Kamis, 28 Juni 2012

Militer, dari Masa ke Masa (Esai_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Jawa Pos" edisi Minggu, 9 Oktober 2011)


Dalam riwayat manusia, kata militer rajin memerikan rona sekaligus nuansa. Buah tutur menyangkut korps bersenjata itu seakan tiada habisnya. Terkadang dielu-elukan. Acap juga dilaknat dan dikutuki habis-habisan. Dari era klasik hingga paling modern sekalipun, militer menyumbangkan pengalaman—manis atau kecut—bagi negara maupun individu di dalamnya.
Asoka—raja terpenting dalam peradaban India—dalam 8 tahun kekuasaannya, telah menundukkan Kalinga, negara di pantai timur India. Namun, saat menyadari korban manusia yang jatuh akibat kemenangannya, Asoka terguncang. 100.000 nyawa manusia raib sia-sia dan lebih banyak lagi terluka, menerapnya menyesal dan memutuskan untuk memansyuhkan penaklukan militer India. Lantas, ia berbalik melawan segala ragam peperangan. Asoka memungut Buddha sebagai filosofi religiusnya; mencoba untuk mengejawantahkan nilai-nilai Dharma, termasuk di dalamnya kejujuran, kasih sayang, serta anti kekerasan.
Di Sparta, 20 tahun adalah usia di mana anak laki-laki wajib menunaikan tugas militer. Pada usia sebelumnya, mereka dilatih dalam sekolah besar. Bukan untuk menenggak gagasan muluk-muluk menyangkut budaya dan ilmu pengetahuan. Satu-satunya tujuan pendidikan tersebut yaitu melahirkan serdadu militan sekaligus mengabdi sepenuhnya pada negara.
Paska terseretnya AS dalam Perang Dunia II, Florence Van Straten menimbrung dalam jajaran militer Angkatan Laut Amerika. Ia bertugas memanfaatkan pengetahuan ilmiah guna meramal keadaan cuaca. Informasi itu harus dilakukan setiap hari, bahkan setiap jam. Meteorologi berandil besar bagi militer AS. Sebagai contoh yaitu ketika iring-iringan kapal induk AS akan menuju Pearl Harbour terendus pesawat tempur Jepang. Usaha menghindar—dengan kecepatan kapal induk lebih rendah dari pesawat tempur Jepang—adalah dengan pemanfaatan meteorologi, yang dipelajari Florence. Florence berhasil mengantongi gelar Ph.D dalam Ilmu Kimia Alam, saat berhimpun dengan Pasukan Cadangan Angkatan Laut Amerika.
Saat terjadi perang antara Jerman melawan Perancis (1867-1868), Friedrich Wilhelm Nietzsche didaftar sebagai anggota dinas militer. Tugas yang sebenarnya tak disukai, meskipun akhirnya tetap dilaksanakan. Di tengah menjalankan tugas, Nietzsche menangkap pengalaman tak terduga. Ia jatuh dari kuda dan terpaksa dirawat selama satu bulan di Namburg. Ia juga menyaksikan peristiwa-peristiwa tragis dalam perang. Pengalaman ini melahirkan kegoncangan dalam dirinya dan mulai ingin belajar sesuatu yang lebih menarik untuk hidup.
Pada tahun 1977, Oscar Arnulfo Romero didaulat menjadi Uskup Agung, di mana sebelumnya pada usia 24 tahun ia telah dilantik menjadi Imam di Roma. Ia tersohor selaku pejuang rakyat—yang berpenat-penat dalam melindungi hak-hak mereka—karena mengetahui pihak militer tega membumihanguskan 20.000 nyawa kala meletus Perang Saudara di El Salvador. Saban minggu ia berkotbah dengan menyuarakan kepentingan rakyat yang tertindas. Ulahnya disambut dengan kampanye balasan; Uskup Romero diisukan mencibir Angkatan Bersenjata, melakukan korupsi, dan melego jiwanya pada iblis. Sehingga ia dikucilkan dari lingkungan Gereja Katolik Dunia. Bahkan, pada tahun 1980, dua butir peluru menembus kepala dan jantungnya kala menggemakan kotbah.
Harold Garfinkel—pencetus istilah etnometodologi dalam sosiologi—mengikuti wajib militer pada tahun 1942 dan bersarang di Angkatan Udara. Ia dipercaya untuk melatih tentara menggunakan tank di padang golf dekat Miami Beach, tanpa difasilitasi tank sama sekali. Saat melatih, Garfinkel hanya mengandalkan gambar tank dari majalah Life, karena seluruh tank tengah berbaris di medan laga. Bisa dibayangkan, alangkah runyamnya, melatih tentara melempar bahan peledak ke lintasan tank imajiner; menjaga agar tank imajiner tersebut tidak melihatnya dengan mengarahkan tembakan ke pangkalan tank imajiner.
Pada tahun 1946, sewaktu Hatta menjadi Perdana Menteri, dengan pimpinan militernya A.H. Nasution, diluncurkan perintah melucuti rakyat bersenjata di luar tentara resmi. Pramoedya Ananta Toer melihat bahwa mereka memberontak, sebab senjata diperoleh sendiri dengan cara merampas dari musuh. Mulailah Pram jijik mencerap aksi kekerasan. Sadar bahwa dunia militer bukan tempatnya, akhirnya profesi tentara ia tanggalkan dan beralih menjadi penulis.
Latar belakang militer Soeharto terbukti turut memperkokoh kejayaan otoritarianisme. Dalam pemerintahannya, politik hanya menjadi domain dari sekelompok kecil orang di sekitar pusat kekuasaan (Jakarta). Sentralisasi mendapat tempat mulia. Hal ini diwujudkan dengan menelurkan UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah, yang cukup hierarkis dan sentralistik. Akibatnya, Daerah tidak dapat berkembang secara optimal. Segala kebijakan tentang Daerah digariskan oleh Pusat. Keleluasan menumbuh-kembangkan potensi Daerah kurang maksimal, bahkan akhirnya Daerah menjadi “tergantung” dengan Pusat.
Begitulah, militer. Tak bosan-bosannya membonceng kehidupan manusia. Dahulu, kini, dan mungkin seterusnya.

Yogyakarta, 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar