Kamis, 28 Juni 2012

Bekal Tambahan Dido (Cernak_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Suara Merdeka" edisi Minggu, 10 Juni 2012)


Dido senang sekali karena bekalnya sangat istimewa. Ayam goreng krispy dan saus pedas adalah menu kesukaannya. Hari itu pasti bekalnya akan ludes. Dido keluar dari kelas sambil membawa bekal. Bersama Aldi dan Eko, ia menuju taman untuk menyantap bekal masing-masing.
Bagi Dido, masakan ibu adalah masakan nomor satu di dunia. Tak heran, Dido menyantap bekalnya dengan lahap. Meski demikian, ia tak lupa untuk berdoa terlebih dahulu. Melihat apa yang dilakukan Dido, kedua temannya juga melakukan hal yang sama. Bu Guru pernah bilang, “anak-anak, kalau mau makan berdoa dulu ya. Jika lupa berdoa, syetan bakal ikut makan, lho”.
Usai menikmati bekal, mereka bertiga kembali ke kelas. Ternyata teman-temannya masih banyak yang di luar. Maklumlah, waktu istirahat masih lumayan lama. Akan tetapi, Dido melihat Aryo duduk sendiri di bangkunya. Raut mukanya terlihat sangat sedih.
“Aryo, kok kamu gak istirahat?” Tanya Dido penasaran.
“Ya, Dido. Aku kan gak bawa bekal.”
“Memangnya kenapa?”
“Gak ada yang buatkan. Ibu sudah lama meninggal. Kalau ayah sedang kerja di luar kota.”
Mendengar pengakuan temannya itu, mata Dido berkaca-kaca.
***
“Ma, tolong nasinya diperbanyak. Lauknya juga ditambah ya.”
Mama Dido tidak keberatan dengan permintaan buah hatinya. Kali ini, kotak bekal Dido lebih besar. Bila memakai kotak kemarin, sepertinya tak akan muat menampung bekal.
Dido berangkat ke sekolah penuh semangat. Hari itu, ia akan bertemu Pak Faisal di kelas. Ia senang dengan cara guru favoritnya itu mengajar. Lewat permainan, Pak Faisal mengubah matematika menjadi pelajaran mengasyikkan.
Setelah belajar bersama Pak Faisal, Dido hendak menuju ke taman. Waktu istirahat harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, pikir Dido. Selain Aldi dan Eko, Dido juga mengajak Aryo.
Sesampai di taman, Aldi, Eko, serta Dido membuka bekal masing-masing. Aldi membawa dadar gulung. Eko membawa rendang. Sedangkan Dido membawa gurami bakar. Aryo sangat malu. Di antara ketiga temannya, rupanya ia sendiri yang tidak berbekal. Dengan polos, Aryo bertutur lembut, “maaf teman-teman. Aku gak bawa bekal.”
Segesit kilat, mulut Dido menjawab, “gak usah khawatir, Aryo. Ini bekalku banyak kok. Jadi, kita bisa makan bersama.”
Menyimak kata-kata Dido, bibir Aryo tersungging.
Dido membalas senyum Aryo. Ia berjanji, besok akan membawa bekal lebih banyak lagi.

Yogyakarta, 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar