Kamis, 13 Maret 2014

Puisi Menyihir Sahabat Nabi (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Koran Merapi" edisi Minggu, 2 Maret 2014)

Dalam taraf tertentu, puisi bisa menjelma semacam sihir yang membuaikan. Ia sanggup membuat manusia terlena dengan kata-kata yang dihidangkan, imajinasi yang memesonakan, ilustrasi yang menghanyutkan, juga dunia baru yang menjanjikan. Akhirnya, puisi menjadi candu bagi mereka yang terbelenggu kehidupan duniawi dan mengkhayalkan keindahan surgawi.
Oleh dasar itulah, pada zaman Arab Jahiliyah, banyak orang terpana ketika seorang penyair mendeklamasikan sebuah puisi. Terlebih lagi, apabila puisi tersebut sengaja diperuntukkan bagi mereka. Sebagaimana halnya saat Zuhair Ibn Abi Sulma menyanjung kebesaran dan keagungan Haram Ibn Sinan. Bermodal kata-kata, Zuhair dengan lihai menggambarkan kehebatan dan kemuliaan pembesar negara tersebut. Saking gembiranya, Haram memberikan hadiah kepada Zuhair atas karya ciptaannya. Hal yang tak mengherankan, mengingat mayoritas ahli sastra Arab berpendapat bahwa puisi Zuhair Ibn Abi Sulma mengantongi beberapa kelebihan, semisal: singkat, padat, dengan bahasa mudah dicerna; melanting pujian sesuai dengan keadaan sebenarnya; serta tidak bersifat cabul. Selain itu, Kamal Yusuf (2009) mencatat, bahwa Zuhair dikenal sebagai penyair hikmah, yang puisi-puisinya memuat ajakan dan anjuran menuju kebaikan.
Bahkan Labid Ibn Rabiah, yang dianugerahi usia panjang serta suatu saat memeluk Islam, ketika masih kecil mampu membuat tercengang seorang penyair masyhur. Peristiwa ini menunjukkan bahwa bakat kepenyairannya sudah terendus sebelum memasuki usia dewasa. Sebuah riwayat menyebutkan, Labid pernah berjumpa dengan Nabighah dalam suatu majelis. Nabighah, penyair tersohor waktu itu, memperhatikannya. Ketika Nabighah mengatakan bahwa dalam diri Labid terpendam bakat puisi, spontan anak kecil tersebut berpuisi dengan baik. Nabighah menaruh takjub dan berkata bahwa Labid kelak menjadi penyair besar suku Qias. Prediksi itu terbukti dengan didaulatnya Labid sebagai salah seorang penyair yang sangat disegani.
Begitu pula ketika masyarakat Arab menghayati puisi-puisi gubahan Imru’ul Qais, Nabighah Zibyani, A’sya Ibn Qais, Amr Ibn Kaltsum, Tharfah Ibn ‘Abd, Al-Haris ibn Hilza, Abid al-Abros al-Asadi, juga Khansa’ yang bernama lengkap Tumadir bintu Amrin as-Syarib. Bagi mereka, puisi-puisi yang ditulis penyair-penyair di atas sanggup menyajikan ramuan yang menyebabkan orang mabuk kepayang.
Tidak berhenti pada masyarakat Arab pada umumnya, daya tenung puisi ternyata juga menyerang para sahabat Nabi. Sebut saja Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib. Adonis, melalui buku Ats-tsabit wa al-Mutahawwil: Bahts fi al-Itba ‘inda al-Arab yang diterjemahkan dengan Arkeologi Sejarah-Pemikiran Arab-Islam (LKiS, 2012), mengungkapkan bahwa Umar suatu hari mendengar puisi elegi karangan Mutammam bin Nuwairah terhadap saudaranya Malik. Pada waktu itu, Umar langsung terpikat dan memohon kepada Mutammam, “sungguh aku menginginkan engkau membuat puisi elegi untuk saudaraku seperti halnya kamu membuat puisi elegi untuk saudaramu”. Sesaat setelah Mutammam memenuhi permintaan untuk menulis puisi dukacita, Umar berkomentar, “tak seorang pun yang memberikan pelipur lara kepadaku seperti halnya yang ia berikan.”
Umar juga merasa kagum terhadap Zuhair Ibn Abi Sulma yang selalu berhasil memikat pembaca atau pendengar melalui puisi. Dua puisi berikut ini adalah contohnya:
Walau anna hamdan yukhlidu an-nasa akhladu #
                                                   Walakin hamdu an-nasi laisa bimukhlidin
(Andai pujian dapat mengabadikan manusia, mereka pasti mengabadikannya #
Akan tetapi, pujian terhadap mereka tidaklah membuat abadi)
Wa inna al-haqqa muqthi’uhu tsalatsun #
                                                   Yaminun au nafarun au jalaun
(Sesungguhnya kebenaran itu diputuskan dengan tiga hal #
Sumpah, memperkarakan atau mencari kejelasan)
Untuk puisi terakhir, sampai-sampai Umar menyempatkan diri untuk mengulang-ulang baitnya, sebagai rasa kagum atas pengetahuan Zuhair tentang kebenaran.
Adapun Ali bin Abi Thalib dalam menyikapi puisi, sebuah riwayat menuturkan bahwa suatu hari suami Fatimah tersebut ditanya mengenai siapa orang yang paling pandai dalam membuat ilustrasi. Lantas Ali menjawab bahwa orang tersebut adalah Abu Mihjan dengan ucapannya, “janganlah kamu (perempuan) bertanya kepada orang lain tentang hartaku dan berapa banyaknya”. Kalimat singkat ini begitu membekas dalam diri Ali. Sebab kekagumannya itulah, Ali berpendapat bahwa Abu Mihjan merupakan seseorang yang memiliki kelihaian dalam merangkai ilustrasi yang indah, didukung dengan tepatnya pernyataan.
Dari gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa sahabat Nabi pun merasa teror puisi ternyata dapat ‘menghantui’ jiwa manusia, sehingga menyelundupkan kritik, pencerahan, atau sekadar celoteh yang perlu ditularkan. Namun demikian, yang perlu dicatat yaitu tidak setiap puisi mampu menjalankan fungsi tersebut dengan baik. Barang tentu puisi para penyair matang yang rajin berpikir, berkontemplasi, merenung di atas riak-riak kehidupan. Pun tidak semua orang bisa tertimpa sihir puisi, kecuali mereka yang bersih pikirannya juga jernih perasaannya. Semoga kita bukan tergolong orang yang terlanjur mengidap “gila”. 

Yogyakarta, 2013

Puisi_Riza Multazam Luthfy (Terbit di majalah "Kalimas" edisi Januari-Fabruari 2014)

Kepala Sakti

tukang babat itu
tak pernah menghitung
berapa helai bulu
yang telah dipancung

setiap kali beraksi
ia hanya mengingat
bentuk kepala
tak sudi lihat wajah empunya

suatu hari
ada pelanggan istimewa

“kok aneh,
beda dengan kepala biasanya”

dengan memegang gunting
ia siap mengakhiri
riwayat bulu-bulu
yang sedang menunggu

setelah dua jam
tak ada perubahan

si kepala besar
tambah besar kepala
pasalnya,
bulunya kebal senjata

setelah ditelusuri,
ternyata banyak
utang luar negeri
yang diganyang sendiri

“pantas kepalanya sakti
sudah berulang kali
ia masuk bui”

Malang, 2010


Penentuan

kata,
kalau berani
ambil pisaumu

kita
selesaikan
di sini

agar
semua tahu
: siapa yang
dipinang oleh
 - puisi -

Malang, 2010


Kerja Baru

karena sudah
lama nganggur
aku ingin bekerja
padamu, bu!
           
            mengawasi burung ayah
            yang manggung
            di luar rumah

Malang, 2010


Sabtu, 01 Maret 2014

33 Angka Keramat? (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Republika" edisi Minggu, 23 Februari 2014)

Sebagian di antara kita percaya bahwa munculnya angka tidak berdiri sendiri. Dalam situasi dan kondisi tertentu, angka selalu berhubungan dengan hal-hal yang berada di sekitar. Dalam setiap fakta dan peristiwa, angka menjadi nilai, faktor, atau bahkan unsur yang sangat menentukan. Tak ayal, dalam perjalanannya, angka diklaim sebagai penyangga sistem, tradisi, atau kepercayaan yang turun-temurun.
Begitu besarnya perhatian terhadap angka, lahirlah numerologi, yang didefinisikan oleh Muharram H (2009) sebagai “ilmu pengetahuan yang didasarkan pada sudut pandang bahwa seluruh alam raya ini bergerak teratur menurut perhitungan tertentu, yang bisa dieksplorasikan dengan angka-angka”.

Malapetaka
Para numerolog berpendapat bahwa di balik kabar suka maupun nestapa tersimpan angka. Saat manusia merajut tali kebahagiaan ataupun sedang memeluk mesra penderitaan, angka bersembunyi di belakangnya. Namun demikian, yang kerap mengundang pergunjingan adalah ketika angka dituduh sebagai biang keladi atau kambing hitam atas kesedihan dan kepedihan yang berlarat-larat. Untuk hal ini, menurut saya, 33 menjadi contoh yang bagus sekaligus representatif. 
Angka 33 berhubungan dengan penderitaan dan nasib tragis umat manusia. Sebagaimana diramalkan oleh Jayabaya, tiga jaman akan dilalui oleh manusia (Kaliyuga, Kalisengara, serta Kalabendhu), yang berlangsung selama 33 tahun. Pada Jaman Kaliyuga, banyak orang pontang panting, susah, berpindah mukim, berjuang melawan bengisnya hidup serta terus menerus tertimpa kesengsaraan. Pada Jaman Kalisengara, orang-orang kebingungan, kesepian, negara kehilangan kewibawaan, para gadis kehilangan kehormatan, para lelaki kehilangan kekuasaan, ajaran kebaikan diabaikan, digenapi dengan pemandangan yang penuh iba. Adapun Jaman Kalabendhu diawali dengan bumi bergoncang, lautan bergelora, hujan salah musim, banjir bandang, tanah longsor, orang melupakan saudara sendiri, orang tua melupakan anak, begitu pula sebaliknya.
Mengenai hal ini, Arwan Tuti Artha, dalam buku Laku Spiritual Sultan; Langkah Raja Jawa Menuju Istana (Galangpress, 2009: 159) menyebutkan: “Jika membuka Serat Centhini, tarikh Masehi terbagi menjadi tiga zaman besar dalam kurun tujuh ratus tahunan untuk kemudian seratus tahunan dibagi lagi menjadi tiga 33 tahunan. Dengan pembagian tahun hanya tiga kali tujuh ratus tahunan, Jayabaya seolah-olah meramalkan, akhir zaman akan terjadi pada abad ke-21 ini.”
Peristiwa berdarah yang memenuhi buku-buku sejarah juga bersinggungan dengan 33. Di antaranya yaitu pembunuhan Presiden Amerika Serikat ke-35, John F. Kennedy. Sebagaimana dicuplik dalam berbagai diskusi dan blog pribadi, James Shelby Downard (1913-1998) yang menulis sebuah artikel bertajuk “Sorcery, Sex, Assassination and the Science of Symbolism” mencoba memberikan analisa mengenai kaitan antara kasus pembunuhan John F. Kennedy yang terjadi pada 22 November 1963 dengan letak geografis seputar pembunuhan tersebut. Ia berkesimpulan bahwa presiden yang mengawali kuliahnya di Harvard College itu tertembak ketika berada dalam limousin di Elm Street, Dallas, sebuah kota yang berada di dekat 33 Lintang Utara.
Bagi Anda, para pelahap gosip, barang tentu mafhum bahwa aktor dan produser film yang genap memenangkan tiga kali penghargaan Golden Globe Award, Tom Cruise, menduga bahwa 33 adalah wujud kesialan dalam hidupnya. Bagaimana tidak, bahtera rumah tangga yang diarungi sebanyak 3 kali ternyata harus berakhir kandas berhubungan dengan 33. Baginya, barangkali bukan sebuah kebetulan, jika robohnya fondasi kebahagian yang telah ia bangun dengan segenap usaha dan cinta selalu memiliki keterkaitan dengan angka tersebut. Baik aktris Mimi Rogers (dinikahi tahun 1987), aktris Nicole Kidman (dinikahi tahun 1990), maupun aktris Katie Holmes (dinikahi tahun 2006), bercerai dengan Tom Cruise dalam usia yang sama: 33 tahun!
Angka 33 memberikan kenangan pahit dan suram bagi perjalanan hidup salah satu aktor tersukses di Hollywood yang memulai karier aktingnya sejak era 1980an tersebut. Sepertinya, demi sekadar meraih puncak kebahagian dalam ikatan keluarga, ia harus berjuang melawan kesialan yang ditimpakan angka 33. Dunia boleh berseloroh bahwa ia tersohor lewat peran-peran suksesnya dalam film Risky Business (1983), Top Gun (1986), Mission: Impossible (1996), Mission: Impossible II (2000), Mission: Impossible III (2006), Jerry Maguire (1996), Vanilla Sky (2001), The Last Samurai (2003), War of the Worlds (2005) juga dalam Mission: Impossible IV (2012). Akan tetapi, kegagalan dalam rumah tangga seakan meruntuhkan kesempurnaan akting serta sejumlah capaian besarnya.

Numerologi
Akhir-akhir ini, banyak yang merasa was-was dengan pemberitaan media. Bukan hanya terhadap penyanyi dangdut yang digadang sebagai kandidat presiden sebuah partai, Ratu Atut yang mulai kisruh di penjara, atau Anas yang menyerahkan diri ke KPK, tetapi juga buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh" yang belum lama ini diluncurkan namun mengalami beragam penolakan.
Publik sastra yang tidak setuju dan merasa terganggu dengan penerbitan buku tersebut beramai-ramai meluncurkan petisi yang di antaranya berisi: pertama, buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh" harus dicabut dari peredaran. Kedua, anggota Tim 8 sebagai penyusun dan kurator (Maman S Mahayana, Agus R Sarjono, Acep Zamzam Noor, Jamal D Rahman, Joni Ariadinata, Nenden Lilis A, Berthold Damhuser, dan Ahmad Gaus) harus meminta maaf secara terbuka kepada bangsa Indonesia. Tuntutan ini merupakan bentuk perlawanan terhadap kejahatan literasi berwujud "kebohongan menyesatkan" dengan menempatkan Denny JA, sebagai "Tokoh Sastra Paling Berpengaruh" di Indonesia.
Bagi mereka, Denny JA tidak memiliki kontribusi penting terhadap perkembangan sastra Indonesia. Ia sekadar menggemborkan puisi-esai, kerap mengadakan perlombaan bertabur hadiah, serta rajin mempublikasikan eksistensi dengan cara merangkul para sastrawan dan kritikus sastra yang bisa dibeli. Padahal, sebenarnya masih banyak sastrawan bernas yang belum ter-cover dalam buku ini. Misalnya Sitor Situmorang, Umar kayam, juga Ahmad Tohari.
Saya sih tak perlu pusing dengan sibuk menuding bahwa peristiwa miris di atas merupakan hasil rekayasa sosial, politisasi, ataupun imbas berkepanjangan dari “demokrasi wani piro”. Saya juga tidak mungkin memprediksi angka 33 dalam judul buku rentan memancing musibah besar dalam jagat sastra Indonesia. Saya hanya menerka: Tim 8 sedang memanjatkan doa agar 33 sastrawan yang didaulat sebagai tokoh sastra paling berpengaruh—termasuk Denny JA barang tentu—kelak menikmati surga tanpa harus direcoki masa tua. Anda tahu, menurut Al-Ghazali, penghuni surga selalu berusia 33.

Yogyakarta, 2014

Selasa, 04 Februari 2014

Geliat Sastra dalam Tubuh Negara (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Lampung Post" edisi Minggu, 2 Februari 2014)

Sering kali, hubungan antara sastra dengan negara berada dalam kondisi yang akut. Kondisi di mana di dalamnya berhamburan benang-benang kusut. Kondisi yang terkesan hampa dari sehelai tawa, namun riuh dan gaduh dengan percikan air mata.
Sejarah berkoar, bahwa dalam beberapa dasawarsa, negara kita memperlakukan sastra tidak dengan semestinya. Negara melihat sastra dalam pandangan picik serta hati yang buta. Negara menaruh kecurigaan yang berlebihan terhadap sastra, dengan menganggapnya sebagai antek berbahaya. Tak ayal, para abdi negara mengantongi ‘tugas mulia’ untuk membumihanguskan segala hal yang berkaitan dengan sastra. Buku-buku dibakar, pementasan naskah drama dipaksa bubar, para penyair diculik, dibuang, diasingkan, atau dihabisi dengan kejam. Segenap upaya ditempuh demi membendung kemapanan sastra. Segala cara dijalankan guna menghalangi sastra, agar terhindar dari masa pertumbuhan, kemajuan, bahkan kejayaan.
Kebengisan negara terhadap sastra dari satu masa ke masa lainnya mengalami pasang surut. Hal ini mengakibatkan tingkat keakutan hubungan antara sastra dan negara selalu menunjukkan perbedaan. Jika dicermati, perbedaan tersebut tidak bisa terlepas dari profil siapa yang sedang menggenggam kekuasaan. Seberapa besar rasa benci penguasa terhadap sastra, sebesar itu pula perlakuan kasar yang ditunjukkan oleh negara. Jadilah negara sebagai sarana paling tepat dalam menelikung perjalanan sastra. Negara yang semestinya menjadi pemelihara serta pengembangbiak nilai-nilai kebudayaan—antara lain dengan memperkuat eksistensi sastra—malah dimanfaatkan untuk menuruti hasrat dan nafsu penguasa belaka. Sastra yang dibekali daya vitalitas tinggi dalam rangka mengokohkan nation building, ternyata justru mendapat tempat yang kurang layak, bahkan cenderung terkucil. Parahnya, dalam beberapa kasus, sastra dituduh selaku kambing hitam dalam melancarkan kudeta, mengincar posisi strategis penguasa. Dengan alasan inilah, akhirnya sastra didapuk menjadi musuh utama bagi negara.

Penguasa Versus Pemeluk Sastra
Dibanding beberapa kelompok masyarakat lain dalam negara, sastrawan dikenal sebagai pemeluk sastra paling teguh. Melalui sastra, kaum sastrawan begitu genit dan cerewet mengomentari berbagai ketimpangan sosial. Bermodal pena, para sastrawan melontarkan kritik pedas terhadap perilaku penguasa yang semena-mena. Imbasnya, penguasa menjadi gerah dan bermaksud menindaklanjuti dengan jalan menghalau atau bahkan menghentikan aksi mereka. Di antara langkah kongkrit yang diambil yaitu membekukan aktifitas sastrawan serta menerbitkan larangan terhadap ‘buah tangan’ mereka yang dinilai melawan arus pemikiran.
Saat tampuk kekuasaan di genggaman Orde Lama, khalayak tidak diperbolehkan mengkonsumsi tulisan-tulisan sastrawan. Diduga membawa pesan-pesan yang bertolak belakang dengan kemauan penguasa, karya mereka dilarang beredar di pasaran. 
Hamka mengunyah penderitaan berlarat-larat lantaran karya-karyanya sengaja dijauhkan dari masyarakat. Hal itu terjadi setelah ia diduga berencana membunuh Soekarno dan sejumlah menteri. Padahal, sebelumnya, ia dipaksa menginap dua tahun  di bui, meskipun kesalahannya tidak pernah terbukti.
Selain karya, perlakuan buruk penguasa juga merambah pada jabatan. Sastrawan-sastrawan yang bekerja di lembaga pemerintah digusur dari jabatannya, sebagai buntut dari terbitnya larangan resmi Presiden Soekarno terhadap Manikebu (Manifes Kebudayaan) pada tanggal 8 Mei 1964. Sebut saja Wiratmo Soekito yang diusir dari Radio Republik Indonesia dan HB. Jassin yang kehilangan kedudukannya selaku dosen di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Padahal, tanpa mengawat jabatan tertentu, sastrawan merasa kesulitan untuk menyumbangkan pemikiran. Pasalnya, media kurang berani menampung tulisan mereka demi menghindar dari demonstrasi massa kelompok kiri. Atau kalaupun dimuat, harus mencantumkan nama samaran. (Arief Budiman, 2006: 340)
Ketika kekuasaan beralih tangan ke Orde Baru, nyaris saja nasib sastrawan berada di ujung tanduk. Penguasa memperlakukan sastrawan lebih buruk dari sebelumnya. Merasa dirongrong oleh teriakan-teriakan sastrawan, penguasa berusaha semaksimal mungkin untuk membungkam. Dalam hal ini, WS. Rendra menjadi salah seorang saksi atas kebuasan penguasa pada waktu itu.
Harry Aveling (2001) menyebutkan, ketika WS. Rendra menggelar pembacaan puisi di TIM pada Mei 1978, ketika itu pula sebuah bom meledak. Ia pun ditangkap dan dijebloskan ke penjara atas dasar bahwa aktivitasnya diyakini telah menggencarkan provokasi politik. Tiga bulan setelahnya, Si Burung Merak dibebaskan karena penahanan tersebut bertentangan dengan undang-undang kolonial Belanda. Meskipun demikian, ia segera ditetapkan sebagai tahanan kota sampai bulan Oktober, kala semua tuduhan atas dirinya dibatalkan. Akan tetapi, atas beragam pertimbangan yang kurang masuk akal, ia dilarang sepenuhnya untuk mengadakan pertunjukan karya hingga bulan November 1985.
Pada dekade berikutnya, penyair semisal Linus Suryadi Ag. dan Emha Ainun Najib juga mengetam perlakuan serupa, ketika bermaksud membacakan puisi di depan publik. Penguasa sempat melarang Linus Suryadi Ag. yang ingin sekali merapal puisinya “Maria dari Magdala”, sebab dikhawatirkan dapat menimbulkan ketegangan orang-orang Protestan dan Katolik. Padahal puisi tersebut sebelumnya pernah terbit di majalah Hidup yang diedit oleh seorang imam. Adapun Emha Ainun Najib, ia mendapat kesukaran mengantongi izin untuk menggelar karyanya, dikarenakan adanya kekhawatiran penguasa terhadap efek kata-kata pada massa yang cukup luas.
Mengutip Jurnal Ilmu Sastra dan Budaya, Susastra 4 (2006: 141), penderitaan lahir dan batin harus ditelan oleh Pramoedya Ananta Toer ketika menghirup udara bui selama 14 tahun sebagai tahanan politik sejak 13 Oktober 1965 hingga 21 Desember 1979. Barang tentu apa yang dilakukan penguasa Orde Baru terhadap kandidat nobelis beberapa kali tersebut sangat jauh berbeda dengan penguasa-penguasa sebelumnya. Belanda menahannya 3 tahun, sedangkan Orde Lama memenjarakannya hanya 1 tahun. Sungguhpun demikian, sewaktu bermukim di Pulau Buru (1969-1979), Pram masih sanggup mengolah imajinasi dan intuisi dengan menghasilkan masterpiece-nya, tetralogi Bumi Manusia, yang semula lahir dari cerita lisan yang disampaikan kepada teman-temannya. 
Ketakutan penguasa pada kekuatan kata-kata Pram merupakan di antara latar belakang mengapa Orde Baru mengurungnya begitu lama. Hal tersebut menjadi lebih kentara saat disembunyikannya mesin ketik kiriman Jean Paul Sartre, sastrawan terkenal Prancis, yang seharusnya bisa dipakai Pram dalam ‘rumah derita’.

Mempertahankan Posisi Ideal
Memperhatikan perlakuan penguasa terhadap para sastrawan, baik Orde Lama maupun Orde Baru, dapat kita petik pelajaran berharga. Pelajaran bagaimana kaum sastrawan memperjuangkan hak-hak rakyat yang dirampas membabibuta. Pelajaran mengenai kegigihan sastrawan dalam membela orang-orang tak berdaya. Pelajaran tentang keberanian sastrawan menegakkan fondasi kebenaran, meskipun ditebus dengan cara menyakitkan.
Bila diperhatikan secara seksama, apa yang dilontarkan sastrawan, baik melalui lisan ataupun tulisan, merupakan kritik membangun bagi pribadi penguasa. Dengan kritik tersebut, diharapkan penguasa dapat berbenah diri dan mengadakan evaluasi. Dengan demikian, sudah seharusnya penguasa berterima kasih kepada mereka, bukannya naik darah dengan membelalakkan mata dan berpanas telinga.
Oleh karena itu, di masa sekarang maupun mendatang, kritik dari para sastrawan terhadap penguasa seyogyanya disikapi dengan arif dan bijak. Bagaimana pun juga, suara sumbang dari mulut sastrawan adalah suara yang menyembul dari hati nurani terdalam. Menghukum sastrawan dengan keji atau membabat habis karya mereka bukan pilihan tepat dalam rangka meningkatkan iklim bernegara, bahkan sebaliknya, dapat mengubur hidup-hidup peradaban bangsa. 
Sikap sastrawan yang berkacak pinggang di hadapan penguasa, karena selalu memberontak status quo, perlu dipertahankan. Sastrawan adalah kaum oposisi, yang bertugas mengkritisi kebijakan penguasa. Segala ketentuan penguasa yang melanggar norma dan etika kemanusiaan patut diluruskan. Jika penguasa enggan diingatkan, dalam diri sastrawan hanya ada satu kata, “lawan!”—mengutip kata-kata penyair Wiji Thukul.
Negara besar adalah negara yang menghargai dan menjunjung tinggi berbagai perbedaan, bukan yang menghendaki keseragaman. Mochtar Lubis (1995: 7) mengatakan bahwa kemajuan bangsa hanya dapat didorong dalam iklim kebebasan kebudayaan yang baik, di mana daya cipta setiap anggota masyarakat—termasuk sastrawan—dibiarkan berkembang. Pandangan yang ganjil dan mungkin pula bertentangan merupakan unsur vital bagi munculnya pemikiran-pemikiran yang matang mengenai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.


Yogyakarta, 2012

Para Penghormat Buku (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Bali Post" edisi Minggu, 26 Januari 2014)

Buku menjadi sesuatu yang sakral bagi sebagian manusia. Bukanlah ia sekadar bundelan kertas berlumur tinta yang memadati meja dan rak cendekiawan-cendekiawan atau pengaku penikmat-pencecap ilmu pengetahuan. Sebagaimana pusaka, dalam tubuh buku terselip kekuatan besar yang sanggup meluluhlantakkan benda di sekitarnya. Ia menyimpan daya magis sehingga dengan mudah sanggup menyihir dan melenakan setiap pembaca.
Lebih dari itu. Dalam kadar tertentu, buku adalah candu bagi para pemabuk-pecinta. Rangkaian kata dalam buku membuat orang rela membelanjakan nafsu dan waktu demi bermesraan dengannya. Ia begitu dipuja, disanjung, diagung-agungkan oleh kaum penggandrungnya. Bukan hanya itu! Bagi yang terlampau akur dengan derita, buku menjadi teman setia pengusap air mata. Bagi si sakit, layaklah ia sebagai pengusir-penundung bengalnya penyakit. Bagi si gelap jiwa, buku pantas didaulat menjadi sahabat penerang gulita, pengantar ke gerbang dunia.
Karena begitu penting dan berharga, para penggandrung buku merawat segenap cara dan upaya dalam menaruh takzim kepadanya. Mereka memposisikan buku sebagai makhluk suci yang harus mendapat kedudukan tinggi. Mereka berteguh niat dalam membela hak-hak buku. Mereka menempatkan diri dalam garda depan para penjunjung tinggi martabat aksara.
Itulah mengapa, dalam buku Wiji Thukul, Teka-teki Orang Hilang (KPG, 2013), Arif Zulkifli, dkk (penyunting) menyebut Wiji Thukul suatu saat sempat berang ketika mengetahui seorang temannya menggunakan buku selaku alas makanan. Aktivis politik sekaligus pembela kaum buruh yang dinyatakan raib dan hingga sekarang belum ditemukan itu tak sampai hati jika buku dihinakan atau direndahkan. Bahkan kepada sobekan koran atau majalah, ia pun melakukan hal serupa. Sepertinya, ia memupuk anggapan dan keyakinan bahwa setiap kertas yang memuat informasi genap membisikkan pada telinga nuraninya suatu kewajiban moral untuk senantiasa menghormati serta memuliakannya.
Dalam diri penyair cadel yang potongan puisinya “hanya satu kata: lawan!” selalu menjadi koor wajib bagi para demonstran tersebut, buku menempati posisi urgent. Atas dasar itulah, ke mana pun berlari dan bersembunyi—karena saking kerapnya diburu oknum militertak jarang ia menenteng tas karung berisi buku dan kacamata. Tentu saja kacamata yang dibawa bukanlah untuk tampil gaya-memesona, melainkan berfungsi sebagai peraba dan penanda huruf-huruf yang dalam penglihatannya sudah nampak agak pudar (barangkali karena suatu ketika, oleh seorang tentara, mukanya pernah dihantamkan ke kaca mobil pada waktu menggerakkan massa dalam sebuah demonstrasi).
Oleh Wiji Thukul, stempel ‘istimewa’ dilekatkan pada buku. Hal tersebut tak lain sebab dalam menjalankan aksi heroiknya ketika membela kaum pinggiran, buku menjadi guru terbaiknya. Bukulah yang diangkat sebagai pembimbing dalam melancarkan misi saat berusaha menghentikan kezaliman penguasa.
Adalah Muhidin M Dahlan bersama Taufik Rahzen, Dipo Andy, Galam Zulkifli, serta Eddy Susanto—para pencetus Yayasan Indonesia Buku—yang memiliki hasrat membabibuta dalam menyemarakkan jagat literasi, pada tahun 2011 mendirikan Radio Buku. Radio berbasis internet yang bermarkas di Jl. Patehan Wetan 3 Alun-alun Kidul Yogyakarta.
Bermodal kecintaan yang meluap-luap terhadap buku, para punggawa radio komunitas (buku) pertama di Indonesia tersebut mengabdikan diri sepenuh hati untuk menjadikan ‘ritual menghormati buku’ sebagai bagian dari alur kehidupan yang tidak bisa ditinggalkan. Bagi mereka, hidup bersama buku adalah keharusan yang tak boleh ditawar. Mereka membutuhkan buku seperti halnya menghajatkan hidup itu sendiri. Tanpa disertai buku, mereka bagaikan hidup tanpa ruh.
Ikhtiar pemuliaan buku mereka wujudkan dengan cara membuka Radio Buku sebagai lahan persinggahan bagi siapa pun yang tekun memelihara antusiasme terhadap buku. Itulah mengapa, tak bosan-bosannya mereka membujuk Booklovers—sebutan bagi para pecinta buku—untuk mengisi hari-hari dengan ‘bersenggama’ dengan buku. Dalam rangka itulah, diselenggarakan beberapa program agar berahi mereka dapat tersalurkan, antara lain—sesuai yang dijumput dari www.radiobuku.com: Katalog Seni (mengulas karya seni dari pelbagai bidang), Angkringan Buku (dialog seputar buku dengan menghadirkan komunitas pembaca selaku pembedah), Buku Pertamaku (cerita individu tentang keintiman dengan buku), dan Komunitas: (merekam geliat komunitas-komunitas literasi). Diharapkan dengan berjalannya program-program tersebut, mereka mengalami dua hal yang saling melengkapi antara satu dengan yang lain, yaitu puncak pemuliaan sekaligus klimaks kenikmatan.
Para penggandrung buku berikutnya berasal dari barisan kaum bersarung (santri). Para penimba ilmu di pesantren itulah yang giat menyuarakan slogan “hormati buku sekarang juga!”. Salah satu wujud tawadlu’ (sikap rendah hati) mereka terhadap ilmu yaitu dengan membaringkan buku tidak pada sembarang tempat. Tak ayal, jika ada seorang santri yang suatu kali sembrono menaruh buku di lantai, maka segera meluncur teguran dari teman atau bahkan gurunya. Bagaimana pun juga, hal itu dianggap sebagai bentuk penistaan terhadap ilmu.
Dalam Ta’lim al-Muta’allim, kitab acuan para santri dalam mempelajari tatakrama mencari ilmu disebutkan, buku harus dihormati dan dimuliakan sedemikian rupa dengan adanya larangan seseorang meletakkan buku di dekat atau sejajar dengan kaki ketika bersila. Bahkan, kitab anggitan Syeikh al-Zarnuji tersebut menuturkan bahwa ketika seseorang membaca buku, maka seyogyanya ia dalam keadaan suci (berwudlu). Karena, “ilmu adalah cahaya, wudlu juga cahaya. Mustahil cahaya ilmu bisa bertambah kecuali dengan berwudlu”.
Demikianlah di antara sebagian wujud penghormatan para penggandrung buku terhadap sesuatu yang dicintai. Dengan tulus-ikhlas, mereka menghargai buku melebihi dari yang lain. Bagi mereka, adalah suatu kebahagiaan berlipat, jika berhasil mendudukkan buku pada derajat terhormat. Pun sebaliknya. Merupakan penderitaan berlarat-larat, jika suatu saat tersebar warta tentang gencarnya pemerintah membumihanguskan ribuan buku atau bergeloranya teroris dalam merakit bom buku.


Yogyakarta, 2013

Maya dan Karina (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Sinar Harapan" edisi Sabtu-Minggu, 25-26 Januari 2014)

Maya meliuk-liuk di hadapan orang-orang dengan sesekali melempar senyum. Meskipun tampak lelah, ia berusaha menikmati profesi yang telah digeluti selama delapan tahun. Selama itu pula, sudah tak terhitung lagi berapa lusin lelaki yang menari-nari di tubuhnya, bersenang-senang di atas penderitaannya, berjingkrak-jingkrak menyanyikan lagu kebebasan ketika jiwanya justru berada dalam pasungan.
Nihil. Usahanya memungut kedamaian saat menghibur tamu atau bahkan pelanggan sama sekali tak berhasil. Seakan-akan, kehidupan ini ia jalani dengan keterpaksaan.
Atau keputusasaan? Entahlah.
Ia terus saja menggerakkan tubuh. Bergoyang ke kiri, kanan. Memperlihatkan lekukan demi lekukan yang lekas menyebabkan orang-orang di sekelilingnya mengulum jakun. Ia tancapkan pandangan pada mata-mata nakal yang begitu setia meresapi kecantikannya, lidah-lidah yang bernafsu memuji keindahannya, juga hidung-hidung yang berhasrat menjamah kemolekannya. Ia kerap berpikir, apakah di dunia ini kaum lelaki hanya ingin menjajah perempuan dengan berkilah bahwa mereka ingin berbagi kebahagiaan?
Turun, setelah hampir setengah jam tersiksa di atas panggung. Ia lantas menuju meja bar dan duduk santai menyandarkan punggung. Meskipun tanpa berbicara, si bartender paham bahwa perempuan di depannya sedang memesan segelas vodka dengan campuran anggur.
Menurut syak-wasangka, seorang lelaki segera menghampiri, duduk di samping, serta mengobral bualan yang semestinya tidak perlu ditanggapi. Ia tahu pasti, bahwa mereka yang mendekatinya hanya terkategori dua. Pertama, lelaki yang memintanya untuk menemani minum hingga lepas malam dengan risiko serata tubuhnya akan dirayapi jemari dan lidah yang genit. Untuk pekerjaan ini, nominal rupiah yang ia terima sangatlah kecil. Kedua, lelaki yang merayunya untuk bersedia mengalirkan kehangatan serta memuaskan gairah di atas ranjang. Untuk ini, ia akan mengantongi tips yang tidak begitu besar.
Dan, benar. Lelaki jangkung bermata sipit berjalan pelan ke arahnya. Akan tetapi, sesampai di dekatnya, lelaki tadi hanya menatap Maya, tanpa mengeluarkan sepatah kata. Berbeda jauh dengan dua macam lelaki di atas, ia tidak meminta Maya untuk melakukan apapun. Namun demikian, tangannya mengulurkan amplop berisi puluhan kali gaji pramusaji. Adapun Maya tergeragap dengan melipat kening, menautkan sepasang alis, bermain-main dengan pikirannya.
***
Itu pagi, lagi-lagi Karina mendapat pekerjaan tambahan. Ia, seperti biasanya, membuang sampah dan merapikan beberapa tempat tidur. Daftar kewajibannya kian melimpah lantaran teman-temannya gemar memaksa dirinya untuk mengambil alih tugas yang semestinya mereka laksanakan.
Sesungguhnya keadaan bisa berubah andai saja ia mampu melawan. Tetapi, tidak. Dua kali Karina melancarkan perlawanan, bukannya keberuntungan yang diketam, melainkan lebam-lebam di sekujur badan. Gino, Ramidi, Heru, Surya mengeroyoknya tanpa ampun. Layaknya para penderita kelaparan yang menyerbu dan melahap makanan sisa orang-orang kantoran.
Tetapi, Karina bukanlah makanan yang sengaja dibuang di tempat sampah, got, atau bahkan lubang kloset kamar mandi umum. Anak buangan? Entahlah. Yang pasti, hampir semua anak menyebutnya demikian ketika ia enggan menuruti permintaan mereka. Saat itulah, ia hanya bisa membisu dengan memegangi sepasang netra yang membendung gumpalan airmata.
Kepada para penghuni panti asuhan, ia tidak mungkin membocorkan rasa sedih yang selalu dipendam, sebab sama saja dengan mendermakan kepada mereka kesempatan untuk memberondongnya dengan olok-olok yang lebih dahsyat. Hal ini bukan berarti menunjukkan bahwa ia adalah anak yang tegar. Jika boleh dikata, ia adalah gadis kecil yang rapuh. Gadis kecil yang tanda-tanda kerapuhannya nampak saat teman-temannya sedang terlelap. Karena, di waktu mata-mata terpejam itulah ia begitu leluasa meluapkan kesedihan kepada bulan purnama yang berbaring di cakrawala.
“Bulan, hari ini adalah hari kesekian aku dijadikan bahan ejekan. Entah kenapa mereka enggan memberiku kesempatan membela diri. Mereka lebih suka tertawa terbahak-bahak ketika aku hendak berbicara.”
“Aku tidak pernah memiliki niat membalas mereka, Bulan. Aku hanya berharap mereka berhenti menyebutku anak buangan dari rahim ibu yang tidak bertanggung jawab.”
Atau di waktu lain, ia lebih suka mempertanyakan hal-hal yang kerap mengganggunya.
“Bulan, kenapa teman-teman memperlakukanku demikian? Apakah mereka sama sekali tidak sayang padaku?”
“Relakah kau melihat penderitaanku, Bulan? Tegakah kau menikmati duka yang semakin lama semakin menumpuk di badan? Ayo jawab, Bulan! Bulan!”
Jawaban tak kunjung datang. Malah, sering kali bulan menampilkan diri separuh. Tidak utuh. Karina begitu kecewa. Hal itu ditengarai sebagai keengganan bulan menanggapi pertanyaannya.
***
Pertemuan pertama dengan lelaki jangkung bermata sipit membuat Maya susah tidur. Ia selalu terbayang dengan sosoknya. Ia ingat betul dengan mata lelaki itu. Mata teduh yang siap melindunginya dari semua ancaman. Mata riuh yang bersigap mengusir segala kesunyian. Setiap kali memikirkan mata itu, ingin sekali ia berteduh di dekatnya. Merasakan kehangatan yang ditawarkannya. Meresapi bulir demi bulir kedamaian yang ditumbuhkannya.
Menurut Maya, mata lelaki itu ibarat pohon rindang, dimana setiap orang yang melewati, ingin sekali memetik kenyamanan. Dan ia, terlanjur mendaulat diri menjadi salah satu dari mereka. Itulah mengapa, saat membayangkan mata indah itu, timbul hasrat untuk merangkai kehidupan baru yang lebih menjanjikan.
Namun demikian, saat keinginan berlipat, ketakutan dan kegelisahan ikut merapat. Tak ingin ia mengulang kembali penderitaan yang menyebabkan hatinya tercabik-cabik. Apalagi mata dengan pelangi berada di selingkarnya itu menerbangkan kenangan pada seorang lelaki di masa lalu. Lelaki yang menyalakan api cinta, juga sedikit demi sedikit memadamkannya. Lelaki yang menjerumuskannya ke lembah kegelapan, padahal benih keturunan terlanjur ia tancapkan. Dan, secara ajaib, kenangan pahit tersebut membuatnya teringat pada gadis kecil, buah dari rasa cinta lelaki terkutuk itu dengannya. Maka, di satu sisi, ia sangat menyayangi gadis kecil yang merepresentasikan dirinya secara utuh. Namun, di sisi lain, hatinya menaruh dendam, karena bagaimana pun juga, dalam diri gadis kecil tersebut darah sang ayah ikut tertanam.
Sejak itu, hari-hari Maya harus dilalui dengan bayangan si mata indah, mantan kekasih, juga darah daging yang sengaja ia hindarkan dari kehidupan yang serba suram.
***
Beruntunglah Karina, karena saat kecewa terhadap bulan, seorang perempuan menjanjikannya sebuah harapan. Perempuan yang menurutnya sangatlah cantik dengan kasih sayang tiada tara. Selain karena bersedia menampung keluh-kesahnya, perempuan tersebut juga membawakannya beragam hadiah yang selama ini hanya mampir dalam mimpi Karina, seperti cokelat, permen warna-warni, dan boneka barby.
Waktu menemuinya di ruang tunggu panti asuhan, Karina melanting pertanyaan.
“Kenapa kau mau menjadi temanku? Padahal semua yang di sini sama menjauh.”
Hanya tetes air mata yang menjadi jawabannya.
“Kok malah menangis?”
“Air mata sanggup menjawab pertanyaan paling sulit sekalipun, Karina.”
Karina menggeleng tidak mengerti.
Sementara hati Karina mengayuh gembira, olok-olok sebagai anak buangan semakin gencar, setelah datangnya perempuan yang menurut Karina jelmaan bidadari. Di samping disulut kedengkian teman-temannya mengetahui Karina memperoleh banyak hadiah, juga karena kemiripan perempuan tersebut dengan Karina. Wajah tirus, hidung lancip, bibir tipis, dan rambut sedikit bergelombang merupakan di antara tanda-tanda fisik keduanya.
Ejekan yang semakin hebat nyatanya urung menyebabkan Karina jengah. Apalagi, di luar dugaan, sang bidadari ternyata rutin mengunjunginya dua minggu sekali. Hal yang membuat Karina terharu, karena di saat semua menjauh, justru hadir seseorang yang ingin mendekapnya erat.
Maka, suatu malam, kepada bulan, ia bersoal.
“Bolehkah aku menganggap bidadari itu sebagai…….”
Sejenak kemudian, ia menutup rapat kedua katup mulutnya. Sungguh, sekali lagi sungguh, Karina tidak ingin kembali dikecewakan. Bagi Karina, bulan adalah makhluk pendiam, yang terlahir tanpa dibekali perasaan.
***
Sesuai rencana, keduanya kini berjumpa di sebuah taman yang begitu luas. Taman yang oleh sebagian warga diyakini sebagai tempat terindah untuk meluapkan perasaan. Hati mereka berdebar hebat. Jantung mereka berdegup cepat. Di saat seperti inilah, dalam rindu yang membuncah, kepada bidadari itu Karina hendak memanggilnya ibu. Adapun Maya, si penari telanjang itu, harus segera melenyapkan putrinya, jika ingin melupakan kedua lelaki yang setiap detik bergentayangan di kepala.

Yogyakarta, 2013

Keterangan: saat terbit, cerpen ini beridentitas: Zazam Lut (nama pena Riza Multazam Luthfy).

Selasa, 14 Januari 2014

Argosoro (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Padang Ekspres" edisi Minggu, 12 Januari 2014)

Dua bulan Hadi mendengkur di rumah. Dua bulan pula ia menikmati udara segar pedesaan. Sebetulnya, cukup jarang ia belanjakan liburan bersama keluarga. Tinggal di kota Srabeh dengan segenap hiruk-pikuknya merupakan pilihannya dua tahun berturut-turut. Maklum, selain karena rumah yang berjarak jauh dengan kampusnya, untuk mudik, ia juga harus menghunus biaya transportasi selangit. Namun, karena desakan orang tua, ini tahun ia memutuskan pulang ke desa Gagapsepi, daerah mungil di punggung gunung Sendangpuro.
Bosan meneguk liburan panjang, kemarin, Hadi balik ke Gotakara guna menimba ilmu di sebuah perguruan tinggi ternama. Setiba di terminal Sowondaru, mahasiswa semester enam itu memilih naik Argosoro. Ini bukan kebetulan. Pun bukan sebiji keterpaksaan. Pinangan jatuh pada Argosoro, sebab telinganya muak menelan kabar, bahwa bus tersebut merupakan kendaraan berkecepatan tinggi sekaligus pengundang marabahaya. Mafhumlah. Selain kecepatan yang menjadi kelebihannya, ini bus menyandang track-record tersendiri dalam kecelakaan lalu lintas. Maka, siapa saja berkehendak jadi penumpang, terlebih dahulu harus bertafakur matang-matang.
“Jangan sekali-kali kamu naik Argosoro, kalau gak pengen mati konyol.” Pesan itu yang terpacak dalam-dalam dari kalam Kang Dirman.
“Lebih baik cari bus yang lain aja. Meskipun murah, bus Argosoro sering nabrak orang lho”. Desis Mbak Kumintang, tatkala berpapasan dengan Hadi sebelum berangkat.
Semakin kerap mendapat nasehat, semakin pula ia bernafsu membuktikannya. Kebengisan Argosoro baginya hanyalah mitos. Seorang mahasiswa haruslah kritis. Demi memetik kebenaran, segala sesuatu wajib diverifikasi. Dengan memantapkan hati, ia menetapkan Argosoro sebagai tunggangannya menuju Gotakara.  
***
Di terminal Sowondaru, awalnya Hadi melungguh sekoteng di dalam Argosoro. Lama kelamaan menyusul penumpang-penumpang lain yang telah mengantongi bujuk rayu Pak Kernet dan Pak Kondektur. Sebetulnya, tiadalah mereka seperti Hadi, yang dengan rela dan sadar mencatatkan diri menjadi penumpang.
Benar. Ya, benar. Batinnya mendesis. Bus yang bertarif ekonomis itu memang cocok dengan jasadnya; ber-AC alami, kursi penumpang banyak yang jebol, beratap triplek, lampu pecah, dan berkaca buram. Sampai sini, ia belum percaya dengan satu hal; tentang kecepatan Argosoro yang selama ini dielu-elukan orang-orang.
“Masak bus kayak begini, larinya bisa cepat. Nabrak lalat aja gak mati, apalagi manusia.”
Awal mula lepas landas, isyarat-isyarat kecepatan belum tertentang. Pak Sopir masih mempertimbangkan, barangkali masih tersisa manusia yang mau menimbrung di bus.
“Terakhir. Terakhir. Terakhir.” Hanya kata-kata itu yang menyembul dari bibir Pak Kernet. Wajarlah. Untuk membujuk penumpang, segala upaya ditunaikan. Dan pemberdayaan kata-kata adalah usaha yang kehebatannya tak perlu diragukan.
Orang-orang pun tergiur dengan rayuan. Mengira Argosoro adalah bus terakhir, dengan sigap, mereka berbondong-bondong layaknya hendak mengungsi ke lokasi penampungan. Padahal, di belakang masih berjibun bus yang lebih layak, dengan fisik yang lebih sempurna. Memang dalam usaha rekruitmen dan penyesatan penumpang, kru bus Argosoro terkenal lihai dan patut memungut acungan jempol. Buruknya penampilan, bukan memerankan penghalang dalam mereguk sebanyak-banyak penumpang. Dan, dalam waktu singkat, bus memadat. Padat dengan orang-orang yang termakan omongan Pak Kernet; si penipu ulung.
Hadi tampak santai melongok situasi. Ia duduk di belakang Pak Sopir. Sambil menghirup dalam-dalam asap tembakau, kepalanya dilendehkan ke kursi. Kedua tangan ditangkupkan di selingkar perut. Sedang kakinya berayun-ayun ke kiri dan ke kanan. 
Setelah lima belas menit membeku di dalam bus, ia mulai mencium ketidakberesan. Setiap ada orang, selalu saja diangkut. Tak peduli dengan penumpang yang ada di dalam. Mata Pak Sopir memandang mereka bukan sebagai makhluk hidup. Namun sebagai komoditas yang bisa ditukar dengan uang. Oleh sebab itu, merupakan tindak kebodohan jika membiarkan mereka disambar oleh bus-bus yang lain.
Kursi yang sudah berjubal manusia pun tak jadi soal. Dalam pikiran Pak Kernet dan Pak Kondektur, selalu ada kaidah guna menata hal tersebut. Sehingga, bagai anak sekolah sedang latihan baris-berbaris, para penumpang dibariskan dengan posisi berbanjar ke belakang. Benar. Ruang tengah tanpa kursi yang sebenarnya untuk berlalu-lalang, disulap menjelma tempat cadangan guna menumpuk para penumpang.
Batin Hadi mengerang. “Ini sopir gila. Masak bus penuh begini, masih saja ngangkut penumpang”
Karena jenuh dengan keadaan, sebagian penumpang meluncurkan protes kecil-kecilan.
“Pak, sudahlah, Pak. Sudah sesak nih.” Perempuan berambut sebahu yang membopong balita angkat suara. Rintihan sang anak seakan menggodanya untuk melenguh.
Pak Sopir membisu. Kata-kata yang meluncur dari penumpang dicuaikan begitu saja. Tanpa tanggapan. Tanpa sebulir jawaban.
Otak Hadi mendidih. Tindakan mesti segera diambil. Sebagai mahasiswa, ia bosan menadah kezaliman yang menghantam dirinya dan penumpang-penumpang lain. Agen of change wajib menyalin situasi. Tidak terbatas pada pergerakan untuk menumbangkan rezim yang korup. Atau mempertanyakan kebijakan rektor dalam meninggikan biaya kuliah. Bahkan dalam keadaan paling remeh sekalipun, mahasiswa dituntut berdiri di garda paling depan.
Sejurus kemudian, moncong Hadi bocor juga. “Pak. Kami ini manusia. Disamakan saja sama kerbau!”
Mendengar kaul kurang sedap, Pak Sopir enteng menganugerahkan sambutan. “Kalau keberatan, turun saja, Mas.”
Bagai pedang mengayun di tubuhnya, kata-kata Pak Sopir terlalu tajam untuk dilawan. Terlalu sukar dihindari. Ayunan yang begitu tangkas dan mematikan. Dan terpaksa ia mengalah. Mengalah dengan seribu dendam. Mengalah dengan secuil bara yang mengendap di hati. 
***
Matahari asyik memanggang diri. Mendung bersembunyi. Para penumpang mulai gerah. Keringat membanjiri kursi, lantai, dan udara. Bau kecut menyeruak. Semua keringat bercampur menjadi satu. Keringat penjual tahu yang mau pulang. Keringat jagal yang dapat panggilan. Keringat pejabat yang menggelapkan uang rakyat. Dan semua keringat dari segenap kasta di masyarakat. Seolah-olah keringat-keringat itu mengaduk beraneka suasana dan perasaan; kumuh, gaduh, sesak, tegang, marah, dan sinis.
Karena miskin AC, terpaksa semua kaca dibuka. Terkecuali kaca depan dan belakang yang memang muskil disingkap. Mereka kini layaknya hewan liar yang tertangkap di jalan-jalan dan segera dibawa ke kebun binatang. Pak Kondektur hanya cuek dan tersenyum kecil melihat kemenangan yang ada di pihaknya.
Dalam hitungan beberapa menit, satu per satu, angka penumpang menyusut. Dengan berbekal kecewa, mereka mendarat di loka tujuan masing-masing. Baguslah. Mereka berhasil bertahan menghadapi siksaan dalam potongan waktu. Parahnya, siksaan itu bukannya dihindari, tetapi malah ditebus dengan rupiah. Keberutungan mencuat. Buat sesaat, bus melega. Udara bisa dihirup lagi. Harapan mulai terbit. Penumpang berseri-seri. Sinar kegembiraan hinggap di wajah mereka.
Namun, setiba di perempatan Mojokali, lagi-lagi mereka mengulun jakun dan kembali memendam kebencian. Ini kali, harapan seakan sirna. Sekitar sepuluh orang diselundupkan. Ditampung bersama penumpang lain yang kian tersiksa.
Mendapat perlakuan semena-mena, disertai dengan gonggongan batuk, seorang berkopyah hitam, dengan beberapa kerut di muka nyerocos. Belum genap menghembuskan rengekan, segesit kilat, Pak Sopir segera mengatasi keadaan.
“Diamlah kau, Kakek Tua.”
Seperti sambaran petir di siang bolong, kaul Pak Sopir menghantam dada sang kakek. Ia pun terdiam. Pandangannya tertunduk. Hanyalah ia sang renta berumur sekitar 70 tahun. Sekadar penumpang yang membawa uang pas. Jadi, menyerah lebih baik daripada diturunkan dan mati membusuk di jalan. Ya, akhirnya ia menyerah. Meski dalam hatinya, pengemudi berambut gimbal itu diumpat habis-habisan.
Bisikan-bisikan berseliweran. Lidah-lidah menyembur. Ludah-ludah menyembul. Dan dari arah belakang, jejaka bernama Gobel, mempengaruhi teman sekursi guna mewujudkan perlawanan. Perlawanan dari penumpang kepada Pak Sopir. Perlawanan kaum tertindas terhadap si penindas. Perlawanan yang dinahkodai bukan oleh seorang mahasiswa seperti Hadi, tapi seorang penjual ikat pinggang yang saban hari mangkal di pasar Krewit.
Ya, dengan kesepakatan yang bergulir dari dua orang, kemudian disambungkan ke seluruh penumpang, akhirnya mereka mufakat untuk memberontak. Segala benda dipukul-pukulkan. Botol, tongkat, besi, kayu, semuanya. Ke kursi, kaca, lantai, atap, serta tubuh mereka sendiri. Sehingga bus yang tumpat manusia itu bising. Umpatan-umpatan beterbangan. Caci maki meluncur riang. Ada yang menyanyi “Sorak-sorak bergembira”. Ada yang berpuisi “Aku”. Ada yang kencing. Ada yang berjoget. Ada juga yang membikin yel-yel. Mereka akan menggulingkan penguasa yang sewenang-wenang. Mereka bakal merobohkan tiang kediktatoran. Mereka berjuang mati-matian demi meraih keadilan dan kehidupan yang lebih manusiawi.
***
Dan, tadi pagi, sebiji surat kabar mewartakan, bahwa pada hari Rabu, 20 Juli 2011, bus Argosoro mengalami kecelakaan dahsyat di daerah Lowoangum. Kecelakaan yang membuahkan 34 orang meninggal, termasuk Pak Sopir, Pak Kondektur, dan Pak Kernet. Kecelakaan yang melumat warung nasi Mbok Jah bersama seluruh isinya. Kecelakaan yang disesalkan oleh mereka yang menasehati Hadi. Serta kecelakaan yang membuat orang tua Hadi kelimpungan, sebab sampai detik ini belum dapat dipastikan; apakah Hadi selamat, atau nyawanya ikut kabur bersama penumpang yang nahas.


Yogyakarta, 2011