Kamis, 28 Juni 2012

Puisi_Riza Multazam Luthfy (Terbit di harian "Sriwijaya Post" edisi Minggu, 9 Mei 2010)


Bukan Mata Kaki*

berjalan 2 meter ke kanan kau temukan istana abadi. berbelok 1 meter ke kiri kau lihat pemulung mimpi mendongak ke atas. ah, jangan kaki kananmu tak jalan berkiri. uh, tak kaki kirimu ikut nafsu belok berkanan.

kiri       : emas
kanan   : duri tajam

mata kaki ingin mengemudi tapi tak berbuat. ia masih terlihat gamang: jalan terus atau mundur saja ke belakang. mata kaki ingin melihat kakinya sendiri. tapi, kerap pula tergoda kaki-kaki tetangga yang lebih mulus dan bertenaga.

mata kaki bukan penentu arah. tapi, mata hati empunya amanah.

Malang, 2009

* Terinspirasi oleh sajak Afrizal Malna


Hantu Putih

hariku kini menyentuh langit. tiada lagi bisa dianggit. kecuali anak pembawa darah, berjejak kaki ayah. aku telah lama tak tenaga. semua lenyap berkeranda.

si rambut berumpat: putih. putih. aku tak rela tinggalkan hitam. walau penuh sunyi, muram. aku mau kembali pada dunia bayangan. dunia yang tak kenal putih. putih hanya berisik, menjerit, mengingat lagu ringkih. putih tak bisa diajak bersahabat, bercerita, adu nasib. ia tak pernah berjanji membawa berkas mimpi atau segebok lanskap purnama.

aroma rambut tak lagi hitam. hanya anyir menggeliat tajam, kejam. si kanan telinga mencubit kiri dengan memukul-mukul dadanya. mengerut dahi, menggeleng heran: kenapa si rambut menyerah, meratapi nasib. sambil menggaruk kepala, bertanya pada ubun-ubun yang telah lama berkencan dengan rambut: "padahal kan masih ada semir hitam di kamar belakang.  ya kan?"

Malang, 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar