Kamis, 28 Juni 2012

Menebar Senyum Sambil Meraung, Kata Pengantar untuk Kumpulan Puisi M. Asqalani Eneste (Esai_Riza Multazam Luthfy, Terbit di harian "Riau Pos" edisi Minggu, 27 Mei 2012)


Adonis, penyair Arab kontroversial paska Perang Dunia Kedua (dalam ADONIS, Arkeologi Sejarah-Pemikiran Arab-Islam, terj. Khoiron Nahdliyin, LKiS, 2012), melontarkan bahwa puisi melambangkan sarana ideologis: dipakai untuk membela dan memberikan kabar gembira (madh), atau mengkritik dan menyerang (hija’).
Berdasarkan pendapat Adonis di atas, tujuan penciptaan puisi adalah dalam rangka mengajak manusia memeluk kebahagiaan serta menghidangkan teguran terhadap realitas yang sedang sakit. Dalam pengertian inilah, puisi-puisi Muhammad Asqalani Eneste (MAE) mendapati eksistensinya.
Selain fungsi alamiahnya: menghibur diri dan lingkungan sembari menanam benih-benih perubahan, puisi-puisi MAE memanggul kesan bahwa ekstase puisi bisa direngkuh tanpa mengobral jamak kata. MAE seolah berhasrat memekikkan secara lantang bahwa dalam merekacipta puisi, penyair tidak harus menghamburkan kata-kata. Pengorbanan banyak kata, tanpa dibuntuti kekuatan makna, menyebabkan keberadaan puisi sia-sia belaka. 
Dari sinilah timbul kecurigaan bahwa MAE adalah penyair yang berat tangan, atau bahkan pelit. Pelit dalam arti enggan melepas kata dari sangkarnya. Berbagai ragam perhitungan ditimbang secara matang sebelum menyelipkan seekor kata dalam puisinya. Namun, meskipun puisi-puisi MAE termasuk ‘kikir kata’, ia tetap menjanjikan kemurahan, kenyamanan dan kemewahan bagi penikmatnya. Hal ini sejalan dengan pepatah Arab klasik: “khairul kalaami maa qalla wa dalla” (sebaik-baik perkataan ialah yang sedikit tapi efektif).
Tidak semua hasil maksimal diperoleh dengan mengeluarkan jumlah yang besar. Penggunaan kata seirit mungkin, nyatanya mampu menyajikan efek kejut luar biasa. Hal tersebut menjadi salah satu pijakan MAE dalam membesarkan ‘anak ruhani’nya—meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer. Ini dijumpai semisal dalam puisi Kania I, Kania II, dan Kania III (semuanya membicarakan tentang Adam), di mana ketiganya terdiri dari dua larik dan kurang dari sepuluh kata.
Berikut disajikan secara utuh ketiga puisi dimaksud. Puisi ‘Kania I’: Adam, aku ingin tetap menjelma rusukmu…/ hingga waktu jadi debu//. Puisi ‘Kania II’: Adam, mata kelerengmu berputarputar di retinaku/ wajahmu membelenggu//. Puisi ‘Kania III’: Adam, berikan aku waktu mencengkram bayangmu/ hingga lelah menemu kantukku//.
Tentu melahirkan puisi yang ‘padat berisi’ demikian bukanlah urusan ringan. Diperlukan usaha ‘berdarah-darah’ guna memilah kata agar puisi-puisi tersebut menyimpan ruh. Merugilah seorang penyair yang genap menetaskan puisi, yang memiliki raga, namun tiada ditopang oleh jiwa! 
Selugu apa pun kata, ia tetap tergolong keras kepala, malas diatur, dan mempunyai karakter tersendiri yang membedakan dengan kata lainnya. Seringkali  penyair dibuat muntab dan putus asa ketika kata berhasil mengelabui dan mengecohnya. Atas dasar itulah, penyair dituntut waspada. Mengapa? Kata yang ditempatkan secara serampangan bakal membalas dendam dengan melukai dan membunuh pelan-pelan puisi yang dihasilkan. Lantas, pada masanya, puisi itu akan kejang-kejang dan mati mengenaskan. Dengan demikian, hanya kepada para pengrajinlah (baca: penyair), kata mau bertekuk lutut. Barang tentu pengrajin yang bukan asal-asalan. Pengrajin yang sudah ‘menjadi’ dan bosan ‘makan garam’.

