Senin, 16 November 2015

Merebaknya Gejala Narsisme (Opini_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Fajar Sumatera" edisi Senin, 16 November 2015)

Dalam dasawarsa terakhir, gejala-gejala narsisme mudah ditemukan dalam kehidupan artis, politikus, dan dai selebritis. Dengan cara dan pola masing-masing, mereka ingin menampilkan segi positif-materialistis dari diri manusia. Mereka berhasrat menunjukkan sisi-sisi kesempurnaan di balik sosok makhluk yang tidak pernah sempurna (nobody perfect).
Ciri khas narsisme yang seringkali tampak yaitu terlalu percaya diri. Atas dasar inilah, bagi sebagian orang, narsisme berdampak positif. Namun demikian, tidak semua yang diasumsikan publik tentang narsisme bisa dibenarkan.
Tanpa pertimbangan logis, para artis gemar menyajikan keglamoran. Bagi mereka, ada semacam konsensus tak tertulis, “uang bisa membeli segalanya”. Dengan konsensus ini, mereka sibuk menampilkan capaian duniawi yang profan, meskipun banyak orang yang saban hari makan nasi aking.
Aksi mereka mendapat sambutan dari para pemodal bermental kapitalis, yang dengan senang hati, menyulap televisi menjadi panggung artis. Akibat godaan konsumerisme materialistis dan rasionalisme sekularistis, para artis rela menukar harga diri mereka dengan uang. Sistem kapitalistik telah membuka ruang yang demikian lebar, sehingga manusia dianggap aset dan komoditas empuk. Barang tentu persepsi seperti ini berpotensi mereduksi hak manusia. Segala macam bentuk diskriminasi dihalalkan, asal mendatangkan keuntungan politis, sosial, serta finansial.
Dari iklan, sinetron, infotainment, bahkan hot news tampak kemewahan yang sengaja dihidangkan. Mulai wajah yang dipermak, mobil mewah, hingga busana berlabel ratusan juta rupiah. Padahal, ragam acara yang menyajikan life style para penjunjung tinggi hedonisme tersebut dapat membunuh karakter anak bangsa secara perlahan.
Narsisme juga mendapat ‘restu’ dari aktor-aktor politik, terutama menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada). Mereka menyemarakkan narsisme dengan politik selfie. Dalam pandangan Fuadi, Peneliti Monash Institute Semarang, selama ini cara kandidat “mempromosikan diri” hanya berkutat pada kampanye narsisme dan janji-janji politik yang dianggap sebagai alat legitimasi untuk merebut kekuasaan.
Dalam menggaet pendukung, para kandidat memanfaatkan dakwah visual dengan menonjolkan catatan kesuksesan yang pernah mereka raih, baik gelar kebangsawanan, akademis, keagamaan, maupun hubungan baik dengan tokoh yang dianggap berpengaruh.
Mengutip Musyafak (2014), “penampakan iklan-iklan politik atau alat peraga kampanye, baik dalam bentuk visual maupun audio-visual, menjadi penanda berlangsungnya politik selfie. Kondisi ruang-ruang publik kita hari ini yang tidak kalis dari serangan iklan politik adalah representasi dari politik selfie yang mementingkan diri sendiri.”
Narsisme semakin meriah dengan hadirnya dai-dai selebritis. Sambil menabur ayat Tuhan, para pegiat dakwah tersebut menebar senyum dan menggelorakan citra. Tak segan-segan, harta mereka umbar demi sederet pujian. Padahal, sesungguhnya, mereka tidak pernah mendapat kemuliaan, sebab harga diri mereka pertaruhkan demi kepentingan segelintir orang dan ‘makelar’ iklan. Mereka hanya bersedia menyampaikan ajaran agama, jika tarif sesuai dengan permintaan.
Dari apa yang dilakukan oleh figur-figur ‘representatif-ideal’ di atas, perilaku narsisme mulai menular. Publik menangkap bahwa duplikasi atas aksi mereka merupakan sebuah kebanggaan. Tak ayal, kini, anak kecil, remaja dan orang tua saling berlomba mematut-matut tubuhnya di depan ponsel dan kamera untuk kemudian memajang foto mereka di media sosial (medsos). Bagaimana pun juga, narsisme adalah sebuah keniscayaan, kebutuhan sekaligus peneguhan diri. Konsekuensinya, selfie menjadi tuntutan yang tidak bisa ditawar.
Selfie juga menjadi sarana pengganti hiburan tradisional yang selama ini diperankan oleh keluarga dan lingkungan. Dengan demikian, produser-produser selfie yang pornograf cultural memiliki keuntungan kompetitif terhadap mereka yang tidak memilikinya. Munculnya pornograf culutural ini memantik kegelisahan nurani, seperti Rosihan Anwar (2004) yang mengeluhkan bahwa imbas dari pornograf cultural yaitu kecenderungan televisi pada hal-hal sensual, seksual, dan sensasional.
Penyalahgunaan selfie oleh pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab melahirkan suatu budaya massal dari pengeruk keuntungan yang mengeksploitasi vulgaritas dan pornografi. Imbasnya serius. Video-video porno, dengan artis, anggota DPR, dan tokoh agama sebagai aktornya, diproduksi besar-besaran. Barang tentu hal ini memancing adrenalin ‘petualang cinta’. Dengan merekam dan menyebarkan kemesraan bersama pasangannya, ia meneguhkan eksistensi. Ia ingin menunjukkan bahwa adegan ranjang yang dilakukan lebih ‘gila’ dan layak dibanggakan.
Betapa narsisme juga berhasil menjangkiti anak-anak. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka seolah tidak terlepas dari aktivitas selfie. Dengan kemampuan berpikir yang masih terbatas, mereka seringkali terjebak pada perilaku “unjuk diri” yang banal dan dangkal makna. Keluguan anak-anak dimanfaatkan oleh sejumlah oknum dengan memproduksi video esek-esek dengan anak di bawah umur selaku aktornya.
Pengeksploitasian anak-anak merupakan upaya merenggut hak mereka demi segelintir kepentingan. Sayangnya, pendidikan kurang mampu menjadi benteng pertahanan dan keamanan bagi anak kecil. Sekolah tidak lagi berfungsi sebagai institusi yang dapat menangkis ekses-ekses modernisasi dan globalisasi dengan sajian kekerasan yang sewaktu-waktu dapat menimpa anak-anak, baik kekerasan emosional, verbal, fisik, maupun seksual.
Segala bentuk kekerasan terhadap anak-anak seolah dilegalkan oleh carut-marutnya sistem pendidikan. Kondisi seperti ini rentan menyebabkan anak-anak mengalami kekerasan simbolik. Dalam pandangan Pierre Bourdieu, kekerasan simbolik (la violence symbolique) merupakan kekerasan tidak kasat mata yang tidak akan tampak tanpa adanya pemahaman kritis. Pada dasarnya, para korban menganggap apa yang menimpa mereka bersifat alamiah dan wajar. Tak heran jika kekerasan semacam ini dipelihara sampai dewasa dan berkeluarga.


Bojonegoro, 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar