Kamis, 28 Juni 2012

Puisi_Riza Multazam Luthfy (Terbit di harian "Suara Pembaruan" edisi Minggu, 9 Oktober 2011)


Arloji Kesayangan

ia punya berbagai macam arloji
tapi hanya suka yang satu ini
kemanapun berada
selalu saja dibawa

katanya,
sudah banyak kenangan
yang dihabiskan bersama

dari mencari puntung
jualan karung
mengobral sarung

atau
membuat janji
dengan anak dokter gigi

suatu sore yang cerah
arlojinya melemah
lupa tak membeli baterai
malah bergaya
di depan mantan istri tetangga

dengan mengerlingkan mata
si janda bertanya:

“sekarang jam berapa bang?
kasihan, ia belum makan seharian”

Malang, 2010


Menjadi Hujan

kemudian
hujan itu menari-nari
memperlihatkan tangannya
yang gemulai
kakinya memutar
membentuk angka delapan

dan
aku pun tertegun:

“apakah puisi
kini menjelma
sebait hujan
siap membasahi
pohon-pohon tubuhku
yang segera tumbang”

Malang, 2010


Maling, Peti Mati, Politisi

maling sakti itu
berulang kali
mencoba peti mati

katanya,
buat persiapan
sebelum nyemplung
di kuburan

tapi, sialnya
tiap kali mencoba
selalu saja kekecilan
sempit, dan tak nyaman

suatu hari,
ketika sedang beraksi
di rumah politisi
ia temukan peti mati
nongkrong di samping almari

akhirnya ia
buka tutupnya
memasukkan tubuhnya
tanpa busana

ia begitu bersyukur
sebab ukurannya sangat pas
warnyanya mengkilap,
kuat, dan tahan lama

tanpa banyak pertimbangan
ia bopong kotak berharga
yang dipuja pemiliknya

di siang
yang kelihatan bolong
si politisi memeriksa
harta idaman

ia sempat heran
sekaligus tertekan

padahal
ia akan memakainya
kalau sudah
tak punya kerjaan

Malang, 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar