Kamis, 28 Juni 2012

Mantan Guru (Cerpen_Riza Multazam Luthfy, terbit di harian "Sumatera Ekspres" edisi Minggu, 29 April 2012)


Setelah empat warsa bergelut dengan wacana, akhirnya ia berhasil tamat dengan nilai tinggi. Bahkan terhitung mahasiswa berprestasi. Sewaktu diwisuda, ia mengantongi beberapa piagam penghargaan dari rektor. Sinar kebahagiaan terpancar pada senyumnya. Pun dengan bapak dan emaknya.
Tanpa bertafakur panjang, Hartono memutuskan untuk mudik ke desa Sumberrejo. Sebuah loka di mana ia dibesarkan. Daerah alit, yang dalam benaknya, menghajatkan seorang cendekiawan semisal dirinya. Ia berat siku bermukim di kota, yang semakin padat dengan orang-orang pintar.
“Aku akan membangun desa”
Desis itulah yang menguap bertukas-tukas dari dua katup bibirnya.
Beberapa bulan di rumah, ia nyenyai keluar. Hanya ongkang-ongkang kaki dan sesekali pergi ke ladang. Ijazahnya masih tergolek di lemari. Ia memupuk keyakinan, bahwa sececah lagi akan ada kepala sekolah yang bertandang ke rumah dan melamarnya sebagai guru.
“Har, apa kamu gak pengen kerja?”
Emaknya bersoal ketika ia asyik menonton sepak bola di televisi.
“Ah, tenanglah, Bu. Nyantai saja, sebentar lagi Hartono akan dicari-cari orang. Tak usahlah cari-cari pekerjaan. Lha wong mereka yang butuh.”
***
Menunggu merupakan hal menjenuhkan. Dan anehnya, bekas mahasiswa yang aktif berorganisasi itu ikhlas menanti pekerjaan dengan sengaja menganggur. Sampai-sampai, ketika program pembuatan KTP menyembul, ia malah absen. Hartono khawatir bilamana dalam kartu identitas, pencahariannya ditulis ‘wiraswasta’. Hal demikian belumlah seberapa. Lebih parahnya—karena ia memang benar-benar belum kerja—jika terpahat kata-kata ‘penganggur’ atau ‘mencari kerja’.
Ia dirundung stres. Pasalnya, para tetangga mengendus fakta; Hartono, seorang sarjana yang menganggur. Terang saja, mereka menggunjingnya habis-habisan.
“Tuh, lihat anaknya Sukiman! Habis kuliah malah nganggur. Padahal, buat biayanya, Sukiman jual dua sapi dan sawah sebahu”.
Bu Mijah menggagas percakapan.
“Iya, ya. Apa ia gak kasihan dengan orang tua. Kan karena ia kuliah, adiknya putus sekolah”.
Mbak Parti merapat.
Sejurus kemudian, Bu Sukinah menyambung lidah:
“Benar-benar gak tahu balas budi! Apa semua yang lulus kuliah seperti itu. Kalau begitu, lebih baik anak saya sekolah sampai SMA saja”.
Hartono jengah campur bosan. Bongkahan-bongkahan cerca amat kerap mendarat di kupingnya. Saking jengkelnya, ia cawiskan beberapa bungkus kapas di atas ranjang. Jika tak kuasa mencerap cacian-cacian itu, ia akan membubuhkannya di kedua liang telinga.
***
Genap setahun, pikirannya berubah. Idealisme yang ia bangun mulai luntur. Ia enggan lagi menanti pekerjaan. Ia urung lagi percaya bahwa kepala sekolah akan bersambang ke rumah dan meminangnya sebagai guru. Ia tidak lagi mengizinkan ijazahnya mendengkur di lemari. Tiba saatnya ia menggelundung. Dan, alamak. Bagai petani yang menebar benih, ia menyebar lamaran ke semua sekolah yang terbujur di desa Sumberrejo.
Jawaban tak kunjung terbit. Dengan terpaksa, ia mengayunkan kaki ke rumah kepala-kepala sekolah. Sebagai lulusan berpredikat cumlaude, sesungguhnya ia wirang menjalankannya. Hal itu tak ubahnya dengan merendahkan martabat. Akan tetapi, apabila dipikir-pikir, ia akan lebih malu lagi bila orang-orang menyebutnya pengangguran.
“Maaf, dik. Guru-guru di sini sudah banyak. Kami tak mau lagi menambah. Apalagi, sekarang kan ada sertifikasi. Jadi, mereka dituntut mengajar sekian jam dalam seminggu.”
Hatinya getir. Mulutnya nyengir. Sungguh, tiadalah ia menyangka, bahwa semua kepala sekolah akan mengalirkan jawaban serupa.
Jebolan pendidikan bahasa Arab pada salah satu kampus ternama di Malang itu tercenung di kamar. Ia melenguh sendiri:
“Sialan. Mereka anggap aku ini siapa. Apa mereka tidak tahu kalau aku ini sarjana unggulan. Jangan-jangan mereka tidak melihat transkrip nilaiku.”
Ia kembali menganggur. Namun, situasinya berbeda. Ini bukan idealisme, melainkan sebutir keterpaksaan. Hartono kehabisan rasa percaya diri. Saban hari — sejak surya terbit hingga fajar menampak — ia hanya mematung di kamar.
“Ini kan takdir, Nak. Yang penting kamu berusaha”.
Sambil menyajikan ubi rebus kesukaan sulungnya, Warni mencoba melipur.
***
Matahari beringsut ke arah barat. Angin berjalan gontai. Hartono memindai fotonya kala dilantik menjadi sarjana. Lantas bunyi ketukan terdampar di pintu rumah.
“Har, keluarlah sebentar. Ini ada Pak Guru yang punya perlu denganmu”.
Hartono menuruti kaul emaknya. Ia keluar dan menjabat tangan Pak Samiji.
Bak pahlawan, guru matematika itu, hendak mengentasnya dari jurang penderitaan. Jurang yang tengah menjebak tubuhnya selama setahun lebih. Jurang yang sepemakan sirih lagi ia tinggalkan.
Sang tamu mewartakan bahwa Hartono akan didarmabaktikan sebagai staf pengajar di MI Nurul Jannah. Ia juga menakrifkan, bahwa sebetulnya Hartono berstatus guru sulih. Ah, tepatnya menggantikan Bu Sari yang beranjak ke Samarinda. Hartono akan mengambil alih posisi guru yang capek mengabdi dan memilih transmigrasi.
Hartono, kini, adalah guru dengan sejuta semangat. Jam enam pagi ia sudah nangkring di kantor. Ada saja tingkahnya; Melihat-lihat daftar hadir. Menata meja. Membenahi pigura yang terpasang kurang rapi. Ya, begitulah. Namanya saja guru baru.
Saat mengajar di kelas, suaranya bak petir menggelegar. Saking berapi-apinya, siswa-siswa di kelas-kelas lain juga mendengar. (Mereka bisa memastikan bahwa itu suara Pak Hartono, guru baru yang rona bajunya tak pernah ganti). Dan sewaktu bel istirahat bergetar, ia pasti menghabiskan tiga gelas air untuk membunuh rasa haus yang menusuk-nusuk tenggorokan.
***
Gajinya sebulan cuma enam puluh ribu rupiah. Sungguhpun demikian, ia tak berkecil hati. Sebab, apa yang dilakukan adalah demi mendidik generasi bangsa. Awalnya, ia santai-santai saja. Ia menganggap karier guru sebagai profesi mulia. Gaji kecil bukanlah jadi soal. Toh berkah yang bakal diraih di alam selanjutnya lebih agung.
Selama hampir tujuh bulan, Hartono bertahan. Namun semuanya berubah, semenjak bapaknya terserang tumor.
***
Demi melihat kesembuhan suami, Warni melego semua sawah yang tersisa. Dan situasi kian menjepit, ketika Sukiman harus bermalam di rumah sakit. Setelah enam hari dirawat, kondisinya belum membaik. Sedang seluruh harta ludes terjual, termasuk juga kalung perkawinan Warni.
Hartono, selaku anak tertua, angkat tangan. Ia tak sanggup mengasung apa-apa untuk sekadar meringankan biaya pengobatan sang bapak. Gajinya yang baru tercicil tiga bulan saja tidaklah cukup menebus ongkos rawat inap Sukiman untuk semalam.
Hingga pada suatu senja, pertolongan itu menyapa. Semasih duduk-duduk di teras Rumah Sakit, ia meringik pada tukang parkir, yang kebetulan sedang menggelesot di situ.
“Waduh, pak. Susah. Emak bingung begini, saya malah gak bisa bantu apa-apa. Mana gaji mengajar sangat kecil.”
Tukang parkir yang berusia sekitar 40 tahun itu pura-pura berpikir. Ia menyimak apa yang dilenguhkan pemuda di sampingnya. Sembari menenteng peluit, lidahnya menghembuskan kata-kata.
“Jadi tukang parkir saja. Gimana?”
Hartono menggedumal. Keningnya berkerut. Alisnya berjingkat. Dan sekonyong-konyong batinnya menggumam:
“Edan! Mana ada, guru jadi tukang parkir”.
***
Dengan rimbun pertimbangan, akhirnya ia berprofesi ganda; Seorang guru swasta sekaligus tukang parkir. Bujang lapuk itu tak habis pikir, kenapa nasibnya begitu tragis. Meski Warni mafhum dengan profesi barunya, Hartono berpesan agar tidak membocorkannya pada sang bapak. Ia khawatir. Jika ketahuan, penyakit bapaknya kian bandel diobati.
Hartono membelah-belah biji waktunya. Pagi sampai siang: mengajar di sekolah. Sehabis itu, ia pulang dan membaringkan badan sejenak. Sore: menengok bapak di rumah sakit. Selepas magrib, ia kenakan kostum oranye menyala; Warna yang setia menyertai saat menjalankan profesinya di alun-alun. Ia tak akan balik ke rumah, jika irama adzan dari masjid jamik belum menggema. 
Seminggu  menjalani dua profesi itu, ia masih sanggup bertahan. Akan tetapi, perlahan-lahan ia mulai merasa letih. Mulutnya megap-megap. Encoknya pegal-pegal dan terserang rematik. Sehingga ia rajin menenggak jamu tradisional dan STMJ di kios Seger Waras. 
Sejalan dengan kesibukan, badannya mengempis. Pemuda yang semasa kuliah biasa dipanggil gentong itu menjelma wayang kulit. Tak hanya itu, ia juga sering tidur di kelas. Tak jarang, anak-anak membangunkannya ketika bel pulang meraung.
Dengan adanya situasi runyam tersebut, Hartono dituntut segera mengesahkan mana yang ia pilih: jadi guru swasta atau tukang parkir. Supaya anak didiknya tidak menjadi korban.
***
“Kapan ya ia kawin? Keburu umurnya membusuk. Mungkin itu yang membuatnya memilih jadi tukang parkir. Hitung-hitung buat menyiapkan mas kawin.”
“Betul, betul. Ia nekat berhenti jadi guru kan karena gajinya ringan. Tak cukuplah buat kawin. Ya, lebih baik fokus pada satu pekerjaan dan menghasilkan uang.”
Gunjingan yang ia pungut makin bertubi-tubi. Celakanya, bukan hanya dirinya yang makan cibiran dari masyarakat. Warni juga kerap memetik perlakuan serupa. Lambat laun, Sukiman mengetahui keadaan sebenarnya. Dan menyebabkannya harus menginap lebih lama di rumah sakit.

Yogyakarta, 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar