
taruh pisau tajam
di saku celana
usik dia
ancam, jika berlaku kurang sopan

ingat, kau adalah
sang majikan
bukan pembantunya

Bojonegoro, 2008

Minggu, 12 April 2015

Gratifikasi Buku (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Koran Merapi" edisi Minggu, 12 April 2015)

Kasus-kasus gratifikasi yang menyeret para pejabat dan anggota legislatif ke jeruji besi menunjukkan bahwa di negeri ini degradasi moral sudah sedemikian akut. Moralitas umum berupa nilai kemanusiaan (humanity), nilai keadilan (justice), serta nilai kejujuran (honesty), telah dilanggar tanpa mengindahkan prinsip hidup bersama yang sejak dulu dijunjung tinggi oleh nenek moyang kita.  
Agar mendapat jatah kekuasaan, acap kali seseorang melakukan gratifikasi. Ada semacam konsensus tak tertulis: keputusan-keputusan politik mudah dicapai jika disertai komisi, tiket perjalanan, atau fasilitas bagi pemangku kebijakan.
Dalam jagat hukum, gratifikasi digencarkan guna menghindarkan seseorang dari sanksi. Lihatlah betapa nekatnya para pesakitan yang ingin lari dari tanggung jawab. Tanpa basa-basi, mereka menyediakan layanan ‘pijat plus’ gratis kepada hakim. Gratifikasi seks menjadi garansi bagi narapidana supaya masa hukuman dipersingkat atau bahkan dibebaskan.

Gratifikasi di Perguruan Tinggi
Tidak hanya pada bidang politik dan hukum, aroma gratifikasi juga terendus dalam dunia pendidikan. Baru-baru ini, dosen dan birokrat kampus ternama terlibat kasus gratifikasi. Hal ini terkuak dari kesaksian Ketua Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Mansyur Ramli. Ia membocorkan bahwa saat melakukan akreditasi kampus, pihak asesor menerima buku yang di dalamnya terdapat gelang emas.
Pemberian seperti ini tergolong berani. Mengingat, pemerintah telah menetapkan sanksi bagi siapa saja yang terlibat gratifikasi. Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 menetapkan, baik pelaku pemberi maupun penerima gratifikasi diancam dengan hukuman pidana penjara seumur hidup atau maksimal 20 (dua puluh) tahun dan denda maksimal Rp 1.000.000.000 (satu miliar rupiah). Beratnya sanksi yang ditetapkan, sebab gratifikasi termasuk kejahatan korupsi sebagai extra ordinary crime. Dengan ketentuan ini, pemerintah berharap agar masyarakat menjauhkan diri dari bahaya laten korupsi.
Namun demikian, kasus pemberian gelang emas yang dibungkus buku menunjukkan bahwa seiring diperketatnya regulasi, berkembang pula cara menyiasati. Ungkapan “sepandai-sepandai polisi masih dikalahkan pencuri” barangkali ada benarnya. Dalam melancarkan siasat, pemberian yang dicurigai sebagai bentuk suap sengaja dihindari. Adapun semua jejak korupsi dihilangkan. Jadilah buku sebagai tameng kemunafikan. Dengan buku, seseorang dianggap menyebarkan ilmu pengetahuan. Padahal, sebenarnya ia sedang menanam benih-benih kerusakan di tengah masyarakat.
Betapa mata batin kita terbelalak saat mengetahui bahwa gratifikasi berhasil menyelundup di perguruan tinggi. Fakta ini menunjukkan bahwa satuan pendidikan penyelenggara pendidikan tinggi tersebut belum terbebas dari virus korupsi. Akibatnya, citra perguruan tinggi sebagai garda terdepan pendidikan berkarakter memudar. Perguruan tinggi dianggap belum mampu mewujudkan visi pendidikan nasional yang bermaksud mengukuhkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial.
Bila diamati, fenomena di atas menyajikan dua hipotesa. Pertama, pernyataan John Dewey (dalam Mohammad Ali, 2009) bahwa pendidikan merupakan proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual maupun emosional belum sepenuhnya terwujud. Kedua, agen-agen pendidikan yang seyogyanya menampilkan kepribadian bermoral, justru memberi andil dalam proses kemunduran bangsa.

Alih Fungsi Buku
Adanya gratifikasi buku mengindikasikan bahwa sejarah buku di negeri ini tersusun atas lembaran-lembaran kelam. Lembaran-lembaran yang menghadirkan buku berwajah muram. Dari dulu hingga sekarang, betapa hanya karena menuruti beragam kepentingan, nasib buku akhirnya tergadaikan.
Buku yang seharusnya menjadi sumber pengetahuan, kadang kala beralih fungsi menjadi alat kejahatan (instrument of crime). Padahal, selain tergolong kriminal, penyalahgunaan buku mengidentifikasi pelaku telah berbuat amoral.  
Munculnya kasus ini memancing ingatan kita pada Teror Bom Buku pada 2011 di Jakarta. Serangkaian peristiwa teror dengan kiriman paket buku berisi bom tersebut membuat masyarakat menaruh kecurigaan terhadap buku. Ketakutan terhadap bahaya yang terselip dalam buku membuat anak kecil, remaja, dan dewasa menjauhinya. Buku mengandung fobia.
Alih fungsi buku sebagai sarana gratifikasi harus mendapat perhatian serius dari pemerintah, akademisi dan seluruh stakeholders. Kasus ini dikhawatirkan menjadi ‘inspirasi’ bagi lahirnya beragam kejahatan lain dengan pola serupa. Kalau tidak segera diatasi, boleh jadi, di masa yang akan datang, penyelundupan narkoba, pemberian tiket pesawat untuk hakim, serta pembunuhan aktivis, direncanakan dengan buku.
Kita harus waspada. Gratifikasi buku merupakan berita buruk bagi pegiat-pegiat literasi sekaligus kabar gembira bagi para penjunjung budaya korupsi.

Bojonegoro, 2015

Anak, Buku, dan Egoisme (Opini_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Lampung Post" edisi Sabtu, 11 April 2015)


Akhir-akhir ini, kasus-kasus kekerasan menimpa anak-anak. Generasi bangsa tersebut menjadi korban kekejaman dan kelaliman, baik dari orang tak dikenal, guru, orang tua, maupun temannya sendiri.
Di kota-kota besar, anak tidak mempunyai loka bermain, sehingga ruang-ruang publik, seperti jalan raya dan lahan parkir, menjadi lapangan sepak bola. Pembangunan pusat perbelanjaan, gedung mewah, dan kantor, hanya menambah pundi kas Pemerintah Daerah, tanpa memedulikan anak-anak. Padahal, dengan kian sempitnya sarana bermain, anak-anak lebih memilih soft game, daripada permainan tradisional yang ‘memproduksi’ banyak keringat. Dengan permainan yang mengandalkan pikiran tanpa melibatkan ketangkasan, anak-anak cenderung jarang bergerak. Akibatnya, kecerdasan motorik mereka berkurang.
Kerasnya kehidupan menjadikan anak-anak tersisih dari dunia mereka. Kita mengelus dada saat mendapati anak-anak berjualan koran di jalanan. Kita terperangah ketika menemui anak-anak menjajakan makanan ringan di bus dan angkutan umum. Beban ekonomi yang seharusnya hanya berada di pundak orang tua nyatanya juga ditanggung anak-anak. Hal ini diperparah dengan menjamurnya artis cilik. Bagi orang tua, anak menjadi mesin uang yang dapat memperlancar deposito di bank. Imbasnya, selain terkena sindrom popularitas, anak-anak cenderung lebih matang ketimbang usia mereka. Akhirnya mereka mengalami ‘dewasa dini’. Mengikuti pola pikir orang tua, anak-anak melalui masa kecil tanpa bahagia.  

Ambisi Orang Tua
Fenomena di atas menunjukkan bahwa hak anak untuk bermain dan belajar dikalahkan oleh ambisi orang tua. Padahal, dahulu kala, negeri ini merupakan pionir peringatan Hari Anak Internasional yang diinisiasi oleh Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Keputusan Kongres Gerwani II tahun 1954 menyatakan bahwa hak kaum perempuan dan anak-anak tak dapat dipisahkan dari kemerdekaan dan perdamaian. Hak atas kemudahan fasilitas pendidikan dan kesehatan serta masa depan yang cerah tercakup dalam hak anak (Akbar, 2013).
Keserakahan manusia turut menyumbang daftar penderitaan anak-anak. Patut disayangkan, akhir-akhir ini, banyak produsen nakal enggan mencantumkan komposisi makanan. Demi meraup keuntungan, pemanis buatan diselundupkan pada jajanan anak-anak. Baik PP no. 69 Tahun 1999 maupun PerKa Badan POM RI no. HK 03.1.5.12.11.09955 Tahun 2011 ternyata tak cukup menangkal aksi nekat oknum-oknum yang kurang bertanggung jawab. Padahal, jika pemanis buatan dikonsumsi secara berlebihan, anak-anak bisa mengidap kanker dan keterbelakangan mental.
Dalam keadaan darurat seperti ini, buku menjadi penyelamat nasib anak. Buku merepresentasikan benteng terakhir (the last bastion) bagi masa depan anak. Sayangnya, eksistensi buku kurang mendapat perhatian. Masyarakat kita lebih suka membekali anak dengan mainan. Mereka cenderung menjauhkan anak dari buku.

Pemanis Bibir
Peribahasa Arab klasik “khairu jalisin al kitabu” (sebaik-baik teman adalah buku) hanya menjadi pemanis bibir guru yang memberi motivasi anak didiknya ketika menghadapi Ujian Nasional (UN). Anak-anak harus berpura-pura bersahabat dengan buku. Menuruti guru, anak-anak ikut les dan privat. Anak-anak memanggul beban psikologis, lantaran jika mereka tidak lulus, pihak sekolah pasti malu. Di sinilah buku beralih fungsi, dari media penyampai ilmu pengetahuan ke sarana merawat gengsi.
Celakanya, buku selalu menghadirkan ironi. Di satu sisi, buku menyajikan pelajaran berharga, mengembangkan curiosity, serta membantu anak meraih cita-cita. Buku yang digarap sesuai formula dapat mengantar anak menggenggam dunia. Tono dan Tini karya Annie M.G. Schmidt merupakan contoh buku yang dimaksud. Menurut Adhim (2007), buku terbitan Djambatan (Jakarta) tersebut memiliki struktur cerita yang kuat dan sesuai dengan alam berpikir anak.   
Di sisi lain, buku juga memuat aksi kolonialisme terhadap pikiran anak-anak. Oleh produsen, buku tulis disulap menjadi panggung artis. Dari sampul buku tampak keglamoran yang sengaja dihidangkan. Mulai wajah yang dipermak, mobil mewah, hingga busana berharga puluhan juta rupiah. Tanpa disadari, buku dengan ilustrasi kurang mendidik yang menyajikan life style para penjunjung tinggi hedonisme telah membunuh karakter anak secara perlahan.
Atas dasar itulah, mulai sekarang, anak-anak harus dihindarkan dari “junk books” (buku-buku sampah). Maraknya pelbagai macam buku remaja dan dewasa menyebabkan pergeseran minat anak untuk melahap buku yang sebenarnya mereka butuhkan (Sumardi, 2005).  Langkah ini sulit dilakukan, jika sampai detik ini, pemerintah, masyarakat, dan produsen masih mengidap egoisme akut: penyakit yang jika tidak segera ditangani, kejahatan terhadap anak bakal terus berlanjut.

Bojonegoro, 2014

Rabu, 01 April 2015

Bangsa Singkong, Dulu-Kini (Teroka_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Kompas" edisi Rabu, 1 April 2015)


Jadi kita mesti tidak malu/ untuk makan tiwul./ Saya selaku Presiden Republik Indonesia/ akan menginstruksikan kepada seluruh jajaran kabinet/ dan pejabat tinggi negara/ untuk mulai detik ini/ mengganti menu mereka dengan singkong./ Bilamana perlu saya akan keluarken/ Dekrit Singkong.//

Bisa jadi karena terinspirasi dari sajak F. Rahardi di atas, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi menerbitkan Surat Edaran No 10 Tahun 2014, yang menginstruksikan agar semua instansi pemerintahan menyediakan makanan lokal, antara lain singkong. Selain menghargai jerih payah para petani, makan singkong juga tidak berpotensi besar mengundang penyakit.
Di tengah gempuran makanan impor, kebijakan ini perlu diapresiasi. Kebijakan itu memberdayakan hasil local sekaligus mendorong hidup sehat dengan makanan lokal. Menjamurnya makanan cepat saja (fast food) yang mengesampingkan bahaya, perlu diimbangi dengan upaya memopulerkan makanan alami, tanpa bahan pengawet serta murah.
Sebelum merdeka, rakyat Indonesia terbiasa makan singkong. Itu bukan pilihan, melainkan mungkin keniscayaan. Singkong jadi makanan pokok, baru kemudian beras. Siapa yang mampu makan singkong dianggap beruntung, karena sulit mendapatkan makanan pokok itu.
Situasi itu berbeda dengan kondisi mutakhir, ketika singkong sekadar menjadi camilan atau kudapan tambahan dari beras/nasi. Bahkan bagi segolongan orang kota, singkong sekadar nostalgia: mengingat keguyuban di pedesaan. 

Derajat Singkong
Dalam batas tertentu, singkong berfungsi sebagai penanda status sosial. Setelah kemerdekaan, orang yang masih makan singkong dipandang “rendah”. Sebaliknya, semakin tinggi status sosial seseorang, semakin jauh pula dari singkong.
Itu mengapa muncul istilah “anak singkong”, untuk anak-anak bumiputera sebagai lawan “anak keju” bagi anak-anak Belanda. Anak pribumi dengan status sosial lebih rendah harus selalu mengalah pada anak-anak bangsa penjajah.
Keberadaan singkong kian disepelekan ketika orang yang makan keju dianggap berderajat lebih tinggi ketimbang pemakan singkong. Akibatnya, orang-orang kaya lebih suka membeli keju demi memperoleh pengakuan masyarakat. Fenomena ini sejalan dengan kerapnya penggunaan nama asing untuk tempat, jalan, dan bangunan. Padahal, sebenarnya, dengan kenyataan ini, masyarakat pribumi semakin terisolir dari alam, tradisi, serta sejarahnya (E.N. Timo, 2005: 104).
Keadaan ini diperparah dengan salah tafsir atas peribahasa “ana dina ana sega” (ada hari kalau ada nasi). Martabat singkong kian terpuruk. Di Jawa, sebagian orang belum merasa makan jika perutnya belum terisi nasi meski sudah kenyang menyantap singkong.

Identitas Singkong
Sebenarnya singkong tak selalu identik dengan stereotip negatif. Singkong masih memiliki harga diri, bahkan dimuliakan. Di Blitar, misalnya, ada bait mars perjuangan berbunyi: Telo jagung iku kang diutamakne (singkong jagung itulah yang diutamakan)/ Mergo cepet kanggo ngisi weteng luwe (karena cepat untuk mengisi perut lapar)/ Wargo Keprasan wis siji kaniatane (warga Keprasan sudah satu niatnya/tekadnya)/ Sopo wae sing ngadang disingkirake (siapa saja yang menghadang akan disingkirkan)//.
Selain pengganjal lapar, tanaman yang berasal dari Amerika Selatan itu juga berfungsi menumbuhkan daya juang. Begitu pun bagi kebanyakan masyarakat tradisional di Nusa Tenggara Barat, singkong tetap salah satu identitas kulinernya.
Bahkan di kalangan seniman modern, julukan “manusia singkong” dengan takzim dilekatkan pada F. Rahardi karena singkong menjadi sumber imajinasi. Lahir di lereng gunung Unggaran di Ambarawa, Jawa Tengah, yang terbiasa dengan alam pedesaan, seniman itu banyak memanfaatkan singkong sebagai penyampai pesan. Bangga dengan julukannya, sampai-sampai salah satu karyanya berjudul Kentrung Itelile: Kumpulan Cerpen Manusia Singkong (1993).
Singkong, bagi Rahardi, mewakili penderitaan rakyat. Dengan tanaman itu, dia ingin menunjukkan masih kuatnya ketimpangan sosial di negeri ini. Simaklah potongan “Sajak Transmigran”: sepuluh tahun masih makan singkong/ duapuluh tahun makin singkong/ dan limapuluh tahun kemudian/ transmigran beruban/ sakit-sakitan/ mati/ lalu dikubur di ladang singkong//.
Ahmad Tohari, sastrawan asal Banyumas, Jawa Tengah, juga memanfaatkan singkong dalam alur cerita novel Ronggeng Dukuh Paruk. Rasus, tokoh dalam kisah itu, diceritakan berebut singkong bersama-sama temannya setelah dijebol ramai-ramai dengan bantuan air kencing mereka. Simak juga saat orang-orang upahan Pak Sentika mengangkut singkong dari Alaswangkal sampai ke pangkalan di tepi jalan besar.
Atau saat laki-laki gunung bercawat yang bergerombol di dekat pikulan singkong, memperhatikan kecantikan Srintil yang sedang memijat betisnya. Singkong yang banyak ditemukan di tempat kelahirannya, Banyumas, memberikan pengaruh terhadap karya sastrawan yang pernah mengantongi penghargaan dari Radio Nederlands Wereldomroep itu. Singkong, biarpun kelezatannya tertimbun dalam tanah, posisi dan perannya dalam hidup kita sebagai bangsa tak akan lenyap dalam sejarah.

Bojonegoro, 2014