Mengurai Tema dengan Airmata
Penentuan judul merupakan hak prerogatif penyair dalam upaya mencakup keseluruhan tema puisi yang dirangkai dalam satu kesatuan. Bukan hal yang mudah untuk menetapkan judul yang sanggup memuat segala hal (baca: puisi) di dalamnya. Terkadang, bagi penyair, setelah mengumpulkan ceceran puisi dalam satu wadah, ia ditikam kesukaran untuk mengambil judul yang pas. Judul yang mewakili aspirasi unsur-unsurnya. Tak ayal, dibutuhkan rimbun waktu, tenaga, juga pikiran, demi sekadar mendaulat judul yang relevan.
Kumpulan puisi ini bertajuk ‘Tangisan Kanal Anakanak Nakal’. Memang di dalamnya, pembaca tidak akan menemukan puisi dengan judul tersebut. Hal yang tak perlu dianggap ganjil, bahkan dirisaukan, karena sejumlah penyair juga melakukan hal serupa: melabeli buku kumpulan puisi mereka dengan titel tertentu—yang berbeda dengan judul-judul puisinya. Sebut saja Epri Tsaqib dengan buku puisinya ‘Ruang Lengang’ (Penerbit Pustaka Jamil), yang jangkap dua kali naik cetak.
Kenakalan dalam mengolah imajinasi dan menyajikan pesan merupakan faktor utama mengapa MAE mencomot judul di atas. Dalam puisi berjumlah 125 ini, MAE ingin memosisikan diri selaku anak kecil yang gemar melakukan sesuatu seenak udelnya. Dalam tarafnya sebagai sang kreator puisi, hal tersebut diwujudkan, baik dalam pengelanaan jagat metafora maupun pengembaraan makna tanpa batas. Sehingga apapun yang dipendam, bisa diungkapkan sebebas-bebasnya. Layaknya burung yang terbang tinggi di angkasa. 
Selain itu, sesuai dengan sifat anak kecil, merengek dan meronta-ronta adalah hal yang lumrah. Ketika keinginannya urung dituruti, maka ia akan menangis sejadi-jadinya. Apalagi, ya apalagi, yang memeras airmata adalah anak badung, yang tak hanya menerap sesiapa di sekitarnya menggelengkan kepala, akan tetapi juga tersungut-sungut di buatnya. Atas dasar itulah, dengan cara memerankan diri selaku bocah nakal, kepada siapa saja—dalam kondisi apapun—penyair leluasa meluapkan segala perasaannya. Contoh yang baik ditunjukkan pada puisi ciuman candu’: /1/ bara bibirMu membakar kerontang bibirku /2/ air liurMu jatuh ke lidahku. Sebenarnya, dalam puisi tersebut tiada ungkapan tersirat yang menyampaikan bahwa saking nikmatnya, aku lirik mengharap agar anugerah yang telah mendarat bisa terus dihisap. Dalam puisi ini, aku lirik sebagai hamba memohon supaya yang di ajak bicara (Tuhan) bersedia senantiasa menggelontorkan cinta-Nya. Kemesraan hubungan antara makhluq (yang diciptakan) dengan khaliq (yang menciptakan) diekspresikan dengan kata ‘ciuman’. Sedang ‘candu’  mengisyaratkan bahwa makhluq—dalam konteks ini aku lirik—merasa ketagihan dengan apa yang telah diberikan oleh Sang Pencipta.   

‘Trial and Error’ Puisi
Di antara tantangan berat bagi penyair adalah menjinakkan kata. Oleh sebab itulah, MAE terdorong untuk mengetahui bagaimana cara menundukkan dan mengalahkan kata. Pada proses kreatif MAE, hal tersebut salah satunya ditandai dengan indikasi bermain-main diksi. Semisal pada puisi ‘bagai aku’, di mana di dalamnya terdapat frasa melangkahi batubatu bisu/ dan di celah tubatuba waktu/. ‘Batubatu’ disulih rupa menjadi ‘tubatuba’. Bandingkan dengan puisi Joko Pinurbo (2006) ‘Ranjang Kecil’: Tubuhmu tak punya lagi ruang/ ketika relungmu menghembuskan raung//.
Memperhatikan puisi di atas, terdapat gejala ‘trial and error’. Sebuah langkah yang tidak boleh dihalang-halangi, bahkan oleh kritikus sekalipun. Sebab, kadang kala hal tersebut menjadi pemantik timbulnya karya agung (masterpiece). Namun jika kurang hati-hati, ulah ‘coba-coba’ itu justru mengantar puisi ke keranjang sampah.    
Hal sama juga menjangkiti puisi ‘Hi-La’: La latah Jan menelanjangi rupa//, yang diselipi keterangan:  Hi-La = halo jangan, Hi (Inggris) = halo, La (Arab) = jangan, Jan (Minang) = jangan. Dalam puisi tersebut, tersua usaha MAE yang serius guna menghasilkan puisi agak nyeleneh dengan corak puisi pada umumnya.
Sungguhpun demikian, MAE patut mengantongi apresiasi setinggi-tingginya, sebab dengan gencarnya upaya ‘trial and error’ tersebut, ternyata tidak lantas menjadikan MAE meninggalkan gaya puisinya—seperti puisi-puisi lama—yang mempunyai keteraturan rima. Misalnya, puisi ‘langkah tertahan’ (Magfiroh Az-Zahra): kita bertengkar sehabis getar/ lalu kau menggulung tikar/ ingin pulang/ tak tahu jalan pulang//.
Demikianlah, sekelumit pembacaan terhadap puisi-puisi MAE—yang diakui sendiri sebagai puisi-puisi singkat. Puisi-puisi yang meski giat memerah airmata, namun tetap membujuk manusia untuk tertawa. Dan, tentunya, masih terbuka ruang yang begitu luas bagi para pembaca lain untuk merabanya dengan pandangan tajam serta paparan yang lebih mendalam. 

Yogyakarta, 2012
(di bawah cahaya surya yang baru bangun dari dengkurnya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar