Kamis, 28 Juni 2012

Puisi_Riza Multazam Luthfy (Terbit di harian "Malang Post" edisi Minggu, 14 Desember 2008)


Cinta Tanah Airku

Ayah,
bumiku mulai hancur
tanahku mulai kering
lautku mulai hilang
awanku tak seperti dulu
hujan tak tentu datang
matahari enggan bersinar

Ayah,
kakek bilang
dulu, negeriku bak surga
mau apa tinggal minta
batu, kayu jadi sumber kehidupan
hutan, air, jadi nafasku
gunung-gunung jadi tiangku

Ayah,
aku jadi heran
mengapa negeriku tak lagi disuka
kenapa orang-orang mulai campakkan
hilang perhatian
kadang, aku bersungkawa
sering pula ikut riang

Ayah,
aku mulai bosan
mereka arangkan hutanku
mereka kubur hidup-hidup satwaku
barangkali, mereka balas dendam
                             ataukah pelampiasan?

Ayah,
adakah kakek kini berduka?
melihat setan berkeliaran
mengendus nafsu orang-orang gila
pesannya diabaikan
moralnya diacuhkan

Ayah,
mengapa tanah airku tak lagi dicinta
kenapa orang-orang telantarkan
hilang kasih sayang
barangkali, aku pun demikian
negeriku tak lagi kusuka
tanah airku tak lagi kucinta
tapi, satu harapanku
ia masih cinta padaku

Malang, 2008


Pilih Salah Satu!

anak tetanggaku
masih seumur jagung
citanya setinggi Himalaya

tiap hari timba ilmu
bawa sepeda pancal
sepatu bau tahi
seragam jahitan ibu
pulang langsung ke kandang
makan bersama kerbau
bercerita, cengkrama, tebak-tebakan
– teman curhat dan adu pengalaman

o, kasihan
nasib tak semujur kakaknya:
bisa lulus SMA
langsung kerja

SPP jadi hantu
semester pakai duit
bukan pakai alasan
harta di rumah tiada lagi
buat digadai
pinjaman lintah darat
susah didapat

perut buncit cacingan
tanda kurang vitamin
badan garing bak kacang
tak seperti kerbaunya
: gemuk, keberatan daging
              makannya lebih bervitamin

melihat semangat anaknya
sang ayah bertanya:
"pilih buku atau kerbaumu?"

Malang, 2008


Si Jawara Jilat

aura betina membias rona
aroma surga lama cercap
pedang nafsu mundur tebas
reguk maut langka hinggap

singgasana dunia madu gejolak
prajurit perkasa abdi kuli
pekik nyeri buahkan racun
lempar roti kerutkan dahi

beras simpan jadi incar
jagung cadang siap berraib
peluru rakus gila nyasar
tombak dengki tak pedulikan

dialah si jawara jilat
pantat durjana menu utama
kemaluan hitam pencuci mulut
virus rabies kena babat
sindrom bunglon menjalar kilat
amanat setan selalu laksana:
menjilat, menjilat, menjilat, menjilat
mengerat, mengerat, mengerat, mengerat
megumpat, mengumpat, mengumpat, mengumpat

Bojonegoro, 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar