Kamis, 28 Juni 2012

Puisi_Riza Multazam Luthfy (Terbit di harian "Global" edisi Minggu, 19 Juni 2011)


Obedien

hanya kera ini
yang sanggup
menemaninya

ketika
kehilangan istri

atau
rumah diamankan polisi

ia tak mau
bercerai,
malah makin mesra
dan sayang

tiap hari di alun-alun kota
ia tunjukkan keahlian:
berputar-putar,
memakai topi,
pergi ke pasar,
sawah, atau perusahaan
berdandan menor,
mencari pujian
yang tak ia dapatkan
dari majikan

entah kenapa
hari itu
ia berpikir lain

sambil mengangkat kepala
ia berteriak:
"hai majikan,
biar kau tak bosan
sekarang gantian
kau jadi artisnya
aku yang hitung uang"

Malang, 2009


Prajurit Air Mata

tahukah kau,
mereka hanya ingin
perutmu
yang tak pernah
dibalut waktu,
tak bisa dijamah
               api rindu

curigakah kau,
mereka hanya tunggu
celanamu
yang tak pernah
punya saku belakang
hanya resleting, kancing, dan
wadah ikat pinggang

kini saatnya kau
unjuk:
tulang kuyu,
wajah layu,
tapi air matamu
pedang tajam
siap memecah
hening,
jadi riuh
pasar minggu

Malang, 2009


Keluh Pemabuk Mimpi

aku hanya seorang
pemimpi
berjalan dari gurun terjal,
membawa bekal:
sarung bantal

“hai, jangan kau
ambil
itu milikku!”

setiap hari
telan ludah,
berhimpit alis
melihatmu:
mencangkul kabut,
memetik embun,
menanam hujan
di ladang
yang kaurakit
dari tanah rerindu

Malang, 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar