Kamis, 28 Juni 2012

Puisi_Riza Multazam Luthfy (Terbit di harian "Malang Post" edisi Minggu, 23 November 2008)


Cacat Permanen

meski tak bertangan,
         ku bisa mencuri
meski tak bermulut,
         ku bisa mengumpat
meski tak berkaki,
         ku bisa menyepak
meski tak berduit,
         ku bisa sombong
meski tak berhati,
         ku bisa dengki
meski tak bernyawa
         ku bisa dosa

tak seperti kau,
bertangan tapi buntung
bermulut tapi bisu
berkaki tapi pincang
berduit tapi miskin
berhati tapi tamak
bernyawa tapi tak bergerak

Malang, 2008


Hitam-Putih Warnamu

kepalamu hitam,
rambutmu putih
bibirmu hitam,
gigimu putih
jarimu hitam,
kukumu putih
darahmu hitam,
tulangmu putih

wajahmu hitam,
hatimu:
hitam atau putih?

Malang, 2008


Hidup Pengemis!

nak, bentar lagi hari raya
adikmu butuh tawa
            tak butuh cinta
memelaslah kepada si lewat
taburi wajahmu dengan abu dan terigu
agar mereka lebih ikhlas beramal

nak, kau mengemis bukan karena hina
atau tak pecus kerja
kau mengemis karena
ayahmu,
ibumu,
kakakmu,
adikmu,
pamanmu,
bibimu,
kakekmu,
nenekmu,
semuanya mengemis
jadi, kau dosa kalau tak mengemis

nak, tak selamanya
mengemis itu hina
tak selalu
mengemis jadi benalu
nyatanya, ia lebih mulya
dibanding merampas riang rakyat
atau mencuri kalbu bangsamu

lebih baik kau jadi pengemis
dari pada pengkhianat
lebih mulya kau jadi pengemis
dari pada konglomerat
yang tak tahu kekayaannya

nak, kau lahir sebagai pengemis
moga mati jadi pengemis

hidup pengemis!

Malang, 2008


Gembala Jiwa

wahai
si gembala domba
di padang tandus
ku titipkan padamu
satu makhluk yang berangus

beri ia minum
agar tak kehausan
cekoki obat dosis tinggi
karena ia sakit keras

barangkali di tanganmu,
ia kenali dirinya
bisa jadi karenamu,
ia kembali pada kawanannya

wahai jiwa yang sedang sakit
ku titipkan kau
pada si gembala domba
agar ia bisa merawat,
memelihara, dan menggembalakanmu
lebih dari yang ku bisa
moga cepat kau sembuh
dan riang
seperti sedia kala

wahai jiwa yang sedang kambuh
turuti apa kata si gembala domba
agar kau tak jadi sesat
agar kau bisa telusuri jalan pulang
jalan menuju keberuntungan
nanti, pasti kuminta kembali
saat kau sudah sehat
kala kau dipayungi sayap
para malaikat

Bojonegoro, 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar