Kamis, 28 Juni 2012

Elegi Pengamen Cinta (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian “Radar Malang”, edisi 2009)


Pagi itu, setelah embun merayap ke angkasa, cahaya mentari menerobos ke seluruh pori-pori. Aorta, otot, juga otakku merasakan belaian cahaya itu penuh hangat. Ciuman mesranya membekas pada keningku yang dingin seusai disapu malam. Rambutku yang terurai juga disisir penuh sayang. Angin pagi menyentuh ubun-ubun seraya berbisik bahwa sudah saatnya aku terbangun: menyambung mimpi esok hari, serta beraktifitas seperti hari-hari kemarin yang sangat membosankan. 
Seperti hari-hari biasa, pada hari minggu yang cerah itu, wajah kumalku mengajak untuk memelas dan memeras kasih sayang mereka yang berlalu-lalang. Sambil membawa alat musik yang tersusun dari beberapa tutup botol minuman, aku nyanyikan sebuah lagu idola para kawula muda. Juga idola pengamen jalanan sepertiku. Lagu "Walau habis terang", telah membuat orang terperdaya dan tersihir, sehingga merekapun rela menerogoh saku dan menyumbangkan beberapa rupiah. Sebenarnya, aku tak hafal benar lirik lagu itu. Toh, tanpa menghafal seluruhnya, aku sudah bisa berkicau seperti kicauan burung beo yang baru saja mandi.
Dengan bermodal suara ala kadarnya, ku tunjukkan bakat yang sebenarnya tak pernah ku pendam sejak lahir. Ini adalah sebuah keterpaksaan, sekaligus jalan kehidupan yang harus ku telusuri. Menjadi pengamen jalanan adalah impian terburuk semua orang. Juga bagi diriku sendiri. Tapi apa boleh buat. Yang penting lambung masih bisa diajak kompromi.
Maklum, aku hanya bisa berharap agar orang-orang tak pernah merasa bosan untuk menyisihkan uang receh. Uang sisa beli koran atau tagihan listrik. Aku sadar, bahwa di mata mereka aku ini hina, bahkan sangat hina. Akan tetapi aku tak mau, hanya karena mencuri atau menodong, badanku meringkuk di penjara selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Perempatan jalan raya dan lampu merah ini telah berusaha sekuat tenaga untuk menjadi teman terbaikku dalam mengarungi hidup yang serba rumit, sempit, dan pahit. Aku tak tahu, mungkin inilah garis takdir yang harus ku jalani. Entah sampai kapan. Yang pasti otakku hanya berpikir kalau tiap hari aku butuh makan. Tanpa berpikir berganti penampilan atau mengikuti mode, layaknya anak muda sekarang.
Mungkin, minggu itu adalah hariku yang paling ungu dibanding minggu-minggu yang lain. Betapa tidak, ketika aku ngamen di depan sebuah mobil berplat merah, ada sorot mata tajam yang menatapku. Sorot mata yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ya, sepasang mata yang bisa menghayati lagu indahku. Sepasang mata gadis seusiaku yang duduk disamping sopir mobil itu, yang mungkin juga adalah ayahnya. Detak jantung yang sebelumnya berjalan normal, tiba-tiba gelagapan. Karena saking cepatnya, akupun dibuat kerepotan. Keringat dingin menetes dari kedua pelipis dan membasahi kedua pipiku yang lugu. Bibir tipisku tak bisa melanjutkan perjuangan. Otakku kehilangan kesadaran. Nyanyianku berhenti sebelum saatnya. Kedua tanganku terasa diikat dari belakang. Aku tak habis pikir. Ada apa gerangan? Apa hanya karena tatapan matanya yang begitu silau itu yang akhirnya membuatku seperti kehilangan kenormalanku.
"ini mas, makasih ya. Lagunya enak banget."
Dengan mengulurkan tangannya yang lembut. Juga jemari yang lentik. Ia memberikan uang seribu rupiah dan senyuman manis, yang sampai saat ini masih membekas pada dinding hatiku. Senyuman itulah yang membuat gairah hidupku muncul kembali dan bisa bertahan melawan kerasnya kehidupan kota yang begitu sangar. Tapi, senyuman itu pula yang menghancurleburkan kehidupanku, hingga relung yang terdalam.  
Sepatah katapun tak bisa ku ucapkan. Pada waktu yang sama, tangan kananku memaksakan diri untuk menyambut tangannya. Secepat kilat, uang itu ku sahut. Tanpa sengaja, tanganku yang lusuh itu menyentuh tangannya yang sangat halus. Terasa ada getaran dan sengatan yang belum pernah ku rasakan. Akupun tak sadar dengan apa yang telah ku perbuat.
Setelah peristiwa itu, setiap hari aku banyak melamun. Hanya karena ingin bertemu kembali dengan gadis yang membuat hati bergetar. Hingga usiaku yang ke-20 ini, belum pernah aku merasakan sebuah rasa yang begitu dahsyat. Rasa yang sempat mengguncang jiwa. Apakah ini yang dinamakan cinta?. Ya, aku yakin itu adalah cinta. Cinta sejati. Bukan cinta monyet yang pernah aku alami ketika masih ingusan. Tapi, sering kali otak kiriku juga berpikir dan berontak. Ia tak setuju kalau pengamen jalanan sepertiku layak mendapatkan cinta. Otakku hanya memikirkan makan. Enggan memikirkan cinta. 
Setiap hari aku duduk membayangkan gadis itu melintas di depanku. Aku hanya ingin melihat senyumannya dengan gigi-gigi yang mengeluarkan cahaya. Juga matanya yang berbinar-binar. Setiap ada mobil yang berplat merah, aku langsung menyambutnya dengan sebuah lagu. Aku berharap agar gadis impian berada di dalamnya. Bersanding dengan seorang sopir, yang mungkin juga ayahnya. Sudah berapa ratus mobil berplat merah yang ku tengok. Tapi tak satupun yang memberi isyarat bahwa di dalamnya ada gadis berkulit putih dan berwajah bulat telur itu. Sampai pada akhirnya, hatiku merasa sangat lelah dan putus asa. Padahal, sudah ku siapkan sebuah surat yang menceritakan keadaanku selama ini. Sudah ku karang kata-kata yang ditulis oleh anak kelas 6 SD. Maklum, sampai sekarang, aku tak pernah makan sekolah. Jadi, hanya karena ingin mengungkapkan perasaan, aku memaksa anak kecil yang rumahnya tak jauh dari tempatku menjajakan suara itu untuk menuliskan surat. Itupun dengan memberinya uang saku. Sisa setoran pada preman tua yang setiap pekan harus aku bayar. Surat yang akan membuatnya tertawa terjungkal-jungkal sekaligus menangis sesenggukan. Surat yang mengungkapkan cinta pengamen jalanan kepada gadis manja anak pejabat konglomerat. Saking payahnya, aku robek surat beramplok pink itu. Kurang puas, kedua kakiku ikut bertindak. Aku injak-injak surat itu layaknya ulat yang menjijikkan. Mulutku bersumpah serapah. Menyumpahi surat, menyumpahi cinta, juga menyumpahi gadis manis berrambut lurus.
Keesokan harinya. Di pagi yang menggigil, langit terlihat masih gelap. Padahal jarum jam sudah menunjuk arah 8. Ada mobil berplat merah melintas di depanku. Mobil itu berhenti sejenak, karena harus menunggu lampu berwarna hijau. Aku tak berreaksi. Malah terdiam. Aku enggan menghampiri mobil berplat merah lagi. Harapanku telah pupus. Tulisan cinta pada dinding hatiku telah ku hapus. Aku hanya seorang pengamen jalanan yang tak pantas menerima cinta sejati. Tapi, alangkah kagetnya, ketika lampu sudah berwarna hijau, seorang gadis dalam mobil berplat merah melambaikan tangannya padaku. Ya, itu gadis impianku. Gadis yang pernah memberiku uang seribu rupiah dan senyuman manisnya. Tapi, apa daya bagi seorang pengamen jalanan sepertiku. Tak ada guna mencintainya. Karena di sebelahnya, sudah ada pemuda tampan yang membelai halus rambutnya. Dan mencium hangat keningnya. Ya, aku yakin ia adalah tunangannya.

Malang, 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar